SEBELUM TERBIT
Berita pertama yang mendahului kebohongan Hendi Rasmadi adalah hujan ikan lele.Malam itu, Jakarta tampak seperti halaman koran yang kehujanan. Cahaya kendaraan memanjang di jalan, huruf-huruf pada papan iklan memudar di balik gerimis, dan gedung-gedung berdiri sebagai bayangan hitam.
Di lantai sebelas sebuah ruko perkantoran, ruang redaksi KabarKilat.id masih menyala. Pendingin ruangan mendengung. Papan ketik berisik. Kopi dalam gelas Hendi telah lama kehilangan hangatnya.
Angka merah di monitornya menunjukkan:
3 dari 10 artikel.
“Tujuh lagi sebelum jam dua,” kata Pak Fahru dari meja redaktur.
“Ga ada berita, Pak.”
Pak Fahru tidak mengalihkan pandangan dari grafik pembaca. “Berita itu dicari.”
“Sudah.”
“Kalau ga ketemu, bikin yang kira-kira bisa terjadi.”
Hendi memahami maksudnya. Kebohongan di kantor itu tidak pernah disebut kebohongan. Mereka menamainya informasi awal, dugaan warganet, atau kabar yang masih berkembang. Jika salah, judul dapat diganti diam-diam. Klarifikasi diterbitkan setelah pembaca pergi.
Karena lelah, Hendi membuka halaman baru dan mengetik judul paling konyol yang terlintas di kepalanya.
HUJAN DERAS DI JAKARTA, IKAN LELE BERJATUHAN DARI LANGIT
Begitu huruf terakhir selesai diketik, lampu ruang redaksi berkedip.
Hendi belum sempat menulis satu kalimat pun ketika pesan masuk ke grup wartawan. Sebuah kolam budidaya di atap gedung kawasan Salemba jebol diterjang angin. Puluhan ikan lele terangkat dan jatuh ke jalan bersama hujan.
Video segera menyusul. Ikan-ikan menggelepar di antara genangan dan kaki orang-orang yang sibuk merekam.
Pak Fahru berdiri.
“Hendi, naikkan sekarang!”
Hendi memandangi judul di layar. Setiap huruf terasa seperti gigi yang baru saja selesai menggigit kenyataan.
Ia menyebutnya kebetulan.
Dua malam kemudian, saat kembali kehabisan bahan, Hendi mengarang judul tentang pejabat yang menyembunyikan uang suap dalam kaleng biskuit.
Sepuluh menit setelah judul itu selesai, kabar penggeledahan kantor pemerintahan di Bekasi masuk. Uang seratus juta rupiah ditemukan di dalam kaleng biskuit bergambar istana Denmark.
Malam berikutnya, Hendi menulis:
BUAYA MASUK PUSAT PERBELANJAAN, PENGUNJUNG BERLARIAN
Tiga puluh menit kemudian, seekor buaya sepanjang dua meter muncul di parkiran sebuah mal di Makassar setelah terbawa banjir.
Sejak itu, Hendi mulai mencatat.
Ia membeli buku bersampul hitam dan menuliskan waktu ketika sebuah judul selesai diketik, kemudian mencatat kapan beritanya datang.
10 November. Bus kota terbakar di Semarang. Kabar masuk sebelas menit kemudian.
12 November. Hujan es di Kediri. Terjadi empat puluh menit kemudian.
14 November. Penyanyi pingsan di panggung. Terjadi dua jam kemudian.
Jarak waktunya tidak pernah sama. Namun, satu hal selalu pasti: kejadian baru muncul setelah judul selesai ditulis.
Judul yang hanya dipikirkan tidak berpengaruh. Tulisan tangan di buku juga tidak. Kalimat biasa tidak menghasilkan apa-apa.
Hanya judul berita yang ia ketik dengan kesadaran bahwa isinya bohong.
Hendi mengujinya pada suatu malam.
Di halaman draf yang tidak terhubung ke situs, ia mengetik:
MONAS BERUBAH UNGU TEPAT PUKUL 02.13
Ia sengaja memilih sesuatu yang mustahil, lalu menunggu.
Pada pukul 02.13, gangguan perangkat lunak membuat seluruh lampu Monas memancarkan warna ungu. Foto-fotonya membanjiri media sosial beberapa menit kemudian.
Hendi menutup laptop dan berlari ke toilet.
Laras, reporter lapangan yang baru kembali dari liputan, menemukannya sedang membasuh wajah.
Hendi menunjukkan buku hitam itu. Laras membaca catatan demi catatan tanpa menyela.
“Berarti bukan tempat kamu mengetik yang penting,” katanya. “Niatmu yang penting. Kamu menulisnya sebagai judul berita palsu, lalu dunia membuatnya benar.”
“Jadi aku penyebabnya?”
“Aku ga tahu.”
“Aku yang menulis. Setelah itu semuanya terjadi.”
“Atau kamu hanya membuka pintu menuju kejadian yang memang mungkin terjadi.”
“Kalau orang mati karena salah satu judulku, apa bedanya?”
Hendi berhenti membuat berita palsu. Selama beberapa hari, ia hanya menulis kejadian yang telah dikonfirmasi. Targetnya merosot. Trafik ikut turun.
Pak Fahru memanggilnya.
Di monitor redaktur terbuka riwayat draf Hendi. Waktu penulisan judul tercatat lebih awal daripada laporan pertama dari lapangan.
“Ini bukan sekali atau dua kali,” ujar Pak Fahru. “Kamu selalu tahu duluan.”
Hendi mencoba berbohong, tetapi lelaki itu terus mendesak. Akhirnya, ia menceritakan semuanya.
Pak Fahru mendengarkan dengan wajah yang terlalu tenang.
“Kamu takut?” tanyanya.
“Tentu.”
“Saya malah melihat peluang.”
“Orang bisa celaka.”
“Orang celaka setiap hari. Bedanya, selama ini media kita selalu terlambat.”
Pak Fahru berjalan mendekati Hendi.
“Bayangkan. Saat media lain baru mencari narasumber, artikel kita sudah siap. Kita bisa jadi yang pertama setiap hari.”
Hendi bangkit. “Saya ga mau menulis judul palsu lagi.”
Pak Fahru tersenyum tipis. “Jurnalis menulis berita. Bukan mengatur apa yang boleh terjadi.”
Kalimat itu terdengar masuk akal, tetapi meninggalkan rasa busuk.
Beberapa minggu kemudian, sebuah perusahaan bus dilaporkan memakai kendaraan tua untuk wisata sekolah. Informasinya belum terbukti. Pak Fahru memerintahkan Hendi membuat berita keras agar ramai dibaca.
Hendi menatap kolom judul.
Ia dapat menulis tentang kelalaian perusahaan atau tuntutan pemeriksaan. Namun, setelah berjam-jam mengejar judul yang dianggap “menjual”, ia mengetik:
BUS SEKOLAH KEHILANGAN REM DI PUNCAK, DUA BELAS ANAK TEWA
Hendi berhenti sebelum huruf terakhir pada kata tewas.
Kursor berkedip setelah kata tewa.
Selama judul belum lengkap, tidak terjadi apa-apa.
“Lanjutkan,” kata Pak Fahru dari belakangnya.
“Ini keterlaluan.”
“Ini cuma draf.”
“Bukan buat saya.”
Pak Fahru menghela napas. “Kalau tidak berani menulis, jangan jadi wartawan.”
Harga diri Hendi tersulut. Tanpa berpikir panjang, ia mengetik huruf terakhir.
S.
Lampu redaksi berkedip.
Rasa marah Hendi lenyap, digantikan ketakutan.
Ia langsung mencari informasi tentang sekolah yang berencana berwisata ke Puncak. Laras menemukan satu rombongan dari Sekolah Tunas Bangsa yang akan berangkat pukul enam pagi menggunakan bus tua.
Sopirnya bernama Pak Yayan.
Hendi dan Laras melaju menuju garasi sebelum fajar. Bus kuning itu sudah dipanaskan. Anak-anak berdatangan membawa ransel, bantal leher, dan bekal dari orang tua.
Hendi meminta Pak Yayan memeriksa rem.
“Saya sudah periksa kemarin,” jawabnya.
“Tolong periksa lagi.”
“Kamu montir?”
“Bukan.”
“Polisi?”
“Wartawan.”
Pak Yayan tertawa pendek. “Wartawan sekarang selain paling tahu, juga paling sakti.”
Ketika bus mulai bergerak, Hendi berdiri di depannya.
Klakson meraung. Orang tua memaki. Dua petugas keamanan menarik tubuhnya, tetapi Hendi menjatuhkan diri dan memeluk roda depan.
Laras merangkak ke bawah bus. Ia menemukan cairan menetes dari sebuah saluran.
Pak Yayan akhirnya mematikan mesin.
Seorang montir memeriksa bagian bawah kendaraan. Selang rem retak dan hampir putus. Jika bus melaju, tekanan rem dapat habis saat memasuki turunan.
Perjalanan dibatalkan.
Tidak ada bus kehilangan rem.
Tidak ada dua belas anak tewas.
Judul Hendi gagal menjadi kenyataan sepenuhnya.
Di sudut garasi, ia menangis tanpa suara. Bukan hanya karena anak-anak itu selamat. Untuk pertama kalinya, Hendi memahami bahwa setelah judul selesai ditulis, kenyataan memang mulai bergerak—tetapi manusia masih dapat menghadangnya.
Pak Fahru memecat Hendi dan Laras karena dianggap mempermalukan perusahaan.
“Profesi kita memberitakan kejadian,” katanya, “bukan menggagalkan kejadian.”
“Dua belas anak hampir mati.”
“Tapi mereka tidak mati. Jadi, mana beritanya?”
Hendi menatap mantan atasannya.
“Mungkin itu berita terbaik yang pernah saya buat.”
Hendi dan Laras menyewa ruangan kecil di atas warung soto. Mereka menamainya Redaksi Sebelum Terbit.
Hendi tidak lagi membuat judul palsu. Mereka menerima laporan tentang jembatan retak, kapal yang kelebihan muatan, sekolah rusak, dan kebocoran pabrik. Beritanya sepi pembaca, tetapi beberapa laporan membuat pemerintah bertindak sebelum jatuh korban.
Hidup mereka tenang sampai suatu malam Hendi menemukan sebuah draf lama di penyimpanan komputernya.
Tanggal pembuatannya tiga bulan sebelumnya, ketika ia masih menguji kemampuannya. Saat itu, Pak Fahru menertawakan kekhawatirannya dan meminta satu judul yang benar-benar besar.
Hendi pernah mengetik:
TSUNAMI SAPU SELATAN JAWA, RIBUAN WARGA MENJADI KORBAN
Tidak terjadi apa-apa malam itu. Hendi mengira judul tersebut gagal, lalu melupakannya.
Kini layar menampilkan pemberitahuan gempa besar di dasar laut selatan Jawa.
Hendi merasa darah di tubuhnya berhenti mengalir.
Ternyata, kenyataan tidak selalu datang dalam hitungan menit.
Untuk kebohongan kecil, dunia hanya membutuhkan beberapa kebetulan. Untuk kebohongan sebesar itu, dunia membutuhkan waktu tiga bulan untuk menyiapkan kehancuran.
Peringatan dini belum dikeluarkan. Pusat gempa masih menghitung kemungkinan tsunami. Di sepanjang pantai, orang-orang tidur tanpa mengetahui bahwa laut sedang menarik napas.
Hendi menghubungi Pak Fahru dan meminta KabarKilat menyebarkan peringatan.
“Kita belum punya pernyataan resmi,” jawab Pak Fahru.
“Gempanya sama dengan draf lama itu.”
Pak Fahru terdiam. Ia masih mengingat judul tersebut.
“Kalau benar,” katanya kemudian, “kita sudah punya judul utama.”
“Bunyikan peringatan!”
“Kalau salah, media saya habis.”
“Kalau menunggu, orang-orang yang habis.”
Pak Fahru menutup telepon.
Hendi membuka halaman draf. Tangannya gemetar. Ia tahu satu-satunya cara tercepat untuk memaksa sebuah peringatan muncul.
Ia mengetik:
SIRENE TSUNAMI BERBUNYI DI SELURUH PESISIR SELATAN JAW
Itu berita palsu. Sejumlah sirene rusak, sebagian wilayah bahkan tidak memilikinya.
Jarinya berhenti di atas huruf terakhir.
A
Jika judul diselesaikan, tidak ada jaminan bagaimana kenyataan akan mewujudkannya. Sistem bisa menyala, petugas bisa menerima perintah mendadak, atau seseorang harus terluka lebih dahulu agar alarm berbunyi.
Namun, tanpa peringatan, ribuan orang mungkin tewas.
Hendi menekan huruf terakhir.
Lampu ruangan berkedip.
Beberapa menit kemudian, sirene pertama berbunyi di Pacitan. Disusul Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Bantul, dan kota-kota lain di sepanjang pesisir. Ada sirene yang aktif karena perintah petugas. Ada pengeras suara masjid yang mengambil alih ketika alat peringatan gagal. Kentungan dipukul di desa-desa yang tidak memiliki listrik.
Orang-orang berlari menuju tempat tinggi.
Laut surut menjelang fajar.
Gelombang datang sebagai dinding hitam, menghancurkan rumah, warung, perahu, dan jalan raya. Namun, sebagian besar warga telah meninggalkan pesisir.
Pak Fahru segera menerbitkan berita dengan judul yang tak kalah besar:
TSUNAMI SAPU SELATAN JAWA, RIBUAN WARGA KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL
Judul lama Hendi akhirnya menjadi kenyataan, tetapi tidak sepenuhnya seperti yang ditakutkannya. Ribuan warga memang menjadi korban, kehilangan rumah dan tempat mencari nafkah. Namun, karena peringatan datang lebih awal, sebagian besar dari mereka masih hidup untuk menyaksikan matahari terbit.
Bukan karena kenyataan gagal menyusulnya.
Manusia telah lebih dahulu mengubah akhirnya.
Pagi itu, Hendi duduk di sebuah bukit bersama para penyintas. Di bawah mereka, kota terendam. Seorang anak membagikan setengah potong roti kepadanya.
Laras membuka laptop.
“Kita tulis apa?”
Hendi memandang keluarga-keluarga yang masih dapat saling memeluk.
“Jumlah korban sebenarnya.”
“Judulnya?”
Hendi terdiam sejenak, lalu tersenyum.
RIBUAN WARGA SELAMAT KARENA PERINGATAN DATANG SEBELUM TSUNAMI
Ia menulisnya setelah menerima konfirmasi dari lapangan.
Kali ini, lampu tidak berkedip. Tidak ada kenyataan yang perlu dipaksa mengikuti kata-katanya.
Berita itu memang benar sejak awal.
Hendi akhirnya memahami bahwa tugas seorang jurnalis bukan sekadar menjadi orang pertama yang tiba setelah tragedi.
Jika masih ada kesempatan, ia harus datang sebelum berita itu terbit.