RAMADHAN BULAN JIHAD
AN MU'ASASAH
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada baginda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam jug kerabatnya, para sahabatnya dan semua yang mengikutinya, amma ba’du:
Sesungguhnya bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan di banding bulan-bulan lainnya yaitu bulan berpuasa, menegakkan shalat, membaca Al-Quran, sedekah dan seluruh ibadah lainnya. Dalam bulan ini kesungguhan kaum muslimin dalam beribadah lebih dari bulan-bulan lainnya. Adapun berperang di jalan Allah pada bulan ini, maka para mujahidin memberikan sambutan yang teramat hangat dan perhatian yang lebih besar. Karena dalam bulan Ramadhan, Allah menaklukkan banyak tempat untuk muslimin dan menurunkan kepada mereka rahmat-Nya. Ia adalah bulan yang diberkati, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan terbelenggu. Bulan yang mulia, dimana kebaikan dilipatgandakan dan syahwat-syahwat terkekang. Suatu bulan, dimana orang yang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan sungguh-sungguh, akan diampuni dosanya yang telah lalu, lalu bagaimana halnya dengan yang dia berpuasa, mendirikan malamnya, dan berjihad di dalamnya dengan jiwa, harta dan lisannya!
Oleh sebab itu, sepanjang sejarah, hari-hari di bulan Ramadhan adalah hari-hari jihad dan pertempuran. Dalam bulan ini banyak terjadi pengiriman sariyyah (detasemen tempur), penyerbuan, dan penaklukan-penaklukan Islam yang merubah wajah sejarah. Kami akan menyebutkan beberapa saja, karena tidaklah cukup jika peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut dirinci satu demi satu :
SARIYYAH-SARIYYAH YANG DIUTUS OLEH NABI ﷺ KETIKA RAMADHAN
Ghazwah yaitu: pertempuran yang dihadiri atau dipimpin sendiri oleh Rasul ﷺ, Adapun Sariyyah yaitu: detasemen tempur yang dikirim oleh Rasulullah ﷺ, namun Beliau ﷺ tidak menghadiri atau memimpin pasukan ini.
Jumlah sariyyah yang diutus oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam adalah 73 sariyyah, 11 diantaranya dikirim di bulan Ramadhan, yaitu:
- Sariyyah Sahil Al baht (pesisir laut) Ramadhan 01 H.
Bendera perang yang pertama kali diangkat dalam sejarah Islam, dan langkah pertama dalam perjalanan panjang jihad. Rasulullah ﷺ memberikannya pada Hamzah راضي الله عنه dan mengutusnya memimpin 3O laki-laki muhajirin. Mereka berangkat untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam.
Ketika mereka sampai di Siif Al-Bahr (suatu daerah di pesisir Laut Merah), kedua belah pihak bertemu dan berbaris untuk bertempur. Akan tetapi kedua kelompok ini dihalang-halangi oleh Majdi ibn Amr Al juhaniy, dan ia adalah sekutu dari kedua belah pihak, sehingga pertempuran tidak terjadi.
- Sariyyah “Umair Ibn 'Adiy Al Khathamiy Ramadhan 02 H
Rasulullah ﷺ mengutus sariyyah ini untuk membunuh 'Ashmaa Binti Marwan yang telah mengejek Islam dan menghasut orang-orang untuk membunuh Rasulullah ﷺ. Pada tengah malam, Umair bin 'Adiy راضي الله عنه mendatanginya di rumahnya, kemudian menghunus pedangnya dan berhasil menusuk dadanya sampai tembus punggungnya.
- Sariyyah Zaid Ibn Haritsah Ramadhan 06 H
Rasulullah ﷺ mengirimnya ke Bani Fazarah, yang bertempat di salah satu sisi Wadil Qura, lantaran ada beberapa orang Bani Fazarah yang menghadang dagangan kaum muslimin dan merampoknya. Zaid ibn Haritsah راضي الله عنه kemudian berangkat mengepalai beberapa orang sahabat, mereka berhasil menyergap orang-orang itu secara tiba-tiba, mengepung mereka, dan berhasil menawan Ummu Qirfah Fathimah Binti Rabiiah Al Fazariyyah, dia seorang wanita yang sudah tua, ditaati dan dimuliakan oleh kaumnya, sebelumnya dia telah menyiapkan 40 penunggang kuda dari anak-anak dan cucu-cucunya untuk membunuh Nabi ﷺ. Maka Zaid Ibn Haritsah راضي الله عنه membunuh mereka semua juga membunuh Ummu Qirfah.
- Sariyyah 'Abdullah Ibn 'Atiq Ramadhan 06 H
Adalah suku Aus dan Khazraj selalu berlomba dalam membela Rasulullah ﷺ Tatkala suku Aus membunuh Kaiab Ibn Asyraf, yang telah menyakiti Rasulullah ﷺ, suku Khazraj mencari-cari siapa yang permusuhannya atas Rasulullah ﷺ menyerupai Ibn Asyraf. Merekapun menemukan Abu Rafi’ Salam Ibn Abi AlHaqiq An Nadhariy. Dialah yang mengumpulkan pasukan Ahzab pada perang Khandaq, mendanai kabilah Ghathafan untuk ikut serta dalam koalisi itu, dan selalu mencaci Rasulullah ﷺ dalam setiap kesempatan. Maka para sahabat dari kalangan Khazraj meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk membunuh Abu Rafi. Rasulullah memberi izin kepada mereka, lalu mengutus 5 orang dari mereka dan menunjuk Abdullah ibn 'Ariq untuk memimpin mereka. Sariyyah itupun kemudian menyerbu kediaman Abu Rafi راضي الله عنه, menghabisinya, dan kemudian kembali ke Madinah dengan selamat.
- Sariyyah Ghalib Al-Laitsiy Ramadhan 06 H
Rasulullah ﷺ mengutusnya kepada Bani 'Awal dan Bani 'Abd ibn Tsailabah yang keduanya itu adalah kabilah Arab Badui di Nejd. Sebelumnya, orang-orang dari kedua kabilah itu menyerbu pinggiran Madinah ketika kaum muslimin sibuk bertempur melawan kafir Quraisy dan Yahudi. Maka kaum muslimin bergerak dengan berkekuatan 130 prajurit yang dikomandoi oleh Ghalib ibn 'Abdullah Al Laitsiy. Mereka menyerbu pada waktu fajar, dan membunuh siapapun yang melawan, sedangkan sisanya melarikan diri. Mereka berhasil mendapatkan ghanimah berupa unta dan kambing dalam jumlah banyak, lalu menggiringnya ke Madinah.
- Sariyyah Abu Qatadah As-Sulami Ramadhan 08 H
Ketika Rasulullah ﷺ berencana untuk menginvasi Makkah, diutuslah Abu Qatadah Al Harits Ibn Rib’iy راضي الله عنه dalam satu sariyyah berkekuatan 8 orang menuju Batn Idhom (suatu lembah di utara Makkah) untuk menipu Quraisy dan mengkamuflasekan tujuan kaum muslimin yang sebenarnya. Sehingga mereka mengira kaum muslimin sedang bergerak menuju arah tersebut. Sariyyah ini berhasil sampai ke tujuannya tanpa menemui hambatan. Kemudian mereka pergi dan bergabung dengan pasukan induk kaum muslimin.
- Sariyyah Khalid ibn Walid Ramadhan 08 H
Setelah Rasulullah ﷺ menghancurkan seluruh berhala yang berada di dalam Kalbah ketika penaklukan kota Makkah, Rasulullah ﷺ mengutus beberapa sariyyah untuk menghancurkan berhala-berhala di daerah-daerah tetangga. Maka diutuslah Kholid dengan 30 pasukan berkuda menuju berhalaAl ‘Uzza di Nakhlah (lembah diantara Makkah dan Thaif) dan dihancurkanlah berhala itu.
- Sariyyah 'Amru Ibn Al-‘Ash Ramadhan 08 H
Pada waktu yang sama, Nabi ﷺ mengirim Amru ibn Al-'Ash راضي الله عنه memimpin sariyyah menuju berhala Suwaa' di Ruhath (jauhnya sekitar 3 mil dari Makkah), mereka lalu menghancurkan berhala itu beserta rumah penyimpanannya.
- Sariyyah Sa’ad Ibn Zaid Al Asyahiliy Ramadhan 08 H
Nabi ﷺ juga mengutus Sa’ad Ibn Zaid راضي الله عنه dengan 20 pasukan berkuda menuju berhala Manat di wilayah yang dikenal dengan nama Musyallal (di pesisir Laut Merah). Tatkala mereka sampai di tempat itu, dari dalam bangunan berhala itu muncul seorang perempuan berkulit hitam yang telanjang, dengan rambut acak-acakan, sembari berteriak-teriak akan kecelakaan dan kebinasaan, sambil memukul mukul dadanya, maka Sa'ad membunuhnya dan menghancurkan berhalanya.
- Sariyyah ‘Ali Ibn Abi Tholib Ramadhan 10 H
Rasulullah ﷺ mengutus 'Ali راضي الله عنه menuju Yaman, menetapkan untuknya sebuah panji khusus dan menyerahkannya dengan tangan beliau sendiri. Maka berangkatlah 'Ali dengan 300 pasukan berkuda. Ketika tiba, ia mengutus prajuritnya, dan mereka kembali dengan membawa rampasan berupa wanita, anak-anak, binatang ternak dan ghanimah lainnya. Kemudian kaum muslimin bertemu dengan pasukan mereka. Diserulah mereka kepada Islam, namun mereka menolak, malah memanahi serta melempari kaum muslimin dengan batu. Maka Ali membariskan pasukannya, kemudian menyerbu mereka, dan berhasil membunuh 20 orang. Maka mereka mundur tercerai berai. Ali راضي الله عنه lalu menghentikan pengejaran, kemudian menyeru mereka kepada Islam dan mereka menyambutnya.
- Sariyyah Jarir Ibn “Abdullah Al Bajaliy Ramadhan 10 H
Rasulullah ﷺ mengutus Jarir Ibn 'Abdullah bersama 150 pasukan berkuda menuju berhala Dzil Khalashah, sebuah rumah sesembahan di wilayah Tabaalah (antara Makkah dan Yaman). Rumah ini dinamakan Ka'bah Yamaniyah, karena orang-orang jahiliyah berhaji menuju rumah itu. Tatkala mereka sampai di rumah itu, mereka membakarnya, lalu kemudian menghancurkannya.
GHAZWAH YANG DIPIMPIN OLEH RASULULLAH ﷺ KETIKA RAMADHAN
Ghazwah yang dipersiapkan dan dipimpin sendiri oleh Nabi ﷺ berjumlah 28 ghazwah, dua ghazwah yang paling penting terjadi di bulan Ramadhan, yaitu: Ghazwah Badar Al Kubra dan Fathu Makkah.
- Perang Badar Ramadhan 02 H
Adalah Perang Badr Al Kubra, perang yang digambarkan oleh Allah Azza wa Jall dalam firmannya:
Di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. ” [Al Anfal : 41].
Dan Allah Yang Maha Suci menggambarkan pertolongan Nya kepada kaum muslimin setelah kondisi lemah mereka dengan kalam Nya:
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuriNya. ” [Ali Imran : 123].
Ketika itu kaum muslimin keluar bersama Rasulullah % untuk menghadang kafilah Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan, akan tetapi Abu Sufyan mengubah rute kafilahnya melalui pesisir, dan ia memprovokasi penduduk Makkah untuk menolongnya. Maka keluarlah mereka untuk menghadang kaum muslimin, di bawah pimpinan Abu Jahal. Kedua belah pihak bertemu di Badr (sebuah sumur diantara Makkah dan Madinah). Allah memenangkan orang-orang mukmin, yang ketika itu hanya berjumlah 317 prajurit menghadapi kaum musyrikin yang jumlahnya melebihi seribu prajurit. Dalam pertempuran ini 14 orang sahabat gugur syahid, 6 orang dari kalangan Anshar dan 8 dari kalangan muhajirin, sedangkan korban dari kaum musyrikin sebanyak 70 orang dan 70 lainnya ter tawan.
- Ghazwah Fathu Makkah Ramadhan 08 H Makkah
Al Mukarramah, negeri yang aman sentosa dan dihormati. Rasulullah ﷺ bergerak untuk menaklukkannya dengan 10.000 pasukan setelah kafir Quraisy melanggar perjanjian. Allah menaklukkannya untuknya dengan kemenangan yang nyata setelah terjadi kontak senjata ringan yang memakan korban 16 orang musyrikin dan tiga orang sahabat gugur syahid.
Ibnul Qayyim mendeskripsikan Fathu Makkah dengan kata-katanya: “Ini adalah kemenangan besar; yang dengannya Allah memuliakan Dien-Nya, RasulNya, dan tentara-Nya, serta golongan-Nya yang terpercaya, dan menyelamatkan negeri dan rumah-Nya, yang dijadikannya petunjuk bagi semesta alam, dari tangan orang-orang kafir dan musyrik. Ia adalah kemenangan yang membuat gembira penduduk langit, gendang kemuliaan ditabuh dibawah kerlip bintang Alfa Orion, berbondong-bondong manusia masuk kedalam Dien-Nya, dan bumi memancarkan kemilau kebahagiaan.[Zaadul Ma’ad].
- Perang Qadisiyyah Ramadhan 15 H
Mutsanna ibn Haritsah selaku gubernur Irak mengutus pembawa pesan kepada Khalifah Umar راضي الله عنه, memberitahunya bahwa Raja Persia yaitu Yazdajir (Yazdegerd III) sedang memobilisasi pasukannya untuk menyerbu Irak, maka Umar راضي الله عنه mengumumkan mobilisasi umum dan mengutus sepasukan tentara disebutkan jumlahnya mencapai empat sampai enam ribu orang, dan bantuan terus mengalir sampai mencapai (30,000) mujahid, diantara mereka ada (70) sahabat yang ikut serta pada perang Badar dan (300) lainnya adalah para sahabat Rasulullah ﷺ. Umar mengangkat Saiad ibn Abi Waqqash sebagai komandan pasukan.
Persia keluar dengan pasukan yang berkekuatan (120.000) tentara, atau lebih, mereka mengendarai gajah-gajah perang dan dikomandoi (Rustum). Dua pasukan ini pun bertemu di suatu tempat yang bernama (Qadisiyyah), yang terletak di selatan Irak. Terjadi pertempuran sengit yang berlangsung selama tiga hari, yang berujung pada kemenangan kaum muslimin. Kaum muslimin terus mengejar sisasisa pasukan Persia dan berhasil membunuh ribuan prajurit, diantaranya Rustum sendiri. Dan pertempuran ini adalah awal mula dari runtuhnya Imperium Persia.
- Penaklukkan Pulau Rhodes Ramadhan 53 H
Pulau Rhodes -terletak di timur Laut Mediterania yang menghadap ke arah Iskandariyyah, Mesir, dan pulau ini pada saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi, kemudian armada angkatan laut kaum muslimin berhasil menaklukkannya di bawah kepemimpinan sahabat junadah ibn Abi Umayyah di zaman Mu'awiyah zat Posisi pulau ini amat strategis, setelah kaum muslimin berhasil menguasainya, maka kaum muslimin menggunakan pulau ini sebagai pos untuk menghadang dan menyergap kapal-kapal Romawi. Hal itu dikemudian hari berpengaruh besar dalam melemahkan armada laut Romawi.
- Penaklukkan Andalusia Ramadhan 96 H
Setelah Musa ibn Nushair رحمه الله (beliau adalah gubernur lfriqiyyah di zaman Khalifah Umawiy al-Walid ibn Abdil Malik) berhasil melabuhkan pondasipondasi Islam di al-Maghrib al-Kabir (daerah-daerah di barat Mesir sampai di pesisir Samudera Atlantik) dan mengokohkan tauhid serta jihad dalam jiwa penduduk Maghrib dan lfriqiyyah (suku Berber atau Amazigh), maka langkah berikutnya yang tertinggal adalah penaklukkan Andalusia (Semenanjung Siberia, yaitu negara Spanyol dan Portugal saat ini), yang mana semenanjung ini dikuasai oleh kerajaan Goth (Visigoth).
Maka Musa ibn Nushair رحمه الله mengutus bekas budaknya, yaitu komandan Thariq ibn Ziyad رحمه الله bersama 12.000 mujahid, yang mayoritasnya adalah suku Berber, pasukan ini berlayar ke utara dan berlabuh di gunung Calpe (Mons Calpe, dalam bahasa Romawi) dan gunung ini adalah yang di kemudian hari dinamakan dengan nama sang komandan, sehingga jadilah gunung ini dikenal dengan nama Jabal Thariq (Gibraltar). Namun Raja Andalusia (Rodrigo atau Roderic) telah bersiap menyambut kaum muslimin dengan pasukan berkekuatan 100.000 prajurit, maka bertemulah kedua pasukan ini di lembah Lakkah atau dataran Barbath (yang sekarang dikenal dengan nama Guadalete). Terjadi pertempuran yang amat sengit selama delapan hari, memakan korban 3000 prajurit muslim sebagai syahid dan puluhan ribu tentara Goth, termasuk raja mereka (Roderic). Lalu Allah pun menaklukkan negeri Andalusia untuk kaum muslimin dan mereka mendirikan sebuah negara Islam yang eksis selama lebih dari tujuh abad.
- Penaklukkan Negeri Sind Ramadhan 96 H
Di zaman Khalifah Umawiy al-Walid ibn Abdil Malik, dengan perintah dan arahan dari al Hajaj ibn Yusuf sebagai gubernur Irak pada zaman Daulah Umawiyah, berangkatlah Komandan Muhammad ibn al Qasim ats-Tsaqafiy رحمه الله ketika itu ia berumur 17 tahun membawa pasukan sejumlah 20.000 prajurit, dalam rangka menaklukkan negeri Sind (Pakistan dan sekitarnya) yang ketika itu berada di bawah kekuasaan orang-orang Budha dan Hindu.
Setelah kaum muslimin berhasil menaklukkan beberapa wilayah, tentara Islam pun mengepung kota Debal (dekat dengan kota Karachi pada saat ini). Mereka berhasil menaklukkannya setelah pertempuran sengit selama tiga hari, yang setelahnya penduduk Sind meminta damai tanpa syarat, dan Muhammad alQosim menerima dengan baik perdamaian itu.
Lalu kaum muslimin menaklukkan kota Bayrun (yaitu kota Haidarabad). Setelahnya satu demi satu, kota demi kota dan benteng demi benteng terus berjatuhan, sampai akhirnya gerak pasukan Islam terhalangi sungai Mihran (sungai Indus). Segera setelah mereka berhasil menyeberangi sungai tersebut, pasukan Raja Sind (Raja Dahir) telah menyambut mereka, maka terjadilah pertempuran sengit yang hasil akhirnya adalah terbunuhnya Dahir dan seluruh negeri Sind menyerah. Maka Muhammad al-Qasim langsung memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala dan peninggalan-peninggalan ajaran Budha, serta membangun masjid-masjid.
- Pertempuran Balath Syuhada Ramadhan 114 H
Kaum muslimin terus merayap untuk melanjutkan ekspansinya ke seluruh daratan Eropa. Kota demi kota berhasil ditaklukkan. Sampai pada zaman Khalifah Hisyam ibn Abdil Malik kaum muslimin berhasil mencapai ujung barat Perancis, dan kota terakhir yang berhasil ditaklukkan adalah kota (Tours), yang berjarak (295 km) dari Paris. Di kota ini, pasukan Islam yang dipimpin gubernur Andalusia Abdurrahman al-Ghafiqiy bermarkas.
Disisi yang lain, orang-orang Frank (yaitu orang-orang Prancis) sedang menghimpun seluruh kekuatan dan sekutu-sekutu mereka dari orang-orang Germania, Saxxon dan kumpulan-kumpulan tentara bayaran, di bawah kepemimpinan (Charles Martel), untuk menghentikan ekspansi Islam. Maka di suatu tempat yang bernama (Balath), dinamakan berdasarkan sebuah istana yang tak berpenghuni di situ, kedua belah pihak bertempur sengit dan berlangsung sampai berhari-hari. Ribuan tentara Frank terbunuh, demikian juga ribuan prajurit kaum muslimin gugur sebagai syahid, termasuk komandan mereka alGhafiqiy رحمه الله. Setelah komandan mereka terbunuh, kaum muslimin mundur dari pertempuran pada malam hari, orang-orang Nashrani tidak mengejar mereka karena dihinggapi rasa takut dan ngeri. Para ahli sejarah menamakan pertempuran ini dengan nama Balath Syuhada, untuk mengenang.
- Penaklukkan Sisilia Ramadhan 212 H
Di zaman Khalifah Abbasiy al-Ma'mun ibn Harun Ar-Rasyid رحمه الله, Gubernur Ifriqiyyah yaitu Ziyadatullah ibn al-Aghlab at-Tamimiy menyiapkan angkatan laut yang berkekuatan (10.000) prajurit atau lebih, dan mengirimnya untuk menaklukkan Pulau Shiqiliyyah (Sisilia), pulau terbesar di Laut Mediterania, provinsi terbesar Italia, dan pulau terbesar dalam rangkaian kepulauan yang menghubungkan Benua Afrika dan Eropa serta Laut Mediterania Barat dan Timur.
Tentara Islam lalu mengarungi Laut Mediterania di bawah kepemimpinan seorang faqih madzhab Maliki hakim Qayrawan, yaitu Komandan Asad ibn Furat رحمه الله, ketika itu ia berumur 70 tahun. Setelah berlayar selama lima hari, armada Islam berlabuh di pantai-pantai Sisilia, tepatnya di daerah yang bernama (Mazara). Romawi menyambut mereka dengan pasukan yang berkekuatan (150.000) prajurit. Terjadilah pertempuran sengit, dan dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Kemudian Ibn Furat terus bergerak maju dan mengepung kota (Sarqusah) (Syracuse), di tengah-tengah pengepungan Ibn Furat terkena luka-luka yang menyebabkan kematiannya, dan beliau pun dimakamkan disana. Ketika para prajurit melihat Komandan mereka syahid, mereka justru bertempur mati-matian dan mampu memukul mundur pasukan Romawi dan memaksa mereka kabur. Selang beberapa lama, seluruh pulau Sisilia berhasil ditaklukkan, syariat ditegakkan, dan pulau Sisilia tetap berada di pangkuan kaum muslimin selama lebih dari empat abad.
- Penaklukkan ‘Ammuriyyah Ramadhan 223 H
Di tengah-tengah kesibukan Khalifah Abbasiyyah al-Muytashim Billah memadamkan pemberontakan (Babak al-Khorramiy) di negeri Persia, dimana Babak memimpin pemberontakan orang-orang Gerakan Bathiniyah kotor melawan pemerintahan Bani Abbas. Kaisar Romawi (Bizantium Theophilos Michael) memanfaatkan kesempatan dengan menyerang Zibathrah dan Malathyah (Sozopetra dan Arsamosata), dua kota Islam, terletak di Turki pada saat ini. Ia menghancurkannya, membantai penduduknya, memutilasi mayat-mayatnya dan menawan wanita-wanita kaum muslimin, diantara yang ditawan itu ada seorang wanita dari Bani Hasyim, seorang Romawi menamparnya dan wanita ini pun meminta tolong kepada Khalifah dengan sebuah perkataan yang terkenal.
Ketika kabar tentang wanita tersebut sampai di telinga al-Mu’tashim, ia segera berteriak di istananya : Aku penuhi panggilanmu, aku penuhi panggilanmu! Perang, perang! Beliau bergegas bangkit dan langsung memerintahkan untuk menyiapkan pasukan. Maka keluarlah dari Baghdad sepasukan tentara yang berkekuatan lebih dari 100.000 prajurit. Kemudian dia bertanya kepada para komandannya: "Negeri Romawi apa yang paling kuat dan kokoh?" Maka dikatakan kepadanya : "Yaitu Ammuriyyah (Amorium), tidak ada salah seorangpun dari kaum muslimin yang bisa mencapainya, dan Ammuriyyah merupakan kota penting orang-orang Nayaram, serta tempat lahirnya Dinasti Ammuriyala yang merupakan nenek moyang Kaisar Theophilos itu sendiri.
Maka bergeraklah al-Mu'tashim dan pasukannya menuju Ammuriyyah (yang terletak negara Turki saat ini, di barat daya Ankara). Ketika sampai di suatu tempat yang bernama (Saruj), al Mu'tashim membagi tentaranya menjadi dua detasemen, detasemen pertama menuju Ankara dipimpin seorang komandan Turki bernama (Haydar ibn Kawus) yang dijuluki al-Afsyin, sedang al-Mu’tashim memimpin pasukan induk.
Dalam perjalanannya, pasukan al-Afsyin bertemu dengan pasukan Kaisar Theophilos di wilayah (Dazimon), terjadilah pertempuran sengit yang mengakibatkan kekalahan pasukan Romawi, sehingga membuat Theophilos kabur ke Konstantinopel (sekarang dinamakan Istanbul). Kedua detasemen pasukan Islam bergabung di Ankara, dan berhasil menaklukkannya tanpa mendapat perlawanan berarti. Lalu kedua detasemen itu bergerak bersama-sama menuju Ammuriyyah. Sesampainya di kota itu, mereka mengepungnya dengan amat ketat, karena kota ini adalah sebuah kota yang dibentengi dengan kuat dan kokoh serta mempunyai menara-menara yang tinggi.
Di tengah-tengah pengepungan, Kaisar Romawi Theophilos mengutus utusan kepada al-Mu'tashim, meminta damai, dan meminta maaf atas perbuatannya kepada kaum muslimin. Ia berjanji untuk melepaskan seluruh tawanan wanita, serta membangun kembali kota-kota yang dihancurkannya, akan tetapi Khalifah menolak tawaran itu, dan terus melakukan pengepungan sampai jatuhnya Ammuriyyah; untuk memberi pelajaran kepada Romawi dan mengembalikan kemuliaan wanita-wanita yang suci.
Setelah (11) hari pengepungan dan melontari kota dengan manjaniq, “Ammuriyyah berhasil ditaklukkan. Pasukan Islam memasuki kota dengan bertakbir. Mereka membunuh banyak orang-orang Romawi dan mendapatkan ghanimah; berupa harta yang tak terhitung dan tawanan berupa wanita dalam jumlah banyak. Mereka membakar manjaniq (katapel raksasa untuk melontarkan batu) dan dabbabah (battering ram, untuk menjebol dinding atau pintu benteng), serta membebaskan wanita Bani Hasyim tersebut dan membunuh orang Romawi yang menamparnya.
Setelah Ammuriyyah jatuh, Theophilos mengirim utusan yang kedua kalinya kepada al-Mu’tashim dengan membawa hadiah yang banyak dan surat permohonan maaf serta berjanji untuk melaksanakan seluruh syarat al-Muitashim, dengan syarat al-Mu'tashim mengembalikan Ammuriyyah, namun al-Mu'tashim kembali menolak untuk kedua kalinya, bahkan ia bertekad untuk terus bergerak untuk menaklukkan ibu kota Romawi, yaitu Konstantinopel. Namun ia urung bergerak dan malah kembali, karena sebab fitnah internal.
Al-Mu'tashim kembali ke Baghdad setelah membunuh (30.000) Romawi dan menawan (30.000) lainnya, serta menaklukkan banyak kota, sembari membawa pulang ghanimah yang melimpah. Seorang penyair yaitu Abu TamamathThaiy menggambarkan penaklukkan Ammuriyyah ini dalam suatu kasidah yang bagus sekali, yang pembukaannya berbunyi : Pedang adalah pembawa berita yang lebih jujur daripada lisan Dengan ketajamannya memisahkan antara senda gurau dan sungguh-sungguh.
- Pertempuran az-Zallaqah Ramadhan 479 H
Sejak awal abad ke 5 Hijriyyah, negeri Andalusia al-lslamiy terbagi menjadi thawaif (negara-negara kecil) yang saling bermusuhan, yang menyebabkan air liur ketamakan salibis meleleh. Maka kerajaan-kerajaan Kristen Eropa berkoalisi untuk menyerbu Andalusia, dan mencabut islam di sana sampai ke akar-akarnya. Bergeraklah mereka di bawah kepemimpinan (Alfonso VI) dengan pasukan yang berjumlah lebih dari (100.000) orang. Mereka menyerbu dan menduduki kota Toledo, Coria, dan Zaragoza, membakar, menghancurkan dan membantai penduduknya.
Para pemimpin negara-negara kecil itu berkumpul dan sepakat untuk mengirim utusan meminta bantuan Daulah Murabithin di Negeri Maghrib, yang terletak berseberangan dengan Laut Mediterania. Mereka memohon kepada pemimpinnya, yaitu Yusuf ibn Tasyfin (al-Mauritaniy), agar sudi mengirimkan bantuan. Sekalipun umurnya sudah melebihi 70 tahun, akan tetapi ia segera menyambut seruan saudara seaqidahnya, dan bangkit untuk membantu Andalusia. la berlayar dari Pantai Sabtah (Ceuta) dan melabuhkan kapal-kapalnya di Pulau Khadra, yang kemudian dijadikannya sebagai benteng utamanya. Kemudian ia memasuki Sevilla, dan menetap di sana selama delapan hari, sambil menunggu kedatangan para pemimpin Andalusia dengan pasukan mereka, untuk secara bersama-sama menggempur pasukan Salibis. Setelah berkumpulnya kaum muslimin yang jumlahnya mencapai (48.000) mujahid, yang mana setengahnya adalah pasukan Andalusia dan sisanya adalah orang-orang Murabithun, mereka segera bergerak untuk menemui musuhnya.
Di saat yang sama, pasukan Salibis juga terus berdatangan dari segala penjuru. Maka kedua pasukan ini pun bertemu di dataran Zallaqah, Provinsi Badajoz (terletak di barat daya Spanyol, berbatasan dengan Portugal). Kedua kubu berhadap-hadapan selama tiga hari, selama tiga hari itu Ibnu Tasyfin bernegosiasi dengan Alfonso memberikan tiga opsi, yaitu: masuk Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Ternyata si tinggi hati itu (Alfonso) memilih opsi ketiga. Pada suatu hari yang bersejarah dalam sejarah panjang Islam, barisan mujahidin yang merindukan kesyahidan berjibaku dengan barisan orang-orang Nashrani para penyembah dunia. Pertempuran berkecamuk sengit selama seharian penuh, memakan korban (3000) kaum muslimin syahid, diantara mereka terdapat para ulama, fuqaha, dan hakim. Hampir-hampir salibis mendapat kemenangan, namun Ibnu Tasyfin yang mengamati jalannya peperangan dari anak bukit, bersama dengan pengawalnya yang berjumlah (4000) kesatria dari para prajurit pilihan, langsung menceburkan dirinya ke dalam kancah pertempuran. Mereka berhasil memecah barisan Salibis, membantai mereka habis-habisan, sampai bisa mendekati Alfonso, dan Ibnu Tasyfin berhasil menusuknya dengan pisau di pahanya. Ketika itulah jalannya pertempuran berbalik seratus delapan puluh derajat. Allah menganugerahi kaum muslimin pundak-pundak musuhnya. Kaum muslimin membantai, menawan, dan membakar musuhnya. Sedangkan Alfonso sendiri melarikan diri bersama dengan para pengiringnya, hampir-hampir mereka tidak selamat jika saja malam tidak memayungi medan pertempuran. Ketika fajar terbit, para mujahidin menunaikan shalat shubuh di dataran Zallaqah, setelah sebelumnya lbnu Tasyfin memerintahkan untuk memenggal kepala bangkai-bangkai Salibis lalu menyusunnya membentuk piramida, kemudian memerintahkan untuk mengumandangkan adzan di atas tumpukan kepala tersebut.
Pertempuran Zallaqah telah berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dan kehinaan Salibis, sebuah tragedi yang tidak akan bisa mereka lupakan selamanya. Mayoritas tentara Salib tewas pada pertempuran ini, tidak ada yang selamat kecuali hanya (500) orang yang melarikan diri dengan tubuh penuh luka, dan (400) orang dari mereka tewas di tengah perjalanan. Lebih dari (10.000) tentara Salib berhasil ditawan, dan kaum muslimin memperoleh ghanimah yang tak terhitung, diantaranya adalah (100.000 tenda), (70.000) senjata, dan (146.000) hewan tunggangan seperti kuda, bighal, dan keledai. IbnuTasyfin meninggalkan semuanya untuk raja raja thawaif, dan ia kembali ke negeri Maghrib bersama tentaranya dengan membawa pahala yang besar, setelah berhasil membendung banjir bah Nashrani yang menyerbu Andalusia. Setelahnya, masyarakat Andalusia kembali menikmati hidup di bawah naungan syariat selama empat abad berikutnya.
- Pertempuran Mematahkan Pengepungan Syam Ramadhan 532 H
Sekalipun terdapat perselisihan internal, para salibis berkoalisi dengan orang orang Byzantium untuk menyerang negeri Syam. Maka mereka segera berlayar ke selatan dengan pasukan berkekuatan (100.000) penunggang kuda dan (100.000) infantri. Mereka mampu menjajah beberapa daerah di bagian utara Syam dan melakukan perusakan, kemudian mengepung beberapa kota seperti Aleppo, Syaizar dan kota kota lain. Meskipun perlengkapan dan jumlah kaum muslimin sedikit, lemahnya Khilafah Abbasiyyah ketika itu, dan munculnya beberapa negara negara kecil seperti Daulah Saljuq yang loyal terhadap orang orang Abbasiyyah dan menguasai banyak wilayah di Irak dan Syampara mujahidin dibawah kepemimpinan seorang komandan yang cemerlang, yaitu 'Imaddudin Zanki, mampu mematahkan pengepungan atas Syam, dan mengusir musuh yang menyerang.
Zanki -ia berasal dari kabilah Turkmen, ketika itu menjabat sebagai gubernur Mosul mampu mengatur jalannya perang sampai mendapatkan kemenangan atas koalisi ByLantium Salibis, dan berhasil merebut kembali kota kota di Syam, serta memaksa mereka mundur jauh ke utara Syam. Ia terus memburu mereka dan berhasil membunuh banyak dari mereka. Kesuksesannya itu karena ia berhasil mengobarkan permusuhan dan menanamkan rasa takut diantara mereka (atau lebih dikenal dalam istilah modern sebagai perang urat syaraf). Juga keberhasilannya mengeksploitasi metode pertempuran baru, ia tidak menghadapi mereka secara langsung, namun ia mengirim detasemen detasemen kecil untuk menyergap pasukan musuh dan membunuh siapapun yang bisa dibunuh, dan detasemen untuk memutus jalur logistik. Terakhir, Zanki berhasil menyatukan kaum muslimin yang terpecah belah dalam beberapa imarah yang saling bertikai.
- Pertempuran Manshurah Ramadhan 647 H
Dengan restu dari dewan gereja Katholik, orang-orang Eropa bergerak dalam sebuah pasukan Salib yang dipimpin oleh Raja Perancis (Louis IX) dalam rangka menjajah Mesir dan Baitul Maqdis. Mereka berkumpul di Pulau Cyprus, jumlah mereka mencapai lebih dari (80.000) tentara. Dalam perjalanan, banyak dari tentara kerajaan-kerajaaan Salib pesisir yang bergabung. Mereka berlayar dengan (1800) kapal perang. Ketika sampai di kota Dumyat (Damietta), mereka mendudukinya setelah mendapatinya kosong karena ditinggalkan penduduknya. Mereka menetap di kota tersebut selama lebih dari 5 bulan, mereka merubah masjid-masjidnya menjadi gereja dan membentenginya dengan amat kokoh.
Mesir ketika itu dikuasai oleh keluarga Ayyub, dan rajanya adalah Najmuddin Ayyub (seorang Kurdi asli). Raja yang shalih ini telah berhasil menyatukan Mesir dan Syam di bawah kekuasaannya. Sebelumnya ia berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan para Salibis setelah beberapa pertempuran sengit yang memakan korban lebih dari (30.000) tentara salib. Dan setelah 30 tahun berlalu para Salibis kembali memobilisasi kekuatannya dan mengumpulkan seluruh persenjataannya dalam rangka membalas dendam.
Ketika para Salibis menjajah kota Dumyat, Raja yang shalih ini sedang berada di Damaskus, karena menderita sakit keras, namun beliau tetap berangkat meninggalkan pembaringannya, dan bergegas menuju Mesir dengan ditandu, lalu mengumumkan mobilisasi umum. Maka berkumpul-lah bersamanya sebanyak (25.000) mujahidin. Namun, bersamaan dengan mulainya pergerakan Salibis untuk menjajah Mesir, raja yang shalih ini wafat. Kabar wafatnya beliau disembunyikan agar tidak merusak moral para tentara.
Setelah wafatnya, pada waktu itu muncul seorang komandan cerdas yang bernama Ruknuddin Baibats al-Bunduqdari (seseorang berkebangsaan Turki Kipchak, negara Kazakhstan sekarang). Ia mengajukan strateginya untuk membendung laju Salibis, yang intinya adalah memancing Salibis untuk memasuki kota Manshurah (terletak di Provinsi Daqhaliyyah sekarang), lalu diblokade dan diserbu secara tiba-tiba dan sekaligus. Baibars lalu menutup seluruh jalan-jalan keluar dari Manshurah, dan membuka pintu gerbangnya untuk memancing tentara Salibis. Dia memerintahkan para mujahidin untuk berdiam dan bersiap-siap di seluruh lorong-lorong kota. Pasukan Salibis memakan umpan ini. Pasukan garis depannya (Knight Templar) memasuki kota dan menyangkanya 'Ain Jalut ini pasukan kaum muslimin bertemu dengan pasukan Tartar yang berjumlah (20.000) prajurit.
Pada suatu hari Jumat di bulan Ramadhan, pertempuran dimulai. Strategi Quthz adalah menempatkan kubu pertama dari pasukannya berada di garda terdepan, sedang pasukan inti yang dipimpinnya bersembunyi di balik bukit. Strategi ini berhasil mengecoh Kitbuqa, dia menyangka bahwa pasukan yang dihadapinya ini adalah seluruh pasukan kaum muslimin, maka ia menyerang dengan kekuatan penuh. Pasukan kaum muslimin pura pura kalah dan mundur untuk memancing Mongol, terpancinglah tentara Mongol dan terjebak dalam perangkap. Maka ketika mereka berada di tengah tengah dataran Ain Jalur, keluarlah pasukan yang dipimpin Quthz dan mengepung pasukan Mongol dari seluruh penjuru. Mengetahui hal ini, Mongol terus bertempur membabi buta. Ketika Quthz melihat hal ini, ia melempar topi bajanya, turun dari kudanya, dan bergerak memecah barisan Mongol seraya berteriak “wa lslamaah”. Dengan ini, pasukan Islam mulai menguasai keadaan.
Komandan Mongol, Kitbuqa sendiri terbunuh. Tentara Mongol terus berperang membabi buta untuk membuka jalan, sehingga sejumlah besar pasukan berhasil selamat dan bergerak menuju utara. Kaum muslimin segera bergerak mengejar mereka. Pengejaran terus berlanjut sampai di kota Bisan. Di sana pertempuran besar kembali terjadi. Dalam pertempuran ini, pasukan Mongol ditumpas habis, tidak ada seorangpun tentara Mongol yang selamat.
Sekalipun pasukan kaum muslimin ditimpa musibah dengan banyaknya jumlah syuhada, Quthz tetap memutuskan bergerak bersama pasukannya yang penuh luka untuk membebaskan Damaskus. Akan tetapi ketika penduduk Damaskus mendengar kabar kemenangan kaum muslimin atas Tartar di Ain jalut, mereka menyerang Tartar, berhasil membunuh beberapa dari mereka, menawan sebagian lain dan sedangkan sisa-sisa Tartar kabur dari Damaskus. Quthz memasuki Damaskus pada hari terakhir di Bulan Ramadhan dengan sambutan meriah penduduknya. Kemudian ia mengirim pasukan untuk membebaskan kota kota lainnya. Allah mengaruniakannya keberhasilan membebaskan seluruh negeri Syam dari cengkeraman Tartar, dan membebaskan banyak kaum muslimin yang tertawan di penjara-penjara Mongol.