Stuck On?
Satu minggu.
Sudah satu minggu lamanya Marcie tidak bertemu ketiga sahabat karibnya, setelah ia mengatakan bahwa ia mengikuti sebuah komunitas sosial supaya ia tetap waras di tengah kesibukan—menyibukkan diri—untuk melupakan beberapa masalah yang terus bandel muncul di pikirannya.
Meski tidak bertemu, intensitas mengobrol via chat tetap berjalan, meski tidak selalu. Termasuk dengan seseorang yang jauh lebih sering menghubunginya dalam intensitas yang tidak biasa dibanding dua orang lainnya: Elias.
Pria inilah yang sejak hari pertama selalu menghampirinya dengan berbagai alasan; mulai dari khawatir gadis itu telat makan (dengan nada sewot seperti biasanya), mengingatkan hal A sampai Z, dan masih banyak lagi. Sampai-sampai Marcie sempat membatin, “Lo bokap gue atau temen gue sih?” Perilakunya bahkan melebihi tingkat protektif sang Ayah maupun adiknya.
Bukan sekali ini saja Marcie merasa ada yang aneh dengan Elias—setidaknya sejak terakhir kali ia mengalami kasus ketika nyaris dijadikan istri kedua, dan Elias yang menemaninya sejak awal hingga ia mengurung diri selama dua minggu sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti “cinta-cintaan”.
Pernah sekali Marcie menceritakan keanehan sikap Elias ini kepada Jana. Mengetahui gelagat di antara mereka berdua, Jana hanya tertawa dan berkata, "Jangan terlalu denial, Gi," yang kontan membuat gadis itu terdiam.
Bukan denial, Marcie hanya takut pada ekspektasi di masa depan jika ia sampai menyadari bahwa apa yang Elias lakukan memang jauh melampaui batas perlakuan seorang “teman” pada umumnya.
Namun, sejauh apa pun ia melangkah, entah mengapa selalu ada waktu dan ketidaksengajaan yang membuat Marcie kembali harus berurusan dengan Elias—dengan cara yang tak pernah ia duga.