The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo

Alexandre Dumas

BAB XVII

SEHARI setelah kejadian di kedai Caderousse, seorang laki-laki sekitar tiga puluh tahunan dengan gaya dan logat seorang Inggris datang menghadap walikota Marseilles.

“Tuan Walikota,” katanya. “Saya Kepala Kantor Perusahaan Thomson and French di Roma. Telah sepuluh tahun lamanya kami ada hubungan dagang dengan perusahaan Morrel and Son di Marseilles. Usaha kami dengan perusahaan itu sekarang telah meliputi jumlah seratus ribu frank, dan kami agak merasa cemas karena kami mendengar berita-berita bahwa perusahaan itu sedang terancam kehancuran. Saya sengaja datang dari Roma untuk meminta keterangan dari Tuan tentang hal ini.”

“Tuan,” jawab Walikota. “Saya mengetahui bahwa Tuan Morrel sedang ditimpa nasib buruk secara bertubi-tubi selama empat atau lima tahun ini. Tetapi, sekalipun saya sendiri mempunyai pihutang kepadanya sekitar sepuluh ribu frank, saya tidak mampu memberikan keterangan tentang keadaan keuangannya. Bila Tuan menanyakan pendapat pribadi saya tentang Tuan Morrel, dapat saya katakan bahwa Tuan Morrel adalah seorang pengusaha yang sangat jujur, yang selama ini selalu memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan seksama dan tepat. Hanya itu yang dapat saya katakan. Apabila Tuan menghendaki keterangan yang lebih banyak, saya sarankan Tuan menemui Tuan de Boville, Inspektur Penjara. Saya kira uangnya yang tertanam dalam perusahaan itu ada sebanyak dua ratus ribu frank. Oleh karena sahamnya lebih besar dari saham saya dan kalau benar ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan, saya pasti dia akan jauh lebih mengetahui persoalannya daripada saya.”

Orang Inggris itu meminta diri dan dengan gaya yang khas seorang putra Inggris Raya dia pergi menemui Inspektur Penjara.

Tuan de Boville kebetulan ada di kantornya. Orang Inggris itu mengajukan pertanyaan seperti yang diajukan kepada Walikota.

“Oh!” kata Tuan de Boville. “Kecemasan Tuan memang berdasar. Saya sendiri pun sudah putus harapan. Saya mempunyai saham seharga dua ratus ribu frank dalam perusahaan Morrel. Uang itu tadinya saya sediakan untuk bekal perkawinan anak gadis saya, dan kami merencanakan perkawinannya dua minggu lagi yang akan datang. Mestinya saya menerima seratus ribu frank tanggal lima belas bulan ini dan seratus ribu lagi tanggal lima belas bulan depan. Baru setengah jam yang lalu, Tuan Morrel datang kemari mengatakan, kalau kapalnya Le Pharaon tidak kembali pada tanggal lima belas, maka tidak mungkin baginya membayar kewajibannya kepada saya. Saya khawatir ia bangkrut.”

“Saya kira Tuan sangat mencemaskan keselamatan saham Tuan, kalau begitu.”

“Saya telah menganggapnya sebagai hilang.” “Baiklah, bagaimana kalau saham itu saya beli?” “Maksud Tuan dengan harga yang rendah sekali, tentu?”

“Tidak, tetap dengan harga dua ratus ribu frank. Perusahaan kami tidak mencari keuntungan dengan cara demikian.”

“”Bagaimana dengan cara pembayarannya?”

“Tunai.” Orang Inggris itu mengeluarkan setumpuk uang kertas yang jumlahnya paling sedikit empat ratus ribu frank. Cahaya gembira bersinar di wajah Boville, tetapi dia berusaha menguasai diri dan berkata, “Saya berkewajiban memperingatkan bahwa mungkin Tuan hanya akan menerima kembali paling banyak sebesar enam persen dari jumlah itu.”

“Itu bukan soal saya,” jawab orang Inggris itu. “Itu persoalan Thomson and French Mungkin saja mereka bermaksud mempercepat kehancuran perusahaan yang menjadi saingannya. Kewajiban saya hanya membayar, apabila Tuan bersedia menandatangani surat penyerahan saham itu. Tetapi saya perlu meminta komisi.”

“Tentu saja, saya pikir cukup wajar!” kata de Boville. “Biasanya komisi itu satu setengah persen berapa Tuan kehendaki? Dua — tiga — lima atau lebih dari itu?”

“Tuan de Boville,” kata orang Inggris itu sambil tertawa. “Saya pun sama dengan perusahaan yang saya wakili. Saya tidak mencari keuntungan dengan cara demikian. Komisi yang saya harapkan, lain sekali sifatnya.”

“Katakan saja.”

“Tuan adalah Inspektur Penjara bukan?”

“Ya.”

“Dan menyimpan daftar tahanan yang dilengkapi dengan catatan-catatan mengenai setiap tahanan?”

“Ya, setiap tahanan ada catatannya.”

“Baiklah. Saya dibesarkan oleh seorang padri yang miskin di Roma. Pada suatu hari padri itu tiba-tiba menghilang. Baru kemudian saya mendapat berita bahwa beliau ditahan di Penjara If. Saya ingin sekali mengetahui sebab-sebab kematiannya.”

“Siapa namanya?”

“Padri Faria.”

“Oh ya, saya ingat betul!” kata Boville. “Dia menjadi gila. Ia mengaku mengetahui tempat suatu harta karun dalam jumlah yang tak terbayangkan dan menawarkan kepada pemerintah untuk ditukar dengan kemerdekaannya. Dia telah meninggal lima bulan yang lalu. Saya ingat betul tanggalnya karena kematian padri yang malang itu diikuti kejadian-kejadian yang aneh.”

“Bolehkah saya mengetahui apa yang tuan maksud dengan kejadian yang aneh itu?”

“Sel Faria letaknya kira-kira lima puluh kaki terpisah dari sel seorang agen Bonaparte, salah seorang yang turut membantu kembalinya Napoleon, dalam tahun 1815, agen yang sangat berbahaya. Saya telah pernah mengunjungi nya pada tahun 1816 atau 1817. Orang itu sangat mengesankan sehingga saya tidak mungkin melupakan wajahnya.”

Ada senyuman yang hampir-hampir tak tampak tersungging pada wajah orang Inggris itu.

“Rupanya Dantes itu………”

“Nama agen Bonaparte yang berbahaya itu?”

“Ya, Edmond Dantes. Rupanya Dantes tanpa diketahui membawa beberapa perkakas atau mungkin juga ia berhasil membuatnya di dalam penjara, oleh karena ditemukan ada terowongan yang menghubungkan kedua sel itu.”

“Saya kira terowongan itu dibuat untuk melarikan diri, bukan?”

“Tepat sekali. Tetapi sial bagi mereka, Faria mengidap penyakit kataleptik, dan mati. Kematian padri itu mau dimanfaatkan oleh Dantes. Mungkin dia mengira bahwa tahanan yang mati dalam penjara akan dikubur dalam kuburan biasa, sebab itu dia memindahkan mayat Faria ke dalam kamarnya dan dia sendiri mengambil tempat Faria dalam karung. Tetapi dia keliru, Penjara If tidak mempunyai pekuburan.

Mayat-mayat pesakitan dikubur dalam laut dengan diberati peluru meriam pada kakinya. Tentu Tuan dapat membayangkan betapa terkejutnya Dantes ketika menyadari bahwa ia dilemparkan ke dalam laut. Saya ingin sekali melihat bagaimana air mukanya pada waktu itu.”

“Suatu hal yang tidak mungkin,” kata orang Inggris itu.

“Memang!” kata Boville yang telah kembali gembira karena yakin akan mendapatkan lagi uangnya yang sudah dianggap hilang. “Tetapi saya dapat membayangkannya,” Dia tertawa terbahak-bahak.

“Saya pun dapat,” kata orang Inggris yang juga turut tertawa, tetapi dengan lebih terkendalikan, khas seperti kebiasaan orang Inggris. Kemudian katanya lagi, “Artinya, pelarian itu mati tenggelam bukan?”

“Pasti.”

“Baiklah. Bolehkah sekarang saya melihat daftar itu?”

“Oh, ya, ya, maafkan saya, cerita tadi membelokkan saya dari persoalan pokok.”

Keduanya masuk ke dalam kantor Boville. Segala-galanya tersusun rapi. Orang Inggris itu duduk pada tangan-tangan sebuah kursi, Inspektur menyerahkan buku daftar pesakitan dan sebuah keterangan tentang Gedung If. Ia mempersilakan tamunya mempelajarinya sesuka hatinya, sedangkan ia sendiri mengambil tempat di sudut dan membaca surat kabar.

Tanpa kesukaran orang Inggris itu dapat menemukan catatan-catatan mengenai padri Faria, tetapi ceritera Boville telah menggugah perhatiannya. Setelah membaca catatan itu dengan teliti, ia terus memeriksa buku itu lembar demi lembar sampai akhirnya ia menemukan catatan mengenai Edmond Dantes. Semuanya terdapat di sana: surat pengaduan, catatan pemeriksaan, permohonan Morrel dan juga pendapat dan catatan Villefort. Dengan hati-hati ia melipat surat pengaduan itu, kemudian memasukkannya ke dalam sakunya. Lalu dia membaca catatan pemeriksaannya. Dia tidak menemukan nama Noirtier. Setelah itu membaca, surat permohonan Morrel yang bertanggal 10 April 1815.

Surat itu dibuat semasa Napoleon berkuasa. Itulah sebabnya dalam surat itu demi kebebasan Dantes, Morrel melebih-lebihkan jasa Dantes dalam rangka kembalinya Kaisar ke tampuk kekuasaan. Sekarang ia dapat mengerti dengan jelas sekali: setelah Kaisar Napoleon jatuh lagi dan Raja berkuasa kembali, surat permohonan itu menjadi senjata yang sangat berbahaya di tangan Villefort. Itu pula sebabnya ia tidak terlalu terkejut ketika membaca kata-kata berikut di sebelah nama Dantes:

EDMOND DANTES. Agen Bonaparte yang gigih. Mengambil peranan aktif dalam pelarian Napoleon dari Elba. Harus disekap terpisah dan dijaga dengan ketat.

Ia membandingkan catatan itu dengan keterangan yang dilampirkan kepada surat Morrel, dan ternyata tulisan tangannya sama. Keduanya ditulis oleh Villefort.

“Terima kasih,” kata orang Inggris itu sambil menutup buku daftar. “Saya telah mendapatkan semua yang saya perlukan. Sekarang giliran saya untuk memenuhi janji. Silakan Tuan membuat surat penyerahan saham itu,”

Tuan Boville cepat-cepat mempersiapkan surat-menyurat sedangkan orang Inggris itu menghitung uangnya.