Prolog

Prolog


Prolog

Julian selalu percaya bahwa penyesalan adalah bentuk lain dari perjalanan waktu.

Setiap kali ia menutup mata, ia tidak benar-benar tidur. Ia kembali ke masa lalu. Ia mengulang percakapan yang seharusnya ia akhiri dengan kata-kata berbeda. Ia melihat wajah orang-orang yang sudah tidak ada lagi di sisinya. Ia merasakan kembali detak jantungnya pada hari ketika ia membuat keputusan yang menghancurkan banyak hal.

Dalam novel-novelnya, ia menulis tentang orang-orang yang menemukan mesin waktu, portal rahasia, atau formula ilmiah yang memungkinkan mereka kembali ke masa lalu. Ia menulis tentang paradoks, loop, dan konsekuensi mengerikan dari mengubah sejarah. Ia menulis seolah-olah ia memahami waktu lebih baik daripada siapa pun.

Namun kenyataannya, Julian tidak pernah benar-benar memahami waktu. Ia hanya memahami penyesalan.

Ia tahu persis kapan ia seharusnya belajar lebih serius di sekolah. Ia tahu kapan ia seharusnya menerima pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Ia tahu kapan ia seharusnya tidak begitu cepat marah, tidak begitu cepat pergi, tidak begitu cepat memutuskan Erlina. Ia tahu kapan ia seharusnya pulang lebih sering, duduk lebih lama di ruang tamu, dan mendengarkan cerita papa dan mama tanpa merasa terganggu.

Ia tahu semua itu.

Tetapi tahu tidak pernah cukup.

Malam itu, Julian duduk di depan laptopnya. Jam di layar menunjukkan pukul 02:17. Di luar, Jakarta sudah hampir sepi. Hanya suara motor yang sesekali lewat, dan dengung kulkas yang terus menyala di dapur.

Di layar, dokumen baru terbuka dengan judul:

KEMBALI

Ia menatap kursor yang berkedip. Ia sudah menulis puluhan ribu kata tentang perjalanan waktu, tetapi tidak pernah menulis tentang dirinya sendiri. Ia selalu menyembunyikan dirinya di balik tokoh-tokoh fiksi. Ia selalu membuat orang lain yang berani, yang mengambil kesempatan kedua, yang berhasil memperbaiki kesalahan.

Malam ini, ia tidak ingin menulis tokoh lain.

Ia mengetik perlahan:

Seandainya aku bisa kembali ke hari ketika semuanya masih bisa diperbaiki.

Ia berhenti. Ia menatap kalimat itu. Ia ingin menghapusnya, tetapi tangannya tidak bergerak.

Ia mengetik lagi:

Seandainya aku bisa kembali ke hari sebelum aku memutuskan Erlina.

Seandainya aku bisa kembali ke hari sebelum aku menolak pekerjaan itu.

Seandainya aku bisa kembali ke hari sebelum aku pindah rumah.

Seandainya aku bisa kembali ke hari ketika papa dan mama masih ada di sisiku.

Setiap kalimat terasa seperti pisau kecil yang mengiris sesuatu di dalam dadanya. Ia ingin berhenti, tetapi ia tidak bisa. Ia terus mengetik, seolah-olah jika ia menulis cukup banyak, waktu akan mendengarnya.

Seandainya aku bisa kembali dengan ingatan yang sekarang.

Seandainya aku tahu apa yang aku tahu sekarang.

Seandainya aku bisa menjadi versi diriku yang tidak begitu bodoh.

Seandainya aku bisa mencintai mereka dengan cara yang benar.

Ia menekan enter. Ia menatap layar. Tidak ada yang terjadi.

Hanya kursor yang terus berkedip, seolah menunggu kalimat berikutnya yang tidak akan pernah cukup.

Julian menutup laptopnya. Ia memejamkan mata. Ia membayangkan dirinya berdiri di persimpangan masa lalu, di hari ketika ia masih bisa memilih arah yang berbeda. Ia membayangkan dirinya berjalan menuju Erlina, menuju papa dan mama, menuju versi hidupnya yang tidak penuh lubang.

Ia tidak tahu berapa lama ia tertidur.

Yang ia tahu, ketika ia membuka mata, langit di luar jendela tidak lagi gelap.

Cahaya pagi masuk melalui celah gorden. Suara burung terdengar dari pohon di halaman. Dan ada sesuatu yang aneh: suara dari dapur.

Suara mama.

Julian duduk. Ia menatap sekeliling kamarnya. Poster-poster lama di dinding. Buku-buku yang sudah lama tidak ia sentuh. Meja belajar yang penuh coretan.

Ia berdiri perlahan, berjalan menuju pintu, dan membukanya.

Di ruang tamu, mama sedang menyiapkan sarapan. Papa sedang membaca koran di sofa. Dan di telepon, ada pesan masuk yang belum ia baca.

Pesan dari Erlina.

Julian menatap layar ponselnya. Tangannya gemetar.

Ia tidak tahu apakah ini mimpi, halusinasi, atau sesuatu yang lebih aneh dari itu.

Yang ia tahu, ia baru saja mendapatkan apa yang selama ini ia tulis dalam novel-novelnya.

Ia baru saja kembali.

Dan untuk pertama kalinya, Julian tidak tahu apakah ia siap menghadapi masa lalu yang selama ini ia hindari.


Report Page