THE EIGHT GUEST

THE EIGHT GUEST

Leeanother ft. Juutone, Wienterurb, Drivepoets, Rona Jelita, Alterseen, Kyadocs, KHFederal


Langit sore mulai berubah warna ketika mobil hitam yang dikendarai Juutone dan lainnya melaju pelan di jalan pegunungan yang semakin sepi. Matahari hampir tenggelam di balik bukit, dan bayangan pepohonan pinus memanjang di sepanjang jalan sempit itu. Kabut tipis turun perlahan dan menutupi jarak pandang. Jalanan terasa seperti lorong panjang yang membawa mereka semakin jauh dari keramaian.

Di dalam mobil, suasana sangat hangat menyelimuti mereka. Wienter memutar lagu kesukaannya, Kyadocs dan KHFederal tertawa lepas mendengar suara nyanyian Wienter, sementara Drivepoets membuka jendela sedikit dan membiarkan udara dingin masuk.


“Kalau sampai villa nanti, aku mau langsung rebahan,” kata Kyadocs dengan santai,


Wienter menoleh sambil tertawa kecil, “Belum juga sampai, udah mikirin tidur aja dek.”


Di kursi belakang, RonaJelita menatap keluar jendela tanpa banyak bicara. Ia memperhatikan barisan pohon pinus yang terasa terlalu rapat. Cahaya matahari hampir tidak bisa menembus celah-celah daun. Hutan pinus itu terlihat seperti dinding gelap yang mengelilingi mereka.


“Aneh gak sih jalannya?” gumam RonaJelita pelan


Leeanother menoleh, “Aneh gimana?” tanya Leeanother,


“Sepi banget.” jawab RonaJelita sambil melemparkan pandangan ke luar jendela.


Juutone yang sedang menyetir hanya tersenyum kecil, “Ya memang tujuannya tempat sepi.”. Namun bahkan Juutone sendiri mulai merasa jalan ini terlalu sunyi. Selama hampir dua puluh menit terakhir, mereka tidak melewati satu kendaraan pun.


DUAGH!

Mobil mereka tersentak keras dan mengejutkan mereka semua. Mesinnya mengeluarkan suara kasar. Seperti yang diduga, mobil itu mogok dan berhenti di tengah jalan yang dikelilingi pepohonan pinus yang lebat. Lagu yang sedari tadi berputar pun langsung mati.


Sunyi.

Hanya suara mesin yang tersisa sebelum akhirnya ikut padam.


“Juutone… itu tadi suara apa?” tanya Wienter. Juutone hanya menggeleng bingung, memberi kode agar AlterSeen dan KHFederal turun untuk melihat.


AlterSeen yang paham langsung membuka pintu dan turun dari mobil. Ia berjalan ke depan dan membuka kap mesin. Uap panas keluar perlahan. Ia memeriksa beberapa bagian dengan senter ponselnya, lalu menghela napas panjang.


“Kayaknya mesinnya rusak,” ujar AlterSeen sambil mengusap wajahnya kasar.


KHFederal turun dan ikut melihat, “Bisa dibenerin ngga, Al?”


AlterSeen diam sejenak dan mengacak rambutnya frustasi, “Bisa, tapi ga sekarang.”


Udara di luar terasa lebih dingin dari yang mereka bayangkan. Kabut semakin tebal dan mulai merayap di antara batang-batang pohon. Lessuire mencoba memeriksa sinyal di ponselnya. Tidak ada.


“Gaada sinyal disini,” ujar Lessuire sambil memperlihatkannya ponselnya.


KHFederal menghela napas panjang, “God. Kita literally stuck di tengah hutan sekarang.”


Beberapa menit berlalu saat mereka berdiri di pinggir jalan tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu Lessuire tiba-tiba menunjuk ke arah kiri jalan.


“Tunggu, guys… itu apa?” Ujar Lessuire sembari menunjuk ke salah satu titik lurus ke arah pepohonan.


Di balik pepohonan yang rindang dan lebat, terlihat sebuah rumah tua. Rumah itu berdiri agak jauh dari jalan, sebagian tertutup kabut dan bayangan pohon besar. Atapnya terlihat tinggi dan miring. Dinding kayunya terlihat kusam dan penuh noda lembap. Namun satu hal menarik perhatian mereka, ada lampu kuning redup yang menyala di dalamnya.


“Ada orang,” kata Leeanother.


Juutone mengangguk pelan, “Kita coba minta bantuan.”


Drivepoets menahan tangan lengan Juutone yang hendak berjalan ke dalam hutan itu, “Gimana kalau bukan orang yang tinggal disana?”


“Yaelah, lu kebanyakan nonton film horror deh. Pasti orang nggak sih? kalaupun bukan seenggaknya kita bisa singgah” Sanggah AlterSeen dan diikuti anggukan oleh yang lainnya.


Akhirnya mereka berjalan menyusuri jalan kecil menuju rumah itu. Daun-daun kering berbunyi pelan di bawah sepatu mereka. Angin malam mulai bertiup dan membuat ranting-ranting pohon saling bergesekan. Semakin dekat, rumah itu terlihat semakin tua. Cat dindingnya mengelupas, beberapa jendela tampak bernoda dan retak, pintu kayunya besar dan penuh goresan. RonaJelita merasa dadanya semakin tidak nyaman. Rumah itu terasa seperti… menunggu mereka.

Mereka berkali-kali berusaha mengetuk pintu besar itu, hingga akhirnya mereka menyerah. Beberapa menit berlalu, entah bagaimana pintu itu terbuka perlahan dengan sendirinya.


KRIEEEETT…


Di balik pintu berdiri seorang nenek tua, tubuhnya bungkuk, rambut putihnya panjang dan kusut, matanya kecil tetapi sangat tajam saat memandang mereka satu per satu.


“Kalian tersesat?” tanyanya dengan suara serak.


Mereka saling melempar pandang, kemudian Juutone dan Leeanother menjelaskan tentang keadaan mobil mereka yang rusak. Nenek itu mendengarkan tanpa ekspresi dan hanya menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian, ia membuka pintu lebih lebar.


“Kalian boleh bermalam di sini.” ujarnya singkat dengan senyuman yang tidak dapat diartikan, tanpa pikir panjang kami pun masuk ke dalam rumah tua itu.





Report Page