Sing Penting Yakin
Stephanie AntuziaSaat itu, kurang lebih 6 tahun yang lalu. Saya adalah seorang mahasiswi yang baru saja lulus dari salah satu Universitas swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya sangat bersemangat untuk mencari pekerjaan dan memulai kehidupan baru tanpa uang jajan dari orang tua, dengan berbekal niat dan motto hidup "sing penting yakin".
Beberapa bulan berlalu, hidup ternyata tak semudah harapan saya, hampir setengah tahun sudah menganggur sambil mencari pekerjaan kesana kemari, kalau kata anak muda sekarang mah "the real beban orang tua" hehehe.
Setelah 5 bulan lamanya menganggur, alhamdulillah akhirnya saya diterima di salah satu perusahaan property di Daerah Istimewa tersebut. 2 tahun sudah berlalu, bertahan hidup dengan UMR paling rendah di Indonesia, gaji hanya cukup untuk membayar kost dan makan saja. Tapi bagi saya itu sudah cukup, yang penting tidak membebani orang tua dan masih bisa makan. Beberapa menit kemudian, yang sebelumnya pikiranku masih berangan angan tentang masa depan, handphone ku berdering, iaiai i'm your little butterfly~
Ternyata dari ayah saya di kampung, kebetulan sedang ada sinyal disana. Maklum, daerahnya ada di desa bagian Kalimantan Tengah daerah yang masih terpencil, sinyal dan listrik masih belum masuk disana. Ayahku seperti biasa menanyakan kabarku, ia rindu, ucapnya dengan suaranya yang sudah paruh baya. ''Apa ndak bisa cari kerja di Kalimantan saja nak? Papa mau dekat sama anak-anak papa, tanya ayahku sambil memohon. Saya sangat sedih mendengarnya, andai beliau tahu, mencari pekerjaan sekarang sama sulitnya seperti menaklukan Benteng Takeshi, susahnya setengah mati. Tapi saya hanya bisa mengiyakan ucapan beliau, "iya, nanti Vany cari kerjaan disana ya Pa. Papa yang sabar". Ucapku menenangkan hati beliau yang sepertinya juga belum sarapan pagi itu. Beberapa bulan berlalu, tiba-tiba kakak sepupuku mengirimkan whatsapp di grup keluarga kami, ayo dek, coba ikut daftar, siapa tahu rezekimu. Akupun membaca dengan seksama persyaratan dan nama perusahaannya. BPJS Kesehatan? Kan saya bukan anak kesehatan, memang sih dulu ibu saya pernah suruh saya daftar kuliah jadi bidan, tapi kan saya lulusan sastra Inggris, apa bisa masuk disini? Kepalaku dipenuhi banyak sekali pertanyaan. Ah sudahlah, coba saja dulu. Akupun segera mencari tahu apa itu BPJS Kesehatan dan melengkapi seluruh persyaratannya. Segera kukirim berkas pendaftaranku ke email BPJS Kesehatan yang tertera sambari menyelesaikan pekerjaanku hari itu.
Beberapa hari berlalu, tiba-tiba masuk sebuah sms berhadiah ke nomor handphoneku, mengundangku untuk mengikuti wawancara awal di jam 08.00 WIB untuk keesokkan harinya. Senang bercampur bingung, saya kan sedang berada di Jogja siang itu, duit ndak punya, jet pribadi ndak punya, gajihan pun masih lama. Mau ke Kalimantan nebeng helikopter siapa ya kira-kira? Perekrutannya saat itu kebetulan ada di Ibu Kota Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya. Untungnya hari itu saya sedang ke salon menemani kakak sepupu saya yang sedang menjenguk anaknya yang bersekolah di Jogja, "sudah, pakai uang kakak saja dulu. Kamu harus dapat pekerjaan yang lebih baik, biar lebih dekat sama keluarga juga disana. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini." Ujarnya dengan membara memotivasiku.
Akupun langsung bergegas kembali ke kost dan menyiapkan beberapa helai pakaianku, segera aku menuju Bandara Adisutjipto Yogyakarta untuk membeli tiket, beruntungnya masih ada seat dan pesawat pun langsung berangkat beberapa jam setelahnya. Drama ini tak sampai disitu, setelah sampai di Jakarta karena penerbangan ke Palangka Raya harus transit terlebih dahulu, mau tak mau aku harus menginap semalam di Jakarta, kebetulan ada hotel kapsul di bandara. Dengan berbekal tiket penerbangan paling pagi ke Palangka Raya dan restu orang tua, saya pun mengakhiri hari dengan tertidur pulas malam itu.
Hari sudah berganti pagi, setelah shalat dan bersiap siap, bisa bisanya saya ketinggalan pesawat ketika check in di gate yang saya tuju. Saya ternyata salah gate! Petugasnya bilang, gate saya masih jauh diujung sana, dikerjar pun tidak akan sempat karena pesawat akan segera berangkat, kalaupun di reschedule, baru ada penerbangan lagi untuk jam 11.00 siang ini. Astagfirullahaladzim, masa saya sudah kalah sebelum berperang, sudah patah hati padahal belum jadian. Mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya waktu itu, harap maklum karena bandara di Kalimantan dan Jogja tidak sebesar dengan yang ada di Jakarta, mengakibatkan saya tidak teliti melihat gate tempat saya check in. Fyuh, habislah saya oleh orang tua saya. Mau bilang apa saya pada mereka? terlebih pada kakak saya yang telah membekali saya dengan sejumlah uang setara dengan gaji saya 3 bulan di Jogja.
Dengan inisiatif saya, saya menghubungi nomor yang mengirimkan sms pada saya waktu itu, mas Rasyid Sindu namanya, bidang MSDMRM di Kantor Pusat sekarang tempat ia bekerja. Hallo mas Rasyid, apa kabarnya? ehehehe. Oke kita lanjut, saya langsung berbicara dengan mas Rasyid di telepon sambil memohon, saya menceritakan kejadian yang sebenarnya, lalu saya meminta kesempatan untuk mengikuti wawancara ulang apabila diperkenankan. Mas Rasyid berkata tidak bisa mbak, mohon maaf. Saya pun menerima dengan lapang dada dan mengucapkan mohon maaf sebanyak banyaknya kepada mas Rasyid, mungkin memang belum rezeki saya mas. Sambil mengucapkan terimakasih sebelum menutup telepon itu. Yang penting sudah usaha untuk yang terakhir kalinya, batinku. Mau ditolak atau tidak, ya sudah resiko saya karena saya sudah lalai. Sambil bengong sambari membayangkan nasib saya setelah ini. Tak lama, hp saya berdering kembali, iaiai i'm your little butterfly~~ Mas Rasyid menelpon saya kembali dan berkata bahwa besok ada wawancara untuk penerimaan KC Muara Teweh. Saya diberikan kesempatan 1 kali lagi untuk ikut wawancara, Alhamdulillah, Allah memang Maha Baik, padahal hanya kesempatan untuk wawancara, belum tentu saya diterima. Tapi saya sangat bersyukur setengah mati waktu itu, rasa syukur itu terus saya rasakan sampai detik saya selesai menulis cerita ini, saya akhirnya diterima sebagai Frontliner Pegawai Tidak Tetap di Kantor Cabang Palangka Raya, tempat saya sekarang bekerja selama hampir 4 tahun lamanya. Pengalaman yang sangat berharga untuk saya bisa mengabdi di instansi besar ini, walaupun masih berstatus sebagai Pegawai Tidak Tetap, dan tahun depan adalah tahun dimana kontrak saya tidak dapat lagi diperpanjang sebagai PTT. Saya yakin ilmu yang saya dapatkan disini dapat sangat berguna dimanapun saya berada nanti.
Besar harapan saya agar terus dapat menjadi bagian di BPJS Kesehatan tentunya, tapi seperti yang kita semua tahu. Rezeki itu tak melulu soal pekerjaan tetap, mendapatkan keluarga baru, pengalaman baru, sahabat dan teman-teman yang baru juga salah satu rezeki yang tak ternilai harganya. Begitulah cerita singkat saya ketika melamar di BPJS Kesehatan, semoga kalian tak terlalu bosan membacanya. Sedikit kalimat sebelum saya mengakhiri cerita ini, "Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya." Surah Yasin ayat 40. Alam semesta tak pernah terburu-buru, dan setiap orang ada masanya. Semoga ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua agar selalu menjadi pribadi yang mudah bersyukur. Dari saya, Stepani Antusia. Terimakasih :)