be my mistake.
wasn't ocean
Sejak tiga belas menit lalu, hujan turun di tempatnya bermukim. Mulut pria yang tengah menyandarkan diri di dinding itu mengeluarkan asap bersamaan dengan isi kepalanya yang kerap menerka jika saja wanita yang memenuhi pikirannya akhir-akhir ini juga sedang menikmati hujan sama sepertinya, atau bahkan tidak ada sama sekali rinai hujan, mungkin hanya ada angin yang berhembus meski rasanya tidak sampai membawa kesejukan. Entahlah, yang terpenting, ia berharap wanita itu baik-baik saja. Tidak seperti dirinya, yang kehilangan arah, kekosongan serta rasa kehilanganpun terasa tatkala kisah yang pernah membahagiakan itu, kini kandas dan menyisakkan luka di masing-masing perasaan yang sempat pernah berlabuh.
Bukan, wanita di hadapannya ini bukanlah wanita yang sama seperti yang dinarasikan di atas tadi. Mereka sangat jauh berbeda, tetapi tidak bisa dipungkiri jika pria itu sering kali mencari-cari persamaan diantara keduanya. Wanita itu merampas cepat cerutu yang sedari tadi diapit oleh jari pria tersebut lalu membawa benda itu menjauh.
"Kalau kau ingin mati, kenapa tidak lompat saja? Kita berada di lantai teratas, jika kau lupa. Menghisap nikotin seperti ini akan membutuhkan waktu yang lama." Senyuman cantik ditampilkan oleh birai indah dari wanita itu, mengharap reaksi yang mengahatkan hati dari sang kekasih di hadapannya. Tetapi yang ia dapat hanyalah tatapan kosong serta raut datar dari pria di depannya.
"Aku belum siap menerima siksaan di neraka." gumamnya, langkah kakinya perlahan menjauh dari wanita cantik itu, lalu ia merebahkan dirinya di ranjang yang terletak di sudut ruangan. Lagipula sudah cukup batang-batang cerutu yang ia habiskan hari ini, putungnya pun kini berserakan dimana-mana. Jujur saja, ia juga terkejut mendapati dirinya yang seperti ini, karna sebenarnya ia bukanlah perokok berat.
Kekehan terlontar lembut dari bibir sang wanita. "I thought you always wanted to go there."
"And leave you here all alone?"
Mendengar pergerakan dari wanita itu yang hendak mengikis jarak antara mereka, ia bergeming, "Aku ingin tidur, please stay outside my room." Itu cara mengusir yang tidak cukup halus. Habis bagaimana lagi, ia tidak suka tidur dengan orang lain di dalam kamarnya.
"Sam," wanita itu memanggil nama pria yang tengah memejamkan netranya tersebut. "Sulit untuk meyakinkanmu bahwa perasaan yang tulus itu ada, jika kau terus menganggapku sebagai kesalahan." Entah apa yang merasukinya saat melontarkan pernyataan yang ia tahu betul dapat membuat Sam terpicu akan hal yang seharusnya tidak untuk diungkit.
"Kau memang kesalahanku dari awal. Aku tidak pernah menyisipkan kebohongan ketika mengatakan bahwa seharusnya kita tidak bertemu sejak awal. Aku tidak pernah menguntai bantah bahwa aku memang masih menyayanginya."
Iya, Sam memang terlampau menyanyanginya, sampai sulit baginya untuk menerima cinta yang diberikan orang-orang disekitarnya. Sampai semua ketululusan yang diberikan kepadanya ia lepehkan dengan berujung kesia-siaan, ia tidak pernah mau berdamai dengan hubungan yang sudah kandas lamanya. Ia menyimpan amarah pada dirinya, ia juga menyimpan amarah pada wanita di depannya. Bodoh, apa yang ia harapkan dari memberikan cinta kepada lelaki yang bahkan belum bisa melarikan diri dari masa lalunya?
Wanita di hadapannya—Elara. Ya, namanya Elara. Ia lama merenungkan kepalsuan yang nyata adanya merangkap Elara di dalam kesedihan yang percuma, sekiranya sudah cukup ia mencintai pria yang tidak ingin menerima cintanya. Tidak apa, setidaknya ia bisa mengungkapkan cintanya dengan leluasa kala itu, walau sepertinya itu semua akan berakhir tepat pada saat ini. Pula, ia tidak yakin apakah Sam benar-benar dapat merasakannya—perasaan cinta itu, memang betul bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan masa lalunya, tapi Elara juga tidak bisa mengatur perihal bahwa ia akan jatuh dengan cara seperti ini, bukan?
"El," memecahkan keheningan yang lamanya berlangsung, Sam tidak mendengar jawaban apapun dari wanita dihadapannya yang kini mengeluarkan kristal bening di ujung manik hitam miliknya. Tangan kanan Sam mengelus surainya saat tepat berada di hadapan Elara. Kemudian hempasan kasar Sam dapatkan beberapa detik setelah tangannya mendarat di surai milik Elara.
Tampaknya meskipun hasrat bisa menjadi besar, itu tidak pernah bisa lebih besar daripada ketidakberdayaan yang dirasakan saat kita benar-benar jatuh cinta.