The Counterside

The Counterside

Official πŠβœΆππ“π‘π’πˆπƒπ„

Pada malam yang terselimuti kegelapan dari para pendosa keji, seorang gadis melangkahkan tungkainya dengan hati-hati. Surainya yang hitam lurus dihembus angin, bulu kuduknya bergidik sebab dingin. Sebuah obor ada pada kedua tangan ringkihnya yang memegangi, cahayanya membelah hitamnya langit. Semakin dalam pepohonan dan semak-semak itu menelan tubuh kecilnya, namun gadis itu makin dekat pada yang ia tuju, harapan yang akan ia wujudkan, segera!


Kemudian gadis itu tiba pada sebuah ladang bekas pepohonan ditebang. Di antara banyaknya tunggul-tunggul pohon tersebut, nampak sebuah tempat yang hanya didirikan dengan kayu-kayu ramping yang ditegakkan dengan dilapis terpal tipis. Pelan-pelan gadis itu mendekatinya. Hingga saat sinar dari obor itu menerawang masuk ke dalam tempat itu, empat orang keluar dari sana sebab menyadari kedatangan si gadis kecil.


"Dunia ini, isinya bukan ngewe doang, 'kan?" tanya gadis kecil itu terkekeh, diikuti oleh keempat remaja lainnya.

Kelimanya kini berada di tanah lapang itu. Setelah sore tadi keempatnya mengumpulkan kayu bakar, obor yang dibawa gadis tadi menghidupinya menjadi api unggun yang lidah apinya menjilat-jilat udara. Mereka semua terduduk mengelilingi pelita tersebut, membicarakan apapun yang ada di pikiran mereka.


Mungkin hanya beberapa orang yang sepemikiran dengan mereka. Pemikiran mereka adalah yang mengira dunia adalah tempat berbagai kasih indah bersua. Atau dunia di mana tempat para monster berkuasa dan mereka adalah ksatria yang telah dititahkan untuk melawan dengan berbagai kekuatan tersembunyi dalam diri mereka. Mungkin juga tempat di mana bermacam sisi gelap bersarang seperti pembunuh berantai yang buron keberadaannya, atau pula sandera yang mengharap kebebasan. Bisa juga dunia di mana ia sudah sampai pada masa depan, di mana telah tercipta alat yang dapat merealisasikan mimpi kalian!


Gadis kecil yang tadi memegang obor itu menengok, kearahku. Ah, sial! Keberadaanku diketahui olehnya. Aku yang tadi penasaran dengan kegiatan mereka dengan bersembunyi di semak-semak pun hendak kabur dari sana. Namun runguku mendapat panggilan dari gadis itu.


"Hey! Kamu nggak akan tau kalau kabur begitu!" pekiknya padaku. Kini aku berusaha tenang. Kuhadapkan lagi kepalaku pada kelima remaja itu.


Sinar api terpantul pada sepasang pupil matanya yang beriris cokelat madu. Obor yang ia tadi ia tancapkan disebelahnya ia raih. Kedua tangannya yang sekarang kembali memegang obor ia julurkan kepadaku.


"Bergabunglah dengan kami: sisi KONTRA dari dunia!"

Report Page