The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo

Alexandre Dumas

BAB XVIII

KEADAAN perusahaan Morrel & Son sekarang sudah sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kalau dahulu terasa suasana gembira dan kemakmuran yang terpancar dari gedungnya yang mewah, selalu tampak kesibukan para pegawai, pekarangannya selalu penuh dengan barang berkoli-koli dan para penjaganya riang gembira, sekarang yang sangat terasa suasana murung dan kelumpuhan. Dari sekian banyak pegawainya yang dahulu memenuhi ruangan kantor sekarang hanya tinggal dua orang lagi. Yang satu, seorang anak muda berumur dua puluh tiga tahun bernama Emmanuel Herbaut, yang tetap saja bertahan sekalipun keluarga Morrel sudah beberapa kali menasihatinya untuk pindah kerja. Mungkin sebabnya yang utama untuk tetap tinggal karena ia sudah saling jatuh cinta dengan putrinya Tuan Morrel. Yang seorang lagi kasir tua bermata satu bernama Cocles, seorang pegawai yang baik, sabar dan setia, tetapi yang kokoh bagaikan batu karang apabila sudah berbicara tentang angka-angka, kalau sudah berbicara tentang ini ia bersedia mempertahankannya terhadap seluruh dunia, bahkan juga terhadap Morrel, kalau perlu.

Dia telah bekerja dengan Morrel selama dua puluh tahun. Oleh sebab itu dia tidak melihat suatu alasan pun untuk merubah kesetiaannya. Kewajiban-kewajiban perusahaan yang harus dilunasi bulan lalu telah dipenuhi seluruhnya dan tepat pada waktunya. Tetapi untuk itu ia harus menyerahkan milik keluarganya. Karena takut kesusahannya diketahui umum di Marseilles, secara diam-diam ia pergi ke Beaucaire untuk menjual beberapa perhiasan istrinya dan sebagian dari barang-barang peraknya. Berkat pengorbanannya inilah ia masih dapat menyelamatkan nama baik perusahaannya. Tetapi dengan terpenuhi kewajibannya yang terus memberat itu, Morrel belum terlepas dari kesukarannya, bahkan setiap jam yang dilalui, ia rasakan sebagai suatu siksaan yang kejam. Sekarang, kekayaannya mulai surut. Hanya tinggal Le Pharaon yang merupakan andalan untuk dapat membayar hutangnya sebesar seratus ribu frank kepada de Boville yang harus dipenuhi pada tanggal lima belas bulan ini, dan hutang-hutang lainnya yang keseluruhannya berjumlah tiga ratus ribu frank, yang harus dibayar tanggal lima belas bulan berikutnya.

Kapal milik orang lain yang meninggalkan Calcuta pada hari bersamaan dengan Le Pharaon telah tiba dua minggu yang lalu di Marseilles, sedangkan Le Pharaon belum terdengar kabar beritanya.

Begitulah keadaan Morrel dengan perusahaannya ketika seorang utusan dari perusahaan Thomson and French mengunjunginya. Dia diterima oleh Emmanuel yang seterusnya meminta Cocles membawa tamu itu ke kamar Morrel. Di tangga menuju ruang kerja Morrel mereka berpapasan dengan seorang gadis cantik berumur kira-kira enam belas tahun yang memandang tamu itu dengan kekhawatiran.

“Tuan Morrel ada di kamarnya, Nona Julie?” kasir bertanya.

“Saya kira ada,” jawabnya ragu-ragu.

“Sebaiknya lihat saja dahulu, Cocles.” Tak ada gunanya memberitahukan dahulu, karena Tuan Morrel tidak mengenal nama saya, Nona,” kata orang Inggris itu. “Saya adalah Kepala Kantor Thomson & French perusahaan yang mempunyai hubungan dagang dengan perusahaan ayah Nona.”

Muka gadis itu mendadak pucat dan segera ia menuruni tangga, sedangkan Cocles dan tamu itu terus naik. Gadis itu memasuki ruang kerja Emmanuel. Cocles dengan menggunakan kuncinya sendiri membuka sebuah pintu di lantai ketiga. Dia membawa tamunya ke ruang tunggu, kemudian masuk melalui pintu kedua, menutupnya, lalu kembali lagi setelah beberapa saat, dan mempersilakan tamu itu masuk.

Morrel berdiri dan mempersilakan tamunya duduk. Pemilik kapal yang pernah kaya itu telah banyak sekali berubah dalam empat belas tahun ini. Sekarang umurnya lima puluh tahun. Rambutnya telah memutih, matanya yang dahulu bersinar tegas dan penuh kepastian, sekarang telah layu dan menyorotkan kebimbangan.

Orang Inggris itu memandangnya dengan penuh perhatian dan rasa heran. “Saya kira Tuan mengetahui siapa yang saya wakili, bukan?” tanyanya.

“Kasir saya memberitahukan bahwa Tuan adalah Kepala Kantor Thomson & French,”

“Benar. Perusahaan saya mempunyai banyak kewajiban yang harus dilunasi di Perancis dalam bulan ini dan bulan depan. Oleh karena kami mengetahui akan ketepatan dan keseksamaan Tuan yang sangat kesohor, mereka membeli sebanyak mungkin surat-surat hutang yang Tuan tanda-tangani dan saya ditugaskan menagihnya kepada Tuan nanti apabila temponya telah jatuh.”

Morrel terdengar mengeluh sambil mengusap dahinya. “Jadi Tuan memegang surat-surat hutang yang saya tanda tangani?”

“Ya,” kata orang Inggris itu, lalu mengeluarkan setumpuk surat “Pertama sekali, ini ada sebuah surat penyerahan seharga dua ratus ribu frank yang diberikan kepada kami oleh Tuan de Boville?”

“Ya, itu adalah saham yang dia tempatkan pada saya dengan bunga empat setengah persen sejak lima tahun yang lalu. Setengahnya harus sudah saya kembalikan tanggal lima belas bulan ini dan setengahnya lagi tanggal lima belas bulan depan.”

“Tepat sekali. Kemudian ada beberapa lagi surat hutang yang harus dibayar akhir bulan ini, semuanya berjumlah tiga puluh dua ribu lima ratus frank.”

“Itu pun saya akui,” kata Morrel. Wajahnya agak kemerah-merahan karena malu ketika terbayang bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidak akan dapat memenuhi janjinya.

“Masih ada lagi?”

“Tidak, kecuali surat-surat ini yang temponya jatuh pada akhir bulan depan. Jumlahnya lima puluh lima ribu frank. Jadi keseluruhannya tagihan kami berjumlah dua ratus delapan puluh tujuh ribu lima ratus frank.”

Sangat sulit menggambarkan bagaimana menderitanya hati Morrel ketika mendengar angka-angka itu. -

“Dua ratus delapan puluh tujuh ribu lima ratus frank,” dia mengulanginya perlahan-lahan.

“Tepat,” kata tamunya. “Sekarang,” katanya lagi setelah berdiam sebentar, “saya ingin berterusterang, Tuan Morrel. Sekalipun Tuan termashur jujur, namun sekarang terdengar desas-desus yang santer bahwa Tuan berada dalam keadaan tidak mampu membayar kewajiban-kewajiban Tuan.”' Wajah Morrel mendadak menjadi pucat mendengar keterusterangan yang mendekati ketidaksopanan ini. “Saya menerima perusahaan ini dari ayah saya “ katanya, “setelah beliau sendiri memimpinnya selama tiga puluh lima tahun. Setelah waktu itu tidak pernah ada satu pun surat hutang yang ditandatangani oleh Morrel & Son yang tidak dibayar.”

“Ya, ya, saya tahu,” jawab tamu itu. “Tetapi, sebagai seorang yang biasa menjaga nama baik terhadap orang lain dan juga menjaga kehormatan dirinya, sudikah Tuan berterusterang, apakah Tuan akan sanggup membayar surat-surat ini dengan ketepatan dan keseksamaan yang sama seperti dahulu?”

“Pertanyaan yang terus terang wajib mendapat jawaban yang terus-terang pula,” jawab Morrel. “Ya, saya akan membayarnya kalau kapal saya datang dengan selamat seperti yang saya harapkan, karena hanya kapal itulah yang akan dapat mengembalikan hutang dan nama baik saya yang rusak akibat kemalangan-kemalangan yang timpa-menimpa.

Tetapi, seandainya Le Pharaon, milik saya yang terakhir itu tidak datang, saya khawatir akan terpaksa menangguhkan pembayaran itu.

“Ketika saya datang ke mari,” kata orang Inggris itu, “saya melihat ada sebuah kapal masuk pelabuhan.”

“Saya tahu. Kapal itu pun datang dari India, tetapi bukan milik saya,” kata Morrel.

Kemudian menambahkan perlahan-lahan, “Keterlambatan ini tidak biasa. Le Pharaon meninggalkan Calcuta tanggal lima Februari, seharusnya sudah sampai sebulan yang lalu.”

“Apa itu?” tanya tamu tiba-tiba. “Apa arti kegaduhan itu?”

“Ya Tuhan!” Morrel pun berteriak terkejut. “Apapula yang terjadi sekarang?”

Terdengar suara orang-orang berjalan di tangga. Terdengar pula teriakan-teriakan sedih. Morrel berdiri hendak membuka pintu, tetapi tenaganya seakan-akan hilang dan ia terjatuh kembali duduk di kursinya. Kemudian suara-suara itu lenyap, namun Morrel masih memperkirakan akan segera muncul sesuatu yang lain.

Sekarang terdengar bunyi kunci di pintu sebelah luar. “Hanya ada dua orang yang mempunyai kunci pintu itu, Cocles dan Julie,” katanya pelan-pelan. Setelah itu pintu ruang kerjanya terbuka dan anak perempuannya berlari masuk, pipinya basah karena air mata. Dia merebahkan diri di pangkuan ayahnya, lalu berkata, “Oh, Ayah, Ayah! Kuatkan hati Ayah!”

“'Le Pharaon tenggelam, bukan?” tanya Morrel dengan suara tertahan. Gadis itu tidak menjawab, kepalanya saja yang mengangguk. Lalu ia menekankan kepalanya pada dada ayahnya.

“Bagaimana dengan awaknya?”

“Mereka selamat ditolong kapal yang baru saja masuk pelabuhan.” Morrel menengadahkan kepalanya, air mukanya penuh rasa syukur.

“Terima kasih, ya Tuhan,” katanya. “Setidak-tidaknya Engkau tidak memukul yang lain selain aku.”

Pada saat itu Nyonya Morrel masuk sambil terisak-isak, diikuti oleh Emmanuel. Di belakang mereka, di ruang tunggu ada delapan orang pelaut yang setengah telanjang.

Orang Inggris itu terkejut ketika melihat awak-awak kapal itu. Ia melangkah menghampiri mereka, tetapi segera menahan dirinya lagi kemudian mengundurkan diri ke sudut ruangan.

“Bagaimana terjadinya?” tanya Morrel.

“Masuk, Penelon!” kata Emmanuel “Coba ceriterakan “ Seorang pelaut dengan muka kemerah-merahan karena sinar matahari maju ke depan sambil memegang topi.

“Selamat siang. Tuan Morrel,” katanya dengan nada seperti ia meninggalkan Marseilles baru hari kemarin.

“Selamat datang, kawan,” jawab pemilik kapal yang tidak dapat menahan senyumnya sekalipun matanya basah karena air mata. “Mana Kapten?”

“Ia sakit, Tuan Morrel. Dia tertinggal di Palma. Tetapi bila Tuhan menghendakinya ia akan datang segera dalam keadaan sehat seperti saya,”

“Syukur . . . Sekarang, Penelon, coba ceriterakan.” Penelon memindahkan susurnya dari kanan ke kiri, menghapus bibirnya, berbalik sebentar lalu meludahkan ludahnya yang kehitam-hitaman. Setelah itu dia maju lagi selangkah dan mulai berkata. “Begini Tuan. Ketika kami berada antara Tanjung Blance dan Tanjung Boyador dengan mendapat angin yang baik, Kapten Gaumard datang menghampiri saya — saya lupa mengatakan bahwa saya memegang kemudi — dan berkata,

'Penelon, apa pendapatmu tentang awan yang muncul di kaki langit itu?' Kebetulan saya sendiri pun sedang memperhatikannya.

'Akan saya katakan apa pendapat saya, Kapten,' jawab saya.

'Saya kira awan itu bergerak terlampau cepat dari kebiasaannya, dan saya kira warnanya terlalu gelap sehingga sangat mencurigakan!”

'Saya kira engkau benar' kata Kapten.

'Kita menghadapi taufan.'

Setelah kami diumbang-ambing selama dua belas jam, terjadi kebocoran pada kapal.

'Penelon, kata Kapten. Kukira kita akan tenggelam. Aku pegang kemudi dan engkau periksa ruang bawah.'

Ketika saya tiba di bawah ternyata air sudah setinggi tiga kaki di tempat muatan.

Saya cepat berlari kembali ke atas berteriak-teriak : “Pompa! Pompa!” Kami semua berusaha keras, tetapi sudah terlambat. Makin banyak air kami pompa keluar, lebih banyak pula yang masuk. Setelah bekerja kurang lebih satu jam saya berkata: “Oleh karena tak ada harapan lagi, biarlah dia tenggelam. Hanya sekali kita mati!”

“Itukah teladan yang akan kauberikan, Penelon?” kata Kapten.

“Tunggu sebentar” Dia pergi ke kamarnya dan kembali lagi membawa dua buah pistol di tangannya. “Aku akan menghancurkan setiap kepala orang yang meninggalkan pompa!” katanya. “Yah, rasanya tak akan ada sesuatu yang dapat membangkitkan lagi keberanian kami kecuali ancaman seperti itu.”

“Akhirnya, angin pun mereda tetapi air masih tetap masuk. Tidak banyak, hanya sekitar dua inci dalam setiap jam. Tampaknya memang sedikit — dua inci sejam — tetapi dalam dua belas jam menjadi dua puluh empat inci, berarti dua kaki. Kalau kapal sudah mempunyai air lima kaki dalam perutnya, itu sudah membahayakan.”

'Cukup, kata Kapten. 'Kita sudah berusaha menyelamatkan kapal, sekarang kita harus menyelamatkan diri kita sendiri. Naik sekoci! Cepat!”

Kami mencintai Le Pharaon, Tuan Morrel. Tetapi betapapun seorang pelaut mencintai kapalnya, ia akan lebih mencintai jiwanya sendiri. Kami tidak membantah ketika Kapten memerintahkan kami naik sekoci, terutama setelah Le Pharaon seakan-akan mengerang-ngerang dan berteriak kepada kami: Cepat! Pergi! Pergi! Dan Le Pharaon yang malang itu memang tidak berbohong, karena kami pun merasakan tenggelamnya. Tepat ketika saya meloncat ke dalam sekoci terdengar kapal pecah bagaikan ledakan-ledakan meriam sebuah kapal perang yang dipasang sekaligus berbarengan. Sepuluh menit kemudian, haluannya sudah di bawah air, lalu buritannya, kemudian berputar seperti anjing mau menjilat buntutnya, dan akhirnya. . . . lenyaplah Le Pharaon.

Kami terapung-apung tiga hari lamanya tanpa makan tanpa minum. Kami sudah mulai berbicara tentang undian siapa yang lebih dahulu harus menyediakan diri untuk men-jadi makanan kami. Saat itulah kami ditolong kapal Gironde yang kebetulan lewat, lalu membawa kami kembali ke Marseilles. Demi kehormatanku sebagai pelaut, itulah ceriteranya, Tuan Morrel.”

Benar, kawan-kawan?”

Kawan-kawan Penelon bergumam membenarkan.

“Kalian telah bertindak sebaik-baiknya,” kata Morrel. “Kalian semua adalah pelaut yang baik. Sejak dari permulaan aku sudah tahu tidak dapat menyalahkan orang lain, selain nasib burukku sendiri. Semua ini kehendak Tuhan, bukan kesalahan manusia. Sekarang berapa gaji kalian yang belum dibayar?”

“Ah, tidak perlu kita membicarakan persoalan itu, Tuan Morrel.”

“Aku mau membicarakannya,” kata pemilik kapal dengan senyum sedih.

“Kalau itu yang Tuan kehendaki tiga bulan,” kata Penelon.

“Cocles, beri pelaut-pelaut berani itu dua ratus frank masing-masing.

Kalau keadaannya tidak seperti sekarang, pasti aku akan menambahkan: 'Dan beri masing-masing dua ratus frank lagi sebagai ekstra.' Tetapi sayang keadaanku sekarang tidak mengizinkan, kawan. Sisa-sisa uang yang tinggal sedikit, dalam waktu yang singkat sudah bukan milikku lagi. Oleh sebab itu maafkan aku dan harap hal ini tidak akan menyebabkan kalian memandang rendah kepadaku. Terimalah uang itu dan silakan mencari kapal lain. Kalian bebas sekarang.”

Kalimat yang terakhir ini memberikan pengaruh yang cukup besar pada kelasi-kelasi itu. Mereka saling berpandangan dalam kebingungan. Susur Penelon hampir saja tertelan kalau saja ia tidak cepat-cepat memegang tenggorokannya.

“Apa!” ia berteriak tertahan. “Apakah Tuan memecat kami, Tuan Morrel? Apakah Tuan tidak puas dengan kami?”

“Bukan, bukan begitu,” jawab Morrel. “Aku bukan tidak puas, balikan sebaliknya sekali. Tetapi apa lagi yang dapat aku perbuat? Aku tidak mempunyai lagi kapal sekarang dan tidak lagi mempunyai uang untuk membuat kapal baru.”

“Bila Tuan tidak mempunyai lagi uang, tak usah kami dibayar. Kami bisa bekerja tanpa uang.”

“Cukup, cukup,” kata Morrel lagi. Suaranya tersendat karena terharu. “Kita akan berjumpa lagi nanti pada suatu saat, dalam keadaan yang lebih menyenangkan. Emmanuel, antar mereka dan jaga agar keinginanku terlaksana.”

Dia memberi isyarat kepada Cocles yang segera meninggalkan ruangan. Para pelaut mengikutinya, kemudian disusul oleh Emmanuel.

“Nah,” Morrel berpaling kepada isteri dan anak gadisnya.

“Tinggalkan aku sebentar dengan tamu kita ini.” Dia melirik kepada utusan Thomson & French yang sedari tadi mengikuti peristiwa itu dari sudut ruangan tanpa berkata sepatah pun. Isteri dan puteri Morrel keluar meninggalkan mereka berdua.

“Tuan telah melihat dan mendengar semua,” kata Morrel sambil merebahkan diri ke kursi. “Saya rasa tidak ada yang perlu saya katakan lagi.”

“Saya menyaksikan,” jawab orang Inggris itu, “bahwa Tuan telah ditimpa lagi kemalangan baru yang saya kira selayaknya tidak perlu Tuan derita. Hal ini memperbesar keinginan saya untuk menolong Tuan. Bukankah kami pemegang surat hutang Tuan yang terbesar?”

“Setidak-tidaknya Tuan memegang surat-surat hutang yang harus dibayar paling cepat.”

“Berkeberatankah Tuan apabila saya mengundurkan hari pembayaran?”

“Pengunduran waktu itu akan berarti penyelamatan kehormatan saya, sekaligus juga berarti penyelamatan jiwa saya.” '“

“Berapa lama Tuan kehendaki?”

Morrel ragu-ragu. “Dua bulan,” katanya.

“Baik. Saya berikan tiga bulan.”

'Tetapi, apakah perusahaan yang Tuan wakili akan ...”

“Jangan khawatir. Saya bertanggungjawab sepenuhnya. Hari ini tanggal lima Juni.

Silahkan Tuan menukar surat ini dengan yang baru yang jatuh tempo tanggal lima September nanti. Saya akan berada lagi di sini pada jam yang sama, jam sebelas siang, tanggal lima September.”

Surat hutang yang baru segera dibuat, yang lama disobek, pemilik kapal yang malang itu mempunyai waktu tiga bulan lagi untuk mengerahkan sisa-sisa kekayaannya yang terakhir.

Orang Inggris itu menerima ucapan terima kasih dari Morrel dengan sikap yang terkendalikan, kemudian memin-ta diri.

Di tangga ia bertemu dengan Julie. Julie berpura-pura akan turun ke bawah, padahal sebenarnya sengaja ia menanti tamu itu di sana.

“Oh, Tuan__ “

“Nona,” kata orang asing itu. “Nona akan menerima sepucuk surat yang ditandatangani oleh 'Sinbad Pelaut'. Lakukan dengan secepatnya apa yang tertulis dalam surat itu, betapapun anehnya permintaannya.”

“Baik.”

“Maukah Nona berjanji akan melaksanakan semua yang tertulis?”

“Saya bersumpah.”

“Terima kasih. Selamat tinggal, Nona. Tetaplah menjadi gadis yang baik seperti sekarang dan saya yakin pada suatu saat nanti Tuhan akan membalas kebaikan itu dengan menyerahkan Emmanuel sebagai suami.”

Pipi Julie berubah menjadi merah, dari mulutnya keluar suara perlahan, entah karena terkejut entah karena gembira.

Di pekarangan orang Inggris itu bertemu dengan Penelon sedang memegang uang di kedua belah tangannya. Ia masih bingung, apakah ia akan menerima uang itu atau tidak.

“Ikut saya, kawan,” kata tamu itu. “Saya ingin bicara sebentar.”