Sudut Pandang

Sudut Pandang

Bahizqil Faqih


Menanggapi dilema para santri yang lagi hangat dibicarakan, sejujurnya sudah saya rasakan sejak tahun pertama saya mengajarkan mereka.

Dan saya sudah sering menghasung mereka untuk memiliki soft skill, skill (keterampilan) dasar kehidupan dll, baik di majlis taklim maupun di majlas teras masjid.

Terkadang bisa pulang larut hanya karena ingin mendengarkan keluh kesah mereka.

Tidak perlu saling menyalahkan, merasa kecewa itu pasti.

Para tenaga pengajar sudah berusaha semampu mereka memberikan yang mereka mampui, mohon dimaafkan keterbatasan, dan kekurangan mereka dalam mendidik kalian.

Pasti ada beberapa dari mereka yang mungkin belum bisa mencerna dengan baik apa yang para santri butuhkan dan inginkan.

Karena memang adanya perbedaan kultur dan zaman yang sangat kontras.

Sebelum membenarkan atau menyalahkan, ada baiknya kita mundur sedikit kebelakang melihat ulang latar belakang orang tua dan guru kita. Coba renungkan!

Pertama, di zaman mereka, ilmu syar'i sangat terbatas. Untuk menghadiri kajian saja butuh menggayuh sepedanya berkilo-kilo meter. Mereka hidup di tengah hiruk pikuk politik yang sedang berguncang dari masa orde baru 1966 hingga masa reformasi. Berbagai tragedi, dari laskar jihad, gugurnya sebagian da'i ke jalur yang lain dan tragedi-tragedi lainnya. Tentu itu berpengaruh pada kultur daripada guru dan orang tua kita.

Kedua, di zaman mereka akses informasi tentang segala hal sangat terbatas. Tidak sedikit dari mereka yang hingga saat ini tidak pandai mengoprasikan gawainya. Tentu perbedaan ini sangat kontras dengan kondisi para santri zaman sekarang yang bisa mengakses banyak sekali informasi dengan sekali klik.

Ketiga, mereka lahir dalam keadaan lingkungan dan orangtua mereka tidak mengenal apa itu manhaj salaf? Bahkan sebagian mereka tidak tau wajibnya berhijab. Berbeda dengan kebanyakan santri sekarang yang sejak hari pertama ia menghirup udara dunia sudah berada di lingkungan yang tau apa itu ilmu syar'i.

Keempat, mereka merasakan pahitnya kebodohan dan ketidaktauan ilmu syar'i lebih lama dibandingkan anak-anak dan santri zaman sekarang. Tentu ketika pondok-pondok pesantren Ahlus Sunnah berdiri, ada euforia tersendiri, Ada dari mereka yang dengan yakin keluar dari lingkungan pekerjaannya, keluar dari lembaga pendidikan lamanya, dan keluar dari dunia lamanya demi bisa hidup di lingkungan yang penuh harap, lingkungan ilmu syar'i. Tidak sedikit dari para orang tua dan guru yang memondokkan anak-anaknya, tanpa menyadari dampak apa yang akan dialami oleh anak-anaknya ketika terlalu dini di'mandirikan'. Ya.. sekali lagi itulah euforia.

Berbeda dengan santri sekarang yang hidup di satu lingkungan terbatas, lantas ketika diberikan akses mengintip dunia luar, ia merasa 'ada banyak hal di luar sana yang ternyata terlihat begitu gemerlap'. Tidak demikian kenyataannya, namun karena kulit jeruk seringkali terlihat begitu menarik, tatkala dimakan bukan manis, namun malah rasa asam yg dirasakan.

Kelima, keterbatasan ilmu daripada guru dan orang tua kita. Tidak bisa dipungkiri banyak dari guru-guru kita yang belum lama belajar, namun terpaksa harus mengajar para santri. Karena keterbatasan tenaga pengajar dan besarnya antusias para orang tua yang ingin anak-anaknya dididik di lingkungan Ahlussunnah, ini menyebabkan minimnya pengalaman dan pengetahuan yang bisa mereka berikan. Namun, tuntutan untuk menjadi serba bisalah yang terkadang membuat beberapa tenaga pengajar merasa harus bisa memberi, walaupun tidak dipungkiri akhirnya menjadi sebuah kesalahan.

Keenam dan seterusnya masih banyak lagi uzur yang bisa kita berikan kepada guru-guru dan orang tua kita.

Ingatlah! mereka semua sangat sangat menginginkan yang terbaik untuk kita, walaupun cara mereka mungkin sedikit keras, sedikit kaku dan kadang tidak bisa dinalar.

Setelah kita renungkan, melihat fakta lapangan dan keluhan dari banyak pihak, masih ada kesempatan untuk kita berbenah, untuk evaluasi diri tanpa merasa tersindir dan sakit hati.

Ayok kita sama-sama perbaiki!

Untuk yang sudah terlanjur merasa tidak memiliki apa-apa, ketahuilah sesungguhnya kalian memiliki potensi besar dan bisa bersaing dengan mereka yang ada di luar.

Ketahuilah! kalian tidak terlambat untuk melangkah, kalian mengira nasi sudah menjadi bubur, tapi lihatlah bubur dari nasi yang kalian anggap gagal bisa kalian nikmati dengan membuat langkah positif kedepannya. Bubur bisa menjadi nikmat dengan suir ayam, bumbu kaldu, kerupuk dan kecapnya.

Jangan berlarut dalam kekecewaan, karena justru itulah yang akan membunuhmu!

Apa yang sudah kalian khawatirkan dan keluhkan sebagiannya sudah dilaksanakan oleh guru-guru kita.

Bisa kita lihat banyak dari pondok-pondok Ahlussunnah yang mulai mendirikan program lanjutan setingkat perguruan tinggi/universitas.

Ada juga yang membuka kursus IT, berkebun, beternak, bahkan ada yang memasukkan ektrakulikuler service AC untuk para santrinya.

Tidak sedikit juga pondok-pondok Ahlussunnah yang mulai memfasilitasi penyetaraan ijazah dan lain-lain.

Semua itu adalah upaya yang guru-guru kita upayakan untuk masa depan kita semua.

Stigma negatif? Tentu ada dari sebagian guru kita yang masih belum bisa menerima fakta dan realita di lapangan. Karena faktor-faktor yang sudah saya paparkan di atas.

Terakhir, ada sebuah kutipan yang berbunyi:

Good days tell you that life is beautiful.

Hari-hari yang baik memberitaumu bahwa hidup itu indah.

Bad days tell you that is more to learn from life

Hari-hari yang dianggap buruk memberitaumu bahwa masih banyak hal yang bisa dipelajari dari hidup.

Good people give you valuable memories.

Orang-orang baik memberimu kenangan yang berharga.

Bad people give you valuable lesson.

Orang-orang buruk memberimu pelajaran yang berharga.

So believe everything in life happens for a reason.

Jadi, percayalah bahwa segala sesuatu dalam hidup terjadi karena suatu alasan.

Sedikitnya ini yang bisa saya tanggapi dalam masalah ini.

Semoga bermanfaat.


🖋Abu Sufyan Habib

Harjasari-Tegal, 8 Syawal 1446H/ 7 April 2025 M

https://t.me/bukukustore/1498

Report Page