SEASONS
EarthL
Request by : Alan.
!!CW//BXB (LGBTQ+) Buat yang homophobic bisa diskip aja!!
°°°
Bukan hanya satu orang yang berkata kalau musim hujan itu—adalah musim dimana orang rentan akan fase galau-galaunya.
Tapi nggak juga kok, bagi Darrel, dinegaranya yang hanya memiliki dua musim ini, musim hujan adalah musim yang paling ia cintai.
🌧️ MUSIM I ( HUJAN ) 🌧️
Splash!
Kecipak basah air itu tercipta dari langkah kaki seorang pemuda manis bernama Darrel, ia begitu asyik bermain ria dengan air disisi jalan menuju pulang kerumahnya.
Ya, kali ini musim hujan.
Darrel suka itu.
Baju mantel serta dilengkapi payung berwarna biru cerah, seperti itulah Darrel terlihat.
Pemuda manis tersebut melangkahkan kakinya riang sambil terus bermain di genangan air dan lumpur yang terbentuk akibat hujan.
Sampai-sampai tak sadar, ia malah menabrak seseorang dihadapannya. Namun Darrel yang kalah tahan banting saat itu, tubuhnya lantas terhuyung dan jatuh kebelakang.
"Hey..?"
Darrel baru saja ingin memarahi orang yang ada didepannya, tapi tak sempat karena nyatanya ia langsung terdiam saat yang bersangkutan mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan.
"Lu gapapa?" Tanya orang itu kepada Darrel.
"Gapap- eh?" Darrel agak kaget, begitu ia tatap wajah orang yang menolongnya.
Ia berdiri dengan uluran tangan orang tersebut lalu melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti tadi.
"Alan? Alandra bukan?" Tanya Darrel dengan penuh suka hati.
Orang yang diduga bernama Alandra itupun mengangguk.
Ternyata Darrel tidak salah tebak, memang dia orangnya. Alandra yang Darrel kenal dari sahabatnya dikelas.
"Hehe, aku kira kamu bohong dan ga akan dateng ketemuan hari ini, soalnya hujannya kan deras. A-aku juga lewat sini karena kebetulan ini jalan pulang buat nyampe kerumahku" Ujar si Darrel berbasa-basi.
Ternyata oh ternyata, kejadian ini sudah terencana. Darrel bukan hanya ingin pulang, tapi ia juga punya janji untuk bertemu Alan disini.
Alan sendiri adalah seseorang yang dikenalkan oleh sahabat Darrel, kalau mau tanya bagaimana cara mereka dekat dan merencanakan pertemuan hari ini, tanyakan saja pada Alandra.
Dia orangnya sat set sat set.
"Kamu udah lama nunggu disini?" Tanya Darrel dengan raut tak enak.
Namun Alandra bergeleng "kebetulan gue liat lo lagi asik main becekan disana, jadi gue niat samperin aja" jawab Alandra.
"Oooh hahaha..." Darrel hanya memberi respon seadanya, karena jujur, disaksikan sedang bermain genangan air dan lumpur oleh crush sendiri itu sangat memalukan.
Pertemuan singkat di hari itu lumayan berjalan baik bagi keduanya. Darrel maupun Alandra menikmati kebersamaan diantaranya masing-masing. Saat itu mereka banyak membicarakan tentang hujan.
Dari bicara hujan, bicara tentang katak, bicara tentang katak tak terasa sampai ke rumah, menghabiskan waktu bersama dengan bermain video game.
Lalu tiba saatnya fase kasmaran, Darrel dan Alandra memutuskan untuk menjalin hubungan romantis.
Iya, dua orang itu saling jatuh hati disaat yang bersamaan.
Semuanya berjalan begitu baik untuk 6 bulan kedepan, Alan dan Darrel saling memberi afeksi satu sama lain, layaknya pasangan pada umumnya.
Sampai pada batas waktu 6 bulan saja.
☀️ MUSIM II ( KEMARAU ) ☀️
Jam istirahat.
Dikelas, Darrel tampak serius menatap buku pelajaran yang dia bawa dari perpustakaan sekolah.
Iya menatap, hanya menatap, tak membacanya, sebenarnya pemuda itu hanya sedang melamun saja.
Dan tiba-tiba saja Alan masuk kedalam kelasnya, Darrel menyadari itu saat teman sebelah bangkunya si 'Jeremy', yang mengenalkan Alan padanya menyahut.
"Eh, cowo lu" bisiknya ditelinga Darrel.
Pemuda itu reflek menoleh kearah Alan yang tersenyum berjalan kearahnya.
Darrel pun berdiri, sambil memandang kedatangan Alandra dihadapannya. Dan tak disangka-sangka, bukannya menyambut dengan senyuman, Darrel malah melengos pergi dari hadapan Alan, pemuda itu meninggalkan kelasnya.
Membuat nafas Alan tercekat sementara, pria dengan tubuh jenjang itu menoleh kebelakang, kearah pintu kelas. Dan ia tak dapat melihat Darrel lagi diambang pintu tersebut.
Setelah 6 bulan ini berlalu, anehnya Darrel mulai berubah sikap kepada Alan, tanpa Alan sendiri ketahui sebabnya apa. Pemuda itu terus saja mencari tau alasan sikap submissive nya yang belakang ini berbeda.
Tapi tak kunjung ia ketahui juga, Darrel menutup dirinya.. walau pada akhirnya ia tetap tau, dari Jeremy.
"Darrel mau dipindahin ke pondok." Ujar Jeremy ke Alan.
Membuat Alan yang banyak pikiran sontak memfokuskan pandangannya ke Jeremy.
"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Alan.
Jeremy menghela nafas.
"Darrel ketauan ngegay sama lo, ortunya mau masukin dia ke pondok biar dia bisa ngelepasin lo dari pikirannya" Jelasnya.
Alan mengernyitkan dahinya, alisnya menyatu diikuti denyut jantungnya yang terasa sakit. Pemuda dominant itu langsung meninggalkan Jeremy dipenghujung lorong sekolahan, lekas berlari menuju kelas Darrel.
Sesampainya di sana, Alan mengehentikan laju langkahnya, namun disaat yang bersamaan langkah tersebut benar-benar terdengar sangat berat.
Ia berjalan terburu-buru, hingga Darrel tampak dihadapannya, submissive nya itu sedang sibuk menulis sesuatu dilembar kertas.
Alan sampai, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibinya, ia justru malah menarik lengan Darrel begitu saja keluar dari kelas.
Darrel yang ditarik pun keheranan, sudah dicobanya untuk lepas, namun genggaman Alandra terlalu kuat, ia tak mampu melepasnya.
Lalu mereka berakhir di rooftop sekolah.
"Apa maksudnya ini semua rel?" Tanya Alan, mulai memfokuskan maniknya pada Darrel.
Darrel tampak bingung "apa?" celetuknya.
"Kenapa lu ga bilang kalo lu mau pindah ke pondok? Kenapa gua harus tau dulu dari Jeremy?" Tanya Alan lagi, hatinya terasa remuk.
Tatapan intens awal milik Darrel kini melemah, ia perlahan membuang pandangannya dari Alan.
"Gue mau kita selesai gitu aja. Gue juga, niatnya pengen kasih tau lo kok hari ini."
Darrel mengulurkan tangannya, bermaksud memberikan secarik kertas yang tadi ia sudah sempat tulis dikelas.
Alan menatap selembar kertas tersebut, lalu mengambilnya dari Darrel.
Lalu, submissive itu meninggalkan dominantnya begitu saja.
.
.
.
.
Hari ini matahari begitu terik sekali, kemarau menyerang Alan dari luar hingga dalam. Sesampainya ia dirumah, ia melemparkan tubuhnya kekasur. Menghembuskan banyak nafas penuh lelah.
Panas dan kering sekali, pikiran Alan terasa sakit, perasaan ini membuat isi kepalanya jadi rumit.
Ia masih menyimpan secarik kertas milik Darrel, belum dibaca.. dan sekarang ia berniat membacanya.

Alan sudah membaca keseluruhan surat milik Darrel, hatinya resah..
Membuatnya segera bangkit dari kasur, mengambil Jaket dan kunci motornya.
Dominant itu tancap gas dari rumahnya menuju ke satu tempat.
Rumah Darrel.
.
.
.
Tok, tok, tok.
Alan mengetuk pintu rumah submissivenya, awalnya tak ada jawaban, sampai pada ketukan ke tiga.
"A-Alan?!" Darrel sedikit terkejut dengan kedatangan Alan begitu ia membuka pintu. "Kenapa lo kesini?!" Tanyanya, sedikit dengan raut panik.
"Gua pengen bicarain ini baik-baik, sebelum lu bener-bener pergi." Jawab Alan.
Membuat Darrel berhela nafas panjang. Untunglah kedua orang tuanya belum pulang kerumah, dan hanya ada pembantunya didalam, jadi mungkin aman.
Darrel membawa Alan masuk kedalam kamarnya, membiarkan cowo dominant itu duduk ditepi kasur, dan terus menatapnya.
"Apa yang pengen lo omongin lagi? Gue kira kita udah beneran selesai." Ujar Darrel, tak berani membalas tatapan Alan, lantas menunduk sambil memainkan ujung daripada kaosnya.
"Hati-hati... Gua bakal selalu nunggu kedatangan lu lagi disini.." Ucap Alan, masih menatap Darrel.
Darrel yang mulanya menunduk, perlahan kini berani menatap muka Alan, raut wajahnya benar-benar sedih.
"Gue gamau pergi Lan... Gue gamau ninggalin lo dan Jeremy.. Gue sayang kalian berdua... dan gue pengen tetap disini.. tapi... Gue takut melawan sama Ayah.."
"Lu emang gaboleh melawan Ayah lu, gua yakin dia berbuat gini untuk kebaikan lu.." Ujar Alan, ia meraih tangan Darrel secara lembut, dan perlahan mengusapnya halus.
Membuat Darrel makin merasa sedih, dan akhirnya tak tahan dengan keadaan, ia mulai menangis.
Membuat Alan membawanya dalam dekapan hangat.
"Gua tau lu pasti kuat dan bisa melalui semua ini... I trust you Darrel" Ujar Alandra.
Hari itu, hanya banyak tangisan dari air mata Darrel yang Alan saksikan. Sampai hari esoknya, pemuda kecil lucu itu benar-benar menghilang dan tak pernah Alan lihat lagi disekolah atau dimanapun itu.
Kepergian pemuda itu bagai musim berganti, dan sekarang ini kemarau total bagi Alan. Hampa, hanya ada rasa rindu yang terasa seperti dahaga yang perlu ia tuntaskan dengan air hujan musim lalu.
Alandra, begitu merindukan sosok Darrel.
🌧️ MUSIM III ( HUJAN ) 🌧️
Langit sering menjadi gelap dimusim kali ini, dan udara berganti menjadi begitu sejuk.
Bagi Alandra, kembali dimusim ini hanya membuatnya teringat akan Darrel. Bagaimana hari-hari yang mereka lalui, bagaimana hangatnya tertawa bersama Darrel dikelilingi suara rintik hujan deras di ruangan yang hanya ada mereka didalamnya.
Beberapa kali pemuda bertubuh jenjang itu menyusuri jalan dimana ia dan Darrel mengenal satu sama lain untuk pertama kalinya.
Tapi untuk apa? Semuanya itu sia-sia, karna ia tak akan pernah menemukan pemuda yang sama, sebanyak apapun ia berulang kali melewati jalanan ini.
Kecuali,
Keajaiban terjadi, dan menyertai Alandra pada saat itu.
Langkahnya terhenti didepan genangan air yang cukup besar. Ia menatap kebawah sana, menyadari bayangan dirinya terpantul dari genangan besar itu.
Alan terus melamun menatap dirinya dibawah sana.. Diam... Dan tetap menatap kebawah, sampai akhirnya..
Splash!
Cipratan air mengenai celana seragamnya, karna hal itu Alan reflek mendongak, mencari pelaku yang sudah mencipratinya dengan genangan air.
Dan disana.
Untuk pertama kalinya,
Alan mempercayai sebuah takdir.
Takdir yang dibuat semesta untuk dirinya.
"Darrel?"
Telah berdiri seorang pemuda kecil, dengan wajah lucu yang sama, yang sudah lama tak Alan lihat, dihadapannya.
Darrel didepannya, menatapnya dengan seksama, lalu tersenyum kepadanya.
Tak Alan sangka, ternyata musim ini... Membawa Darrel kembali padanya.
.
.
.
"Kalo pada saat itu gue gak sakit-sakitan dipondok, mungkin Ayah gaakan bawa gue balik kesini" Ujar Darrel yang pada saat itu sangat bahagia berjalan menari-nari dihadapan Alan.
Alan sendiri hanya mengikuti cowo kecil itu dari belakang, sembari tersenyum menatap kebahagiaan tersebut dihadapannya.
Apakah kali ini takdir memihak padanya?
Apakah musim hujan ini, akan bertahan lama? Apakah Alan, mendapatkan kembali kebahagiaannya?
Tiba-tiba saja, Darrel berhenti melangkah didepan Alan. Pemuda kecil itu membalikkan badannya dan menatap Alan dengan seksama.
"Apa lo... Masih punya perasaan yang sama ke gue?" Tanya Darrel.
Alandra tanpa ragu mengangguk, walau perlahan.
Darrel mulai membuang pandangannya lagi kali ini, hal yang selalu Alan sadari dari Darrel, kalau ini bukan sesuatu yang baik untuk mereka berdua.
"Gue, juga.."
Bukan jawaban yang mengecewakan ternyata, tapi Alan masih penasaran, hal pilu apa yang tersembunyi dibalik mata Darrel pada saat itu?
"Tapi..."
"Tapi..?" Alan makin penasaran.
"Kayanya, situasinya gak akan sama kaya dulu.. Lo tau kan? Kalau ortu gue udah tau semuanya tentang kita... Jadi mungkin, kita ga bisa kaya dulu lagi..." Jelas Darrel.
Oh... Jadi ini alasan dibalik mata sayu itu? Alan mengerti, mau se-tak-terima apapun ia, Alan pada akhirnya juga harus tetap paham, bahwa, keadaan tak akan pernah bisa seperti dahulu lagi.
Jadi ia buang ekspektasinya itu, dan mencoba menjalani se-apa-adanya bersama Darrel.
Hal terpenting saat ini dalam hidupnya.
☀️ MUSIM IV ( KEMARAU ) ☀️
Setahun telah berlalu.
Alandra kini sudah duduk dibangku kelas 11 semester 2, seluruh siswa seperti dirinya sedang sibuk-sibuknya belajar untuk ujian kenaikan kelas.
Sama halnya dengan Darrel, bahkan dia belajar ekstra karna tahun ini dia pun sudah seharusnya lulus sekolah.
Hubungan pertemanan mereka dalam waktu setahun ini cukup baik, walau perasaan setahun lalu itu juga masih tetap hadir didalam lubuk masing-masing.
Sayangnya, semuanya mereka simpan dalam-dalam dilubuk masing-masing juga.
Sampai saat tiba dimana hari kelulusan Darrel, Alan memberi banyak ucapan selamat dan kado graduation untuk Darrel.
"Terimakasih banyak Lan..."
"Sama-sama..."
Darrel tersenyum, tersipu malu karena menerima sebuah kotak kado juga sebucket bunga mawar merah dari Alan.
Ia terus menatapi bunga itu sambil tersenyum selama beberapa menit, sampai akhirnya senyuman itu pudar.. karna Darrel mengingat sesuatu kembali.
"Oh ya... Kayanya gue telat kasih tau lo lagi" Ucap Darrel menginterupsi Alan yang duduk disebelahnya.
Alan menolehkan wajah, rautnya penuh tanda tanya "Kasih tau apa?" Tanya Alan.
Darrel melirik, memandangi Alan dengan seksama.
Berat untuk Darrel mengatakannya, tapi.. tidak mungkin juga dia terus bungkam.
"Gue, bakal kuliah diluar kota... Jauh dari kota kita, sekali lagi... Ini demi Ayah." Ungkapnya.
Jelas Alan kaget, walaupun ia hanya terkejut didalam sana, rautnya tak menunjukkan perubahan yang signifikan.
"Oh... Gitu ya.." Balas Alan, hanya itu.
Membuat Darrel jadi sedih, sekaligus bingung harus mengatakan hal apa lagi.
"Hari Minggu nanti, gue harap lo dateng buat ketemu sama gue untuk yang terakhir kali" Ucap Darrel.
Alan menoleh lagi, lalu mengangguk dengan sedikit senyuman.
Dibalas Darrel juga dengan senyuman.
.
.
.
.
.
Singkatnya, hari yang tak dinanti-nanti itu akhirnya tiba juga.
Alan melangkahkan kakinya menuju bandara, tempat dimana dirinya akan berpisah kembali dengan Darrel.
Sepanjang kaki melangkah Alan hanya melihat orang berlalu lalang dengan koper pribadi milik mereka, tak jarang juga ia melihat sebuah perpisahan seseorang dengan seseorang, mereka menangis, ada juga yang pasang raut khawatir.
Alan jadi berfikir, apa nanti dia juga akan menangisi kepergian Darrel?
Cukup lama Alan berjalan, akhirnya ia menemukan Darrel, yang sudah siap berangkat.
Disana ada kedua orang tua Darrel, juga Jeremy.
Orang-orang terpenting dihidup Darrel.
Disaat yang bersamaan pula, Alan merasa bersyukur bahwa dirinya masih menjadi orang penting bagi Darrel.
"Alandra..." Ujar Darrel tersenyum nanar saat menyadari kedatangan Alan.
Alan tersenyum, dan berhenti tepat didepan Darrel.
"Hai" Sapanya.
"Selamat tinggal Lan..." Darrel tersenyum, lalu mengulurkan tangannya, bersama secarik kertas yang ia bawa.
Alan teringat perpisahannya bersama Darrel setahun lalu, kali ini pun... Ia tetap menerima sebuah lembaran kertas, dipenghujung perpisahannya bersama Darrel.
"Bacanya nanti aja ya, sekarang gue boleh peluk lo gak?" Tanya Darrel.
Alan tersenyum, ia mengangguk.
Darrel pun ikut tersenyum, tapi sebelum itu ia sempat menatap kearah orang tuanya.
Tapi, karna ini momen terakhir, Darrel merasa bodoh amat. Ia tetap berhambur kedalam pelukan Alandra, dekapan nya sangat kuat, seperti tak mau rasanya melepaskan Alandra saat itu juga.
"I love you" bisiknya sangat kecil, disebelah telinga Alan.
Alan sedikit terkejut, namun hatinya cepat menghangat setelahnya... Ia bergerak mengelus punggung Darrel dan membalas kalimat pemuda itu.
"I love you more, Darrel."
.
.
.
.
.
Akhirnya, perpisahan ini terjadi kesekian kalinya. Sekali lagi, pada musim kemarau yang sama seperti musim tahun lalu.
Sakitnya pun sama untuk Alandra, ia kembali pada keadaannya tahun lalu.
Tak ia sangka juga, bahwa endingnya tetap kemarau.
Sesampainya ia dikamar, ia langsung menjatuhkan dirinya dikasur.
Alan menghela nafas, ia mengambil sepucuk surat yang Darrel berikan padanya tadi sebelum berangkat.
Alan membacanya.

Air hujan—bukan, air mata bak rintik hujan itu jatuh dari pelupuk Alan. Tidak, tidak sama keadaannya kali ini. Yang kali ini, Alan merasa lebih sakit.
Sangat sakit hatinya membaca surat perpisahan ini.
Sekuat-kuatnya diri seseorang, pada akhirnya pertahanannya akan tetap hancur, kalau hal itu berhubungan dengan segala hidupnya, jiwa bahkan raganya.
Ternyata, kepergian Darrel membuat luka begitu besar dalam diri Alan.
Kemarau ini, adalah kemarau yang diisi rintik kesedihan Alan, tahun paling terpuruk disepanjang umurnya.
Kehilangan pertama kali untuknya.
Dan salah satu kehilangan paling menyakitkan baginya. Alandra.
Tahun demi tahun berlalu, sangat lama bagi luka itu bisa sembuh. Mau seberapa banyak pun pemuda itu menyuruhnya untuk membenci perpisahan ini, tapi mana mungkin...
Bagaimana bisa Alan membenci sebagian dari hidupnya?
Tak apalah, dia yang bernama Darrel benar-benar menghilang dari hidup pemuda bernama Alandra.
Karna Alandra sendiri percaya, bahwa ini kehendak semesta untuk menciptakan masa depan yang lebih baik baginya.
"Darrel, gua harap saat ini... Lu menemukan musim baru yang elu bisa sukai kembali."
[ SELESAI ]

(N) setelah sekian lama... Awokawokawok, semoga yang minta req seneng sama ceritanya🙏🏻 oiya, kalo banyak typo bertebaran atau kata penulisan tidak tepat mohon dimaafkeun🙏🏻