Reckless

Reckless

Kalandra Adikta

Yang dalam diamnya, rimpuh hatinya. Bimbang dalam asa tak kunjung pulih dalam ranah. Sewaktu itu, aku pernah berkata untuk tak terlalu berlebihan dalam jatuh hati. Kini, aku yang pukah itu hanya menerima segala rasa patah yang tak pernah aku inginkan sebelumnya. Berkali-kali mereka berpraduga, “Kala, kamu kenapa?” Sementara hanya bisa menarik dua sudut bibir dan berkata, “Nggak, nggak apa-apa.”


Barangkali nestapa berkeliling di kepala. Payoda redum dengan akhir cerita dalam halaman kesekian. Di kota yang rinainya rintik bercampur petrikor, aku hanya setitik kecil bencana dalam bimbangnya, dalam semua yang rusak bersamaan dengan yang berkata, “Aku tak yakin pernah mencintaimu dulu.” Laut menguap, mengubahnya menjadi hujan dengan jantung yang menyala memar. 


Aku mungkin terlanjur berusaha keras untuk pulih. Sebab rasanya terlalu sulit menerima kepergianmu di saat yang lain bertanya dimana kamu. Pun aku hanya menjawab dengan rudita yang aku tahan. Sebab mengungkit cerita denganmu hanya membuatku teramat sakit dalam eksistensimu yang kukuh.


“Kita telah selesai, Kala.” Ucapmu sembari berdiri, membetulkan posisi arloji yang berputar di pergelangan tanganmu.


“Aku nggak akan ikut dalam perjalananmu lagi.” Tuturmu final. Buat diri ini termenung dalam diam.


Hari-hari sepi yang gaduh itu aku lalui dengan usaha melupakanmu. Mungkin iya, rasanya tak mungkin untuk cepat-cepat meninggalkan askaramu di belakang. Aksa yang sering ku tatap dalam tawa dan nestapa. Yang kini tersisa sumarah yang suar sedarinya. 


Aku membencimu. Membenci antara ratusan payoda di atas bumantara biru yang pekat warnanya. Membenci atas ratusan bhama yang kau lekatkan kepadaku setiap kali aku mengarang kembali cerita tentangmu. Sewaktu-waktu kau dan aku kembali menyapa, aku bertanya ada apa antara kita. Aku bertanya mengapa kamu yang justru bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. 


Sebagaimana kamu menyebutku satu-satunya di hidupmu waktu itu. Selama itu pula aku tau kamu berbohong. Sebab terlalu mudah untukmu melupakan aku, sebab terlalu perih rasanya melihatmu sedih dan bahagia bersama ia yang kamu sebut sebagai anak dara kebanggaanmu. 


Sejak hari kita saling meninggalkan. Hidup yang kupenuhi dengan rasa bimbang kini tersisa satu-dua dalam diri. Aku tak lagi ingin mengingatmu sebagai penyulut api. Aku hanya ingin diriku yang kamu bawa separuhnya itu kembali. 


Sebab yang kini bersamaku telah mati. Larut dalam memori tentangmu yang buat aku sadar, aku sendiri.

Report Page