SELF IMAGE & JATIDIRI
naqsdna.comPERKENALKAN DIRI ANDA SEBAGAI ….
Self Image adalah “identitas” yang anda “perkenalkan” kepada dunia ini, kepada semesta ini. sebuah citra diri anda yang anda perkenalkan kepada semesta itu apa, itu pilihan sadar anda bukan orang lain yang menempelkan “citra” itu tetapi anda sendiri yang memperkenalkannya.
Apa jadinya jika alam semesta mengenali anda sebagai pribadi dengan identitas :
Saya selalu gagal …..
Saya selalu ditolak …..
Saya tidak pernah bahagia …..
Saya tidak menarik …..
Saya pecundang …..
Saya selalu kalah dalam persaingan …..
Saya ditakdirkan hidup susah …..
Saya sudah mulai tua sehingga dan saya mulai sakit-sakitan …..
Maka “servomechanism” akan bekerja sesuai dengan “arahan” tersebut untuk mewujudkannya. Ingat kita semua memiliki “Automatic Guidance System” ini yang akan menggunakan peta panduan untuk mencapai tujuannya, peta panduan itu adalah “Self Image” kita sendiri.
Dapatkah “Self Image” di ubah ? Tentu saja dapat dengan syarat anda tahu masalah anda, kalau tidak di pastikan sulit dan tidak semudah membalik telapak tangan.
Anda membutuhkan pemahaman yang benar, pengenalan diri yang tepat, metodologi yang sesuai, serta semangat yang terjaga (persistensi) untuk merubah sesuatu yang telah “melekat” untuk menjadi sesuatu yang “berbeda”.
Seberapa anda kenal anda? Itu pertanyaan berikutnya jika “perubahan” anda putuskan akan anda ambil.
Selanjutnya pilihan tetap ada di pihak anda, sekali lagi pertanyaan berikutnya, Apakah anda perlu merubah Self Image atau justru mempertahankannya karena semua dalam kehidupan anda sudah OK. Kalau terseok-seok, kalau bingung, kalau sakit dan pedih, kalau banyak masalah, seberapa lama anda mau pegang hidup seperi ini?
*
ANDA ADALAH APA YANG ANDA …
Istilah Self Image dipopulerkan oleh Dr. Maxwell pada sekitar tahun 60an melalui konsep “Psychocybernetics”. Dr. Maxwell banyak menyoroti soal psikologi citra diri ini. Ia bukan seorang psikolog atau psikiater, melainkan seorang ahli bedah plastik (kosmetik) yang banyak menangani client bedah plastik wajah.
Dr. Maxwell mengamati bahwa kasus utama dari client-client yang ditanganinya pada umumnya bukanlah persoalan wajah, akan tetapi justru persoalan “citra diri”. Sehingga operasi wajah seringkali tidak dapat serta merta merubah “citra diri” ini. Untuk merubah “citra diri” dibutuhkan “operasi” psikologis.
Secara sederhana “Self Image” dapat dimaknai sebagai “cara kita memandang diri kita sendiri”, atau “siapakah sebenarnya kita menurut penilaian kita”, dan “penilaian” ini jauh berada di “pikiran bawah sadar”, bahkan kita hanya dapat “merasakannya” secara samar-samar, atau bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Penilaian ini sudah mencapai tingkatan “Unconscious Competence”, bahkan mungkin sudah mencapai tingkatan “Belief”, atau lebih jauh lagi sudah mencapai tingkatan “Identity”.
Kita akan mngurai satu-satu pelajaran self image-belief-identity ini ya, kita mulai dari self image. Yang dimulai degan suatu pertanyaan kemakmuran, karena pejaran yang saya kuasai hanya ini, yaitu dengan pertanyaan “Apakah anda termasuk orang yang selalu beruntung ?”
lalu anda menjawab “Ya” ! Tetapi jauh di dalam diri andalah ya saya maksud menemukan terletak jawaban yang sesungguhnya dari anda sahabat, inilah yang disebut sebagai “Self Image”.
Jawaban “iya” yang saya cari dan saya maksud adalah jawaban “anda sesungguhnya” yang di bawah, bawah, bawah pikiran. Bukan jawaban “iya” di logika semata.
Sebagai catatan : self Image dianggap sebagai “selubung” yang melingkupi diri kita, dimana selubung ini akan “mematahkan” seluruh pikiran atau ide yang tidak “sejalan”. Dan sebaliknya, self image akan “meloloskan” yang dianggap “sejalan” . sekali lagi ini bukan masalah benar salah dalam “value” kehidupan, tetapi cock tidak cocok dengan citra diri pilihan anda tersebut.
Sebagai contoh : jika seseorang memiliki Self Image misalkan : “saya selalu akrab dengan kesialan”, maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi ketika yang bersangkutan suatu saat mencoba untuk “berbisnis” ? Ya, tentu segala hal yang akan membawa kepada keberhasilan bisnis akan segera di-“sabotase” oleh Self Image, sebaliknya yang membawa kepada kegagalan akan di-support penuh oleh Self Image.
Self Image merupakan resultan dari berbagai hal dalam diri kita, mulai dari pengalaman empiris, pengalaman induktif, pemahaman, penalaran, dsb.
Self Image adalah “payung besar” yang menaungi “outcome” Sehingga jelas bahwa tidak layak membicarakan “outcome” jika Self Image masih berpotensi untuk melakukan “Self Sabotage”.
*
MERUBAH NASIB SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN
Istilah servomechanism sebenarnya lebih dikenal di dunia teknik aplikasi psikologi, yaitu suatu proses loop tertutup untuk mengkoreksi proses secara terus menerus agar tetap dapat menuju “target” yang telah ditetapkan.
Sebagai contoh, peluncuran peluru kendali mengilistrasikan teknik servomechanism ini. Ketika target telah “dikunci”, maka gerakan peluru yang mulai melenceng akan direvisi ulang sehingga kembali menuju arah semula, proses revisi ini berlangsung terus menerus, sampai dengan akhirnya peluru kendali tepat mengenai sasaran yang telah ditetapkan.
Apa hubungannya dengan perilaku manusia ? Sangat berhubungan erat !
Untuk hal ini, dunia aplikasi psikologi menyoroti peran besar dari Self-Image dan “belief system” dalam kesuksesan seseorang, untuk itu aplikasi psikologi memperkenalkan penggunaan istilah “servomechanism” ini untuk menggambarkan gerakan kecenderungan manusia.
Pada dasarnya dalam kehidupan ini, setiap orang bergerak dengan prinsip “servomechanism” alias terus menerus melakukan koreksi hingga sesuatu yang “digariskan” terjadi, dimana proses koreksi ini berlangsung dengan melibatkan seluruh kesadaran holistik manusia (Conscious & Unconscious).
Jika seseorang sudah “digariskan” (dalam pilihan hidupnya) untuk “sial”, maka apapun yang terjadi, cepat atau perlahan tapi pasti, maka proses servomechanism akan menuntun seseorang untuk menuju ke kondisi “sial” ini ! Tanpa bisa ditolak sama sekali !, sekali lagi saya ingatkan ini –man made decision. Saya akan jelaskan rincinya.
Demikian juga jika seseorang sudah “digariskan” untuk “beruntung”, maka servomechanism ini dengan mudah akan membawanya ke keadaan yang seharusnya, yaitu “beruntung” !
Semua yang akan kita alami dalam hidup ini, telah “digariskan” ! Suka atau tidak suka servomechanism akan membawa kita “kesana” dengan cara “nya”. Coba perhatikan, suatu saat kita berkeinginan untuk mencapai sesuatu (yang biasanya adalah hal-hal yang indah dan menyenangkan), lalu dalam perjalanannya seakan-akan kita sudah semakin mendekati hal tersebut, tetapi tiba-tiba di bagian akhir semuanya berbelok 180 derajat ! Maka jangan menyalahkan siapapun, karena “servomechanism” dalam diri kitalah yang bekerja !
Kenapa ini terjadi?
Apakah ini yang disebut dengan “nasib” atau “takdir” atau apapun istilah yang sejenis ? Jadi artinya hidup kita sudah “digariskan” ? Dan kita tidak akan dapat “keluar” dari “garis” ini ?
Tentu saja tidak ! Pembahasan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan “nasib” dan “takdir” yang jelas sudah memiliki ahli tersendiri untuk membahasnya !
Pembahasan disini justru akan menyadarkan kita bahwa kita adalah pembuat “garis” dimaksud, dan tentu saja kita pula yang dapat merubahnya !
Saya ingatkan lagi, siapakah yang membuat “garis” ini ?
Yang membuat garis ini tidak lain adalah sosok yang juga terdapat dalam diri setiap manusia, yang dikenal dengan nama “Self Image” dan “Belief System”.
*
JANGAN MEMBIARKAN ORANG LAIN MEMEGANG PENCIL ANDA KETIKA ANDA MENULIS SEJARAH DIRI
Kita tidak akan pernah dapat “lari” dari Self Image & Belief System kita sendiri. Dalam konteks praktis sehari-hari, apapun yang kita peroleh dalam kehidupan ini hanyalah ekspresi dari seluruh kemampuan kita yang telah mencapai tingkatan “Unconscious Competence”.
Unconscious competence adalah ketrampilan yang sudah melekat di subsystem pikiran manusia. Yang sudah tidak bisa di sadari lagi bahwa hal itu sudah lengket di dasarnya. Kalau conscious kompetensi, masih sadar kita. Ibarat seseroang yang sudah 20 tahun menyetir bolak balik dari tempat tinggalnya menuju ketempat kerjanya. Setiap hari selama 20tahun bolak balik. Itu nyetir mobil setengah tidur mobilnya sampai kerumah dengan sendirinya. Seakan otomatis semua di jalankan.
Kita lanjutkan dengan contoh soal. Misalnya anda pernah mengalami kegagalan dalam satu aspek kehidupan (katakanlah: bisnis), maka kegagalan-kegagalan berikutnya akan cenderung untuk memperkuat “self image” dan “belief” bahwa anda adalah ahli dalam “kegagalan bisnis”, lalu sampai dengan batas tertentu, “kegagalan bisnis” ini akan menjadi skill yang melekat dalam diri anda, alias sudah mencapai tingkatan keahlian “Unconscious Competence” . Lalu sejak saat itulah gerak langkah anda akan dipandu oleh “Automatic Guidance System” yang akan bergerak dengan pola servomechanism.
Setiap anda mau berbisnis, ada sebuah system koreksi di servomechanism anda yang mengarahkan kea rah kegagalan. Proses koreksi akan berlangsung terus, sampai dengan anda benar-benar mencapai “kegagalan”. Secara unconscious competence sekarang jadi ahli “kegagalan bisnis”.
Baik, mungkin hal ini berkesan menakutkan, atau nakut-nakuti. Tapi saya mau mengatakan faktanya, karena ini adalah pola atau pattern kehidupan. Apapun dalam hidup ini, jika kita telah “sedemikian mudahnya” mencapainya, maka seseungguhnya kita telah menjadi “Sang Ahli” alias kemampuan kita telah mencapai tingkatan “Unconscious Competence”. Tentu bisa juga berlaku anda selalu beruntung. Maka jawabanya adalah iya!!!. Keberutungan itu man-made.
Coba perhatikan pola ini :
Apakah anda pribadi yang selalu beruntung ?
Apakah anda selalu didera sial tak berujung di sepanjang hidup anda ?
Apakah anda gampang memperoleh pinjaman uang ?
Apakah anda selalu ditolak saat meminjam uang ?
Apakah anda sangat mudah sakit ?
Apakah anda demikian sehatnya ?
Apakah anda demikian mudah mencari sahabat ?
Apakah anda sangat mudah mencari musuh ?
Apakah anda sulit mencari uang ?
Apakah uang selalu mendatangi anda ?
Apakah anda selalu ditolak oleh lawan jenis anda ?
Apakah anda seseorang yang sangat mudah untuk memperoleh pasangan ?
Apapun itu, kemanapun arahnya, menunjukkan bahwa anda telah menjadi “ahli”-nya. Servomechanism anda akan selalu berproses untuk “menciptakan” hal tersebut. Sampai kapan? Sampai anda memutuskan menciptakan servo baru yang sesuai dengan keinginan anda. Sampai anda memutuskan mengcancel servo negative anda.
Sungguh, nasib manusia, “baik” atau “buruk”, tertulis di “Self Image” dan “Belief System”-nya dan itulah platform “blue-print” yang selalu mengawali suatu perwujudan "realita fisik". Benar-benar menarik Tuhan menciptakan system kehidupan ini dimana kita manusia berdaulat untuk menentukan nasib sendiri. manusia menuliskan sejarah hidupnya sendiri. Kini semuanya menjadi terserah anda.
Saran saya, anda harus mengenal system looping tertutup ini. kalau tidak frustrasi anda di dalam menjalankan kehidupan ini. Banyak bingungnya dalam menjalaninya. Keheranan akan “nasib” orang lain yang seakan “beruntung” lebih dari anda. Padahal semuanya anda bisa berperan banyak dengan “mengendalikan” nya. Sekarang pasti sudah mulai faham ya?
Previous : Cara Mematahkan Mental Block
Next : CRAFTING
Sekian, semoga bermanfaat.
Salam
Edi Sugianto
Telegram : @Hipnotis
Facebook : Edi Sugianto
Blog : NAQSDNA.COM