Titik temu

Titik temu

Soraya Royanné

Rintih hujan perlahan turun menghampiri bumi. Bumi kembali bersedih hari ini, sama hal nya dengan lelaki berbaju coklat muda yang bersandar di bawah pohon. Gemuruh pun ikut serta menemani lelaki tersebut bersedih.

"Ngapain?" Tanya seorang perempuan yang sedari tadi diam melihat lelaki tersebut melamun dan akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri.

Tidak ada jawaban dari lelaki berbaju coklat.

"Aku duduk di sebelah kamu ya? Boleh?" Hanya anggukan yang si perempuan dapatkan.

Suasana hening sejenak, menyisakan dentuman air menabrak rerumputan yang dapat di tangkap oleh indra pendengar. Hingga akhir nya salah satu di antara keduanya memulai pembicaraan.

"Kata bunda kalau suka ngelamun nanti kemasukan setan, gimana?"

"Ngga, gua ngga takut setan"

Jawaban si lelaki berbaju coklat sontak mendapat senyuman lebar dari si perempuan. Pasal nya, setalah hampir 20 menit ia tak mendapat jawaban apapun dari lawan bicara nya tersebut.

"Terus takut sama siapa?" Sambil menggeser badan mendekati si lelaki dan mengarahkan kedua bola mata nya hingga dapat melihat wajah datar yang di tampakkan oleh lelaki tersebut.

"Takut sama sebagian penghuni bumi"

"Pada jahat jahat ya sama kamu?" Sambil memberi tawaan renyah di akhir kalimat tanya nya.

"Right" Singkat, namun mampu membuat si perempuan diam sejenak dan bertatapan empat mata dengan si lekaki yang ia tak ketahui nama nya tersebut.

Setelah beberapa detik saling bertatapan, si perempuan kembali melihat kedepan sambil memainkan rumput yang ia cabut.

"Aku ngga tau semua hal tentang kamu, dan aku tau pasti kamu masih anggap aku stranger who suddenly sits next to you and suddenly ask your problem, tapi aku juga pengen tau banyak tentang kamu. Give me some of your troubles, and maybe you will feel more relieved than before?"

Si lelaki tak berkutik sepatah kata pun dan hanya memberi respon dengan menyandarkan kepala nya ke bahu si perempuan.

"Harist Agastara" Ucap si lelaki setelah menempatkan kepala nya ke pundak.

Si perempuan hanya bisa tersenyum sambil menyaksikan bumi yang masih terus basah oleh sisa sisa lelahnya.

"Bumi, salah satu penghuni mu bersedih" Bisik Soraya.

Report Page