Sebuah Syukur
Ratri R. AthamukhaliddinarPerjalanan bekerja di BPJS Kesehatan diawali pada tahun 2019, aku baru saja lulus menjadi sarjana Psikologi dari salah satu universitas di kota Surabaya. Dari grup whatsapp angkatanku ada sharing info bahwa BPJS Kesehatan sedang melakukan recruitment Pegawai Tidak Tetap untuk tahun 2020 di wilayah Jawa Timur. Aku langsung dengan semangat melihat bidang pekerjaan apa saja yang tersedia. Saat itu aku merasa sedikit kecewa karena tidak ada bagian SDM atau personalia yang sesuai dengan jurusan kuliahku. Akan tetapi ada 1 jabatan yang menarik yaitu Penanganan Pengaduan Peserta. Kupikir, tidak banyak orang-orang yang suka menangani orang yang melakukan pengaduan. Kalau aku memilih jabatan itu harusnya pesaingku tidak terlalu banyak. Apalagi aku harusnya bisa mengaplikasikan pengalaman kuliahku untuk menghadapi orang yang marah-marah.
Segera aku buat CV yang menarik dan mengupload lamaran kerja yang saat itu dilakukan secara online. Beberapa hari tidak kunjung mendapat follow up terkait lamaran, aku hanya bisa pasrah. 2 minggu setelah lamaran aku upload, aku mendapat panggilan untuk psikotest di Hotel GreenSA Inn & Training Centre. Sungguh mendapat email tersebut aku senang sekali, padahal kalau dipikir-pikir aku juga belum tentu lolos, tapi tidak apa-apa setidaknya 1 anak tangga sudah terlampaui. Selama menunggu hari untuk Psikotes kujalani dengan banyak-banyak berlatih soal, menonton tips-tips di youtube, dan banyak-banyak berdoa.
Hari tes itu tiba, setelah berpamitan dengan ibuku dan memohon restunya supaya dilancarkan semuanya. Aku sampai di lokasi psikotes sedikit terlalu awal, karena saat itu masih sedikit orang yang parkir dan menunggu. Tidak kusangka, setelah beberapa lama, orang-orang yang datang semakin banyak. “Wah sebanyak ini pelamarnya, apakah aku akan lolos ya?”. Saat itu aku hanya banyak-banyak berdoa. Setelah mendapat tempat duduk dan menyiapkan alat tulis, aku juga mendapat teman baru namanya Mela. Dia berasal dari Bojonegoro. Ternyata yang baru aku tahu psikotes ini dilakukan bersama-sama untuk wilayah Jawa Timur. Saat itu sepertinya hampir 1000 peserta yang datang untuk melakukan Psikotest.
Setelah psikotest selesai dilanjutkan dengan wawancara dengan psikolog dan interview user. Hari interview itu pun tiba, disana ada cukup banyak juga orang yang akan interview. Hari itu aku diinterview oleh Pak Dhani Rahmadian (Alm) yang menjadi kepala bidang SDMUKP kala itu dan bu Nanda yang saat ini menjadi koordinator frontlinerku. Aku ingat sekali, pada saat interview aku ditanya oleh bu Nanda “Apa alasan kamu ingin bekerja di BPJS Kesehatan”. Sebuah pertanyaan yang membawa banyak memori dikepalaku. Rasanya saat itu ingatanku mereka ulang bagaimana BPJS Kesehatan sudah banyak membantu ayah ketika dulu menjalani kemoterapi sebelum akhirnya Allah memanggilnya.
Tahun 2017, aku masih menjadi mahasiswa, belum punya penghasilan apa-apa. Ayah sudah didiagnosa kanker hati. Sebelum dokter mendiagnosa itu, ayah sudah memiliki riwayat diabetes yang membuat harus rutin menyuntikkan insulin di tubuhnya. Setelah pensiun dari tempat kerjanya, ayah meminta aku untuk mengurusnya agar mendaftarkan menjadi peserta mandiri. Aku datang ke kantor BPJS Kesehatan dan semuanya sungguh dilancarkan. Baru membayar iuran 2x, tiba-tiba kondisi ayah drop dan perlu penanganan intensif. di Rumah sakit pun sangat terbantu dan tidak mendiskriminasi kami walaupun menggunakan BPJS Kesehatan. Aku sungguh berterima kasih kepada BPJS Kesehatan. Pada saat itu aku bergumam dalam hati “bisa nggak ya aku kerja yang bisa membantu orang kayak BPJS Kesehatan ini? Semoga nanti kalau aku kerja bisa dapat kerjaan yang bermanfaat bagi banyak orang”
Ternyata kesedihan melihat kondisi ayah yang drop dan gumaman dalam hati itu terijabah oleh Allah. Dan sampailah kini sekarang, aku menjadi PTT Staf Edukasi dan Penanganan Pengaduan di KC Surabaya. Aku bersyukur sekali, bisa menjadi Duta BPJS Kesehatan. Dikelilingin orang-orang yang baik. Teman kerja, atasan, dan lingkungan kerja yang sangat-sangat supportif adalah nikmat Allah yang luar biasa. Aku berdoa agar kedepannya bisa lolos sebagai Pegawai Tetap. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Maka aku ingin menjadi manusia yang bisa membantu banyak orang.

