Rasa
Deburan Ombak.Kukira jalan yang kita tapaki bersama adalah rute menuju abadi, di mana jemarimu menggenggamku erat melewati badai dan duri. Namun di tengah jalan, genggaman itu mendadak melonggar tanpa permisi, meninggalkanku berdiri sendirian, mengeja sepi yang mendadak kemari.
Kau adalah bab terindah dalam buku yang sedang kurajut dengan hati, setiap kalimatnya kuukir dengan tulus, tanpa sedikit pun rasa sangsi. Tapi dengan mudahnya kau robek lembaran itu sebelum sempat selesai, membuat seluruh mimpi dan rencana kita hancur lebur serta merta abai.
Rasa kecewa ini merayap pelan, dingin bagai es yang membekukan dada, bukan karena aku membencimu, tapi karena aku terlalu percaya pada awalnya. Melihatmu yang sekarang begitu asing, seolah kita tak pernah saling berbagi, adalah jenis luka paling sunyi, yang perihnya bergema di setiap sudut hati.
Kini aku belajar berjalan tertatih di atas puing-puing rasa yang tumpas, mencoba bernapas normal di tengah sesak yang tak kunjung mau lepas. Kau tetap menjadi bagian dari masalalu yang tak mungkin bisa kuhapus, meski kini namamu hanya menyisakan linu, sebagai tanda percayaku yang pupus.