The Wish That Found Us
Beylie Luvienne
Kalimat itu telah menjadi legenda yang diwariskan secara turun-temurun di Kerajaan Tanctuary, sebuah negeri indah di ujung Benua Aetheria yang dikenal sebagai Negeri Seribu Harapan.
Setiap lima tahun sekali, tepat saat ulang tahun Tanctuary, sebuah artefak kuno bernama Starwish Compass muncul kembali dari tempat persembunyiannya. Tak ada yang benar-benar tahu siapa yang menciptakannya. Yang mereka tahu hanya satu. Siapa pun yang menemukannya berhak mengucapkan satu harapan.
Itulah kenapa banyak orang datang untuk mencarinya. Penyihir, ksatria, hingga pemburu harta telah mencoba melewati berbagai rintangan demi menemukan benda legendaris itu. Namun hampir semuanya kembali dengan tangan kosong. Hingga akhirnya, seorang gadis bernama Beylie memasuki Hutan Elaria dengan tujuan yang sama, menemukan "Starwish Compass". Meski begitu, ia tidak pernah benar-benar percaya pada legenda.
"Aneh," gumamnya pelan sambil menyibakkan ranting-ranting yang menghalangi jalan. "Orang-orang rela mempertaruhkan hidupnya hanya demi sesuatu yang tidak jelas keberadaannya"
"Tapi tetap saja kamu juga datang."
Suara itu membuat Beylie berhenti seketika. Tangannya refleks meraih belati yang terselip di balik jubah. Dari balik pepohonan muncul seorang pemuda berjubah hitam. Rambutnya sedikit berantakan, sementara sebuah liontin berbentuk hati menggantung di dadanya, memancarkan cahaya redup.
"Aku tidak berniat mengejutkanmu," katanya tenang. "Namaku Damaresh."
Beylie menurunkan belatinya, meski tatapannya masih penuh curiga.
"Jangan bilang tujuanmu juga mencari Starwish Compass."
Damaresh mengangguk pelan.
"Sudah hampir tiga tahun."
"Tiga tahun?"
Ia tersenyum tipis.
"Setiap kali aku merasa sudah menemukan jalannya, hutan ini selalu mengubah arah."
Beylie tertawa kecil. "Berarti kita sama-sama keras kepala."
"Mungkin," jawab Damaresh. "Atau mungkin kita sama-sama percaya bahwa sesuatu yang layak ditemukan tidak akan datang dengan mudah."
Kalimat itu membuat Beylie terdiam. Di tengah sunyinya Hutan Elaria, pertemuan dengan orang asing itu terasa aneh, seolah telah dituliskan jauh sebelum mereka benar-benar bertemu.
Akhirnya, ia menghela napas. "Kalau tujuan kita sama, lebih baik kita berjalan bersama."
Damaresh tersenyum. "Senang bisa bekerja sama."
"Jangan salah paham," sahut Beylie cepat. "Aku hanya tidak ingin seseorang yang sudah mencari selama tiga tahun mati konyol di tengah hutan."
Damaresh tertawa kecil. "Kalau begitu, terima kasih atas kepeduliannya, nonaa...."
Beylie hanya mendengus pelan, lalu melanjutkan langkahnya "Beylie"
"Haha, baik nona Beylie"
Sejak malam itu, Beylie dan Damaresh memulai perjalanan mereka bersama menuju tempat yang dipercaya menjadi persembunyian Starwish Compass. Menurut legenda Tanctuary, lokasi artefak tersebut hanya akan muncul kepada mereka yang mampu melewati tiga ujian: Hutan Kenangan, Danau Kejujuran, dan Menara Takdir.
Perjalanan pertama membawa mereka menuju Hutan Kenangan, sebuah hutan kuno yang dipercaya menyimpan serpihan masa lalu dari setiap makhluk yang pernah menginjakkan kaki di dalamnya.
Semakin dekat mereka dengan hutan tersebut, udara di sekitar mereka perlahan berubah. Beylie berhenti di depan gerbang alami yang terbentuk dari dua pohon besar yang saling melengkung. Cahaya-cahaya kecil melayang di antara pepohonan, membentuk bayangan yang perlahan berubah menjadi potongan kenangan.
"Cantik sekali" bisik Beylie.
"Jangan terlalu melihatnya." Damaresh memperingatkan.
"Kenapa?"
"Karena hutan ini tidak menunjukkan apa yang ingin kita lihat."
Damaresh berhenti sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya "Ia menunjukkan apa yang paling kita rindukan."
Belum sempat Beylie menjawab, sebuah cahaya terang muncul di hadapannya. Di dalamnya, ia melihat rumah yang selama ini hanya hidup dalam ingatan. Tempat yang penuh kehangatan, tanpa rasa takut, tanpa kesepian, tanpa kehilangan. Lalu seseorang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum, mengulurkan tangan ke arahnya.
"Beylie..."
Suara itu begitu lembut. Begitu akrab. Begitu ia rindukan.
Tanpa sadar, Beylie melangkah mendekat. Tangannya perlahan terangkat, hampir menyentuh cahaya yang memancar dari rumah itu.
Tepat sebelum ujung jarinya menyentuhnya, Seseorang menarik pergelangan tangannya.
"Beylie." Suara Damaresh membuyarkan lamunannya.
"Apa yang kamu lihat?"
Beylie tersentak. Cahaya di hadapannya bergetar, tetapi rumah itu masih berdiri utuh. "Sesuatu yang selama ini ingin aku temukan."
Damaresh mengangguk pelan lalu melepaskan genggaman tangannya perlahan. "Kalau begitu, jangan biarkan hutan ini mengambilmu."
"Maksudmu?"
Perlahan, Damaresh melangkah mendekati cahaya itu.
"Kadang kita terlalu sibuk mencari sesuatu di masa lalu, sampai lupa bahwa sesuatu yang lebih indah mungkin sedang berjalan bersama kita."
Beylie menghela napas panjang. Lalu mundur satu langkah dari cahaya tersebut.
Saat kakinya menyentuh tanah, seluruh Hutan Kenangan bergetar. Ribuan cahaya yang sebelumnya memenuhi pepohonan perlahan berubah menjadi butiran kecil seperti kunang-kunang. Mereka terbang mengelilingi Beylie dan Damaresh, seolah mengakui bahwa mereka berhasil melewati ujian pertama.
Di antara pepohonan, muncul sebuah jalan setapak yang sebelumnya tidak pernah ada. Jalan itu dipenuhi bunga-bunga kecil berwarna merah muda yang menyala lembut.
Damaresh menatap jalan tersebut.
"Sepertinya hutan ini sudah mengizinkan kita pergi."

Langkah mereka semakin jauh keluar dari hutan kenangan yang menjadi tantangan pertama dalam perjalanan ini, suara pepohonan perlahan ikut menghilang diiringi udara dingin yang membawa aroma air dan bunga malam.
Hingga akhirnya, pepohonan terakhir terbuka. Di hadapan mereka terbentang sebuah danau luas yang berkilauan di bawah cahaya bulan. Danau itu begitu jernih hingga permukaannya memantulkan seluruh langit Tanctuary. Di tengah danau, kabut tipis bergerak perlahan, membentuk jalan menuju sebuah gerbang kristal yang berdiri megah di atas permukaan air.
Damaresh memandangi danau itu cukup lama. Permukaannya begitu tenang hingga memantulkan langit malam tanpa sedikit pun riak, seolah dunia di bawah air sama luasnya dengan dunia di atas kepala mereka.
"Danau Lunaris," gumamnya pelan.
Beylie mengikuti arah pandangnya. "Ujian kedua?"
Damaresh mengangguk. "Konon, danau ini tidak pernah melukai tubuh siapa pun."
Beylie mengernyit. "Lalu... apa yang membuatnya menjadi sulit?"
Damaresh tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada pantulan bulan yang mengambang di atas permukaan air.
"Karena yang diambil danau ini bukanlah nyawa."
Beylie menoleh. "Lalu?"
Damaresh menghela napas pelan. "Sesuatu yang jauh lebih berharga.
Kalimat itu membuat bulu kuduk Beylie meremang. Tak lama kemudian, cahaya keemasan muncul di atas permukaan danau, membentuk untaian huruf kuno yang perlahan dapat mereka baca.
Mereka saling berpandangan sejenak, lalu melangkah ke jalan kristal yang terbentang di atas air.
Satu langkah....
Lalu langkah berikutnya....
Semakin jauh mereka berjalan, kabut putih mulai turun perlahan. Mula-mula hanya menyelimuti kaki mereka, kemudian naik hingga menutupi pinggang, bahu, dan akhirnya seluruh pandangan.
"Damaresh?" Beylie menoleh.
Yang ia lihat hanyalah hamparan putih tanpa ujung. Sosok pemuda itu lenyap begitu saja.
"Damaresh!"
Suara Beylie menggema, tetapi tak satu pun jawaban kembali padanya. Ia mempercepat langkah, berharap menemukan sosok berjubah hitam itu di balik kabut. Namun jalan kristal yang dipijaknya justru terasa semakin panjang, seolah terus menjauh setiap kali ia berusaha mengejar.
Lalu sebuah suara lembut bergema.
"Bukankah sejak awal kau memang selalu berjalan sendirian?"
Beylie membeku. Suara itu terdengar begitu dekat. Bukan berasal dari luar, melainkan seperti muncul dari dalam hatinya sendiri.
"Pertemuan hanyalah awal dari perpisahan."
"Semakin dekat seseorang denganmu, semakin besar rasa sakit saat kehilangannya."
Beylie menundukkan kepala. Kalimat-kalimat itu terasa menyakitkan karena semuanya terdengar benar.
"Bukankah lebih mudah jika tidak pernah bertemu siapa pun?"
Untuk sesaat... Beylie mulai mempercayainya. Mungkin memang benar. Bukankah selama ini setiap orang yang ia sayangi pada akhirnya pergi?
Di sisi lain kabut, Damaresh juga berdiri seorang diri.
"Beylie?"
Hanya kesunyian yang menjawab. Di hadapannya, permukaan danau perlahan berubah menjadi cermin bening. Ia melihat dirinya sendiri berjalan melewati Hutan Elaria. Namun kali ini... Tidak ada Beylie. Tidak ada gadis yang menatapnya penuh curiga sambil menggenggam belati. Tidak ada tawa kecil ketika mereka saling mengejek. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan dan yang ada hanyalah dirinya seorang diri, seperti tiga tahun terakhir.
"Bukankah kau sudah terbiasa kehilangan?"
Suara itu kembali terdengar.
"Mengapa masih berharap seseorang akan tetap tinggal?"
Damaresh mengepalkan tangan. Dadanya mendadak sesak. Saat ia mencoba mengingat wajah Beylie... Wajah itu mulai memudar. Semakin keras ia berusaha mengingatnya... Semakin kabur sosok gadis itu.
Ia mulai meragukan ingatannya sendiri. Apakah Beylie benar-benar pernah berjalan di sisinya? Ataukah semua itu hanyalah harapan yang begitu ingin ia miliki hingga pikirannya menciptakan kenangan yang tidak pernah ada?
Kabut semakin rapat. Gerbang kristal di kejauhan perlahan memudar. Ujian itu seolah hampir berakhir dengan kegagalan.
Di tengah kesunyian, Beylie memejamkan mata. Ia mencoba mengingat. Bukan wajah Damaresh, melainkan hal-hal kecil yang hanya bisa dimiliki seseorang yang benar-benar pernah hadir.
Cara pemuda itu selalu berjalan setengah langkah di belakangnya.
Suara tawanya ketika tanpa sengaja memanggilnya "nona Beylie."
Dan kalimat yang terus terngiang sejak mereka bertemu.
Perlahan, Beylie tersenyum tipis.
"Luka bisa berbohong," bisiknya.
"Ketakutanku juga bisa berbohong."
Ia mengangkat wajahnya. "Tapi kenangan tidak."
Dengan suara yang penuh keyakinan, ia berkata, "Aku tahu... Damaresh ada."
Di saat yang sama, Damaresh menutup mata. Ia teringat gadis yang menawarinya untuk berjalan bersama. Gadis yang berpura-pura galak, tetapi diam-diam mengkhawatirkannya. Tanpa sadar, senyum kecil terukir di wajahnya.
"Aku tidak sedang berjalan sendirian."
Ia menghela napas panjang. "Aku tahu... Beylie ada."
Seketika, kabut bergetar hebat. Retakan cahaya menjalar ke seluruh ruang putih, lalu pecah menjadi ribuan serpihan berkilauan yang beterbangan seperti kunang-kunang.
Saat Beylie membuka mata, Damaresh telah berdiri di hadapannya. Mereka saling menatap beberapa detik lalu Beylie mengembuskan napas panjang, seolah baru saja kembali dari mimpi buruk.
Ia benar-benar memastikan bahwa sosok di hadapannya nyata.
"Kupikir..." Ucapannya terhenti.
"...aku benar-benar kehilanganmu."
Damaresh tersenyum kecil.
"Aku juga."
Hanya dua kata.
Namun cukup membuat keduanya memahami apa yang baru saja mereka alami. Damaresh menoleh ke arah gerbang kristal.
"Danau ini tidak ingin kita membuktikan kejujuran kepada orang lain."
Tatapannya beralih kepada Beylie lalu melanjutkan kalimatnya "Ia hanya ingin memastikan bahwa kita tidak membiarkan ketakutan menghapus seseorang yang sudah kita temukan."
Mereka kembali melangkah berdampingan. Kali ini tanpa keraguan. Begitu telapak tangan mereka menyentuh gerbang kristal, cahaya keemasan menjalar ke seluruh permukaannya. Sebuah suara kuno kembali bergema, memenuhi seluruh Danau Lunaris.
"Kalian telah mempercayai satu sama lain."
"Kini... beranikah kalian mengakui kebenaran tentang diri kalian sendiri?"
Beylie memandangi pantulan dirinya di permukaan kristal.
Ia menarik napas panjang.
"Aku... takut berharap"
Di sampingnya, Damaresh memejamkan mata.
"Aku... takut ditinggalkan."
Begitu pengakuan itu terucap, gerbang kristal memancarkan cahaya yang jauh lebih terang daripada sinar rembulan. Retakan-retakan emas menjalar ke seluruh permukaannya sebelum berubah menjadi ribuan serpihan cahaya yang melayang ke langit malam.
Di balik cahaya itu, sebuah jalan baru perlahan terbuka.
Jalan menuju ujian terakhir. Menara Takdir.

Setelah melewati seluruh ujian, langkah Beylie dan Damaresh akhirnya membawa mereka ke tujuan terakhir.
Di balik air terjun cahaya yang tersembunyi jauh di dalam Tanctuary, terbentang sebuah lembah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Ribuan bunga bercahaya bermekaran di antara rerumputan, memancarkan sinar lembut yang membuat tempat itu tampak seperti serpihan langit yang jatuh ke bumi. Di tengah lembah berdiri sebuah altar batu kuno. Melayang tepat di atasnya, sebuah kompas kecil dengan jarum emas berputar perlahan.
Beylie menahan napas. Setelah semua perjalanan yang mereka lalui akhirnya mereka berdiri di hadapan artefak legendaris itu.
"Jadi... benda itu benar-benar ada," bisiknya.
Damaresh tersenyum kecil. "Dan kita berhasil menemukannya."
Saat mereka mendekat, udara di sekitar altar mendadak hening. Jarum kompas berhenti berputar, lalu sebuah suara kuno bergema di seluruh lembah. "Banyak yang datang memohon kekayaan. Banyak yang datang mendambakan kekuasaan. Namun hanya mereka yang memahami makna sebuah harapan yang layak menggenggamku"
Perlahan, Starwish Compass melayang ke tangan Beylie. “Apa harapanmu?”
Ia menatap kompas itu. Begitu banyak hal yang bisa ia minta kehidupan tanpa rasa takut, luka masa lalu yang menghilang, atau jaminan agar tak pernah kehilangan siapa pun lagi. Namun anehnya, untuk pertama kalinya ia tidak ingin meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.
“Damaresh,” bisiknya, “apa yang sebenarnya ingin kamu minta dari Starwish Compass?”
Damaresh memandang langit Tanctuary yang dipenuhi bintang. “Dulu aku ingin meminta agar sesuatu yang sudah hilang bisa kembali,” katanya pelan. “Tapi setelah perjalanan ini, aku sadar tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali.”
“Lalu apa yang kamu inginkan sekarang?”
Ia menatap Beylie dengan senyum hangat.
“Semoga sesuatu yang sudah kutemukan… tidak pernah kehilangan jalannya untuk pulang.”
Jantung Beylie berdegup pelan. Saat itu juga, Starwish Compass kembali bersinar terang. Di langit muncul bayangan sebuah kerajaan megah Tanctuary tempat yang mempertemukan mereka.
“Mungkin inilah alasan kita bisa menemukannya,” ujar Beylie.
“Bukan karena kita mencari benda ini,” sambung Damaresh, “tetapi karena benda ini menunggu kita menemukan alasan untuk menggunakannya.”
Sosok penjaga Starwish Compass muncul dari cahaya.
“Sudah waktunya. Ucapkan harapan kalian.”
Mereka saling berpandangan. Hanya ada satu kesempatan, satu harapan, satu keajaiban. Dan mereka memilih menggunakannya untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri. Bersama-sama mereka melangkah mendekati altar.
“Untuk Kerajaan Tanctuary” ucap mereka serempak.
“Tepat di hari ulang tahunmu, aku ingin mempersembahkan harapan ini untuk kerajaan Tanctuary. Semoga selalu menjadi tempat yang penuh kehangatan, tempat di mana setiap orang dapat menemukan kebahagiaan, persahabatan, dan kenangan yang tak terlupakan. Semoga kerajaan ini terus tumbuh semakin indah, menjadi rumah bagi banyak hati yang membutuhkan tempat untuk kembali. Dan semoga cahayanya tidak pernah padam.”
Sesaat setelah harapan itu selesai, Starwish Compass berubah menjadi ribuan cahaya kecil yang terbang ke seluruh penjuru kerajaan. Di seluruh Tanctuary, bunga-bunga kristal bermekaran, lentera bintang menyala lebih terang, dan langit dipenuhi warna ungu keemasan.
Penjaga Starwish Compass tersenyum sebelum perlahan menghilang bersama cahaya.
Beylie memandang langit yang berkilauan. Kini ia akhirnya mengerti.
Starwish Compass tidak pernah diciptakan untuk mengubah dunia sesuai keinginan seseorang. Artefak itu hanya menuntun mereka hingga menyadari bahwa harapan sejati bukanlah sesuatu yang menunggu di garis akhir, melainkan sesuatu yang tumbuh di sepanjang perjalanan.
Dan malam itu, di bawah langit Tanctuary yang dipenuhi bintang, Beylie menemukan harapan itu bukan di dalam kompas, melainkan pada perjalanan, pada rumah yang mereka lindungi, dan pada seseorang yang berjalan di sisinya sejak awal, Damaresh.
Seperti kalimat yang tertulis di dalam cerita ini, setiap pertemuan selalu membawa harapan. Dan doa yang aku panjatkan untuk Tanctuary di dalam kisah ini, sesungguhnya juga merupakan doa yang ingin aku sampaikan untuk Bangtan Base.
Happy 5th Anniversary, Bangtan Base! 💜
Semoga Bangtan Base selalu menjadi tempat yang mempertemukan banyak hati, mengukir lebih banyak kenangan dan menjadi rumah yang selalu dirindukan untuk pulang. Terima kasih telah menghadirkan begitu banyak kisah, persahabatan, dan kebahagiaan selama lima tahun ini. Semoga cahaya yang kalian nyalakan hari ini akan terus bersinar, menemani lebih banyak perjalanan indah di tahun-tahun yang akan datang.