Pertemuan Pertama.

Pertemuan Pertama.

Si Merak.

Itulah yang terjadi sama 10 mahasiswa kampus terkenal di salah satu kota besar. Mereka gak sengaja kekunci di perpustakaan ketika hujan badai. Akibat kondisi ini, sepuluh mahasiswa itu akhirnya berkenalan dengan panik, berusaha untuk mencari solusi bagaimana untuk keluar. Setelah tau nama masing-masing, akhirnya mereka duduk di pojok perpustakaan yang berkarpet untuk berdiskusi.


“Siapa yang di follback ColleFess Twitter? Kita bikin tweet aja biar viral kalo kita kekunci dan akhirnya dibukain!” saran salah satu lelaki keturunan Cina yang matanya sipit itu. Teman-temannya suka memanggilnya Koko, padahal itu bukan nama aslinya.


“Tapi kalau kita udah dibuka terus pulangnya gimana? Kalian ada yang bawa mobil nggak?” Berhubung kebanyakan dari mereka adalah anak kos, jadi tentu saja jawabannya tidak. Beberapa memang mengendarai motor, tapi tidak ada yang membawa jas hujan. Sama sekali.


“Ya GoJek aja gak sih?” tanya perempuan berambut pendek.


“Aku daritadi buka GoJek gak ada yang mau nerima, soalnya hujannya petir banget. Malah sekarang sinyal Telkomselku ilang.”


“Eh bentar, aku buka WA kok pending ya..?”


“Lah iya, Twitterku juga. Coba cek Instagram.”


“Anjir Instagram gak bisa refresh feed. Gimana ya?”


“Telegram?”


“Gak bisa, updating terus.”


“Bentar, ada notif berita di hp gue. ‘Hampir Seluruh Media Sosial Down, Penyebabnya Belum Diketahui.’”


“HAH…”


Serentak mereka semua terkejut dan rasa panik semakin mengelilingi atmosfer di pojok perpustakaan itu. Mereka kembali menuangkan ide dan resolusi, namun di setiap saran yang dilontarkan, pasti ada halangan lain yang kemudian membatalkannya. Dua dari mereka menangis karena panik yang berlebihan. Beruntung masih ada air putih yang tersisa sehingga mereka diberi air untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya, salah satu perempuan yang menjadi menteri Pemberdayaan Perempuan di BEM fakultas memberikan saran yang tampaknya menyeramkan, tapi cukup memungkinkan. She proposed the worst scenario.


“Guys, sambil kita mikirin solusi yang possible, gimana kalau kita pikirin scenario terburuknya?”


“Maksudnya?”


“Kita nginep disini.”


Mereka pun akhirnya benar-benar tidur di perpustakaan selama semalaman karena tidak ada bantuan yang datang. Beruntung di perpustakaan tersebut ada karpet dan bean bag, sehingga mereka bisa tidur dengan posisi yang nyaman. Setelah pagi tiba, mereka akhirnya berhasil keluar dan pihak perpustakaan meminta maaf karena lalai. Media sosial pun juga sudah pulih kembali sehingga mereka bisa mengabari keluarga dan teman-teman. Peristiwa malam itu sangat berbekas dan ketika akan berpisah menuju kediaman masing-masing, mereka memutuskan untuk tidak putus kontak dan berteman sampai-sampai mereka punya markas yang terletak di dekat kampus. Sirkel pertemanan ini dipanggil dengan nama “Merak” hanya karena si Koko itu melihat poster merak yang gelap di perpustakaan dan ketakutan, hingga seluruh anak yang terjebak di perpustakaan dibuat panik dan berusaha menenangkannya. Tapi sekarang, Merak tidak hanya Merak.


“Eh tau gak Merak tuh apa?”


“Apa?”


“Merak merupakan perkumpulan mahasiswa Muda, Energik, Rajin, Aktif dan Kreatif! Camkan! FAHAM? ”

Report Page