Unsere Geschichte

Unsere Geschichte

Warning!
22:17 WIB — Jakarta, 25 Mei 2023

Malam yang terlihat sedikit bintang di atas sana yang membentang jauh, seakan menjadi malam yang akan gelap gulita. Kini, pemuda berambut panjang baru saja menginjakkan kaki nya di atas tempat tidur, tempat ternyaman di seluruh dunia. Tidak ada kegiatan selain menutup dan membuka matanya, sambil melihat langit langit kamarnya.


-A

"Hah, capeknya. Seharian kuliah kaya gini lama lama bisa mati, enggapapa dah demi banggain orang orang tersayang." monolognya sambil mengambil sesuatu di dalam kantong celananya. "Seharian juga engga buka hp, mau lihat isinya udah apa aja ini. Notif ig....notif wa...notif twitter, loh notif ml ambil free skin? Astaga lupaa....entar deh buka nya males banget."


Sampai tak berselang lama ia melihat sebuah notifikasi yang menampilkan 20 pesan yang tidak terbaca. "Ini 20 pesan siapa yang nyepaam...ADEKKK? ASTAGA LUPAAA!!!" ucapnya kaget si pemuda tersebut hingga tak berselang lama kemudian ia membuka isi pesan tersebut.


-notifikasi

Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam yang dimana seharusnya tubuh membutuhkan istirahat yang cukup supaya di esoknya bisa beraktivitas kembali lagi. Tapi tidak untuk pemuda ini, ia masih merenungi kesalahannya sambil melihat layar handphonennya yang tercetak jelas menampilkan sebuah roomchat ia dengan seseorang.


"Adek, bales sayang, kaka khawatir. Kaka udah nyepam sambil telepon gini sayang, ayoo balass. Kaka minta maaf, maaf engga ngabarin adek ya, balas ya sayang." ucapnya yang lagi mengirimkan sebuah pesan suara.

. . .

Pemuda itu tak tau harus bagaimana lagi, hingga ia berpikiran untuk menghampiri rumah si penerima pesannya tersebut. Tak berselang lama ia bergegas mencari kunci motor, memakai pakaian seadanya, tak lupa sweater yang membalut hangat ditubuhnya. "Semoga dia masih bangun." ucapnya sambil melajukan motornya menuju ke rumah orang tersebut.


Jl. Kelapa Gading

. . . . .

Di sisi lain, nampak pemuda berambut hitam pekat sedang meneteskan air matanya sambil melihat kedepan layar handphonenya. Tidak memainkan, hanya menampilkan sebuah notifikasi pesan.


"Kaka engga sayang adek lagi hiks, kaka sekarang engga peduliin adek lagi. Adek sakit kaka, sakit hikss." ucapnya yang tak berhenti meneteskan air mata hingga air matanya mengenai layar handphonenya itu. "Kalau kaka udah engga mau sama adek itu bilang! Jangan suka ilang ilangan gini hikss, kaka bikin adek khawatir teruss! Coba kaka kaya adek jadi adek seharian sini hikss. Sakit kaka."


Pintu kamar terbuka, menampilkan sesosok perempuan cantik yang mungkin itu si ibunya. Perempuan tersebut langsung menghampirinya dan menanyakan sesuatu, "Akey, ada tamu tuh diluar sana hampirin dulu sayang. Udah jangan nangis lagi, jelek ah anak mama ini nangis terus engga cantik lagi nantinya." ucap sang mama sambil membersihkan air mata pemuda beramput pink yang bernama Akey itu.


Akeyro with cry.

Akey mengangguk, membiarkan sang mama membersihkan air mata yang menempel di pipinya. Setelahnya, ia menuruti perintah sang mama untuk menghampiri tamu tersebut. Ia tidak tau, siapa yang mau menemuinya malam malam begini, ia sempat berpikir jika tamu tersebut adalah orang yang membuat nangis seharian ini, tapi tak bisa dipungkiri jika ia juga sangat merindukan orang tersebut.

Satu persatu Akey menuruni anak tangga, hingga di anak tangga terakhir, ia melihat sosok yang sangat ia rindukan. Tak di pungkiri betapa senangnya ia, melihat orang yang ia rindukan, akan tetapi rasa rindu nya seketika hilang, membuatnya ingin bersedih kembali.


Home, Akey.

"Kaka ngapain kesini?" ucap Akey yang dimana didengar oleh pemuda yang dipanggil 'Kaka' itu. Lantas pemuda tersebut langsung menghampiri Akey dan memeluk erat tubuhnya, menenggelamkan wajahnya di leher Akey sambil mengatakan "Maafin kaka sayang."


Akey merasakan hangat ditubuhnya, apalagi saat mendengar suara yang ia rindukan membuat hatinya yang kacau menjadi tenang kembali. Akey mengangguk dan mengajak pemuda yang berada dipelukannya itu untuk duduk bersama.

Pemuda yang berada dipelukkan Akey tadi hanya menunduk, sambil menggenggam kedua tangan Akey. Akey yang melihat hal tersebut bertatap heran, kemudian ia mengangkat dagu runcing pemuda tersebut dan betapa terkejutnya ia melihat wajah tampan pemuda tersebut kini penuh dengan lembab, seperti habis di tonjok.


"Astaga kaka! Kok ini muka kaka lembab kaya gini ih??!! Kaka habis ditonjok kah atau apa?" ucap Akey sambil melihat permukaan wajahnya tersebut. "Sebentar, adek obatin duluu."


Saat ingin pergi pemuda tersebut menahan pergelangan tangan Akey dan ia mengucapkan, "Engga usah adek, enggapapa kok." Akey menggelengkan kepalanya, ia tidak kuat melihat orang didepannya ini. Ia ingin menangis, tapi harus ditahannya. Tak lama kemudian datang seseorang yang dari penampakkannya seperti Ayahnya Akey dan ia berkata, "Turutin aja apa kata Abim nak, biarin aja mukanya bonyok kaya gitu."


Abim & Akey

— flashback —


Setelah beberapa menit, Abima sampai di tempat tujuannya. Kini ia sedang menyiapkan diri entah itu mungkin mentalnya atau fisiknya, ia berpikiran habis ini bakalan habis tubuhnya dihajar.

Dan benar saja, setelah ia mengetuk pintu rumah berwarna coklat tersebut langsung dihadapkan dengan sosok yang lebih tinggi darinya. Bisa kalian pikirkan sendiri, bagaimana kelanjutannya?

.   .   .

"Sakit ya nak? Maafin papanya Akey ya." ucap seorang perempuan sambil membersihkan lembam di wajah Abima." Abima hanya terdiam, tidak memberikan reaksi apapun. Ia tau, rasanya pengen menjelasin semuanya ke sosok yang lebih tinggi dari dia tadi tapi tidak bisa, karena semuanya salah dia.

Selesai perempuan itu membersihkan wajah Abima, ia kemudian pamit pergi dan kini hanya menyisakan Abima seorang diri di ruang tamu, melamun dan merenungkan kesalahan yang diperbuatnya. Sampai seketika ia mendengan suara, suara yang ia rindukan. Ia menoleh dan mendapatkan Akey sedang berdiri di ujung sana. Tak pikir lama Abim pun segera menghampirinya dan memeluknya erat sambil berkata, "Maafin kaka sayang."


— back to now —


Dua insan yang saling membutuhkan, kasih sayang yang mereka berikan satu sama lain begitu kuat. Kini, mereka berdua Abima dan Akey sedang berbagi kehangatan bersama, melewati dinginnya malam dengan aktivitas yang mereka lakukan di malam ini. Laptop yang menampilkan sebuah film menjadikan tontonan bagi mereka berdua.


Night with you

"Kaka, adek ngantukk udahan yuk nontonnya." ucap Akey sambil mengangkat kepalanya ke atas menatap Abima. "Yakin? Nanti tiba tiba adek bangunin kaka terus minta nonton lagi. Nonton aja sayang lanjut aja enggapapa, kalau ngantuk nanti tidur aja ya." balas Abima sambil mengelus rambut pelan dan memberikan kecupan di atas kepalanya.

Akey mengangguk dan kembali memfokuskan pandangannya ke layar laptop. Jika kalian berpikiran film yang mereka tonton bergenre romance itu salah besar, melainkan menonton anime kesukaannya Akey. Abima ingin marah, karena selalu hal itu yang dibahas, tapi karena keadaannya yang kurang memungkinkan jadilah Abima menyetujui apa yang Akey inginkan.

Tangan yang saling menggenggam erat, memperlihatkan cincin yang dipasang di jari manis mereka masing masing, menandakan mereka adalah sebuah pasangan yang romantis, atau bisa dibilang bertunangan?


my love

— to be continue....

Report Page