🔱 RAFIDHAH DAN 🔯 YAHUDI

🔱 RAFIDHAH DAN 🔯 YAHUDI

AN MU'ASASAH

Seorang Tabi'in, asy Sya'biy رحمه الله (wafat 104 H) berkata, "Aku memperingatkanmu terhadap pengikut hawa nafsu yang sesat. Yang paling buruk dari mereka adalah Rofidhoh, sebab mereka adalah Yahudinya umat ini. Beberapa dari mereka Yahudi yang memalsukan Islam untuk menyebarkan penyimpangan mereka, seperti Paulus dari Yahudi yang memalsukan Kristen untuk menyebarkan kesesatannya, berharap Yahudi akan berjaya. Rofidhoh membenci Islam seperti Yahudi membenci Kristen. Mereka tidak masuk Islam karane mengharapkan Allah atau takut kepadaNya, melainkan karena dendam kepada umat Islam dan ingin menimbulkan kerusakan di antara mereka. Sholat mereka tidak sampai ke dalam telinga mereka. Sungguh, Ali telah membakar mereka hidup-hidup dan membuang mereka ke negeri lain. Di antara mereka ada 'Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Shon'aa, yang dibuang ke Sabat."

Beliau juga berkata, "Sungguh, bencana Rofidhoh sama dengan bencana Yahudi. Yahudi berkata, hanya manusia dari keturunan Dawud yang sesuai untuk kerajaan. Rofidhoh berkata hanya seseorang dari keturunan 'Ali yang sesuai untuk menduduki Imamah. Yahudi berkata tak ada jihad hingga al Masih datang dan sebuah pedang turun dari surga. Rofidhoh berkata tak ada jihad hingga al Mahdi muncul dan seorang penyeru menyeru dari surga dan berkata, 'Ikuti dia'. Yahudi menyelewengkan Taurat. Rofidhoh melakukan hal yang sama, menyelewengkan al Quran. Yahudi tidak jujur ketika mengucapkan salam kepada orang-orang beriman, mereka berkata, "Semoga 'sam' terlimpahkan untukmu." Sam berarti kematian. Begitu pula Rofidhoh. Yahudi menganggap kekayaan seluruh manusia adalah halal, sebagaimana Allah jelaskan dalam Al Quran bahwa mereka berkata, 'Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (orang Arab).' ['Ali 'Imron 75] Sama halnya dengan Rofidhoh, dimana mereka menganggap kekayaan seluruh Muslimin adalah halal. Yahudi menganggap darah seluruh Muslimin halal. Pun begitu dengan Rofidhah. Yahudi menganggap menipu manusia adalah halal. Sama halnya dengan Rofidhoh. Yahudi membenci Jibril dan berkata ia adalah musuh mereka dari kalangan malaikat. Begitu pula Rofidhoh, beberapa diantara mereka mengklaim bahwa Jibril keliru menurunkan wahyu kepada Muhammad dan melupakan 'Ali." (pernyataan asy Sya biy yang diriwayatkan oleh al Khallal dalam as Sunnah , al Lalika idalam Syarah Ushul al Itiqad, lbnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah, dan yang Iainnya. )

Ini adalah bukti, yang tiada keraguan lagi bahwa Yahudi dan Rof'idhoh adalah dua sisi dari koin yang sama. Agama Rofidhi "Syi'i" tidak lain adalah makar dari seorang Yahudi -Ibnu Saba'yang mengikuti langkah Yahudi pendahulunya, Paulus, yang merusak kemurnian agama Isa al Masih, meninggalkan Kristen di Ajaran Paulus dan Salib yang bid'ah, dosa turunan, inkarnasi, penebusan dosa, ketuhanan, anak tuhan, dan ketuhanan al Masih, serta antinomianisme pengabaian syari'at Musa.

SIAPAKAH IBN SABA'?

Si Yahudi Ibnu Saba', seperti halnya Paulus, membenci Islam dan bernafsu untuk menyesatkan umat Islam dan merusak agama mereka dengan menciptakan konsep menyimpang meliputi ketuhanan, keilahian, dan kemunculan kedua 'Ali bin Abi Thalib. Di waktu yang sama, dia berupaya untuk membuat perselisihan di antara umat Muslim, menghasut untuk menggulingkan Khalifah Rosyidah 'Utsman hingga 'Utsman dibunuh. Pembunuhan 'Utsman mengawali kematian Muslim lainnya dan akhirnya kemunculan Khowarij, yang membunuh 'Ali, yang pernah diklaim Ibnu Saba' sebagai Allah.

Tentangnya, Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata, "Yang pertama kali membuat bid'ah Rofidhi adalah seorang munafik sesat bernama 'Abdullah bin Saba'. Ia ingin merusak agama umat Islam seperti Paulus -pengarang kitab yang dibaca umat Kristenmembuat bid'ah bagi Kristen untuk merusak agama mereka. Paulus adalah seorang Yahudi yang secara munafik memalsukan Kristen dengan maksud untuk merusaknya. Ibnu Saba' pun adalah seorang Yahudi yang bermaksud sama. Berupaya untuk menyebarkan kesesatan untuk merusak agama, namun tak mampu melakukannya. Namun, sejumlah perpecahan dan perselisihan terjadi di antara umat Muslim, perselisihan di mana 'Utsman terbunuh. Kemudian setelahnya muncullah fitnah." [Majmu' Fatawaa]

Ath Thobariy رحمه الله berkata dalam kitab tarikhnya, "Ibnu Saba' masuk Islam dimasa Khilafah 'Utsman. Dia lalu melakukan perjalanan di negeri kaum Muslimin, mencoba menyesatkan mereka. Dimulai dari Hijaz, lalu Bashrah, Kuffah, dan Syam. Dia tidak berhasil mewujudkan makarnya di antara penduduk Syam. Mereka akhirnya mengusirnya. Ia lantas pergi ke Mesir dan menyeru penduduknya. Di antara ucapannya kepada mereka adalah, 'Betapa aneh orang-orang yang mengklaim bahwa 'Isa akan turun kembali namun membantah bahwa Muhammad akan kembali, sedangkan Allah berfirman, "Sesungguhnya Dia yang mewajibkan atasmu al Qur'an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali." [al Qoshosh 85]. Karenanya Muhammad lebih layak untuk turun kembali daripada 'Isa.' Beberapa orang menyambut seruannya dan demikianlah ia menciptakan bid'ah bagi mereka berupa konsep kemunculan kedua. Mereka mulai membicarakan hal tersebut. Kemudian ia berkata kepada mereka, ' Ada ribuan nabi dan setiap nabi memiliki pewaris. 'Ali adalah pewaris Muhammad.' Dia kemudian mulai berkata, 'Muhammad adalah nabi terakhir dan 'Ali adalah pewaris terakhir.' Dan berkata lagi, 'Siapa yang lebih dzalim daripada seseorang yang tidak melaksanakan wasiat Rosulullah, kemudian menusuk pewaris Rosulullah, mengambil alih kewenangan atas umatnya.' Dan berkata, 'Utsman mengambil perkara ini tanpa haq. 'Ali adalah pewaris Rosulullah. Maka bangkitlah demi perkara ini dan provokasilah. Mulailah dengan memfitnah pemimpinmu. Tampakkan dalam diri kalian amar ma'ruf nahi munkar, sehingga engkau mendapatkan perhatian manusia lalu seru mereka kepada perkara ini.' Ia kemudian mengirim penyerunya dan mengirim surat kepada mereka yang telah berbuat kerusakan di bumi dan mereka yang telah mengirim surat kepadanya sebelumnya. Mereka menyeru kepada keyakinan yang mereka anut secara diam-diam. Mereka menampakkan diri mereka dalam amar ma'ruf nahi munkar, mengirimkan surat ke berbagai wilayah, berisikan fitnah pada para pemimpin."

Ibnu Saba' mati sekitar tahun 40 H, setelah menyebarkan benih Rofidhoh dan f'itnah bagi generasi yang akan datang. Dialah pendiri Rofidhoh dan dikenal sebagai penghasut Khowarij. Karenanya, para ulama yang menulis terkait berbagai sekte yang menyimpang menyebutkannya dalam pembahasan mereka tentang Khowarij di samping Rofidhoh. Khowarij tidaklah muncul melainkan sebagai hasil dari makar Ibnu Saba' terhadap 'Utsman. Pengikut Ibnu Saba' kelak sama dengan Khowarij dalam perkara prinsip dasar bid'ah mereka, karenanya, seperti halnya Khowarij, mereka memvonis takfir sebagian besar Sahabat, seluruh Muslimin, dan semua Khilafah'.

MAKNA RAFIDHAH?

Akhirnya, fitnah Ibnu Saba' mengarah pada pembentukan sekte yang dikenal dengan nama Rofidhoh, yang berdakwah dalam bentuk lain. Sekte tersebut, sebagaimana semua sekte sesat, berkembang seiring berjalannya waktu, semakin menjadi-jadi dalam menciptakan ajaran sesat, kekufuran dan kejahatan.

Adapun nama "Rofidhoh," berasal dari kata "rofadh" yang berarti menolak. Asal muasal penamaan itu, ketika mereka datang pada Zaid bin 'Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib (wafat 122H) dan memintanya untuk menyatakan keberlepasan diri dari Abu Bakar dan 'Umar sebagai syarat dukungan mereka. Dia menolak dan malah berkata, "Semoga Allah merahmati mereka berdua." Maka mereka berkata kepadanya, "Maka kami menolakmu." Sejak saat itu, mereka disebut "orang-orang yang menolak." Para ulama pun menyebut mereka demikian karena Rofidhoh menolak imamah (kepemimpinan) dari Abu Bakr, 'Umar, dan 'Utsman, karena mereka menolak Sahabat, menolak Sunnah, dan mereka pada dasarnya menolak AlQuran serta Dienul Islam.

Adapun nama "Syi'ah," berakar dari kata "syaya'a" yang berarti mendukung, sebagaimana Rofidhoh yang mengklaim mendukung 'Ali, maksudnya lebih mengutamakannya daripada Abu Bakar dan 'Umar.

Adapun nama "Itsna 'Asyriyyah," yang berarti "Dua Belas," dan "Imamiyyah," dari kata "imam," karena keyakinan mereka tentang sederet 12 imam yang mereka klaim "ma'shum" (tak pernah salah). Kedua belas imam tersebut adalah ' Ali lbnu Abi Thalib dan dua putranya Hasan serta Husain, yang ketiganya adalah Sahabah, lalu Husain putra 'Ali as Sajjad, anaknya Muhammad al Baqir, kemudian anaknya Ja'far ash Shodiq, ketiganya ulama penting yang terkenal akan kesalehannya. Setelah mereka datang Ja'far anak Musa al Kadzim, anaknya 'Ali ar Rida, anaknya Muhammad al Jawad, anaknya 'Ali aI Hadiy, kemudian anaknya al Hasan al 'Askariy. Semua terkenal akan kesalehannya. Tapi tidak satupun dari sebelas orang tersebut beragama Rafd, kecuali hanya klaim-klaim palsu yang disebarkan oleh Rofidhoh.

Adapun "imam" mereka yang kedua belas, ia adalah Muhammad yang diklaim sebagai anak Hasan al 'Askariy. Dia disebut sebagai "al Mahdi" oleh Rofidhah. Diklaim lahir tahun 255 H di Samarraa', Iraq dan berita kelahirannya tersembunyi dari masyarakat karena takut ia akan dibunuh oleh Khilafah. Mereka mengklaim ketika ia berusia lima tahun dan ayahnya meninggal, ia menjadi "imam" di zamannya dan bersembunyi dengan memasuki ruang bawah tanah di bawah rumah ayahnya. Rofidhoh menyebut periode ini sebagai "Ghoybah Sughro" (Keghaiban Kecil). Selama periode ini, tidak ada seorangpun yang bertemu dengan "imam" mereka kecuali empat "wakil" atau "utusan," yang menjadi satu-satunya perantara ke dunia luar. "Keghaiban kecil" ini berlangsung sekitar 70 tahun, ketika "wakil" mereka yang terakhir meninggal pada 329 H. Rofidhoh mengklaim tak lama sebelum kematiannya, wakil terakhir menerima surat dari sang "Mahdi" yang menyatakan, "Kematian akan datang kepadamu dalam waktu enam hari. Maka kumpulkanlah kekuatanmu. Jangan menunjuk siapa pun untuk menggantikanmu setelah kematianmu. Keghaiban besar akan dimulai dengan kematianmu. Kedatanganku kembali akan terjadi hanya dengan izin Allah, setelah waktu yang sangat lama." [KamaluddinIbnu Babawayh]

Namun, Ath Thobariy, Ibnu Hazm, dan Yahya bin Sa'id menyatakan bahwa Hasan al 'Askariy tidak memiliki keturunan [Siyar adz Dzahabiy]. Bahkan jika seseorang mengklaim keturunannya telah berhasil menyembunyikan kelahirannya dari khalayak selama 72 tahun, bagaimana bisa ia tetap tersembunyi dari dunia dan hidup selama hampir 1200 tahun? Kalaupun diwajibkan untuk mempercayai hal itu, maka ia akan disebutkan dalam Al Quran dan Sunnah. Jadi, tidak ada keraguan bahwa "al Mahdi"mereka hanyalah klaim palsu di antara sekian banyak kebohongan Rofidhoh, yang mengikuti jejak saudara mereka dari sekte Bathiniyyah. Banyak dari sekte sesat Bathiniyyah yang mengklaim Al Qur'an memiliki arti tersembunyi yang bertentangan dengan makna harfiahnya, juga mempercayai adanya seorang "imam" tersembunyi, yang pergi dalam keghaiban dan telah memilih "wakil" untuk mewakili, memanggil, atau berkomunikasi dengan sang "imam". Sekte yang paling terkenal adalah Isma'iliyyah (Yang Tujuh), yang mempercayai keghaiban Muhammad bin Isma'il bin Ja'far ash Shodiq, yang mereka klaim disembunyikan oleh ayah dan kakeknya, dan akan datang untuk kedua kalinya.

Karena prinsip-prinsip kejahilan dan penyimpangan yang ekstrim inilah, asy Sya'biy berkata, "Aku melihat Rofidhoh berpegang pada batang yang tidak berakars Jika aku ingir mereka untuk menawarkan leher mereka untukku sebaga budak, atau memenuhi rumahku dengan emas, ataL melakukan ziarah ke rumahku ini agar aku berdusta sekali saja atas nama 'Ali, mereka akan melakukannya. Demi Allah, aku tidak akan pernah berdusta atas namanya. Sungguh, aku telah mengamati para pengikut hawa nafsu dan tidak menemukan kaum yang lebih bodoh daripada Rofidhoh. Jika mereka burung, mereka adalah burung nasar. Dan jika mereka binatang, mereka adalah keledai."⁴

HUKUM ATAS RAHDHAH?

lbnu Taimiyyah رحمه الله berkata, "Barang siapa mengklaim bahwa beberapa ayat al Qur'an telah dihapus atau disembunyikan maka tidak ada perbedaan pendapat untuk mengkafirkannya. Dan juga, barang siapa mengklaim bahwa para sahabat murtad setelah Rosulullah kecuali sedikit saja yakni tidak lebih dari selusin, atau sebagian besar dari mereka menjadi fasiq (pelaku dosa besar), maka tidak ada keraguan untuk mengkafirkannya, karena ia mengingkari keutamaan mereka yang disebutkan dalam al Quran di sejumlah tempat. Bahkan, barang siapa yang meragukan kekafiran orang seperti itu, maka mengkafirkannya adalah wajib. Karena implikasi dari pernyataan tersebut adalah tuduhan para penyampai al Quran dan Sunnah adalah kafir atau fasiq. Juga berarti bahwa mereka yang ditunjukkan oleh ayat ini, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia," [Ali 'Imron 110], yakni para generasi terbaik pertama, sebagian besar dituduh kafir atau fasiq. Pun juga berarti bahwa umat ini adalah seburuk-buruk umat dan pendahulu umat ini adalah orang palingjahat di antara umat ini. Takfir atas orang-orang tersebut merupakan hal yang diketahui secara pasti dalam agama Islam." [Ash Shorimul Maslul] As Sam'aniy mengatakan, 'Umat berijma' tentang pengkafiran sekte Imamiyyah karena mereka meyakini sahabat telah menyimpang dan menolak ljma' dari sahabat dan menyandarkan kepada mereka hal-hal yang tidak pantas untuk mereka.' [AI Ansab] [Diringkas dari "Hal Ataka Hadits Rofidhoh"]

KEYAKINAN DAN AMAL KEKUFURAN RAFIDHAH?

Terdapat beberapa alasan untuk mengkafirkan Rofidhoh, beberapa poin penting adalah sebagai berikut:

  1. Mereka adalah sekte yang paling terkenal dalam penyembahan kuburan di antara semua sekte-sekte sesat. Banyak penyembah kuburan yang masuk ke dalam "Ahlus Sunnah" berasal dari Rafd dan Rofidhoh. Ibnu Taimiyyah berkata, "Yang pertama kali memalsukan hadits tentang menziarahi kuil yang dibangun di atas kuburan adalah orang-orang menyimpang lagi sesat seperti Rofidhoh dan semacamnya." [Majmu' Fatawa] Rofidhoh kini sujud kepada kuburan dan berthowaf padanya. Mereka berdoa kepada mayat yang dikubur dan mencari syafaat dari mereka. Hati mereka lebih condong pada kuburan daripada Allah. Ini adalah syirik murtad, sesuatu yang mereka semua -baik para pemimpin mereka dan orang awamlakukan. Jika hanya ini kekafiran mereka, maka sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa mereka semua adalah orang murtad.
  2. Rofidhoh mengkadirkan sebagian besar sahabat, membenci mereka, dan mengutuk mereka. Muhammad bin 'Abdil Wahhab berkata, "Ayat-ayat al Qur'an tentang keutamaan sahabat banyak dan hadits mengenai hal ini berderajat mutawatir serta secara jelas menyatakan kebaikan mereka. Jadi, barang siapa yang percaya bahwa sahabat atau sebagian besar dari mereka adalah fasiq atau murtad atau percaya tentang kebenaran dan kebolehan mengutuk mereka, ia telah kafir kepada Allah dan RosulNya, mengingkari keutamaan sahabat yang dijelaskan Allah dan RosulNya." [Ar Radd 'Alaa Rofidhoh]. Dia juga berkata, "Ini adalah penghancuran pondasi yang paling mendasar dalam Dien, karena pondasi agama ini adalah AlQuran dan Hadits. Jika dikatakan bahwa semua yang belajar dari Nabi adalah murtad kecuali mereka yang sangat sedikit, maka orang-orang akan meragukan Al Qur'an dan hadits. Dan kami memohon perlindungan dari keyakinan yang berpotensi merobohkan Dien." [Ar Radd 'Ala'a Rofidhoh] L. Dengan alasan inilah, sebagian besar Rofidhoh -kecuali yang melakukan taqiyyah menutup-nutupi kekafiran mereka -menganggap bahwa ayat al Qur'an telah dihapus, diubah, dan dibuat-buat oleh Sahabat dan oleh karenanya al Qur'an yang ada pada Ahlus Sunnah tidak benar dan tidak lengkap.
  3. Disamping sikap menyimpang mereka terhadap sebagian besar sahabat, Rofidhoh menekankan kebencian dan takfir mereka kepada sahabat terbaik dan terkenal termasuk Abu Bakr, 'Umar, dan 'Utsman. Mereka melakukan hal yang sama terhadap istri-istri Nabi terutama 'A'isyah putri Abu Bakr dan Hafshah putri 'Umar. Dapatkah seseorang mengklaim dia memiliki iman seberat biji sawi sementara dia membenci istri-istri Nabi dan sahabatnya yang terbaik? Al Auza'i berkata, "Barang siapa yang mengutuk Abu Bakr ash Shiddiq maka telah murtad." [Al Ibanah as Sughro lbnu Battah] Al Firyabi (wafat 212 H) ditanya tentang seseorang yang mengutuk Abu Bakr. Dia menjawab, "Dia kafir." [As Sunnah al Khallaal]
  4. Rofidhoh mencemarkan nama baik 'A'isyah dan kesuciannya, secara tidak langsung terhadap kehormatan Nabi, dengan jelas mengingkari Al Quran, karena Allah telah berdirman dalam Surat an Nuur ayat 11 sampai 26, yang menyatakan 'A'isyah tidak bersalah. Dan barang siapa yang mengingkari satu huruf dari Al Quraan maka ia kafir. Maka seberapa besar kekafirannya jika mengingkari lebih dari selusin ayat al Qur'an? Ibnu Katsir berkomentar dalam tafsirnya, "Para ulama salaf berijma' bahwa siapa yang mengutuk 'A'isyah dan menuduhnya [berselingkuh] setelah dibacakan padanya ayat-ayat ini dan apa yang disebutkan di dalamnya, maka ia adalah kafir karena menentang Al Qur'an."
  5. Rofidhoh bersikap cinta fanatik terhadap "dua belas" imam, lebih mengutamakan sebagian dari mereka atas sebagian besar Nabi bahkan mensifati mereka dengan sifat-sifat ketuhanan Allah. Mereka mengklaim bahwa para imam memiliki kontrol atas atom-atom di alam semesta, mengetahui hal-hal ghaib, dapat membatalkan al Quran, dan harus ditaati secara mutlak.

Setelah mengutip berbagai pernyataan dari Rofidhoh yang menunjukkan kekafiran mereka ini, Muhammad bin Abdul Wahhab berkomentar "Siapa yang mengklaim bahwa selain para nabi lebih utama atau setara dengan para nabi, maka ia melakukan kekafiran. Lebih dari satu ulama telah meriwayatkan ljma' tentang ini [menjadi kafirj" [Al Radd 'Alaa Rofidhoh]

Berbagai bentuk kekafiran yang dipegang dan diamalkan oleh Rofidhoh begitu banyak, terutama karena mereka menciptakan penyimpangan baru dari hari ke hari sementara mereka secara bersamaan memerangi Islam dan mendukung salibis dan kaum murtaddin melawan Muslimin.

RAFIDHAH MENURUT PARA PENGKLAIM JIHAD

Namun, berbagai pengklaim jihad mencoba menggambarkan Rofidhoh sebagai sekte "Muslim" yang bodoh. Para pengklaim ini menggunakan dua syubhat utama untuk membenarkan klaim mereka.

  • Klaim bahwa Rofidhoh diampuni karena kejahilan.

Para pengklaim jihad menggunakan argumen ini sebagai perisai untuk melindungi Rofidhoh dari takfir dan peperangan muwahhidin. Jika mujahidin menyerang daerah Rofidhoh di Iraq dengan bom mobil yang besar, pengklaim jihad berteriak, "Kalian membunuh Muslim yang jahil dan tak bersalah! Engkau harusnya mendakwahi mereka, bukan membunuh mereka! Perang kita hanya dengan Amerika!"

Syubhat ini telah dibantah berkali-kali. Secara ringkas, jika orang yang mengaku Islam menyembah sesuatu atau siapa pun selain A||ah, mengolok-olek Allah, atau meninggalkan penyerahan diri kepadaNya secara total, maka ia tidak dianggap sebagai seorang Muslim. Islam adalah ikhlas terhadap Allah dan penyerahan diri kepadaNya. Kesaksian yang menyatakan bahwa tidak ada yang layak diibadahi dan ditaati kecuali Allah. Salah satu syaratnya adalah berilmu dan salah satu pembatalnya adalah berpaling dari pembelajaran dasar-dasar keislaman. Berbeda dengan Murji'ah dan saudara-saudara mereka dari para pengklaim jihad, Islam bukan hanya klaim saja tanpa tindakan nyata. Jika itu benar, sebagian besar konflik antara Muslim dan Kuffar akan diselesaikan tanpa perlu peperangan. Tapi kenyataan inilah -bahwa iman adalah ikrar dan amalyang sangat menjengkelkan kuffar. Mereka ingin sebagaimana mereka yang telah meninggalkan sebagian besar amalan yang diamanatkan oleh Taurat dan Injil mereka yang telah diubah sementara berpegang dengan nama “Kristen," supaya kaum muslimin melakukan hal yang sama. "Mereka ingin kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah nenjadi kafir, lalu kamu menjadi sama." [An Nisaa' 89]

Ibnu Abu Butayn (wafat 1282 H) mengkritik mereka yang nengudzur orang-orang seperti awam Rofidhoh, dan mengatakan, "Jika seseorang berkomentar tentang Rofidoh zaman ini bahwa mereka diudzur karena kejahilan terhadap tindakan mereka yang mengutuk Abu Bakr, 'Umar, dan 'Aisyah karena Rofidhoh adalah pengikut buta lagi bodoh, para ulama dan orang-orang awam akan mencelanya." [Ad Duraar as Saniyyah] Itu terjadi lebih dari satu abad lalu dalam masalah mengutuk sahabat utama. Lebih layak dicela orang yang mengudzur Rofidhoh berkaitan dengan syirik besar.

  • Klaim bahwa sebagian ulama tidak mengkafirkan semua Rofidhoh.

Ini adalah pemutarbalikan salah satu dari dua hal.

  1. Mereka merujuk kepada ulama yang tidak mengkafirkan semua "Syi'ah," yang merupakan nama yang lebih umum dibandingkan Rofidhoh, seperti orang yang mengutamakan 'Ali daripada Abu Bakr dan 'Umar namun masih mengakui Khilafah Abu Bakr dan 'Umar serta status mereka sebagai Sahabat. Ini adalah fenomena yang telah punah, dan sekarang hanya ada di kitab tarikh yang menjelaskan ahlul bid'ah. Adapun Zaidiyyah masa kini, maka mereka telah di-Rofidhi-sasikan oleh propaganda Iran, menjadikan mereka sebuah sekte yang ikut mengutuk sahabat setelah sebelumnya meniru Rofidhoh dalam penyembahan kuburan.
  2. Mereka merujuk kepada sebagian ulama yang tidak mengkafirkan Rofidhoh secara keseluruhan. Namun fatwa mereka harus dipahami dalam konteks sejarah, karena para pemimpin Rofidhoh telah mempratekkan taqiyyah selama berabad-abad tatkala hidup tinggal di bawah penguasa Muslim, menyembunyikan banyak aspek agama mereka dari ulama Sunni, masyarakat, dan bahkan dari kalangan awam mereka sendiri hingga munculnya negara Shofawiy di bawah kepemimpinan Isma'il as Shofawiy di abad kesepuluh Hijriyyah.
  3. Setelah itu, mereka terang-terangan menampakkan aqidah kufur Bathiniyyah mereka dan tanpa malu-malu mempratekkan syirik besar yang didiktekan kepada mereka, secara terbuka mengajak golongan mereka ke agama kufur, tanpa meninggalkan satupun awam Rofidhiy terlepas dari kemurtadan. Hal ini terjadi selama periode "kebangkitan" ketika Muhammad Baqir al Majlisiy menjadi pejabat agama resmi negara Shofawiy. Dia menulis beberapa kitab berpengaruh dan menyebarkan propaganda "kebangkitan", meninggalkan dampak berkelanjutan abadi pada Rofd dan Rofidhoh.

'Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab رحمه الله berkata setelah menyebutkan fatwa dari Ibnu Taimiyah رحمه الله tersebut dimana ia mengkafirkan para Rofidhoh yang mengkafirkan sebagian besar sahabat, "Ini hukum yang berlaku atas mereka dari awal. Adapun generasi berikutnya hingga sekarang, mereka telah menambahkan syirik besar pada ajaran Rafd mereka. Mempraktekkan syirik di kuil sampai ke taraf yang mana orang-orang Arab, yang kepadanya Rosulullah diutus padanya, tidak sampai melakukannya." [Ad Durar as Saniyyah]

Muhammad lbnu 'Abdil Lathif Alu Syaikh juga berkata setelah menyebutkan fatwa Ibnu Taimiyah, "Ini adalah hukum mereka di awal. Adapun sekarang, maka keadaan mereka jauh lebih buruk, karena telah bertambah penyimpangan mereka dengan menyembah para wali dan orang shaleh dari Ahlul Bait, percaya bahwa Ahlul Bait bisa mendatangkan nikmat dan bahaya bagi mereka, berdoa pada mereka baik pada saat mudah dan sulit. Mereka percaya bahwa ini adalah perbuatan yang mendekatkan mereka kepada Allah dan agama yang harus mereka taati. Jadi barang siapa yang ragu akan kekafiran mereka setelah itu, maka ia bodoh akan realita yang dengannya para Rosul diutus dan dengannya kitab-kitab diturunkan. Sehingga dia harus mengecek kembali agamanya sebelum datang waktu kematiannya." [Ad Durar as Saniyyah]

Memelintir perkataan sebagian ulama untuk mengklaim bahwa Rofidhoh adalah "Muslim," sama saja dengan mengambil perkataan Salaf terhadap kaum Shufi di zaman mereka -generasi Shufi awal yang kesalahannya terbatas pada zuhud dan was-was berlebihan lalu menyalahgunakan pernyataan ini kepada kaum penyembah kuburan, Shufi Jahmiyyah di zaman berikutnya, sehingga mengklaim bahwa Shufi awal adalah Muslim yang sesat, Shufi musyrik yang berikutnya juga "Muslim" yang sesat! Kami berlindung pada Allah atas penyimpangan ini.

PENYIMPANGAN PARA PENGKLAIM JIHAD

Adz Dzowahiriy berkata, "Kami menganggap Syi'ah Itsna Asyariyyah sebagai salah satu sekte ahlul bid'ah yang membuat-buat bid'ah dalam aqidah yang mencapai taraf mengutuk Abu Bakar, 'Umar, Ummul Mu'minin, dan sebagian besar sahabat serta tabi'in. Mereka (Syi'ah) menganggap mereka telah kafir, mengutuk mereka terang-terangan, dan menganggap al Qur'an telah diubah dan mereka membuat bid'ah dalam aqidah seperti mengklaim kema'shuman dua belas imam dan bahwa imam mencapai tingkat yang tiada seorang nabi atau malaikat pun dapat mencapainya. Adapun bagi mereka yang bodoh dan percaya pada prinsip yang salah ini karena hadits yang mereka anggap shahih sementara kebenaran tidak mencapai mereka atau mereka bodoh karena orang awam, maka mereka dimaafkan karena kebodohannya." [Mawqi'una Min Iran]

Adapun Harokah nasionalis Taliban, keyakinannya mirip dengan Al Qa'idah Dzowahiriy, menganggap Rofidhoh sebagai saudara-saudara mereka dan secara terbuka mencela mereka yang menyerang Rofidhoh.

'Abdullah al Wazir, koresponden resmi dari komite media nasionalis Taliban, berkata, "Syi'ah adalah Muslim. Semua orang yang mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rosulullah adalah seorang Muslim. Terdapat banyak sekte-sekte dan Allah akan memutuskan di antara mereka pada Hari Perhitungan."

Taliban juga membanggakan pertemuan mereka dengan pejabat Rofidhoh Iran, dengan mengatakan, "Baru-baru ini perwakilan tinggi yang dipimpin oleh Muhammad Tayyib Agha, kepala dewan politik |marah Islam, berkunjung ke negara tetangga Iran. Selama kunjungan, anggota terulang kembali." [Laporan Pertemuan Darurat Dewan Syuro' Imarah dan Rilis Pernyataan Terkait Dua Serangan Pada Hari 'Asyura' di Kabul dan Mazar-e-Syarif] Mereka berbelasungkawa pada rofidhah dan menyatakan untuk bekerja sama dengan mereka melawan mujahidin

Report Page