Laut dan Bumi

Laut dan Bumi


Gemuruh ombak memenuhi indra pendengaranku. Sang mentari tak lama lagi akan menyembunyikan sinarnya, silih berganti dengan si cantik rembulan.

'Hari ini pantai sangat sepi,' ucapku dalam hati sambil melihat sekeliling.


Ntah apa yang ada dalam pikiranku, aku sangat ingin bermain dengan ombak padahal hari sudah mulai gelap. Aku melangkahkan kakiku mendekati deburan ombak yang akan datang, menikmati sensasi dingin pada kaki ku. Hanya sebatas lutut saja, aku tidak ingin badanku terlalu basah hari ini. Aku terus berjalan, menghampiri setiap ombak yang akan datang. Senyum terukir dari bibirku, seraya menatap keindahan langit.

"Oh, lihat! Bulannya sedang bersinar dengan sangat indah saat ini walaupun tanpa adanya bintang disekitarnya. Sama sepertiku." ucapku pada diriku sendirku lalu berjalan menjauhi ombak yang datang. Sudah cukup bermainnya, pikirku.


Kini aku duduk di atas hamparan pasir pantai sambil melihat setiap ombak yang datang hingga tanpa sadar ternyata ada sepasang mata yang sedang memperhatikanku.


"Hai, maaf gue liatin lo tadi pas gue ke sini. Boleh gue duduk disini?" tanya orang tersebut yang sekarang sudah berada di sebelahku.

"Boleh, duduk aja." ucapku sambil menganggukan kepala.

"Lo suka laut?" tanya orang itu.

Aku hanya menganggukan kepalaku tanpa menoleh kepadanya.

"Ah iya, kenalin gue Bhumi. Rabhumi Wiratama." ucapnya seraya mengulurkan tangan pertanda berkenalan.

"Jinna." ucapku singkat sambil menggenggam tangannya dan tersenyum tipis.


Aku kembali memandangi keindahan laut serta sesekali memandang bulan yang sedang bersinar terang. Seolah menganggap diriku sedang sendirian disini. Benar, suasananya kembali sunyi.

Report Page