We are Never Ending.

We are Never Ending.

Hadimbaa

Ini tentang pertemuan dua orang gadis yang sama sama membutuhkan tempat untuk saling bercerita. sebenarnya tak ada yang sepesial, hanya saja pertemuan ini pantas untuk di syukuri. bicara soal pertemuan, kami bertemu hanya sebagai teman virtual, teman maya, tak pernah saling menatap, juga saling berucap. kita membaca. kita menelaah setiap pesan yang kita kirimkan satu sama lain. tidak ada yang spesial kan? bahkan mungkin kalian semua juga merasakan hal yang sama. tapi antara kami dan kalian adalah kami bertemu ketika takdir mengatakan "Selamat Datang", mereka menyambut kami dengan bahagia. itulah mengapa, pertemuan ini pantas untuk disyukuri.


Bicara soal takdir kadang gue merasa kecewa. em bukan kecewa sih, tapi kesal. kesal kenapa kami hanya dipertemukan sebagai teman virtual. kenapa enggak dipertemukan sebagai teman yang bisa saling menatap? alias teman nyata. tapi terlepas dari itu, gue sangat beruntung bisa bertemu sosok dia, yang gue percaya dia orang yang baik, dia asik, dia lucu, dia bisa dipercaya, juga dia cantik. sangat cantik. Dia Winona Theara.


Tea, Teak, Tek. nama panggilan dari gue buat dia. banyak hal yang udah kami lalui bersama. kadang kami saling menyemangati, kadang saling bertengkar, juga kadang hanya diam. tapi itu semua yang membuat kami menjadi lebih dekat dan mengenal satu sama lain. bisa dibilang pertemuan kami sedikit bertahan lama. entahlah mungkin mendekati 7 atau 9 bulan? dan gue sangat senang untuk itu.


Dan hal yang mengejutkan di antara kami adalah, kami memiliki banyak persamaan. kata Tea, dia suka pedes, gue juga suka. dia suka musik dan gue juga. dia suka semua rasa, gue juga. bahkan ketika semua orang memperebutkan antara rasa apa yang paling enak antara matcha dan taro, kami sama-sama tidak bisa memilih, karena gue dan dia suka keduanya.


Hal yang lucu adalah ketika kami dipertemukan dengan satu hal yang sangat menjengkelkan, maksud gue hewan. kecoa. kami sama-sama tidak suka. kami akan saling meneriaki hal itu dan bersikap panik dibuatnya. tapi juga nggak takut banget, hanya sedikit panik.


Dan masih banyak lagi fakta tentang bagaimana seorang Winona Theara. yang terpenting adalah Gue benar-benar bersyukur udah di pertemukan sama lo, Tea. gue harap lo juga sama.


will be our.


Remember that, Goodbye is not the end.


Sore itu, Hadimba duduk memandang sebuah pick up yang sudah berisikan banyak barang. nafasnya sedikit terengah, sebab ia juga ikut andil memenuhi pick up tersebut dengan barang barang diatasnya 15 menit lalu. atensinya tertuju pada seorang gadis yang kini tengah berjalan mendekatinya. seseorang yang akan ia rindukan beberapa hari atau bahkan jam kedepan.


"Nih minum. Capek juga ya Dim mindah mindah barang doang. padahal loh punya gue dikit banget, cuma buku sama baju baju doang. Gila siii capekkk." tatarnya sedikit kesal dengan menyodorkan sebotol air mineral, dan langsung duduk disamping Hadimba dengan napasnya yang juga masih terengah.


"Hahahah, padahal udah gue bantu dih. Ngeluh mulu lo," jawab Hadimba sedikit tertawa sembari menerima pemberian temannya itu.


Kedua nya diam, menikmati sepoi sepoi angin sore itu sambil meminum minuman masing masing untuk menghilangkan dahaga. untung saja hari ini cerah, jadi tak ada hambatan bagi mereka. namun siapa sangka, hambatan itu muncul di dalam hati Hadimba. bertemu dengan kenyataan jika temannya itu akan pergi jauh meninggalkan diri nya. berusaha melepaskan teman baik yang ia punya, bukan lah hal yang mudah. sulit, sangat sulit bahkan. tapi apa boleh buat? ia tidak bisa menahan. ia tidak boleh egois.


"Inget gak, Tek? Kalo sore gini kita biasanya ngobrolin tentang tetangga sebelah lo yang katanya cerewet banget itu. Emang beneran apa??" tanya Hadimba tanpa melepas pandangan nya ke depan.


"Anjir AHAHA, iya tau, Dim. Tiap pagi dia pasti udah getok getok pager, buat bangunin anaknya. Padahal kan bisa gausah pake acara getok getok gitu. Yang ada satu komplek ikut bangun. Ah apa lagi nih ya, kalo lagi kumpul gitu, dia nih behh, gosip muluuu, mana yang digosip tuh itu itu terus. Capek gue," jelas Tea dengan nada yang sedikit meninggi.


"AHAHAHAHAH, ANJIRRR. Jangan keras keras tek, ntar kedengeran dianya,"


"Alah biarin. Najis bener dah," ucapnya kesal.


"Oh iya, inget gak waktu pertama kita ketemu, gue ngira kalo lo kaya Thea di GGS?? AHAHHAHAHA sama si namanya," tanya Hadimba sedikit geli mengingat hal itu.


"YEU NAJIS KETAWA. Iya inget gue, eh tapi gue pasti keren kan ya kalo beneran punya taring kaya si Thea GGS, KKKHH!"


"Halah gausah mulai dehh,"


Lalu keduanya tertawa. hal hal sederhana yang selalu bisa mengundang gelak tawa mereka, akan selalu menjadi hal yang sama sama mereka rindukan nantinya. tapi mereka sudah berjanji untuk merelakan satu sama lain. untuk tidak memberatkan sebelah pihak ketika dihadapkan dengan perpisahan. mereka harus menerima.


"Jadi, kapan berangkat, Tek?" tanya Hadimba sembari menaruh semua atensi kepada teman nya itu.


"Nanti, Dim. Jam 9 nan kayaknya. Nunggu bunda gue pulang sih," jawab nya. Hadimba hanya ber oh ria dan mengalihkan atensinya lagi entah kemana.


"Gapapa, Dimba,"


Tersentak ketika ada yang menyentuh tangan kanan nya. itu tangan Thea. sambil diusap perlahan dengan maksut meyakinkan Hadimba jika semua akan baik baik saja.


"Iya, baik baik ya, Thea. Gue seneng bisa ketemu sama lo. Kalo boleh jujur, gue masih pengen sama sama bareng lo untuk waktu yang lebih lama. Gue gapernah ngerasa nyesel ketemu sama lo. Tapi gue juga gabisa egois buat nahan lo disini, sementara keluarga lo bakal pergi dan gak akan kembali lagi kesini," ditatapnya kedua mata teman nya itu.


"Hadimba, gue juga seneng kok ketemu sama lo, seneng banget malah. Gue seneng bisa ketemu sama orang sebaik lo, seasik, selucu lo. Hadimba. Tapi gue juga gamungkin buat tinggal disini terus. Ini bukan asal gue. Gue harus balik,"


"Iya, Thea. Gue tau kok. Masa depan lo, lebih penting untuk dikejar. Janji sama gue, lo bakal baik baik aja ya? Lo bakal dapetin apa yang seharusnya lo dapetin."


Anggukan kecil dari Thea—teman baik nya itu— selalu menjadi rasa lega untuk Hadimba.


"Huum. Gue bakal baik baik aja. Lo juga harus baik tau, Dim. Kaga adil lah kalo gue doang," protesnya.


"Okay. Gue pasti selalu baik." kata Hadimba lalu menjulurkan jari kelingking nya, "Janji, Tek."


"iyaa Janji. Najis kaya bocil,"


Ditautkan nya kelingking mereka sembari saling melemparkan senyum. senyum yang akan selalu dirindukan. entah Hadimba atau pun Theara, mereka sama sama sedang berusaha untuk saling menerima.


Sejatinya tak ada yang kekal di dunia ini. semuanya fana. semua sementara. salam akan bertemu selamat tinggal. cerah akan bertemu dengan hujan, juga pertemuan akan selalu berteman dengan perpisahan. itulah takdir. itulah hukum alam.

Dan ketika manusia dihadapkan oleh kebalikan kebalikan yang selalu mereka hindari, yang bisa dilakukan hanyalah berusaha. berusaha untuk menerima dan merelakan. namun satu hal yang harus kita percayai adalah, perpisahan bukan lah akhir. tapi perpisahan, ialah awal untuk pertemuan pertemuan yang baru, yang akan datang.


Teak, kayaknya penghujung waktu "bertemu" sampai disini ya? Gue harap lo enggak lupain gue. gue harap lo inget gue sebagai teman lo yang paling kiyowo. gue mau lo jadi lebih baik lagi disetiap harinya. karna lo pantes dapet itu. baik baik ya teak? gue juga bakal baik baik kok tenang ajah.... iloyo bestie... sarangheo satu planet, Teakk.

Report Page