'Rumah'

'Rumah'

Galih Adikara

Lagi - lagi gitar nya dibanting, senar yang ada pun putus, lantai jua berhambur. Pemuda itu hanya memberi tatapan kosong, menatap pria yang umurnya jauh lebih tua - ayahnya. Memakai earphone nya, sudah tak peduli dengan apa yang akan dilakukan pria itu.

"Emang vokalis tuh semua stress! Ga ada gunanya kamu teriak teriak dipanggung. Manfaat ga ada, yang ada kamu dikira pasien rumah sakit jiwa." Bentak ayahnya, ia menatap sang anak murka. Yang ditatap hanya membalas tatapan sang ayah santai, mengambil sapu lalu membersihkan puing puing yang tadi dihancurkan.

"Ini gitar ke 7 yang anda banting selama dua bulan terakhir." Sahut pemuda itu, melepas earphone nya. Tak ada nada ramah yang seharusnya anak tuturkan pada orang tuanya.

Dingin, hawa dirumah itu benar benar dingin. Tak ada kehangatan yang seharusnya, tak ada senyum, tak ada kasih sayang.

Ditatapnya nyalang putra semata wayangnya "Benar benar sikap sopan santun mu itu sudah hilang, Galih."

"Ya anda mikir lah! Menurut anda sikap orang tua yang seharusnya itu juga gimana?" Galih menaikan satu tone suaranya. Memijit pelipisnya, ia sedari tadi menahan emosi.

Satu tamparan keras mendarat mulus diwajahnya, awalnya biasa saja tapi lama kelamaan pipi nya mulai panas, memerah. Galih menatap satu satunya wanita dirumah itu, ibu nya. Harap agar sang ibu setidaknya menoleh barang 5 detik, tapi hasilnya nihil. Yang ditatap memilih untuk acuh.

Bapak nya menghela nafas, mencoba mengontrol emosinya "bisa gila saya punya anak kayak kamu." 

"SAYA JUGA GA PERNAH MINTA SPERMA ANDA KE RAHIM IBU SAYA!" Raung Galih, sudah tak bisa menahan emosinya. Tatapan yang tadinya santai kini menatap nyalang balik ayahnya.

"SAYA JUGA GILA DISINI!" Galih mengusak rambutnya kasar, membanting earphone yang sedari tadi menyumpal satu telinga nya ke kasur. "Saya lahir bukan untuk jadi boneka anda." Lanjutnya.

Pemuda itu mengambil gitar yang sudah tidak karuan bentuknya dari lantai, mengambil handphone, earphone, jua dompetnya. 

"Mau kemana?" Ibu nya kini menoleh, mengalihkan atensi dari yang tadinya bermain handphone kini melirik putranya.

Galih mendengus "Sejak kapan anda peduli?" Beranjak dari kamarnya untuk segera meninggalkan 'rumah'.

Report Page