The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo

Alexandre Dumas

BAB XVI

BARANGSIAPA yang pernah berkeliling di Perancis Selatan dengan berjalan kaki, pasti akan menemukan sebuah kedai kecil yang terletak antara Bellegarde dan Beaucair. Di depannya terpampang sebuah papan nama dari besi yang aneh bertuliskan Pont du Garde.

Untuk selama tujuh sampai delapan tahun kedai ini diusahakan oleh sepasang suami isteri yang hanya dibantu oleh seorang pelayan dan seorang anak pengurus kandang kuda. Dua orang pembantu ini sekarang sudah terlalu banyak, mengingat kedainya yang selalu lengang karena terletak di jalan yang telah menjadi sepi.

Pemilik kedai yang kurang beruntung ini tiada lain adalah Gaspard Caderousse, kawan lama Dantes. Isterinya yang pucat dan kurus karena dirundung sakit, terpaksa selalu berada dalam kamarnya di lantai kedua tanpa sanggup membantu suaminya mengerjakan kewajiban sehari-hari. Untuk menjawab keluh-kesah isterinya yang tidak berkesudahan tentang nasibnya yang buruk, Caderousse selalu menjawab, “Sabarlah, ini sudah menjadi kehendak Tuhan.”

Pada suatu pagi, ketika Caderousse sedang berdiri di ambang pintu kedainya sambil mengawasi jalan yang lengang dengan air muka sedih, tampak di kejauhan seorang berkuda datang dari arah Bellegarde. Penunggang kuda itu seorang padri berjubah hitam dan mengenakan topi bersegi tiga, meskipun udara sedang panas sekali. Padri itu turun dari kudanya di depan kedai, menghapus keringat di dahinya dengan saputangan merah.

Dengan gembira Caderousse keluar menjemputnya. Padri menatap wajah Caderousse dengan tajam untuk beberapa saat lamanya, kemudian berkata dengan logat Italia, “Tuan Caderousse, bukan?”

“Benar, Tuan,” jawab pemilik kedai keheranan. “Saya Gaspard Caderousse. Apa yang dapat saya lakukan?”

“Bukankah Tuan dahulu penjahit?”

“Benar, usaha itu tidak menguntungkan lagi. Udara di Marseilles demikian panasnya sehingga saya tidak heran kalau orang di sana sudah tidak berkeinginan lagi memakai baju . . . Berbicara tentang udara panas, tidakkah Tuan ingin minum sesuatu?”

“Ya, coba minta anggur terbaik yang ada dan kita akan lanjutkan percakapan kita.”

Ketika Caderousse kembali beberapa menit kemudian, ia mendapatkan padri itu sedang duduk dengan kedua sikunya di atas meja.

“Apakah Tuan sendiri di sini?” tanya padri itu ketika pemilik kedai meletakkan gelas dan botol anggur di hadapannya.

“Sama dengan sendiri. Isteri saya sudah sakit-sakitan sehingga tidak dapat membantu.”

“Oh, Tuan sudah beristeri?” kata padri itu dengan suatu perhatian tertentu. Dia melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan seakan-akan menaksir nilai semua perabotan yang berada dalam kedai itu.

“Tuan lihat, saya tidaklah kaya,” kata Caderousse dengan nada mengeluh.

“Tetapi apa yang dapat Tuan harapkan? Menjadi orang jujur bukan jaminan untuk menjadi kaya di dunia ini.” Padri memandangnya dengan tajam.

“Ya, orang jujur,” Caderousse mengulang. “Itulah satu-satunya yang dapat saya banggakan, dan pada jaman sekarang ini tidaklah banyak orang yang dapat mengatakan begitu.”

“Tuan beruntung sekali apabila yang Tuan banggakan itu benar,” kata padri, “karena saya yakin betul bahwa lambat atau cepat, yang baik akan mendapat imbalan kebaikan dan yang buruk akan dihukum.”

“Sebagai padri Tuan harus berkata begitu,” kata Caderousse dengan pahit, “tetapi setiap orang mempunyai kebebasan untuk tidak mempercayai ucapan itu.”

“Itu keliru, karena mungkin saya dapat membuktikan kebenaran ucapan saya.”

“Apa maksud Tuan?” tanya Caderousse heran.

‘Terlebih dahulu saya harus yakin bahwa Tuan benar-benar orang yang saya cari . . . Dalam tahun 1814 atau 1815, apakah Tuan mengenal seorang pelaut bernama Dantes?”

“Dantes? Ya, saya mengenalnya, Edmond Dantes yang malang, Dia salah seorang dari sahabat baik saya. Apa Tuan mengenalnya juga? Apakah ia masih hidup? Apakah sudah bebas? Apakah dia berbahagia?”

“Ia sudah meninggal dalam penjara, hancur dan putus asa.”

Wajah Caderousse berubah pucat. Dia memalingkan mukanya dan padri itu melihat dia menghapus air mata dengan sudut saputangan merah yang membelit kepalanya. “Kasihan!” katanya perlahan-lahan. “Itu satu bukti lagi untuk kebenaran seperti apa yang saya katakan tadi, bahwa Tuhan hanya baik kepada yang jahat saja. Ah, dunia ini makin lama makin buruk saja.”

“Tampaknya Tuan sangat menyukainya,” kata padri Itu.

“Ya, saya sangat mencintainya, sekalipun saya harus mengakui bahwa pernah saya iri sebentar karena kebahagiannya. Tetapi sejak itu. Tuan boleh yakin, saya sangat bersedih karena nasib buruk yang menimpanya”

Kedua-duanya- diam. Dalam ke-diam-an padri itu menatap wajah Caderousse tajam-tajam seakan-akan mencari sesuatu pada air mukanya.

“Apakah Tuan mengenalnya?” tanya Caderousse lagi.

“Saya diminta datang ke ranjang kematiannya untuk memberikan hiburan keagamaan yang terakhir. Dan di sana, dalam ranjang kematiannya dia bersumpah dengan nama Tuhan bahwa ia tidak mengetahui sebab penangkapan atas dirinya.”

“Itu benar, dia tidak akan mengetahuinya. Tidak, ia tidak berdusta.”

“Oleh sebab itu dia meminta kepada saya untuk menyelidiki sebab kecelakaannya yang tidak pernah diketahuinya sendiri, dan untuk menghilangkan noda-noda yang mengotori kebersihan hatinya. Seorang Inggris kaya yang tinggal di penjara itu juga, tetapi kemudian dibebaskan pada masa pemerintahan Raja yang kedua, mempunyai sebuah intan yang besar sekali nilainya. Ketika dia meninggalkan penjara, ia memberikannya kepada Dantes sebagai balas jasanya karena telah merawatnya ketika sakit. Dantes tidak mau menggunakannya untuk menyuap sipir, karena dia khawatir, setelah menerima intan itu si sipir akan mengkhianatinya. Dia menyimpan intan itu baik-baik dengan harapan pada suatu saat dapat bebas kembali.”

“Tentu nilainya tinggi sekali, seperti kata Tuan tadi,” kata Caderousse, matanya berkilat-kilat.

“Segala sesuatu itu relatif sekali,” jawab padri. “Untuk Dantes berharga sekali. Intan itu ditaksir berharga lima puluh ribu frank.”

“Lima puluh ribu frank!” kata Caderousse terbelalak.

“Sekarang ada pada saya. Dantes telah mengangkat saya untuk melaksanakan wasiatnya; “Saya mempunyai tiga orang sahabat dan seorang kekasih,” katanya kepada saya, “dan saya yakin mereka masih merasa kehilangan saya. Salah seorang bernama Caderousse.'”

Badan Caderousse gemetar, “Yang satu lagi bernama Danglars,” lanjut padri, sambil pura-pura tidak melihat air muka Caderousse, “dan yang ketiga, saingan saya tetapi juga menyukai saya, namanya Fernand. Sedangkan kekasih saya bernama Mercedes. Pergilah ke Marseilles, jual Intan itu dan uangnya bagilah jadi lima, kemudian berikan kepada mereka masing-masing, sebab hanya merekalah yang mencintai saya di dunia ini.”

“Mengapa Tuan katakan lima bagian?” tanya Caderousse. “Tadi Tuan hanya menyebut empat nama.”

“Yang kelima telah meninggal, ia adalah ayah Dantes. Saya mendengar berita kematiannya di Marseilles,” kata padri selanjutnya, sambil berusaha menunjukkan air muka tak peduli, “tetapi kejadian itu telah lama sekali sehingga saya tidak berhasil mendapatkan keterangan-keterangan lainnya. Barangkali Tuan mengetahuinya?”

“Tak ada yang lebih mengetahui dari saya. Saya tinggal satu atap dengannya . . . Oh, ya, dia meninggal kurang dari satu tahun sejak anaknya menghilang. Kasihan orang tua itu!”

“Apa sebab kematiannya?”

“Saya kira dokter menyebut penyakitnya radang usus, yang lain mengatakan ia mati karena kesedihan. Tetapi saya yang melihatnya sehari-hari sampai saat terakhirnya, cenderung mengatakan ia mati karena . . . ” tiba-tiba saja Caderousse berhenti.

“Karena apa?” tanya padri tak sabar.

“Karena kelaparan!”

“Karena kelaparan!” padri berteriak heran, kemudian terloncat dari tempat duduknya.

“Bagaimana mungkin, bahkan binatang yang paling hina pun tidak ada yang mati kelaparan. Seekor anjing yang berkeliaran sepanjang jalan akan selalu menemukan seseorang yang sudi melemparkan sepotong roti kepadanya! Dan Tuan mengatakan ada yang mati kelaparan di tengah orang-orang yang mengaku dirinya Beragama! Terlalu!

Betul-betul terlalu!”

“Saya mengatakan apa yang sebenarnya,” kata Caderousse.

“Dan engkau keliru mengatakan itu!” terdengar suara dari tangga.

Kedua orang itu memalingkan kepala dan mereka melihat isteri Caderousse yang pucat, yang memaksakan diri keluar dari kamar duduk di ujung tangga dan mendengarkan percakapan suaminya dengan tamu. Kepalanya diletakkan pada kedua lututnya.

“Ini bukan urusanmu,” kata Caderousse. ‘Tuan ini meminta beberapa keterangan.

Sangat tidak sopan kalau aku menolaknya.”

“Ya, tetapi juga tidak bijaksana menceriterakan itu. Bagaimana kau mengetahui maksudnya meminta kau berbicara, bodoh?”

“Tak ada yang perlu ditakutkan, Nyonya,” kata padri, “sepanjang ia berbicara jujur. Saya dapat memastikan bahwa tak akan ada kesukaran yang menimpa Nyonya karena saya.”

Isteri Caderousse menggumamkan kata-katanya yang tidak jelas terdengar meletakkan kembali kepalanya pada kedua lututnya dan badannya menggigil lagi karena demam, membiarkan suaminya meneruskan percakapannya, tetapi memasang telinganya demikian rupa hingga tak ada satu kata pun dari percakapan mereka yang terlepas dari pendengarannya.

“Kalau orang tua itu meninggal dalam keadaan begitu, mesti berarti bahwa selama itu dia telah diabaikan oleh setiap orang,” kata padri.

“Tidak, Mercedes dan Tuan Morrel tidak mengabaikannya. Orang tua itu sangat membenci Fernand, Fernand itu,” kata Caderousse dengan senyum menyindir, “yang oleh Dantes disebut sebagai salah seorang sahabatnya.”

“Apakah memang dia bukan sahabatnya?” tanya padri.

“Gaspard!” kata suara di pucuk tangga.

“Hati-hati!” Jawab Caderousse atas gangguan isterinya itu hanya berupa sikap marah saja. “Mungkinkah kita menjadi sahabat dari orang yang menginginkan sekali isteri kita?” katanya. “Dantes berhati emas, dia menganggap semua orang kawan nya . . . Edmond yang malang! Saya kira, sebaiknya dia tidak mengetahui semua ini. Akan terlalu sulit bagi dia memanfaatkan mereka. Dan apa pun kata orang, saya lebih takut kepada kutukan orang yang menjelang mati daripada kebencian seorang yang masih hidup.”

“Tahukah Tuan bagaimana Fernand mencelakakan Dantes?”

‘Tentu.” “Ceriterakanlah.”

“Gaspard! Terserahlah!” teriak isterinya dari atas. ‘Tetapi kalau kau mau mendengarku, jangan bicara!”

“Sekali ini, kukira engkau benar,” kata Caderousse.

“Berarti Tuan tidak bermaksud menceriterakannya kepada saya?”

“Apa gunanya? Seandainya Edmond masih hidup dan datang bertanya kepada saya siapa kawan dan musuhnya yang sebenarnya, saya akan memberitahukannya. Tetapi menurut ceritera Tuan, dia sekarang telah mati, sehingga tidak mungkin lagi dia membenci dan melakukan pembalasan. Biarkanlah yang sudah lalu, lewat.”

“Setujukah Tuan kalau saya memberikan hadiah ini kepada mereka, yang menurut anggapan Tuan kawan-kawan palsu, sebagai imbalan kepada rasa persahabatannya?”

“Tidak, tentu tidak,” kata Caderousse. “Lagipula apa arti hadiah Edmond ini bagi mereka? Setitik air dalam samudera!”

“Benar, tetapi jangan lupa bahwa mereka dapat meng-hancurkanmu dengan kelingkingnya, kalau mereka mau,” sela isterinya.

“Maksud Tuan bahwa mereka telah menjadi kaya dan berpengaruh?” tanya padri.

“Apa Tuan tidak mengetahuinya?”

“Tidak. Coba ceritakan.”

Caderousse termenung sejenak. ‘Tidak,” katanya, “terlalu panjang.”

“Tentu saja Tuan bebas untuk menolak, kawan,” kata padri dengan suara acuh tak acuh. “Dan saya menghargai sekali keengganan Tuan berbicara. Kita tidak akan membicarakan lagi soal ini dan saya akan menjual intan ini.”

Dia mengambil intan dari dalam kantongnya dan membiarkannya berkilat-kilat di hadapan mata Caderousse yang terbelalak.

“Lihat ke mari!” Caderousse memanggil isterinya.

“Intan!” kata Nyonya Caderousse, berdiri kemudian menuruni tangga. “Dari mana ini?”

“Kau tidak mendengarnya? Ini intan yang ditinggalkan Dantes untuk ayahnya, kekasihnya dan ketiga kawannya, Fernand, Danglars dan aku.”

“Orang yang berkhianat bukan sahabat,” kata Nyonya Caderousse.

“Ya, itu yang kukatakan tadi,” kata Caderousse. “Memberi hadiah kepada pengkhianat hampir sama dengan mencemarkan kesucian, bahkan barangkali sama dengan kejahatan.”

“Dan itu tanggung jawab Tuan,” kata padri dengan tenang sambil memasukkan kembali intan itu ke dalam saku jubahnya. ‘Tolong katakan di mana saya dapat menemui kawan-kawan Dantes itu agar saya dapat me-laksanakan keinginannya yang terakhir.”

Butir-butir keringat yang besar bercucuran di dahi Caderousse. Dia melihat padri berdiri, berjalan ke arah pintu hendak melihat kudanya, kemudian kembali lagi.

Caderousse dan isterinya saling berpandangan dengan air muka yang tak terlukiskan.

“Intan itu bisa menjadi milik kita,” kata Caderousse.

“Kaupikir begitu?”

“Seorang padri tak akan berbohong.”

“Lakukan apa saja yang kauanggap baik,” kata isterinya. “Aku serahkan kepadamu.”

Dia menaiki lagi tangga dengan terhuyung-huyung. Di ujung tangga ia membalikkan badannya sebentar dan berkata lagi, “Pikirkan baik-baik, Gaspard!”

“Aku sudah membuat keputusan” kata Caderousse.

“Apa yang telah Tuan putuskan?” tanya padri,

“Mengatakan segala sesuatu kepada Tuan.”

“Saya kira itulah yang terbaik. Bukan karena saya ingin mengetahui apa yang ingin Tuan rahasiakan, tetapi agar saya dapat membagikan warisan Dantes sesuai dengan kehendaknya.”

“Mudah-mudahan” kata Caderousse, pipinya merah penuh harapan dan ketamakan.

“Baik, saya sudah siap untuk mendengarkan.”

“Pertama-tama,” Caderousse memulai, “saya harus minta Tuan berjanji dahulu.”

“Apa?”

“Saya harap Tuan berjanji bahwa seandainya pada suatu saat Tuan hendak memanfaatkan keterangan yang akan saya ceriterakan nanti, Tuan tidak akan mengatakan kepada siapa pun juga bahwa Tuan mendengar dari saya, sebab orang-orang yang akan saya ceriterakan itu dapat dengan mudah menghancurkan saya semudah mereka menghancurkan sebuah gelas.”

“Jangan khawatir, kawan. Saya seorang padri dan saya tidak pernah menceriterakan kembali pengakuan seseorang yang telah disampaikan kepada saya- Harap diingat pula, bahwa satu-satunya tujuan kita hanyalah melaksanakan keinginan terakhir sahabat kita.

Sebab itu berbicaralah terus terang tanpa dicampuri rasa benci. Mungkin saya tidak akan pernah mengenal orang-orang yang akan Tuan sebut. Lagi pula saya seorang Italia, bukan Perancis, dan saya akan segera kembali ke biara yang saya tinggalkan hanya untuk memenuhi pesan orang yang berada di ambang kematian.”

Caderousse merasa yakin sudah. “Kalau begitu,” katanya, “saya akan men ceriterakan kebenaran yang sebenar-benarnya tentang orang-orang yang di sangka Edmond malang itu sebagai sahabat-sahabat yang baik dan setia. Ceritera ini menyedihkan. Tuan telah mengetahui permulaannya, bukan?”

“Ya, Edmond telah menceritakan semuanya sampai dia ditangkap pada hari pesta pertunangannya.”

“Nah, setelah Edmond ditangkap, Tuan Morrel pergi mencari keterangan. Berita yang diterima sangat menyedihkan. Ayah Edmond pulang sendirian dan mengurung diri di kamarnya seharian penuh. Semalaman dia tidak tidur. Saya tinggal satu lantai di bawah dia, oleh sebab itu saya dapat mendengar ia berjalan hilir-mudik dalam kamarnya semalam suntuk. Saya pun tidak dapat tidur. Saya merasa sangat terganggu karena kesedihan orang tua itu. Setiap langkahnya serasa menyayat hati, seakan-akan dia berjalan di atas dada saya.

Esok harinya Mercedes datang di Marseilles hendak meminta pertolongan Tuan de Villefort, namun tidak berhasil. Kemudian ia mengunjungi ayah Dantes. Ketika dia melihat betapa parahnya kesedihan orang tua itu dan mengetahui pula bahwa ia tidak tidur dan tidak makan sejak hari kemarin, Mercedes mengajak orang tua itu tinggal di rumahnya untuk dirawat baik-baik. Tetapi orang tua itu menolak! Tidak,’ katanya, “aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Anakku mencintaiku lebih dari apapun juga di dunia ini, dan kalau dia keluar dari penjara tempat inilah yang paling dahulu akan dikunjunginya. Apa kata dia nanti kalau aku tidak ada di sini?’

Mulailah dia mengasingkan diri. Tuan Morrel dan Mercedes seringkali mengunjunginya, tetapi pintu kamarnya selalu terkunci. Meskipun saya tahu betul bahwa ia ada di dalam, dia menolak setiap tamu yang datang.

Pada suatu hari, ketika dia mau menerima Mercedes, dia berkata, Percayalah, anakku Dantes telah meninggal. Bukan kita yang menunggu dia, tetapi dia sedang menunggu kita. Saya beruntung karena lebih tua. Sayalah yang paling dahulu akan bertemu kembali dengan dia!’

Betapapun baik kita, akhirnya kita tidak akan menemui orang, yang dapat membuat kita sedih. Lama-lama ayah Dantes benar-benar hidup menyendiri. Orang-orang yang sering saya lihat menemuinya hanyalah orang-orang yang tidak saya kenal, yang kalau keluar lagi dari kamar orang tua itu selalu membawa sesuatu dalam bungkusan. Baru kemudian saya ketahui apa yang terbungkus itu. Orang tua itu menjual barang-barang miliknya yang tidak banyak itu demi hidupnya, sampai akhirnya segalanya terjual habis.

Sewa kamarnya telah tertunggak tiga bulan. Pemilik rumah mengancam akan mengusirnya, kemudian bersedia memberi tempo selama satu minggu. Saya mengetahuinya karena pemilik rumah itu singgah sebentar di tempat saya.

Sejak hari itu saya masih mendengar dia hilir-mudik di kamarnya selama tiga hari, tetapi pada hari keempat saya tidak mendengar sesuatu pun. Segera saya naik ke atas.

Pintu kamarnya terkunci, saya mengintai dari lubang kunci. Dia kelihatan sangat pucat dan lesu sekali. Saya mengira dia sakit payah. Saya mengabari Tuan Morrel dan Mercedes. Mereka segera datang, Tuan Morrel membawa seorang dokter yang setelah memeriksanya mengatakan ayah Dantes terkena radang usus, dan menyuruhnya berpuasa. Ketika itu saya ada di sana, dan saya tidak akan dapat melupakan senyum yang tersungging di wajah orang tua itu ketika ia mendengar nasihat dokter untuk berpuasa.

“Setelah kejadian itu dia tidak lagi mengunci kamarnya; dia mempunyai alasan yang kuat untuk tidak makan. Kali lain ketika Mercedes menjenguknya, keadaannya sudah demikian parah sehingga Mercedes sekali lagi mengajaknya pindah agar dapat menjaga dan merawatnya sehari-hari. Namun, orang tua itu menolak lagi. Tuan Morrel meninggalkan dompet berisi uang di dekat perapian, namun orang tua itu tetap menolak makan.

Akhirnya setelah sembilan hari dalam keadaan demikian, dia meninggal. Sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir ia sempat mengutuk mereka yang telah mencelakakan dirinya dan berkata kepada Mercedes, ‘Kalau engkau bertemu dengan Edmond, katakan bahwa aku meninggal sambil berdo’a untuk dia.”

Padri berdiri dan berjalan-jalan sebentar dalam ruangan. Setelah beberapa saat ia berkata dengan nada agak marah, “Sungguh nasib yang sangat buruk!”

“Dan yang lebih buruk lagi karena manusia yang menyebabkannya, bukan Tuhan.”

“Sekarang bagaimana tentang kawan-kawan Dantes itu,” kata padri. Tetapi ingat,” katanya lagi sedikit mengancam. “Tuan berjanji akan menceriterakan semuanya. Siapakah mereka itu yang menyebabkan anaknya mati karena keputusasaan dan ayahnya mati karena kelaparan?”

“Dua orang yang iri kepadanya. Yang satu karena cinta, yang lain karena benci;

Fernand dan Danglars.”

“Bagaimana diwujudkannya iri hati itu?”

“Mereka mengadukan Dantes sebagai anggota kaum Bonaparte.”

“Yang mana yang mengadukannya. Siapa yang sebenarnya bersalah?”

“Keduanya. Seorang menulis suratnya dan yang seorang lagi mengeposkannya.”

“Di mana surat itu ditulis?”

“Dalam kedai minum, sehari sebelum pesta pertunangan.”

“Tuan pun ada di sana!” kata padri tiba-tiba.

“Siapa yang mengatakan bahwa saya di sana?” tanya Caderousse heran.

Padri sadar, dia keseleo lidah. Segera ia memperbaikinya,

“Tak seorang pun. Karena Tuan mengetahui sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya maka kesimpulan saya Tuan mesti turut hadir.”

“Memang benar,” kata Caderousse dengan suara agak tertekan. “Saya ada di sana.”

“Dan tuan tidak berusaha mencegah mereka,” kata padri. “Berarti tuan pun turut terlibat.”

“Mereka membuat saya mabuk sehingga hampir tak sadarkan diri. Saya memprotes maksud mereka sekuat kemampuan saya dalam keadaan demikian, namun mereka menjawab bahwa mereka hanya berolok-olok saja.”

“Ternyata keesokan harinya Tuan melihat bahwa itu bukan olok-olok, Tuan pun ada di sana ketika Dantes ditangkap.”

“Benar, dan saya sudah berniat mengatakan kepada Komisaris Polisi apa yang saya ketahui, tetapi Danglars menghalangi saya dengan mengatakan ‘Seandainya Dantes benar-benar berdosa, setiap orang yang membelanya akan dianggap sebagai kaki-tangannya.’ Saya selalu takut terlibat dalam urusan polisi, oleh karena itu saya menutup mulut. Saya akui bahwa sikap itu sikap pengecut, tetapi saya kira bukan suatu kejahatan.”

“Saya mengerti. Tuan hanya tidak berdaya mencegahnya.”

“Ya, itulah yang tepat,” kata Caderousse, “dan saya masih dan tetap menyesalkan kejadian itu. Sering saya meminta ampun kepada Tuhan. Itulah satu-satunya perbuatan yang sangat menodai seluruh hidup saya sampai sekarang, dan saya yakin itu pulalah yang menyebabkan nasib saya seburuk ini. Sampai sekarang saya masih harus menebus dosa karena terlalu mementingkan diri sendiri ketika itu. Bila isteri saya mengeluh saya selalu menjawab: “sabarlah, ini kehendak Tuhan!” Caderousse menundukkan kepala menunjukkan penyesalan yang sedalam-dalamnya.

“Tuan telah berbicara terus terang,” kata padri. “Orang yang menyesali dosanya seperti yang Tuan lakukan, patut menerima pengampunan.”

“Sayangnya,” jawab Caderousse, “Edmond telah meninggal dan dia tidak pernah memaafkan saya.”

“Dia tidak mengetahui persoalannya.”

“Mungkin ia mengetahuinya sekarang. Kata orang, orang yang meninggal mengetahui segala-gala.”

Keduanya diam. Padri berdiri kemudian berjalan bolak-balik sambil berpikir beberapa saat. Lalu dia duduk kembali. “Tadi Tuan menyebut nama Morrel beberapa kali. Siapakah dia?”

“Pemilik kapal Le Pharaon.”

“Apa peranan dia dalam ceritera sedih ini?”

‘Peranan seorang yang jujur, berani dan setia-kawan. Dia pernah mengusahakan pembebasan Dantes paling kurang dua puluh kali. Ketika Kaisar Napoleon berkuasa kembali, ia menulis surat, memohon, bahkan mengancam yang berwewenang sehingga ketika Napoleon jatuh dan Raja berkuasa kembali ia diburu-buru sebagai seorang Bonapartis. Seringkah ia menengok ayah Dantes seperti telah saya katakan tadi, dan menawarkan kepada ayah Dantes untuk tinggal bersama dia di rumahnya. Sehari sebelum ayah Dantes meninggal, dia meninggalkan dompetnya.

Dengan uang itu biaya penguburan dan hutang-hutang ayah Dantes terbayar seluruhnya. Dengan demikian orang tua itu sekurang-kurangnya dapat meninggal dalam keadaan seperti semasa hidupnya: tidak pernah merugikan orang lain. Dompet itu masih ada pada saya.”

“Apakah Tuan Morrel masih hidup?”

“Masih.”

“Mestinya ia diberkahi Tuhan, mestinya ia menjadi lebih kaya dan lebih berbahagia sekarang.”

Caderousse tersenyum pahit dan berkata. “Ya, sama berbahagianya seperti saya.”

“Maksud Tuan, Tuan Morrel dalam kesukaran?”

“Sekarang ia sedang berada dalam jurang kemiskinan, dan lebih buruk dari itu, dalam jurang kehilangan kehormatan. Setelah bekerja dengan keras selama dua puluh lima tahun, setelah menduduki tempat yang paling terhormat dalam dunia perdagangan di Marseilles, nasib membawa Tuan Morrel kepada kehancuran. Lima buah kapalnya tenggelam dalam tempo dua tahun dan tiga perusahaan lainnya telah bangkrut.

Harapannya sekarang bergantung kepada Le Pharaon, satu-satunya kapal yang masih tinggal, kapal tempat Dantes bekerja dahulu. Le Pharaon diharapkan datang dari India membawa bahan celup merah dan ungu. Kalau Le- Pharaon tenggelam juga, habislah sudah dia.”

“Apakah Tuan Morrel mempunyai anak isteri?”

“Ya, isterinya seorang yang berhati bersih, Ia pun mempunyai seorang anak gadis yang hampir menikah dengan pemuda pilihannya, tetapi pihak keluarga pemuda tidak menyetujui perkawinan dengan anak seorang yang hampir bangkrut. Juga ia mempunyai seorang anak laki-laki berpangkat letnan di Angkatan Darat. Tetapi keluarga itu justru lebih menambah kesedihannya. Apabila dia hidup seorang diri, mungkin dia sudah mengakhiri segala-galanya dengan menembak kepalanya sendiri.”

“Menyedihkan sekali,” kata padri. “Dan bagaimana dengan Danglars? Dia yang paling bersalah, bukan? Si penghasut?”

“Dia meninggalkan Marseilles dan bekerja pada seorang Spanyol pemilik bank. Ketika pecah perang Perancis-Spanyol ia dikontrak untuk mengisi kebutuhan tentara Perancis, dan beruntung besar. Uangnya diputarkan lagi dan menjadi berlipatganda.

Setelah isteri pertamanya meninggal (anak pemilik bank bekas majikannya itu) ia menikah lagi dengan seorang Janda bernama Nyonya de Nargonne, puteri seorang berkedudukan tinggi di Istana yang disukai oleh Raja. Dia telah berhasil menjadi jutawan, dan sekarang diangkat menjadi bangsawan dengan gelar Baron. Namanya sekarang: Baron Danglars, rumahnya yang megah terletak di Rue du Mont-Blanc, dengan sepuluh ekor kuda di kandang, enam pelayan di ruang tamu, dan saya tidak tahu berapa juta frank dalam pundi-pundinya.”

“Bagaimana dengan Fernand?” tanya padri.

“Bagaimana seorang nelayan Catalan miskin tanpa pendidikan dapat menjadi kaya raya? Terus terang, saya tidak dapat mengerti.”

“Tak seorang pun dapat mengerti. Mesti ada suatu rahasia dalam kehidupannya yang tidak diketahui orang,”

“Tetapi usaha apa saja kiranya yang menyebabkan ia menjadi kaya dan berpengaruh?”

“Ya, Fernand masuk tentara Napoleon beberapa saat sebelum kekuasaannya direbut kembali. Dia ditempatkan dalam resimen yang segera akan diberangkatkan ke medan perang. Dia turut dalam pertempuran Ligny. Pada malam pecahnya pertempuran itu dia sedang bertugas mengawal pintu seorang jendral yang mempunyai hubungan rahasia dengan musuh. Pada malam itu juga jendral itu melarikan diri ke pihak Inggris. Dia mengajak Fernand dan Fernand meninggalkan posnya lari bersama jendral itu.

“Ini akan berarti ancaman pengadilan militer apabila Napoleon tetap berkuasa, tetapi sebaliknya, akan dihargai oleh dinasti Bourbon apabila mereka dapat kembali merebut kekuasaan. Itulah sebabnya pangkatnya menjadi letnan ketika kembali ke Perancis, kemudian kapten ketika pecah perang dengan Spanyol, pada saat Danglars berhasil mengumpulkan kekayaan. Oleh karena Fernand orang Spanyol, dia dikirim ke Madrid sebagai mata-mata. Di sana ia berjumpa dengan Danglars, mempererat lagi persahabatannya, memberikan jaminan dukungan kepada jendral kaum kerajaan di seluruh negeri Spanyol, mengantar resimennya melalui jalan-jalan yang hanya diketahui sendiri olehnya, menunjukkan pengabdian yang sedemikian rupa selama tugas yang pendek itu sehingga akhirnya ia dinaikkan lagi pangkatnya menjadi kolonel, menerima bintang kehormatan dan yang terakhir mendapat gelar bangsawan: Count.”

“Nasib! Nasib!” kata padri- kepada dirinya sendiri.

“Ya, nasib, dan itu belum semua. Ketika perang dengan Spanyol berakhir, jabatan Fernand terancam oleh karena tiada perang. Tampaknya perdamaian akan lama sekali meliputi Eropa, Pada suatu saat Yunani berontak terhadap Turki dan memulai kemerdekaannya. Semua mata memandang ke Atena. Banyak negara yang bersimpati dan membantu Yunani. Fernand meminta dan mendapatkan izin untuk berdinas di Yunani tanpa kehilangan pangkatnya d Perancis Beberapa lama kemudian terbetik berita bahwa Count Morcef (nama Fernand sekarang) memasuki dinas pada Ali Pasha dengan pangkat brigadir jendral.

Seperti Tuan ketahui, Ali Pasha tewas, tetapi sebelum meninggal, ia menghibahkan sejumlah uang untuk Fernand. Fernand kembali ke Perancis, dinaikkan pangkatnya menjadi letnan jendral. Sekarang dia tinggal di rumahnya yang sangat megah di Paris, di Rue du Hefder No. 27.”

Padri membuka mulutnya, ragu-ragu sebentar, kemudian berkata dengan agak sukar,

“Lalu, bagaimana beritanya tentang Mercedes? Saya dengar dia menghilang.”

“Menghilang? Ya, dia menghilang, seperti menghilangnya matahari di malam hari untuk kembali bersinar lebih cerah keesokan harinya.”

“Apakah dia pun berhasil menumpuk kekayaan?” tanya padri dengan senyum menyindir.

“Sekarang Mercedes menjadi salah seorang nyonya terkemuka di Paris,” kata Caderousse. “Pada mulanya ia sangat terpukul karena kehilangan Dantes. Tetapi saya katakan tadi, ia pernah meminta bantuan Tuan de Vitlefort dan bagaimana setianya terhadap ayah Dantes. Di tengah-tengah keputusasaannya, ia dipukul lagi dengan kesusahan yang lain: Fernand meninggalkannya masuk tentara. Mercedes sama sekali tidak mengetahui apa yang diperbuat Fernand kepada Dantes, dan ia mencintainya seperti seorang saudara. Sepeninggalnya, Mercedes merasa kesepian. Tiga bulan berlalu tanpa berita, baik dari Edmond maupun dari Fernand. Yang dihadapinya waktu itu hanyalah seorang tua yang secara perlahan-lahan menuju kematiannya karena putus harapan.

Pada suatu malam Fernand datang dengan mengenakan seragam letnan. Kepergian Fernand bukan menjadi sebab utama kesedihan Mercedes. Namun setidak-tidaknya ia merupakan sebagian dari kehidupannya, oleh sebab itu, Mercedes menerimanya dengan senang hati, ketika Fernand pulang. Fernand keliru, ia mengira kegembiraan Mercedes itu berarti mencintainya, padahal hanya merupakan kegembiraan orang yang terlepas sementara dari rasa kesepian.

Ayah Dantes meninggal, seperti telah saya katakan tadi. Bila dia tetap hidup, Mercedes tak akan kawin dengan yang lain. Fernand mengetahui hal ini. Ketika mendengar bahwa ayah Dantes telah meninggal, dia pulang. Ia mengingatkannya lagi bahwa ia masih mencintai Mercedes. Mercedes meminta tempo selama enam bulan untuk berkabung dan menunggu Dantes.”

“Itu berarti delapan belas bulan lamanya sejak Dantes ditangkap ” kata padri dengan senyum pahit. Kemudian ia menggumamkan satu bait dari sajak seorang Inggris:

“Lemah, itulah wanita”

“Enam bulan setelah itu,” kata Caderousse selanjutnya, “perkawinan dilangsungkan di Englise des Accoules “

“Gereja yang juga direncanakan menjadi tempat perkawinan dengan Edmond,” kata padri. “Perbedaannya hanya laki-lakinya.”

“Sekalipun Mercedes tampak tenang setelah perkawinan itu namun banyak orang tahu, bahwa ia pernah jatuh pingsan ketika berjalan lewat kedai tempat ia merayakan pesta pertunangannya delapan belas bulan yang lalu dengan laki-laki yang dicintainya dan tetap dicintainya.

Saya melihat Fernand ketika itu tampak lebih berbahagia, namun jelas juga tampak masih mempunyai kekhawatiran kalau-kalau Edmond kembali setiap saat. Tak lama setelah menikah, mereka pindah. Perkampungan Catalan dirasakannya terlalu banyak bahaya dan kenang-kenangan.”

“Pernah Tuan menjumpai lagi Mercedes sejak itu?”

“Pernah, pada waktu perang dengan Spanyol saya melihatnya di Perpignan, tempat ia ditinggalkan Fernand ke Spanyol. Kesibukannya, mendidik puteranya.”

Tanpa disadari padri berteriak heran, “Puteranya!”

“Ya, Albert.”

“Tetapi bagaimana ia dapat mendidiknya? Menurut ceritera Edmond, Mercedes hanyalah seorang anak nelayan yang sederhana, cantik tapi tidak berpendidikan.”

“Oh!” kata Caderousse. “Rupanya ia tidak mengenal betul kekasihnya. Kalau mahkota hanya diperuntukkan bagi wajah yang tercantik dan kepala yang paling cerdas, Mercedes sudah menjadi ratu sekarang. Bersamaan dengan berkembangnya kekayaannya, dia sendiri pun turut berkembang. Dia belajar melukis, dia mempelajari musik, dia mempelajari segala. Tetapi antara kita saja — saya kira dia mempelajari itu semua semata-mata hanya untuk mencari kesibukan mengikis masa lampau. Dia telah kaya, dia telah menjadi nyonya bangsawan, tetapi,...“

‘Tetapi apa?”

“Tetapi saya yakin dia tidak berbahagia.”

“Apa yang menyebabkan Tuan berpikir begitu?”

“Ya, ketika kemelaratan saya hampir tak tertahankan lagi, saya berfikir mungkin sekali kawan-kawan lama saya mau menolong. Saya pergi kepada Danglars, tetapi menerima pun dia tidak mau. Sedangkan Fernand hanya menyuruh pelayannya memberikan uang seratus frank.”

“Berarti Tuan tidak menjumpai kedua-duanya?”

“Tidak, tetapi Nyonya de Morcef melihat saya. Ketika saya akan pulang sebuah dompet jatuh di muka kaki saya, isinya dua puluh lima louis. Saya melihat ke atas dan masih sempat melihat Mercedes menutup kain jendela.”

“Dan bagaimana dengan Tuan de Villefort?” tanya padri.

“Dia bukan kawan saya, bahkan saya tidak mengenalnya. Sebab itu saya tidak meminta apa-apa kepadanya.”

‘Tetapi tahukah Tuan bagaimana beritanya tentang dia dan peranan apa yang dimainkannya dalam kecelakaan Edmond?”

“Tidak. Saya hanya tahu, beberapa waktu setelah ia menangkap Edmond, dia kawin dengan Nona de Saint-Meran, kemudian meninggalkan Marseilles. Tak perlu diragukan lagi, kepadanya pun keberuntungan tersenyum ramah seperti kepada yang lain. Pasti dia telah kaya seperti Danglars dan mendapatkan kehormatan seperti Fernand. Hanya saya sendiri yang tetap miskin, hina dan dilupakan oleh Tuhan.”

“Keliru, kawan,” kata padri. “Kadang-kadang Tuhan seperti melupakan, ketika hukumNya belum berlaku, tetapi pada suatu saat, lambat atau cepat Beliau akan menunjukkan keadilanNya. Dan inilah salah satu buktinya.” Sambil berkata begitu padri mengeluarkan lagi intan dari dalam kantongnya, memberikannya kepada Caderousse.

“Ambillah,” katanya. “Itu milik Tuan.”

“Apa! Buat saya sendiri?” teriak Caderousse. ‘Tuan berolok-olok barangkali?”

“Intan ini harus dibagi antara kawan-kawan Dantes, tetapi ternyata ia hanya mempunyai seorang kawan. Ambillah dan jual. Itu berharga lima puluh ribu frank, seperti tadi saya katakan. Saya harap mudah-mudahan jumlah itu cukup besar untuk menghentikan kemelaratan Tuan. Ambillah, tetapi harap ditukar . . .” Caderousse yang sudah menyentuh intan itu menarik lagi tangannya. Padri tersenyum. “Dengan dompet sutera merah yang ditinggalkan Tuan Morrel di tempat, perapian ayah Dantes. Bukankah Tuan masih menyimpannya?”

Caderousse, lebih terheran-heran lagi, pergi ke sebuah lemari besar, membukanya lalu mengeluarkan sebuah dompet yang sudah buram. Padri menerimanya dan memberikan intan kepada Caderousse. Kemudian, selagi Caderousse masih terbata-bata mengucapkan terima kasihnya, ia meninggalkan ruangan, menaiki kudanya, melambaikan tangan kepada Caderousse, kemudian melarikan kudanya ke arah datangnya tadi.

Ketika Caderousse membalikkan badan, ternyata isterinya sudah ada di belakangnya. Mukanya lebih pucat dari biasa. “Apakah aku tidak salah dengar?”

‘Tentang apa? Bahwa dia memberikan intan itu untuk kita sendiri?” kata Caderousse hampir gila karena gembira.

“Ya.”

Tak ada yang lebih benar dari itu! Inilah dia!” Isterinya memperhatikan intan itu sebentar, kemudian berkata dengan polos, “Bagaimana kalau palsu?”

Caderousse tiba-tiba merasa pening kepalanya. “Palsu? Apa maksud dia memberikan intan palsu?”

“Untuk mendapatkan rahasiamu tanpa membayar, bodoh!”

Caderousse makin pusing lagi. “Oh!” katanya setelah beberapa saat terdiam, lalu mengambil topinya. “Kita akan segera tahu.”

“Bagaimana?”

“Di Beaucair ada pasar dan ada jauhari-jauhari dari Perancis di sana. Aku akan memperlihatkan intan ini kepada mereka. Jagalah kedai, aku akan kembali dalam dua jam.” Dia melompat ke luar pintu dan terus berlari menuju pasar.

“Lima puluh ribu frank!” kata Nyonya Caderousse kepada dirinya sendiri. “Banyak... tetapi bukan berlimpah.”