Tempat ini lagi.

Tempat ini lagi.

Leovenath K, Scar.

Read before; https://telegra.ph/Tangisan-dalam-hening-05-09


" Tempat ini lagi? Tapi seperti ada yang berbeda. " Pemandangan tidak asing di hadapanmu, hamparan bunga sejauh mata memandang. Tapi bagaikan ada yang berbeda. Dinding. Ada dinding di tengah lautan bunga, tepat di tempat dia biasa terduduk. Tanpa sadar, tanganmu meraih ke dalam tas yang menggantung di pundakmu, mengeluarkan sebuah palu. Tanpa pikir panjang, kau mengayunkannya tepat ke arah dinding tersebut, memperlihatkan dia.


" Oh, kau kembali. Kemarilah, duduk bersamaku. " Dan, kau menurutinya. Menghabiskan waktu bersama, mengingkari janjimu kepada diri sendiri. Dan begitu terus setiap hari. Hingga dinding tersebut bertambah tinggi dan tebal. Palu itu diayunkan layaknya hari biasa, namun tembok itu tidak hancur. Lagi. Lagi. Dan lagi. Hingga kau menyerah dan pergi kembali.


Beberapa bulan berlalu, dan akhirnya kau memberanikan diri untuk mendatangi tempat itu kembali. Berniat merayakan ulang tahunmu di sana. Sehari sebelum hari besar itu, kosong. Tidak ada dinding, namun juga tidak ada dia. " Oh. Mungkin aku hanya akan meninggalkan pesan. " Secarik kertas bertuliskan pesan singkatmu berisikan " Besok aku akan menghabiskan sore hingga malam di sini. Kamu harus ingat mengapa. " untuknya ditinggalkan di atas karpet piknik dan ditahan oleh batu. Kau berbalik, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Keesokan hari tiba. Sepanjang hari kau habiskan di kota, tidak ada yang luar biasa, hanya bercanda gurau bersama teman dekat sembari menyantap camilan ringan. Sore hari tiba, kau pergi ke tempat itu, bersemangat untuk bercerita hari-harimu selama ini. Namun, kosong. Sama seperti sebelumnya. Kecewa, kau pulang, dan kembali lagi besok. Besok. Dan besoknya lagi. Memberikan hasil yang sama. Hari ke lima, kau kembali, dan dia di sana. Namun, dia tidak sendiri?


" Selamat ulang tahun. " Terdengar samar-samar dari mulutnya kepada individu tersebut. Oh. Kau menunggu cukup jauh hingga pemuda itu pergi sebelum menghampirinya. " Dari mana saja engkau? " Kata-kata yang sudah tidak bisa ditahan keluar dari mulutnya. " Ah. Maaf, aku baru sempat kembali. Ada apa? " Jawabnya dengan ringan, seakan ia tidak melewatkan hal penting yang sudah diketahui berbulan-bulan lalu. " Tidak ada. " Balasmu sebelum kembali pulang.

Report Page