a Deadly Train
cookiesSore itu aku memiliki janji untuk menjemput teman kecilku. Ravendra namanya, kami tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama, 10 tahun mungkin? Aku dulu mengenal Ravendra saat kami berada di Taman Kanak yang sama. Aku pindah, lalu kami lost kontak hingga akhirnya orang tua Ravendra memberikan nomor ponselku kepada Ravendra. Terlihat seperti cerita pada umumnya. Tapi, memang begitu adanya.
Ravendra bilang ingin bertemu denganku, tentu saja aku setuju. Aku mengatakan padanya untuk naik kereta saja, karena rumahku tidak jauh dari stasiun.
Aku udah turun, kamu di mana, Zee?
Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Ravendra. Tanpa membalas, aku berusaha mengingat ingat wajah temanku itu.
"RAVEN!" teriakku sambil melambaikan tangan begitu aku melihatnya.
Ravendra berlari kecil lalu memelukku. "Oh I miss u, lama banget kita enggak ketemu."
Aku menepuk-nepuk punggungnya seraya berkata, "Yang penting sekarang ketemu, kan?"
Ravendra melepaskan pelukannya lalu tersenyum manis kepadaku. Tidak bisa dipungkiri kalau Ravendra tumbuh menjadi laki-laki yang tampan. Aku pun ikut tersenyum melihatnya.
"Ayo, udah ditungguin sama Mama, katanya mau lihat kamu udah seganteng apa. Papa juga nanyain kamu terus, tuh."
Ravendra mengangguk lalu kami bergandengan menyebrangi rel untuk keluar dari stasiun. Belum ada 10 langkah menyebrangi rel, angin berhembus kencang seperti akan terjadi badai. Aku mengeratkan genggaman tanganku pada Ravendra. Langit menjadi gelap, dan bukan hanya kami yang menyebrang saat itu.
Aku ingat ada sekitar 10 orang yang ikut menyebrang bersama kami. Kami dikelilingi oleh kabut yang tebal, tubuhku gemetar dapat aku rasakan tangan Ravendra juga berkeringat dingin.
"Raven ..." lirihku. Raven kemudian menarikku kedalam rengkuhannya.
"HEH, CEPAT MENYEBRANG! KERETA AKAN DATANG. CEPAT CEPAT!" teriak salah satu petugas di sana.
Kami dan 10 orang yang ikut di kelilingi kabut itu merapat dan berusaha untuk menyebrangi rel kereta. Perlahan tapi pasti, kami semua bisa sampai ke sisi lain stasiun. Tapi, tidak dengan gadis yang kini berdiri di tengah rel sambil memandang kebingungan ke arah kami.
"Kalian meninggalkan aku! Tolong aku!" teriaknya frustasi.
Kabut itu memang tebal, tidak bisa melihat apapun di dalamnya. Ravendra hendak membantunya tapi, petugas di sana melarangnya untuk kembali. Entahlah, aku tidak tahu kenapa petugas di sana bersikap biasa saja.
Aku ingin berbalik badan, aku takut. Namun, entah bagaimana kakiku terasa kaku dan pandangan mataku seperti tidak bisa teralihkan dari gadis itu. kupikir semua yang terjebak dalam kabut itu juga merasakannya.
Suara kereta mendekat, tubuhku gemetar dan lemas.
"Raven!" Aku teriak begitu melihat bagaimana tubuh gadis itu ditabrak oleh kereta yang melintas. Cipratan darahnya mengenai wajahku, jantungku seakan berhenti sejenak. Tolong aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku takut.
Gerbong kereta terakhir sudah lewat, anehnya tidak ada bekas darah atau apapun di sana. atau bahkan seolah tidak pernah ada kereta yang melintas.
Aku menoleh menatap Raven yang sama bingungnya denganku. Aku mengusap wajahku, mencari tahu apakah ada bercak darah di sana. Tapi, nihil tidak ada sama sekali. Aku melihat penumpang di sana juga sama bingungnya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi barusan.
Kalau itu hanya mimpiku, lalu kenapa Raven juga sama bingungnya denganku? Pengunjung lain juga sama. Bingung dengan apa yang terjadi.
"Kalian semua pulanglah, Bersihkan diri kalian terlebih dahulu. Itu tadi bukan kereta asli." Setelah mengucapkan hal itu, petugas tersebut langsung berbalik dan meninggalkan kami dengan kebingungannya yang ada.
"Itu tadi, apa?" tanyaku lirih kepada Ravendra.
Ravendra menggeleng kecil lalu segera menarikku untuk meninggalkan stasiun itu.
Sampai sekarang pun aku masih bertanya tanya tentang hari itu.