Tanpa Iba.

Tanpa Iba.

Suki.

Tik.

Tik.

Tik.


Jam dinding di rumahku selalu terdengar lebih keras saat malam.


Aku duduk di anak tangga paling atas sambil memeluk lutut. Daguku bertumpu di atas tempurung lutut, sedangkan jariku memainkan ujung lengan piyama pelan-pelan.


Lampu ruang tamu masih menyala redup.


Dari sini, aku bisa melihat separuh dapur—cukup untuk melihat mama berdiri membelakangiku dengan bahu yang tegang.


Clink.


Suara piring beradu pelan.


Dan ayah baru pulang.


“Aku udah bilang nggak usah nungguin,” katanya sambil meletakkan kunci mobil di meja. Nada suaranya lembut seperti biasa.


Selalu lembut.


Aku heran bagaimana seseorang bisa terdengar setenang itu setiap waktu.


Anehnya, aku menyukainya.


Mama langsung menoleh cepat. “Ah, sayang… aku cuma mau bikin makan malam…”


“Aku udah makan di luar.”


Jawabannya ringan. Tidak dingin. Tidak marah.


Justru itu yang membuat mama terlihat makin gugup.


“Oh…”


Hening lagi.


Aku memperhatikan mama menggenggam ujung bajunya sendiri.


Tangannya bergerak kecil. Gelisah.


Mama selalu seperti itu kalau ayah pulang.


Cara bicaranya mengecil. Bahunya naik sedikit. Bahkan napasnya terdengar lebih hati-hati.


Seolah takut salah mengucapkan sesuatu.


Ayah berjalan mendekati meja makan lalu menarik kursi perlahan.


Grek.


“Kamu nangis lagi?”


Mama cepat-cepat mengusap wajahnya. “Nggak.”


“Kamu tahu aku nggak suka dibohongi.”


“Aku cuma capek.”


Ayah tersenyum kecil.


Senyum yang selalu membuat orang percaya kalau dia orang baik.


“Capek karena apa?”


Mama tidak menjawab.


Aku memiringkan kepala sedikit dari atas tangga, mencoba melihat ekspresi mama lebih jelas.


Jemarinya gemetar kecil saat meremas kain baju.


“Aku cuma nanya,” lanjut ayah pelan. “Kenapa kamu selalu takut sama aku, sayang?”


“Aku nggak takut…”


“Kalau nggak takut, kenapa wajahmu selalu begitu?”


Mama menunduk.


Dan lagi-lagi, ayah tidak membentak.


Tidak memukul meja.


Tidak melakukan apa pun yang terlihat jahat.


Dia hanya bertanya.


Dengan lembut.


Tetapi setiap kalimatnya terasa seperti jarum kecil yang ditusukkan perlahan ke kulit.


Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


Seolah-olah udara di sekitar ayah selalu lebih berat.


“Aku cuma nggak mau bikin kamu marah…” suara mama lirih sekali.


Ayah tertawa pendek.


Heh.


“Nah, itu dia masalahnya.”


Mama terdiam.


“Kamu selalu bikin aku terlihat jahat.”


“Aku nggak pernah bilang kamu jahat…”


“Tapi cara kamu bertindak seperti itu.”


Tik.

Tik.

Tik.


Aku menatap mereka tanpa berkedip.


Aneh.


Aku tidak merasa takut.


Aku justru penasaran.


Bagaimana ayah bisa membuat mama hampir menangis hanya dengan beberapa kalimat?


Aku menggigit ujung ibu jari pelan sambil terus memperhatikan mereka.


Itu menarik.



Besok paginya, mama lupa menyiapkan sarapanku.


Ia berdiri lama di dapur sambil menatap kosong rak piring.


Aku turun dari tangga perlahan lalu menarik ujung bajunya.


“Mama?”


Mama tersentak kecil. “Ah—iya, iya… maaf sayang…”


“Aku belum makan.”


“Iya… tunggu sebentar…”


Tangannya bergerak buru-buru.


Lalu—


PRANG!


Gelas jatuh dan pecah di lantai.


Mama langsung mundur seperti ketakutan.


Aku menunduk menatap pecahan kaca yang tersebar dekat kakiku.


Menarik.


Tangan mama gemetar lebih parah dari semalam.


Ayah muncul dari ruang tamu beberapa detik kemudian.


“Kamu kenapa sih?”


“Nggak sengaja…”


“Kamu akhir-akhir ini ceroboh banget.”


Mama menunduk cepat. “Maaf…”


“Aku capek kerja tiap hari, tapi rumah malah berantakan terus.”


Nada suara ayah masih lembut.


Terlalu lembut untuk seseorang yang sedang marah.


Aku memperhatikan mama berjongkok membersihkan pecahan kaca dengan tangan gemetar.


Salah satu pecahannya melukai jarinya sedikit.


Mama refleks menarik napas kecil.


Aku diam saja.


Aku sebenarnya bisa membantu.


Tapi aku ingin melihat sampai kapan mama bisa tetap tenang saat ayah terus menatapnya seperti itu.


“Ayah kasihan sama mama,” katanya lembut sambil menoleh padaku. “Mama lagi sakit.”


Aku berkedip pelan.


“Sakit apa?”


Ayah tersenyum tipis.


Mama hanya diam sambil menunduk.



Siangnya, aku duduk di meja makan sambil memutar sendok di susu cokelatku.


Clink.

Clink.

Clink.


“Ayah,” panggilku tiba-tiba.


“Hm?”


Aku mengangkat wajah perlahan.


“Apa bikin orang nangis itu susah?”


Mama langsung mengangkat kepala.


Ayah menatapku beberapa detik.


“Kenapa nanya begitu?”


Aku mengangkat bahu kecil.


“Penasaran aja.”


Hening sebentar.


Kemudian ayah tertawa pelan.


“Nggak juga.”


Aku menatap permukaan susu cokelatku sambil terus mengaduknya perlahan.


“Kalau kita tahu kelemahan seseorang…” kataku pelan, “kita bisa bikin mereka percaya apa aja, ya?”


TING.


Sendok di tangan mama jatuh.


Aku menoleh padanya.


Wajah mama pucat.


Matanya membesar menatapku seolah baru pertama kali benar-benar melihatku.


Sedangkan ayah—


ayah menatapku lama sekali.


Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat.


Bangga.


Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—


aku merasa ayah benar-benar menganggapku mirip dengannya.

Report Page