The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo

Alexandre Dumas

BAB VII

DI ruang kerjanya yang kecil di Istana Tuilcries di Paris, Raja Louis XVIII duduk di belakang meja kesayangannya yang terbuat dari kayu kenari yang dibawanya kembali dari tempat pengasingannya di Hart well, mendengarkan dengan acuh tak acuh laporan seorang bangsawan beruban, berumur kira-kira lima puluh tahun. Sambil mendengarkan itu Sri Baginda tiada hentinya membuat catatan di pinggir halaman majalah Horace.

“Apa yang Tuan katakan?” tanya Raja “Bahwa saya sangat risau. Baginda. Saya mempunyai alasan yang kuat untuk percaya bahwa ada badai sedang bergolak di Selatan.”

“Aku khawatir Tuan mendapat laporan yang salah. Aku yakin bahwa cuaca sangat baik di sana.” Sebagai seorang yang cerdas Raja Louis XVIII mempunyai kesanggupan membuat humor dengan cepat.

“Baginda mungkin benar dalam memperhitungkan perasaan dan- pengertian yang baik rakyat Perancis, tetapi rasanya saya pun tidaklah salah apabila saya mengkhawatirkan kemungkinan percobaan pemberontakan yang nekad.”

“Oleh siapa?”

“Oleh Bonaparte, atau setidak-tidaknya oleh para pengikutnya.”

“Duke Blacas yang baik,” kata Raja, “kekhawatiran Tuan mengganggu pekerjaanku.”

“Dan perasaan aman yang ada pada Baginda mengganggu tidur saya, Baginda. Kekhawatiran saya tidak bersumber dari desas-desus yang kabur tidak berdasar, melainkan dari seorang yang cerdas dan dapat dipercaya, yang baru saja tiba dari Marseilles sengaja unttuk mengabari saya bahwa: bahaya besar sedang mengancam Raja. Itulah sebabnya saya segera menghadap. Saya kira penting sekali apabila Baginda

sudi berbicara langsung dengan Tuan de Villefort,"

“Tuan de Villefort!" seru Raja- “Diakah yang dari Marseilles itu. Mengapa tidak

Tuan sebutkan dari tadi?”

“Saya mengira nama itu tidak mempunyai arti apa-apa bagi Baginda."

“Memang tidak. Dia seorang anak muda yang sungguh-sungguh terhormat, cerdas dan

di atas segala-galanya sangat besar ambisinya. Selanjutnya, Tuan sendiri tahu siapa ayahnya, bukan?”

“Ayahnya?”

“Ya, namanya Noirtier.”

“Noirtier kaum Girondi?”

"Tepat sekali”

“Dan Baginda mengangkat anak seorang semacam itu sebagai Wakil Jaksa?”

“Blacas sahabatku, rupanya Tuan tidak mengerti. Tadi saya katakan Villefort besar

sekali ambisinya. Dia bersedia mengorbankan apa saja demi tujuannya, bahkan ayahnya

sendiri kalau perlu akan dikorbankannya juga.”

“Apakah perlu saya hadapkan dia sekarang, Baginda?”

“Ya, segera.”

Duke Blacas segera meninggalkan ruangan dengan kegembiraan seorang anak muda dan tak lama kemudian kembali lagi bersama Villefort. Ketika pintu terbuka, Villefort sangat terkejut karena tidak mengira akan berhadapan muka dengan Raja pribadi, Ia berhenti seketika.

“Silakan masuk, Tuan de Villefort" kata Raja. Villefort membungkuk dalam-dalam dan maju selangkah, menunggu disapa.

“Tuan de Villefort,” kata Raja Louise XVIII, “Duke Blacas memberitahu bahwa Tuan mempunyai laporan yang sangat penting.”

“Apa yang dikatakan Duke Blacas itu benar, Baginda. Saya datang ke Paris secepat mungkin untuk mengabari Baginda bahwa dalam menjalankan kewajiban sehari-hari saya telah berhasil mengungkapkan sebuah komplotan yang amat sangat membahayakan, katakanlah, sebuah badai dahsyat yang secara langsung mengancam Mahkota. Baginda Yang Mulia, Napoleon si perampas telah meninggalkan Pulau Elba membawa pasukan sebanyak tiga buah kapal. Tujuannya tidak diketahui, tetapi pasti dia akan melakukan percobaan mendarat di Napoli atau di Tuscany, bahkan mungkin sekali di Perancis. Saya rasa Baginda maklum bahwa Napoleon mempunyai banyak pejuang gerilya baik di Itali maupun di Perancis.”

“Ya, aku tahu,” kata Raja sangat tersinggung. “Coba teruskan, bagaimana Tuan mengetahui semua ini?”

“Saya mengetahuinya dari seseorang di Marseilles yang telah lama saya amat-amati dan telah saya tangkap pada hari saya berangkat ke Paris. Orang ini, seorang pelaut yang bersemangat, yang telah lama saya curigai sebagai pengikut kaum Bonaparte, pada suatu hari melakukan kunjungan rahasia ke Pulau Elba. Dari Marsekal Bertrand ia mendapat kepercayaan untuk menyampaikan sebuah pesan tertulis kepada seorang anggota kaum Bonaparte di Paris yang namanya tidak berhasil saya ungkapkan. Tetapi saya berhasil mengetahui bahwa orang itu mendapat tugas mempersiapkan kembalinya Napoleon dalam waktu yang dekat.”

“Di mana orang itu sekarang?” “Dalam penjara. Baginda.”

“Ah, kebetulan Tuan Dandre datang!” seru Duke Blacas.

Menteri Kepolisian baru saja tiba di ambang pintu. Mukanya pucat, tubuhnya gemetar dan matanya liar karena gugup. Dengan kasar sekali Raja mendorong meja di hadapannya dan berteriak keras, “Ada apa, Baion? Tuan tampak gugup sekali. Apakah bahaya yang merisaukan Tuan ada hubungannya dengan apa yang baru saja dilaporkan oleh Tuan de Villefort?”

“Baginda, Baginda,” kata Baron Dandre terbata-bata.

“Berkatalah!”

Menteri Kepolisian menjatuhkan dirinya di kaki Raja dengan putus asa, kemudian berkata, “Malapetaka besar, Baginda! Si Perampas telah meninggalkan Pulau Elba pada tanggal 28 Pebruari dan pada tanggal 1 Maret telah mendarat di Perancis, di sebuah pelabuhan kecil dekat Antibes,”

“Si Perampas mendarat di Perancis dekat Antibes, hanya seratus dua puluh lima kilometer dari Paris, pada tanggal 1 Maret, dan Tuan baru mengetahuinya pada hari ini, tanggal 3 Maret. Bagaimana mungkin! Ada dua kemungkinan, Tuan menerima laporan salah, atau Tuan telah gila!”

“Maaf, Baginda, tetapi ini adalah kebenaran yang nyata!” Raja Louis XVIII membuat gerakan yang menunjukkan kemarahan dan kecemasan yang tidak terkatakan, kemudian berdiri tegak.

“Di Perancis” dia berteriak.

“Si Perampas di Perancis! Apa dia tidak dijaga? Tetapi, siapa tahu, mungkin ada orang yang berkomplot dengan dia!”

“Wahai, Baginda!” kata Duke Blacas.

“Orang yang setia seperti Tuan Dandre tidak mungkin dituduh berkhianat. Kita semua buta dan beliau pun terkena kebutaan seperti kita.”

“Tetapi . . .,” Villefort menyela Setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi, “Maafkan saya, Baginda. Saya terpengaruh oleh dorongan hati saya.”

“Jangan ragu-ragu!” jawab Raja.

''Tuanlah orangnya yang memberi kami kabar tentang bencana ini. Sekarang tolong kami mengatasinya.”

“Baginda Yang Mulia,” kata Villefort, “Napoleon sangat dibenci di Selatan. Tidak akan sukar menggerakkan rakyat Provence dan Languedoc mengangkat senjata.”

‘Tak dapat disangkal,” kata Menteri. ‘Tetapi, sayang sekali dia sudah maju melalui Gap dan Sisteron.”

“Sudah sejauh itu!” sahut Raja makin gugup. “Maksud Tuan dia sudah menuju ke Paris?” Menteri Kepolisian tidak menjawab, sama artinya dengan mengiyakan.

“Kalau begitu,” kata Raja selanjutnya. “Saya sudah tidak memerlukan Tuan-tuan lagidan kalian boleh pergi. Yang harus dilakukan sekarang, menjadi kewajiban Menteri Peperangan . . . Tuan de Villefort, Tuan pasti masih merasa lelah setelah perjalanan yang jauh itu. Silakan beristirahat. Tuan akan tinggal di rumah ayah Tuan bukan?”

Villefort merasa seolah-olah akan pingsan. ‘Tidak, Baginda,” katanya “Saya akan tinggal di hotel Madrid, di Rue de Toumon.”

“O, ya ya,” kata Raja sambil tersenyum. “Saya sama sekali lupa bahwa Tuan tidak sepaham dengan Tuan Noirtier. Ini merupakan pengorbanan tuan yang lain lagi untuk kerajaan yang patut saya hargai.”

“Kebaikan hati Baginda bagi saya sudah merupakan penghargaan yang tidak terhingga sehingga saya tidak berani mengharapkan yang lain lagi.”

“Walaupun demikian, kami tidak akan melupakan Tuan Sementara itu, terimalah ini” Raja menanggalkan bintang Pasukan Kehormatan yang selalu beliau pakai di samping bintang Saint Louis, kemudian menyerahkannya kepada Villefort. Mata Villefort basah karena air mata gembira dan bangga. Dia menerima bintang itu dan menciumnya.

“Sekarang silakan,” kata Raja. “Apabila aku lupa kepada Tuan, maklum ingatan seorang Raja pendek, jangan ragu-ragu mengingatkan aku.”

Ketika Villefort meninggalkan Istana Tuileries, Menteri Kepolisian berkata kepada Villefort, “Masa depan Tuan yang cerah sudah terjamin sekarang.”

“Soalnya, berapa lama saya mesti menunggu,” jawab Villefort dalam hati.