Symbol ; Malven

Symbol ; Malven

ft. Jimmy


Malam itu seorang lelaki berjalan kaki melewati beberapa gang gelap yang menuju rumahnya. Udara malam terasa membekukan saat itu. Ia bersiul dan sesekali menggumamkan lagu yang dia ingat untuk mengusir rasa takut yang perlahan menggerogoti perasaannya. Tiba tiba...


dor dor


Ia mematung. Suara tembakan terdengar keras dari gedung tua di ujung jalan. Malam itu gelap, namun melalui cahaya remang bulan purnama, terlihat dua orang lelaki dengan salah satunya bersimbah darah dan anggota tubuh yang sudah tidak lengkap. Sedangkan satunya terlihat tersenyum mengerikan, dengan menggenggam jari manis dan lidah yang sudah tidak pada tempatnya.


~ morning


Kicauan burung menyapa dan sinar matahari sedikit demi sedikit mulai mengintip malu malu melalui celah celah ventilasi. Malven sudah bersiap sejak tadi untuk berangkat ke kantornya. Ia memeriksa kembali segala atribut dan barang barang yang akan dibawa, lalu mengunci pintu rumah sederhananya. Memanaskan mesin motor, berdoa, lalu segera tancap gas menuju kantor.


Tak sampai 20 menit, ia sudah sampai di gerbang sebuah bangunan yang bertuliskan "Police Station". Yap, Malven adalah seorang polisi, tepatnya seorang detektif. Ia sudah mnggeluti profesi itu sejak 3 tahun yang lalu.

"Ssup Ven!! Tumben banget kamu udah rapi gini." sapa seorang lelaki dengan mata yang semakin menyipit kala lelaki itu tersenyum.

"Iyalah, Malven gitu loh.. mumpung gue lagi mood." sahutnya dengan nada sombong.


Setelah itu, mereka berjalan bersama menuju ruangan yang mereka tempati sambil berbincang acak. Ngomong ngomong, Jimmy juga merupakan detektif di sana. Ia adalah rekan Malven dalam menyelesaikan kasus.


Akhirnya mereka sampai. Mereka mulai menata barang barang nya dan mengambil berkas berkas kasus yang perlu dikerjakan. Salah satu kasus yang terjadi akhir akhir ini adalah kasus pembunuhan. Kira kira sudah ada 3 orang yang terbunuh oleh pelaku yang sama.

"Apaan Ven?" tanya Jimmy ketike melihat Malven kembali ke ruangan setelah dipanggil atasan mereka.

"Hahh.. masih sama Jim. Tim 2 sama 3 juga belum bisa nemuin pelakunya. Jadi bos bilang, kalau kita harus lembur lagi buat diskusi sama tim sebelah." jawab Malven dan dibalas anggukan oleh sang lawan bicara.

"Oh satu lagi, korbannya nambah 1. Ditemuin di gedung tua, di ujung jalan C." kata Malven.


Jimmy menoleh ke arah Malven lalu menghela nafas dengan keras. Ia menutup matanya, berharap bisa menemukan setidaknya satu jalan keluar atau kunci dalam kasus ini. Nyatanya nihil. Ia tidak bisa berpikir jernih. Ia lantas beranjak, tak lupa ia mengajak sang rekan, Malven.


Disinilah mereka. Yap, hanya mereka berdua karena para polisi lain sedang menyusuri area gedung di luar ruangan. Ruangan tua berbau debu dan anyir darah yang bersatu, membuat Jimmy ingin muntah sebenarnya. Tapi, ia harus menahannya, apalagi setelah melihat sang rekan yang terlihat biasa saja. Mereka mulai menyusuri per bagian ruangan itu dan berusaha untuk tidak melewatkan satu bagian pun.


krek


Jimmy merasakan ia menginjak sesuatu yang kecil namun keras. Ia mengangkat kakinya, lalu mengambil benda tersebut. Bentuknya bulat seperti koin. Ditiuplah benda itu pelan agar debu debu yang menutupi simbol di benda itu hilang. Benar saja, terdapat sebuah ukiran di atas benda tersebut. Garis dan lengkungan yang membentuk sebuah simbol. Tunggu sebentar. Sepertinya, dia pernah melihat simbol ini.


Ia reflek membelalakkan matanya. Perlahan namun pasti, ia menolah ke samping, tempat dimana sang rekan berada. Ia melihat sang sahabat yang memiliki mata merah dan tanduk besar di kepalanya. Malven sedang tersenyum. Dan.. krek. Lehernya patah. Jimmy mati seketika itu juga. Sedangkan Malven, hanya melihatnya dengan senyum manis

Report Page