Seirama Yang Kian Samar.

Seirama Yang Kian Samar.

Mertzlan's Its Pointer: Zhao James.

"Makin jauh kita berjalan, makin yakin pula kita tidak ditakdirkan."

Langit sore kala itu temaram dan mereka berjalan tanpa saling menggenggam seperti hari-hari sebelumnya. Dulu, langkah sang Raga selalu seirama dengannya, Yealie—seolah dunia memang diciptakan hanya selebar trotoar yang mereka pijak. Namun, semakin jauh kaki ini melangkah, semakin jelas pula terlihat di pandangan Yealie, bahwa Raga menatap cakrawala yang berbeda. Yealie menghitung kebun-kebun yang ingin mereka rawat di pekarangan rumah, sedang Raga menghitung kota-kota yang ingin ia tinggalkan.

Mereka tak pernah benar-benar bertengkar, hanya diam yang kian panjang namun terasa sesak di dada.

Yealie menghentikan langkahnya di depan persimpangan dekat taman yang akan mereka kunjungi, "Raga, apa kamu masih melihatku di setiap rencanamu?" Tanya Yealie bersamaan dengan bulir gerimis yang turun perlahan.

Raga tersenyum lembut, lembut sekali, bak sutra yang rasanya akan koyak jika hanya dipegang dengan tangan kosong, ia lantas menjawab. "Aku melihatmu... hanya saja bukan di jalan yang sama."

Dari jawaban Raga, Yealie menyadari, cinta mereka tak hilang, hanya terjeda di persimpangan. Yealie ingin menetap, menanam akar, membiarkan waktu tumbuh diantara dinding-dinding yang mereka bangun bersama. Sedang Raga memilih untuk menjadi angin, menjelajah, membiarkan namanya singgah di peta yang sama sekali tak Yealie kenal.

Kita saling mencinta dengan sungguh, namun kompas tujuan kita mengarah pada utara yang berbeda.

Pada akhirnya, mereka tetap berjalan, bukan berdampingan melainkan berlawanan arah. Dan anehnya, di tiap langkah yang kian menjauhi, Yealie justru paling yakin bahwa mencintai Raga bukanlah hal yang harus disesali, hanya jalur takdir yang keji memilih untuk memisahkan mereka.

Report Page