Sjahrir's Profile.
SJAHRIR.Barangkali ada cinta yang tak selalu meminta untuk dimiliki: terkadang ia hanya ingin dipanjatkan setinggi-tingginya, agar semesta turut menjadi saksi bisu atas harapan yang diam-diam dijaga oleh sepasang netra yang saling menemukan rumah pada sesamanya. Selamat datang di ruang penuh puisi cinta milik Pranata Sjahrir, Tuan dan Puan.
Pranata Sjahrir—kerap disapa dengan beragam nama: Sjah, misalnya. Namun barangkali, kelak akan ada seseorang yang memilih menyebutnya dengan panggilan paling istimewa. Sebuah sapaan yang terlahir dari sepasang bibir yang menyimpan kasih, diucapkan selembut doa yang tak pernah putus menuju langit. Dan bila hari itu benar-benar tiba, Sjahrir akan menerimanya dengan hati yang terbuka. Sebab baginya, panggilan sayang tak pernah sekadar rangkaian kata, melainkan bentuk kecil dari rasa yang sedang bertumbuh.
Sjahrir mempercayai satu hal sederhana: cinta yang paling rupawan bukanlah yang paling lantang diumbar, melainkan yang tumbuh perlahan dalam keteduhan, saling menguatkan tanpa perlu banyak meminta pengakuan. Ia memilih mencintai melalui hal-hal yang nyata—tutur kata yang menenangkan, tindakan yang mengusahakan, waktu yang dipersembahkan sepenuhnya, hingga hadiah kecil yang kelak akan tinggal sebagai kenangan paling hangat. Baginya, mencintai bukan sekadar romansa yang hadir tanpa aba-aba, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk menjadi seseorang yang layak diperjuangkan.
Mungkin itulah sebabnya Sjahrir selalu memimpikan hubungan yang dipenuhi kehangatan—sebuah kasih yang tak pernah canggung mengungkapkan rasa, yang menjadikan pelukan, godaan kecil, dan kata-kata manis sebagai bahasa sehari-hari. Namun, di saat yang sama, ia juga jatuh hati pada dinamika love-hate relationship. Saling mengusili tanpa melukai, saling beradu pendapat tanpa kehilangan hormat, lalu kembali tertawa seolah tak pernah ada jarak yang tercipta. Baginya, hubungan yang baik bukanlah yang selalu sepakat, melainkan yang mampu bertahan dalam perbedaan tanpa pernah berhenti memilih satu sama lain.
Di balik segala tingkah usilnya, Sjahrir adalah seorang pembicara yang mampu menghidupkan hampir setiap percakapan. Dari obrolan ringan yang mengundang tawa, pembahasan mengenai seni, musik, dan kisah-kisah fiksi, hingga renungan tentang kehidupan yang perlahan bermuara pada keheningan yang nyaman. Namun ia juga memahami bahwa tak semua hati membutuhkan jawaban—beberapa di antaranya hanya ingin didengarkan. Karena itulah, ketika seseorang memilih mempercayakan ceritanya kepadanya, Sjahrir akan hadir sebagai sepasang telinga yang benar-benar mendengarkan, tanpa terburu-buru menghakimi ataupun menyela.
Selamanya, akan ia ditunggu. Selamanya, akan ia nantikan. Dan apabila dunia menguji keyakinan dengan jarak, waktu, atau perpisahan yang tak pernah diminta, ia hanya akan melakukan satu hal yang sama: melipat kedua tangannya, menyebut namamu perlahan, lalu menitipkan seluruh rindu kepada Yang Maha Mengetahui isi hati manusia. Hingga Tuan dan Puan, pada akhirnya datang dengan sambutan paling meriah dalam sejarah. "Sudikah engkau menggenggam tangan penuh bilur milikku, Kanyaah-ku?"