Playing
Jáckio Estienne
TW // BLOOD (MINOR) , KNIFE
Jack membuka kedua matanya, tersadar kala bantal guling yang dipeluknya kini telah jatuh ke lantai. Terduduk di tempat, lantas kamar dengan nuansa pastel itu menyapa indra penglihatannya. Maniknya berpencar, mengelilingi sekitar yang nampak asing di matanya.
"Ini kamar siapa?" monolog Jack tanpa sadar.
"Kamar aku, Kak."
Hampir memekik karena terkejut, Jack menoleh dan menatap adik angkatnya itu dengan mata melotot. "Ngagetin aja!"
Okimi mendengus pelan, tungkainya perlahan mendekati Jack. Lalu menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan yang lebih tua. "Kakak lupa, ya?" Ia tersenyum tipis. "Kan semalem aku tarik Kakak kesini, terus Kakak ketiduran di sofa; aku kasian liatnya, nanti badan Kakak pegel-pegel kalau tidur di sofa, yaudah aku pindahin Kakak ke kasur deh," jelas Okimi.
"Lho? Emangnya kamu kuat ngangkat aku?" heran Jack.
Gelengan pelan diberikan Okimi. "Nggak juga sih, aku bangunin kamu sebenernya. Yaaa terus kamu jalan sendiri ke kasur, lanjut tidur deh."
Mengusap tengkuknya dengan bingung, Jack bergumam, "Kok aku nggak inget, ya..."

Siang ini, matahari tak menampakkan kehadirannya dilangit, ia bersembunyi malu-malu di balik awan awan yang tadinya gelap, dan kini mulai berangsur-angsur kembali memutih. Satu jam yang lalu, hujan turun dengan derasnya. Walau tak ada lagi air yang langit tumpahkan, namun etesan air terkadang masih turun dari daun-daun dan dahan pohon.
Halaman belakang, tempat yang Jack lihat semalam—begitu menyeramkan karena dikelilingi oleh pepohonan yang amat besar— kini menjadi tujuannya. Ternyata, disini tak begitu buruk, tak semenyeramkan semalam, pikirnya.
Halaman inI cukup luas, di tengah-tengah terdapat sebuah air mancur dengan sebuah patung wanita, juga bunga mawar hitam dan merah yang mengelilinginya. Jangan lupakan kursi-kursi yang ditempatkan di setiap sudutnya, di bawah pohon-pohon besar.
Jack tersenyum cerah, ah, pemandangan baru yang tampak menyenangkan. Lalu ia melangkah, mendekati kedua adiknya yang nampak asik di ujung sana.
Masih dengan senyuman lebarnya, Jack menepuk pundak Barrie dan Camille, berniat mengejutkan mereka.
Namun, niat itu urung seketika, senyuman tak lagi terpatri di wajahnya, dan raut muka itu mulai menegang.
Barrie, telapak tangannya, dipenuhi dengan darah.
Dan di sebelahnya, Camille, memegang sebuah pisau yang berlumuran darah.
"Barrie!! Ta-tangan kamu kenapa itu?!?!" pekik Jack. Tungkainya reflek bergerak mundur, mencoba menjauhi kedua anak itu.
Keduanya menoleh serentak, dan Barrie langsung tertawa kencang. "Nggak apa-apa, Kak Jack. Ini cuma berdarah aja kok," tuturnya santai.
Melotot seketika, alis itu mulai menyatu, tanda tak mengerti. "Nggak apa-apa gimana?!?! Itu tangan kamu darah semua, Barrie!!"
Camille ikut tertawa, seolah ini semua hanyalah lelucon semata. "Nggak usah kaget deh, Kak. Barrie udah biasa begitu." Tawanya begitu kencang, melengking.
Menggeleng ribut, Jack mencoba menyadarkan kedua adiknya yang nampak menyeramkan. "Camille! Kamu ... kamu yang udah lukain tangan Barrie?! Kok—"
"Udah Kak Jack, biarin aja. Mereka emang biasa main begitu kok."
Suara datar itu terdengar dari baliknya. Membuat Jack membalikkan badan dan kembali mengernyit. "Darren?! Biasa gimana maksudnya? Mereka ini main pisau sampe berdarah gitu, loh!!" Tak habis pikir, hentakan kaki itu menunjukkan kekesalan yang amat sangat.
Yang dibentak tampak tak peduli, menarik tangan Jack menjauhi Barrie dan Camille yang masih asik dengan dunianya sendiri. "Udah, mereka nggak akan kenapa-napa. Jangan diganggu," ujar Darren.
Kernyitan itu semakin jelas di dahinya, Jack menoleh sejenak, kembali memperhatikan kedua adiknya. Disana, Barrie tersenyum lebar, dengan wajah berseri membuka luka yang dibuat oleh Camille, menyebabkan darah terus keluar. Sesekali, Camille juga ikut tertawa riang melihat darah yang semakin banyak.
"Ayo keluarin lagi! Aku gak tahan pengen lihat lebih banyak!!" Camille berteriak dengan nafas yang menggebu.
"Kak..." Menyadari kemana arah pandang Jack, Darren menghentikan langkahnya. "Biarin aja, kita panggil Kak Nella, cuma dia yang bisa urus mereka kalau lagi kaya gitu. Mereka emang begitu... Agak gila— ah enggak, semua yang ada di rumah ini emang nggak waras."
"M-maksudnya?"
Darren mendesah pelan. "Nanti juga Kakak tau sendiri."
Tak puas dengan jawaban Darren, Jack kembali bertanya, "Itu gimana Barrie?! Tangannya luka loh, masa dibiarin aja?"
"Banyak tanya deh."
Tubuh keduanya kembali berjalan, lebih tepatnya Darren kembali menarik Jack untuk masuk kedalam rumah.
"Barrie itu punya kecenderungan suka disakiti, sementara Camille suka menyakiti. Sekarang, Kakak ngerti, 'kan?"