TANGGUNG JAWAB SEORANG ISTERI DALAM RUMAH TANGGA
AN MU'ASASAH
Sudah seyogyanya bagi setiap ibu yang diberi nikmat melahirkan dalam naungan Darul Islam untuk memanfaatkan karunia agung itu yang tidak semua wanita mendapatkannya. Seyogyanya dia berusaha sekuat tenaga untuk membimbing anak-anaknya demi mendatangkan ridha Rabbnya dan bermanfaat bagi ummat. Bagaimana tidak? Sedangkan ia adalah seorang ibu yang melahirkan, mengasuh, dan mendidik disaat para lelaki dan para bapak sibuk dengan ribath dan pekerjaan mereka.
Dari Abdullan bin Umar راضي الله عنه, berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Sedangkan istri adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam harta majikannya dan dia akan dimintai pertanggungj awaban atas apa yang dipimpinnya.” (Muttafaq 'Alaihi).
Para ahli ilmu telah menjelaskan bahwa kata ar Rai (pemimpin) adalah bermakna penjaga, yang dipercaya, dan berkomitmen untuk menjaga apa yang diamanahkan kepadanya. Dia dituntut untuk adil dan berusaha selalu memberikan maslahat kepada apa yang diembannnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban apakah telah menunaikan kewajiban atas yang dipimpinnya ataukah tidak.
Ketika baginda Nabi ﷺ bersabda, “Wanita (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya,” berarti taklif (pembebanan) agung dan amanat besar yang diserahkan kepada seorang wanita muslimah. Di dalamnya terdapat pahala jika ia menunaikan kewajibannya terhadap anak-anaknya, sekaligus ada hisab dan siksa jika ia menyia-nyiakan amanah ini dan meremehkan hak-hak anak-anaknya.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. at-Tahrim: 6).
Ibnu Umar راضي الله عنه berkata kepada seorang laki-laki, “Ajarkanlah adab pada anakmu! Sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentang anakmu; adab apa yang telah engkau ajarkan kepadanya, apa yang telah engkau ajarkan kepadanya, karena sesungguhnya dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bakti dan taatnya padamu. (Riwayat al-Baihaqi).
AWALI DENGAN TAUHID
Kewajiban pertama atas seorang ibu muslimah kepada anak-anak adalah mendidiknya diatas tauhid sejak awal mereka berbicara. Ia menalqin mereka dengan persaksian (syahadat) Laa ilaaha illaalIah Muhammad Rasulullah dan maknanya, sebagaimana diriwayatkan dari Ali bin al-Husain راضي الله عنه bahwasannya dia mengajari anaknya, ujarnya, “Katakanlah, Aku beriman kepada Allah dan aku kufur terhadap thaghut.” (Riwayat lbnu Abi Syaibah).Selain itu seorang ibu harus mengajarkan kepada anaknya tiga ushul (pokok). Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Juga pertanyaan kepada anak, dimana Allah? Apa itu Al-Qur'an? Yaitu pertanyaan-pertanyaan semisal ini yang dapat mengokohkan pondasi akidah yang lurus serta tauhid murni dalam jiwa anak.
Diantara hal terindah yang dipelajari oleh seorang anak adalah ma’iyatullah (kebersamaan Allah) kepada hamba-Nya. Dia mempelajari khasyah (takut) kepada Allah Ta'ala dan mengagungkan sang Khaliq (pencipta) di dalam jiwanya, dan merasa pengawasanNya kepada dirinya dalam kondisi sembunyi atau terang-terangan. Inilah Abdullah at-Tasturi rahimahullah dalam masa kecilnya sebelum tidur ia selalu mengulang-ulang perkataan, “Allah menyaksikanku, Allah melihatku, Allah bersamaku.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah).
KESALEHAN IBU ADALAH SEBAB KESALEHAN ANAK
Wajib atas seorang ibu pendidik sekaligus pengajar dan teladan untuk memperbaiki dirinya sendiri sehingga dia berhasil memperbaiki didikannya di dalam rumahnya. Baiknya yang dipimpin adalah hasil dari baiknya pemimpin, dan baiknya anak-anak adalah efek dari baiknya sang ibu.
Ibnu Abi ad-Dunya رحمه الله meriwayatkan bahwasannya 'Utban bin Abi Sufyan berkata kepada guru adab anaknya, “Wahai Abu Abdus Shamad, hendaknya pertama yang engkau lakukan sebelum memperbaiki (adab) anakku adalah engkau perbaiki dirimu sendiri; karena aib mereka terikat dengan aibmu, dan kebaikan disisi mereka adalah apa yang engkau perbuat sedangkan keburukan bagi mereka adalah apa yang engkau anggap buruk.” (an-Nafaqah 'alal 'Iyal).
MENGAJARKAN ZUHUD DAN HIDUP PRIHATIN
Seorang ibu muslimah juga harus menanamkan dalam jiwa anak-anaknya bahwa dunia ini adalah negeri safar sedangkan akhirat adalah negeri kekal, dan Allah Ta'ala berfirman terhadap lisan seorang mukmin dari keluarga Fir’aun,
يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 39).
Maka dengan demikian anak-anak akan tumbuh di atas kezuhudan, sehingga dunia menjadi hina bagi mereka sedangkan di mata mereka Akhirat sangatlah agung. Ini semua lantaran tarbiyah sang ibunda terhadap mereka diatas kesukaran hidup dan kesulitan, dan asupan untuk mereka tentang makna zuhud. Sesungguhnya nikmat-nikmat yang sedang kita kecap saat ini (dunia dan isinya) adalah hal yang pasti lenyap, tidak lebih utama dari perjalanan hidup sang pemimpin kaum zuhud (Rasulullah ﷺ) . Dari 'Urwah dari “Aisyah راضي الله عنها bahwasannya ia berkata, Sesungguhnya kami melalui tiga kali hilal dalam dua bulan dan selama itu pula tidak pernah ada nyala api (untuk memasak) dalam rumah-rumah Rasulullah ﷺ Maka aku (Urwah) bertanya, “Wahai bibi, lalu kalian hidup dengan apa?” Jawabnya, “Kurma dan air, hanya saja dahulu Rasulullah memiliki tetangga Anshar yang memberikan susu kepada Rasulullah sehingga bisa memberi kami minum.” (Muttafaq 'Alaihi) .
Dari Abu Hurairah راضي الله عنه bahwasannya Nabi ﷺ bersabda, “Ya Allah jadikanlah rizki keluarga Muhammad itu makanan pokok.” Ibnu Hajar berkata, “Quut maksudnya cukupkanlah mereka dengan makanan pokok itu, sehingga tidak membuat mereka terjerumus ke dalam hinanya meminta-minta dan mereka tidak memiliki kelebihan yang akan menjadi faktor untuk bermewah-mewahan di dunia.” [Fathul Bari].
Benar, ini adalah apa yang diminta oleh Nabi ﷺ untuk keluarga beliau padahal Jibril عليه السلام pernah mendatangi beliau dengan membawa kunci-kunci pembendaharaan bumi akan tetapi beliau ﷺ sangat zuhud di dunia ini. Dari Abu Hurairah راضي الله عنه berkata, “Selama tiga hari berturut-turut keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang, hingga beliau wafat.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Inilah ia seorang Nabi ﷺ kekasih Allah Yang Mahabenar, manusia pilihanNya dan sebaik-baik makhluk-Nya, tidur diatas tikar hingga membekas di lambungnya dan terlihat oleh Umar راضي الله عنه hingga membuatnya menangis. Nabi pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” ]awab Umar, “Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, sebab aku melihat tikar ini membekas di rusuk anda, dan aku tidak melihat sesuatupun di tempat penyimpanan anda selain apa yang telah aku lihat, padahal istana Persia dan kaisar Romawi berlimpah-limpah dengan buah-buahan dan sungaisungai, sedangkan engkau adalah Rasulullah ﷺ dan orang pilihan-Nya. Beliau bersabda, “Wahai Ibnul Khatthab, tidak sukakah kamu jika akhirat untuk kita sedangkan dunia untuk mereka?” (Muttafaq Alaihi).
Demikianlah keadaan Nabi kita ﷺ di dunia ini. Pada keadaan seperti inilah seharusnya generasi khilafah digembleng, sehingga menumbuhkan generasi kuat yang mampu menanggung ujian hidup dan kokoh pendiriannya. Dengan itu dia siap untuk memikul amanah, menjunjung panji dan kekuasaan di muka bumi. Dari Abu Utsman an-Nahdiy, berkata, “Sebuah surat dari Umar bin Al-Khatthab sampai kepada kami. Isinya, ”Kuatlah, teguhlah, bersatulah dan jadilah seperti besi, jauhilah bermewah-mewahan dan pakaian orang 'ajam.” (Diriwayatkan oleh athThahawi dalam Syarah Ma'anil Atsar).
MENGAJARKAN CINTA PERANG DI JALAN ALLAH
Diantara nikmat Allah yang teragung atas para asybal (anak-anak) di bumi Khilafah yang harus dirasakan, dimanfaatkan, dan disyukuri oleh para ibu yaitu anak-anaknya tumbuh didalam asuhan seorang ayah mujahid. Mereka tumbuh besar terbiasa melihat senjata baik berupa senapan, kantong peluru, peluru, bom, dan rompi peledak. Mengikuti rilisan-rilisan mujahidin dan kabar mereka baik berupa tulisan maupun audio dapat menumbuhkan rasa cinta anak terhadap jihad dan mujahidin, serta kebencian terhadap musuh mereka. Namun terkadang seorang ibu biasa mendengar celaan dari sebagian manusia terhadap metode tarbiyyah yang ia terapkan terhadap anak-anaknya, dengan dalih bahwa hal itu dapat membunuh masa kekanakan mereka dan mematikan keluguan mereka. Kepada orang seperti mereka ini maka kami katakan, “Abu Ya’la meriwayatkan dengan sanad jayyid (bagus) dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, ujarnya, “Hasan dan Husain راضي الله عنه. bergulat dihadapan Rasulullah ﷺ maka Rasulullah bersabda, "Ayo Hasan!” (bermaksud menyemangati). Fatimah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau berkata, “Ayo Hasan" Beliau menjawab, “Sesungguhnya Jibril عليه السلام berkata, ‘Ayo Husain'.
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Abdurrahman bin Auf راضي الله عنه bahwasannya dia berkata, “Aku berdiri dalam barisan pada perang Badar. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, ternyata aku berada diantara dua anak dari kalangan Anshar yang masih sangat belia, aku sangat ingin jika seandainya aku adalah salah satu dari mereka berdua. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menggamitku dan bertanya, “Wahai paman, apakah engkau mengetahui Abu Jahal?", 'Tentu, apa yang akan kamu lakukan wahai anak saudaraku?' jawabku. Dia berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa dia telah mencela Rasulullah ﷺ Demi Dzat yang jiwaku berada ditangannya seandainya aku melihatnya maka bayanganku tidak akan berpisah dari bayangannya sampai maut memisahkan kami., Kemudian temannya juga menggamitku dan bertanya pertanyaan yang sama. Akupun dibuat heran oleh hal itu. Tak lama kemudian aku melihat Abu Jahal berkeliling diantara manusia, kemudian aku berkata kepada mereka berdua, 'Lihat itu, dialah orang yang kalian tanyakan tadi. Maka mereka berdua pun segera menghampirinya, dan ia (Abu Jahal) menghadapi keduanya. Keduanya berhasil menebasnya dengan pedang dan membunuhnya. Kemudian mereka berdua menghampiri Rasulullah ﷺ dan memberitahunya, maka beliau bersabda, "Siapa dari kalian yang membunuhnya.”. Keduanya mengaku telah membunuhnya. Beliau lalu bertanya, "Sudahkah kalian mengelap pedang kalian?, Mereka berkata, "Belum." Rasulullah melihat kedua bilah pedang mereka dan bersabda, "Kalian berdua telah berhasil membunuhnya.,"
Disebutkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, dari Hisyam bin Urwah رحمه الله, berkata, “Sesungguhnya hal pertama kali yang diucapkan oleh Abdullan bin Zubair dengan fasih ketika ia masih kecil adalah, Saif, saif (pedang, pedang).” Ia tidak pernah berhenti mengucapkannya. Zubair ketika mendengarnya dia berkata, “Demi Allah suatu saat engkau akan memilikinya.”
Dari Urwah bin Zubair bahwa Zubair menaikkan anaknya yaitu Abdullah pada perang Yarmuk ke atas seekor kuda pada usia sepuluh tahun dan menitipkannya kepada seseorang. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).
BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM MENGAJARKAN BAHASA ARAB
Betapa bagusnya bila seorang ibu muslimah menjaga dan membiasakan bahasa Arab kepada anak-anaknya, dan mengevaluasi logatnya. Jika mereka bukan dari bangsa Arab maka hendaknya ia (ibu) berusaha mengajari mereka bahasa Arab, agar mereka dapat mempelajari perkara-perkara agama dan berbaur dengan jamaah kaum muslimin. al-Khatib alBaghdadi telah meriwayatkan bahwa Ali, Ibnu Abbas راضي الله عنه, dan Ibnu Umar radhiyallahu'anhu memukul anak-anak mereka jika ada kesalahan logat.
Demikianlah perhatian mereka dalam mengajarkan Bahasa arab yang dengannya al Quran diturunkan, semoga Allah mengaruniai kita keturunan yang sholeh dan generasi yang berjihad di jalan-Nya dan menolonga dien-Nya.