kita berakhir, ya?

kita berakhir, ya?

Tentru.


bukti nya benar, dia benar benar melakukan kesalahan, karna dia memesan segelas minuman yang tidak seharusnya, rasa kecewa akan diri sendiri yang membuat nya seperti ini,


Nan yakin bahwa Danur menyadari nya, tapi keyakinan dia bahwa Danur juga membutuhkan dia, membuat nya mengurungkan niat untuk menjelaskan, malah dia melakukan sebaliknya hingga suara serak Danur mengeluh


"usai ga selama nya buat lega, gue udahan tapi gue juga yang nyerah untuk ga nangis? apa gue gila?"


"ga perlu nyalahin diri sendiri, kamu sudah melakukan yang terbaik. kenapa saya bilang seperti itu? hubungan kalian sangat tidak baik, dia yang memilih untuk mengabaikan mu selama tiga bulan, jika perasaan sudah hilang, maka berakhir tidak akan mengecewakan."


"gue masih sayang sama dia"


"saya tahu, tapi apa sayang bisa dijadikan alasan untuk mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah jelas akan berakhir menyakitkan? honestly, you're crazy."


"yes I am, mencintai seseorang yang masih terhubung dengan masa lalu memang berat bener. gue cape tapi gue juga yang sakit. gue yang mutusin tapi gue juga yang berambisi buat gagal move on."


"kata orang, mencintai orang yang tidak mencintai mu adalah seni termudah untuk menyakiti perasaan. tetapi menurut saya, tidak berani mengungkapkan perasaan rindu yang menggebu gebu adalah seni termudah untuk membuat ragu pasangan mu. kamu merasa aneh tidak ketika pasangan kamu sendiri tidak pernah merasakan rindu."


"menurut gue, kalo gengsi yang main, lo bakal kalah dan lo bakal ada di posisi yang serba salah."


"that's right Danur, jadi, apa salah nya kamu mengatakan rindu kepada pasangan kamu sendiri? maka pasangan kamu akan yakin pada akhirnya bahwa kamu benar benar memperjuangkan nya."


"lo nyalahin gue?"


"bukan itu yang saya maksud, tetapi selama kamu tidak berani untuk mengungkapkan apapun, maka kamu akan jatuh sendirian dan membuat pasangan kamu meragukan diri kamu sendiri."


"lo mabuk, ya?"


"tidak, saya terlihat seperti itu?"


"lo nangis? bahkan suara lo sampai serak. lo lagi kenapa kenapa, ya?"


dengan panik Nan bangkit dari tempat duduk dan segera mengusap sendu, Danur paham gelagat sahabat nya itu, Danur segera mendekat dan memegang bahu nya,


"Nandra, gue rasa lo lebih butuh gue disini, lo lagi kenapa kenapa, kan? lo inget sama kata lo beberapa detik lalu, kalo lo gengsi, lo kalah."


"gue memang bukan penasehat yang baik, tapi lo adalah sosok itu, lo ga perlu takut buat ambil keputusan lo sendiri, lo ga perlu terus terusan kecewa dengan diri lo atas masalah yang lo alami, lo ga cape cuma mikirin hal buruk yang akan menimpa lo ketika lo akan mencoba sesuatu? gue yakin, apapun yang lo lakuin tetap ada sisi baik nya."


Nan terdiam mendengarkan itu, bahu nya sedikit bergetar tetapi dia memilih tersenyum


"Danur, saya datang untuk kamu, dan saya tidak cocok kan seperti ini? saya lelah dengan posisi saya sendiri, bahkan sekedar mengungkapkan rasa rindu dan rasa cinta saya, saya bingung. seni terindah menyakiti diri sendiri adalah kalah dengan gengsi, lebih tepat nya saya menjadi orang yang bingung bagaimana cara memberikan respon yang baik kepada pasangan saya sendiri."


"lo yang terbaik, kalo pasangan lo bener, lo akan diajarkan secara perlahan seperti apa definisi diri lo yang sesungguhnya dan lo ga akan dipaksa untuk jadi orang lain, buat masalah gengsi, kalo lo nyaman, perlahan bakal hilang. gue udah lebih baik dengan hadirnya lo disini, jadi, lo harus selesain masalah lo sendiri sekarang."


Danur benar, Nan memilih untuk meninggalkan minuman keras milik nya yang tinggal setengah, memilih untuk menyetir dengan keadaan sedikit oleng,

dia sampai, sampai di rumah yang ada 'rumah milik nya' di dalam, dengan tersenyum Nan memilih untuk memasukkan password apartemen yang dia ketahui, ulang tahun Nan, dia yang membuat itu agar Gesta mengingat hari jadi mereka yang bertepatan dengan ulang tahun nya. senyuman kecil dan tarikan nafas sebagai penyambut keberanian nya,

sampai ketika dimana dia menatap sesuatu yang merobek relung hati nya dan menggantikan senyuman kecil menjadi miris,

itu bukan lah sebuah dugaan, melainkan fakta yang sayang nya dia mengetahui dengan cara yang salah, Nan terdiam beberapa saat dengan mengedarkan pandangan, mereka masih belum menyadari keberadaan nya hingga Nan berceletuk


"maaf menganggu ya, tetapi pakaian kalian hampir membuat saya tersandung"


mereka baru mendorong satu sama lain dan merapihkan keadaan yang berantakan, Gesta segera bangkit dari tempat duduk nya, mendekati Nan yang melangkah mundur dan bertepuk tangan kecil, bahkan untuk sekedar menatap, Nan sebenarnya tak sanggup, tapi dia harus melakukan itu, Gesta gugup, Nan menatap mata nya dengan paksa,


"terimakasih untuk tamparan yang saya dapatkan kemarin, selamat, kamu menang untuk meluruhkan segala nya, Gesta, apa saya pernah menahan kamu untuk sama saya terus? saya mencintai kamu sebagai pandangan pertama, dan kamu juga mengajarkan saya untuk jangan mencintai seseorang melebihi diri saya sendiri. kamu mengajarkan saya untuk mengetahui bahwa yang penting belum tentu menjadi terpenting, kamu mengajarkan saya bahwa janji tidak akan selalu ditepati, kamu mengajarkan saya bahwa sadar tidak akan bertahan lama, jika sudah melakukan sekali, maka kecanduan untuk terus selingkuh, kan? selamat ya, saya secinta ini dengan kamu tetapi saya juga sejatuh ini dengan kamu. maaf saya belum bisa menjadi pasangan yang baik, saya payah dalam mengungkapkan perasaan, saya payah dalam menjalani hubungan, tapi percayalah bahwa cinta saya habis di kamu, tapi tenang saja, saya akan tetap menjalani kehidupan, yang mungkin akan lebih baik. saya tidak benci kamu, kecewa tidak harus membenci, kan? larut dalam kesedihan malah semakin membuat dunia saya terabaikan. lanjutkan kisah mu dengan sepupu saya sendiri, semoga kalian memiliki hubungan yang harmonis, selamat tinggal, dan jangan lupa ganti password apartemen mu."


saat Nan berbalik dan melangkah tegap, Gesta mengacak rambutnya prustasi dan memanggil nya dengan lantang juga secepat kilat hingga membuat Nan menghentikan langkahnya tanpa berbalik,


"kamu benar untuk semua nya, perkataan mu barusan berhasil membuat saya sadar bahwa saya sekejam itu, terimakasih. jadi bolehkah saya mendapatkan pelukan terakhir darimu?"


Nan berbalik dengan tersenyum kecil dan mata yang memerah, dia menahan semua nya sekarang, melangkah kecil menghampiri Gesta dan memberikan pelukan kecil sebelum berucap,


"pesan terakhir saya, saya hanya akan pergi jauh dari alasan saya terluka, tapi jika kamu membutuhkan saya, jangan sungkan untuk menghubungi, ya? hati saya yang terluka, tapi saya masih tetap akan memanusiakan manusia, kamu butuh saya, maka saya akan siap membantu. maaf untuk semua nya, terimakasih bahagia yang saya dapatkan 8 tahun terakhir, terimakasih paling besar untuk kekecewaan nya."


Gesta menangis, mengetahui hal yang menyakitkan juga. dia salah, tetapi semua nya sudah terjadi, ditengah pelukan hangat yang dilakukan, Gesta bergumam,


"jadi kita?"


"kita sudah berakhir, luka nya akan saya bawa dan saya mohon maafkan juga kesalahan saya. kita berakhir ya, Gesta."



itulah akhir dari segala nya, penyesalan, kekecewaan yang membuahkan kehidupan lebih baik, karna seni adalah perumpamaan yang terbaik.


terimakasih.

Report Page