Rengkuh Amarah— Prolog

Rengkuh Amarah— Prolog

Arumi Rahayu; @FABRIKASII
Harap pada lautan disana, Pada para ikan pari yang berenang, Pada para terumbu karang yang subur, mereka menyampaikan salam; Salam akan kabar bapak, salam rindu bapak dan kabar kematian bapak.

Bagaimana gadis ini dapat menjemput temu pada engkau sang terindu jikalau untuk melakukan bertamu, engkau sulit hadir di sisinya? Harus berapa lama lagi ia menunggu kehadiran berita yang tak kunjung bertata pada sebuah cerita yang ingin ia dengarkan? Tak cukupkah membuatnya menunggu selama ini agar kau kembali kesini, ke rumah dimana kalian yang dulu, yang selalu engkau temui?

Hari-hari ia lakukan, menjadi sebuah rutinitas tak beraturan. Disaat mereka hampir tenggelam dalam kelam, genggamannya harus kuat menahan beban agar mereka tak jatuh pada lubang terdalam. Dia diolok-olok, seolah yang ia lakukan dengan payung hitam itu hal yang Goblok. Apa salah jika ia hanya ingin mengingatkan para pejabat berdasi bahwa ada kalian yang masih ingin diingat bahwa masih ada orang-orang terkasih yang tak kunjung kembali serta tak mau diakuisisi? Dia tak takut meskipun dirinya harus mati tak apa, asalkan bapak kembali.

Ibu masih membuat rawon dengan resep-resep yang bapak berikan, dan akan menyisakan rawon untuk bapak. Harapnya bapak akan kembali saat tengah malam dan merasa lapar akibat perjalanan panjang. Adik selalu menyusun, mengisi piring bapak, seolah-olah bapak ada disana, membacakan dongeng-dongeng Mahabarata dengan karangannya. Dan Gadis kecilnya akan bersitegang pada kakak tertuanya karena ia tetap pada pendiriannya. Padahal ia tak pernah paham apa yang selama ini adiknya alami, pak. Ia sendiri, mencoba untuk membangkitkan suasana rumah ini kembali.

Setiap hari, ia berharap pada lautan disana, Pada para ikan pari yang berenang, Pada para terumbu karang yang subur, mereka menyampaikan salam; Salam akan kabar bapak, salam rindu bapak dan kabar kematian bapak. Ia rapalkan harap pada pohon yang bergerak, angin yang berhembus dan pada langit yang tenang, mereka menghantarkan jiwanya, raganya dengan aman.


"Beri anakmu ini tanda, pak. Jangan biarkan anakmu tenggelam sendirian, pak. Jiwa ku sudah terlalu merintih, jalanku sudah tertatih, kini aku sudah tinggal menunggu mati."

Report Page