Tugas Stewardness
𝕭ᶠᴬ ꯥ¹³ Bian“Langit yang Tak Lagi Sekadar Biru”
Namaku Bianca Rahmadania Putri
Aku bukan gadis yang penuh ambisi. Aku hanya gadis yang hanya ingin kedamaian tanpa merasa kelelahan. Karena menurutku, hal yang paling menyenangkan adalah diam.
Selain itu, aku hanya gadis biasa yang duduk di bangku pojok belakang, dengan berbagai buku novel dan buku gambar yang isinya coretan abstrak, Karna aku tak begitu terlalu menyukai seni. Aku. hanya suka awan. mereka indah, dan menawan bagiku.
Sampai suatu pagi yang entah kenapa, hidupku berubah arah.
Keisengan yang Berbunyi Nyata
Hari yang sama seperti hari sebelumnya, tak ada hal apapun yang spesial bagiku. tersenyum. aku menatap gambaran langit yang ku buat secara asal.
perfect.
Ku alihkan pandanganku ke depan. Sesaat terlihat Bu Rani tersenyum ke arahku, melihat hal itu, aku langsung merespon senyuman balik ke Bu Rani.
“Anak-anak,” suara Bu Rani terdengar lembut tapi tegas, “hari ini ibu ingin kalian sebutkan cita-cita kalian dan alasannya.”
Satu per satu teman-temanku menjawab dengan penuh keyakinan.
“Dokter, Bu!”
“Polisi!”
“Guru TK!”
Aku menguap pelan di bangkuku, menatap kosong ke papan tulis. Dalam hati aku bergumam, ‘Cita-cita ya? Aku bahkan belum tahu mau makan apa nanti siang.’
Ketika giliran tiba, Bu Rani menatapku sambil tersenyum.
“Bianca, kamu belum jawab. Cita-citamu apa?”
Aku mengangkat kepala, menatap wajah guru yang selalu penuh semangat itu.
Tanpa pikir panjang, aku menjawab asal
“Saya mau jadi pramugari, Bu.”
Kelas mendadak sunyi sejenak, lalu pecah oleh tawa teman-temanku.
“Hah? Bianca? Yang takut ketinggian itu? aduh, boong nih boong?”
“Wah, siap terbang, Bu!”
Berbagai komentar terdengar masuk ke dalam telingaku. Wajahku panas. Tapi Bu Rani justru mengangguk, tersenyum lembut.
“Bagus sekali, Bianca. Cita-cita pramugari itu indah. Mereka membawa orang menjelajahi dunia. Ingat, terkadang impian besar berawal dari keisengan kecil.”
Sedikit terkejut saat Bu Rani tau tentang keisengan ku. Namun, kalimat yang di ucapkannya terasa ringan… tapi seperti meninggalkan gema lembut di dadaku
Langit Pertama
Beberapa tahun berlalu.
Aku sudah SMA, dan keisengan itu terkubur di antara tugas, ujian, dan drama remaja yang kadang tidak masuk akal.
Sampai akhirnya, liburan akhir tahun datang. Ayah mengajak kami ke Bali. Itu akan jadi penerbangan pertamaku.
Hari itu, bandara terasa seperti dunia lain. Orang-orang sibuk, suara pengumuman bergaung, aroma kopi dari kafe bercampur dengan semangat para penumpang.
Namun, di balik semua itu, aku… takut.
Tanganku dingin. Jantungku berdebar tak karuan.
“Tenang aja, Bi. Nggak bakal kenapa-kenapa,” kata kakakku, Gema.
“Aku… cuma nggak pernah naik pesawat,” jawabku pelan.
Begitu pesawat mulai bergerak, tubuhku menegang. Suara roda bergesek, getaran di lantai, dan hembusan angin di luar membuat nafasku sesak.
Tiba-tiba, seorang pramugari datang mendekat. Namanya Kirana, tertulis di nametag-nya. Ia menatapku dengan senyum hangat yang entah kenapa bisa menenangkan.
“Mbak, gapapa ya? Tarik napas pelan, keluarkan perlahan.”
Tangannya menepuk pundakku lembut.
“Semua baik-baik saja. Ini cuma fase lepas landas, nanti stabil kok.”
Aku menuruti ucapannya. Nafasku mulai teratur.
Ia tersenyum lagi, “Kalau sudah terbiasa, naik pesawat itu malah bikin ketagihan.”
Ada sesuatu pada dirinya.
Caranya berbicara, berdiri, berjalan di lorong sempit pesawat tanpa kehilangan keseimbangan — semua terasa anggun dan percaya diri.
Saat pesawat menembus awan, aku menatap keluar jendela.
Langit di luar biru muda, seolah dunia sedang tersenyum.
Dan di sanalah, untuk pertama kalinya aku berpikir
“Aku ingin jadi seperti dia.”
Sayap yang Mulai Tumbuh
Sejak hari itu, aku berubah.
Cita-cita yang dulu muncul dari keisengan kini tumbuh menjadi tekad yang serius.
Aku mulai mencari tahu tentang sekolah penerbangan, syarat fisik pramugari, hingga cara melatih bahasa Inggris dan public speaking.
Bahkan setiap kali di rumah, aku sering berjalan di depan cermin sambil berkata sopan:
“Selamat pagi, penumpang yang terhormat. Selamat datang di penerbangan menuju Jakarta.”
Ibu sering tertawa kecil melihatku.
“Anakku latihan jadi pramugari ya? Cantik, tapi jangan lupa makan dulu.”
Aku juga belajar menjaga postur tubuh, melatih senyum, dan bahkan belajar mengatasi panik lewat video tentang situasi darurat di pesawat.
Aku ingin seperti Mbak Kirana — tenang di tengah guncangan.
Namun jalannya tak selalu mudah.
Ada ujian seleksi tinggi badan, kemampuan komunikasi, bahkan tes psikologi yang membuatku sempat putus asa.
Tapi setiap kali ingin menyerah, aku kembali mengingat awan di luar jendela saat penerbangan pertamaku.
Langit itu seolah berbisik:
“Ayo, Bianca. Terbanglah.”
Langit yang Kupilih
Beberapa tahun kemudian, akhirnya aku dinyatakan lulus dari sekolah penerbangan.
Seragam biru muda membalut tubuhku, sepatu hak kecil berkilau di bawah sinar matahari pagi bandara.
Di ruang tunggu, aku melihat seorang gadis kecil memegang tangan ibunya sambil menatap pesawat. Wajahnya penuh rasa takut.
Aku tersenyum, mendekatinya.
“Hei, kamu mau naik pesawat?”
“Iya… tapi aku takut tinggi,” jawabnya lirih.
“Aku juga dulu begitu,” kataku sambil berlutut, menatap matanya. “Tapi lihat sekarang, aku malah kerja di langit.”
Ia tertawa kecil. Aku tahu, aku sudah menjadi seperti Mbak Kirana dulu.
Kini, setiap kali aku menatap langit dari jendela pesawat, aku sadar — birunya bukan sekadar warna.
Birunya adalah janji, bahwa tidak ada impian yang terlalu kecil untuk dimulai dengan keisengan.
Selama kita punya keberanian untuk mengejarnya,
langit pun akan memberi tempat untuk kita terbang.
────────────────
Kadang, mimpi tak perlu lahir dari keseriusan.
Ia bisa tumbuh dari tawa, dari keisengan, dari momen kecil yang tanpa sengaja menyalakan cahaya di hati.
Yang penting adalah keberanian untuk menjadikannya nyata.