Tak Berujung.
Kahiyang A. Mayapada.
Asmaraloka yang terasa begitu indah, benarkah adanya? Dunia cinta kasih yang bisa memberikan ribuan euforia. Namun, konon katanya cinta selalu bercengkerama dengan luka. Sedangkan luka, luka selalu mengundang air mata. Lantas, di mana letaknya keindahan asmaraloka? Mungkin memang ada, hanya sementara. Selanjutnya terkikis oleh masa.
Namaku, Kahiyang Astu Mayapada. Terlahir di kota Bandung yang konon dipenuhi cinta tidak membuatku bahagia. Aku menghela napas berat seraya menutup halaman terakhir sebuah novel favoritku. Ini sudah kedelapan kalinya aku membaca buku ini. Kisah yang berakhir begitu tragis, alurnya hampir sama seperti apa yang aku alami saat ini. Jadi, setiap kali aku membacanya, aku seperti tengah membaca kisah hidupku.
Kedua mataku terpejam ketika embusan angin malam menerpa wajahku. Rasanya begitu menenangkan, aku menyukainya.
“Aku rindu,” gumamku. Pikiranku kembali berkelana, mengingat akhir dari sebuah alur cerita dalam buku yang berjudul Teluk Alaska: tentang dua samudera yang berdampingan namun tak pernah bisa bersatu. Ya, sama seperti kisahku.
•••
“Aku kira kamu nggak akan datang.”
“Janji harus ditepati.”
Aku terkekeh kecil mendengar jawabannya. Janji, katanya? Apa ia lupa bahwa ada satu janji yang sampai saat ini tidak pernah ia tepati?
“Begitu, ya?” tanyaku sembari menaikkan sebelah alisku.
Aku melihatnya mengedikan bahu dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Atensiku beralih pada seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Laki-laki itu tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku terkekeh pelan, keadaan yang sangat lucu sekali.
“Kamu bawa orang lain. Sebegitu enggan bertemu berdua denganku, Cha?”
Chasildo, namanya. Laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku selama satu tahun yang lalu. Ya, ia adalah mantan kekasihku.
“Apa hanya itu yang ingin kamu bicarakan, Kay?”
“Mungkin?”
Aku mendongak dan menatap Chasildo yang berdiri di hadapanku. Dapat kulihat ekspresi tidak senang terpatri di wajahnya. Chasildo menatapku sejenak, tatapan kami bertemu sebelum akhirnya ia kembali mengalihkan pandangannya.
“Saya pergi.”
Chasildo berbalik, dan aku tidak mencegahnya. Ia berlalu meninggalkanku. Tatapanku tak lepas dari punggungnya yang semakin menjauh. Senyumku semakin mengembang ketika punggungnya semakin jauh dari pandanganku dan menghilang di antara orang-orang yang berlalu-lalang.
“Kenapa nggak dikejar?”
“Nggak akan bisa aku kejar, Jaka.”
Dia, Jakarta. Teman terdekatnya Chasildo. Aku mengenal Jakarta, bahkan kami cukup akrab ketika aku masih berstatus sebagai kekasih Chasildo dulu.
“Terus kenapa masih berharap?”
“Nggak boleh?”
“Dia udah punya pacar, Kahiyang.”
Aku menoleh dan menatap Jakarta dengan lekat. “Siapa?”
“Cewek cantik yang kemarin ke toko buku itu.”
Aku terkekeh geli. “Dia sepupu jauhnya Chasildo.”
“Kamu tau?”
“Aku tau, Jaka. Kamu nggak perlu bohong kaya gitu lagi.”
Kepalaku tertunduk, aku menatap buku yang sejak tadi ada di genggamanku. Aku tersenyum kecut. Dinginnya malam ini tidak berhasil mendinginkan hatiku yang saat ini bergejolak.
“Teluk Alaska, lagi? Udah berapa kali kamu baca buku itu, Kay? Nggak capek baca itu terus? Itu kan ceritanya sedih banget.”
"Nggak. Aku suka buku ini, Jaka."
“Mewakili, ya?” Jakarta tertawa pelan, dan aku ikut tertawa mendengar pertanyaannya.
“Iya.”
“Eh?”
“Alurnya menarik, Jaka. Kamu nggak mau baca?” Aku menyodorkan buku ini pada Jakarta, sedangkan Jakarta menatapku dengan pandangan aneh dan menggelengkan kepalanya.
“Udah pernah baca. Nangis seharian saya, Kay. Merasa gagal jadi laki-laki karena nangisin buku.”
Spontan aku tertawa mendengarnya. Jakarta memang pernah membaca buku ini sebab ia merasa penasaran karena aku sangat menyukainya. Namun, setelah membaca Teluk Alaska, Jakarta malah memakiku dan berkata bahwa aku adalah orang gila karena sudi membaca buku menyedihkan ini sebanyak tujuh kali.
“Nggak mau baca lagi?”
Jakarta menggelengkan kepalanya keras-keras. “Endingnya tetep sama, Kay.”
“Aku tau itu.”
“Terus buat apa kamu baca berulang-ulang kali? Sementara kamu tau endingnya nggak akan pernah berubah, kan?”
“Karena aku suka.”
Ya, itu memang benar. Berulang kali aku membaca sebuah buku yang sama. Endingnya pun masih tetap sama. Namun, itu adalah buku yang paling aku suka. Aku tidak pernah merasa bosan membacanya, ya walaupun aku sudah tahu bagaimana endingnya. Aku suka setiap adegan yang ada di dalam buku itu, manis walaupun akhirnya begitu tragis.

