Perjalanan Pertama: Petualangan Roh

Perjalanan Pertama: Petualangan Roh

Media Tashfiyah
Perjalanan Kehidupan Setelah Kematian. Buku ini mengupas perjalanan anak manusia setelah meninggalnya.

Setiap anak manusia pasti melalui suatu masa, ketika itu ia belum berwujud apa-apa. Itulah anak Adam. Dahulu, ia tidak pernah disebut-sebut. Saat ayah bundanya menikah, mulailah ia tumbuh sebagai benih dalam kegelapan alam rahim yang pekat berlapis-lapis. 

Awalnya hanya setetes air tak berharga. Lambat laun berubah wujud menjadi serpihan-serpihan darah merah merona. Lalu membesar menjadi segumpal daging. Setelah itu, tulang belulangnya pun bersemi. Dari air mani ini, Allah jadikan segumpal darah, lalu dari darah menjadi segumpal daging, lalu dari segumpal daging menjadi tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu dibungkus dengan daging kembali dan dibentuklah bagian-bagian tubuhnya seperti pendengaran, penglihatan dan organ-organ lainnya.

Ketika genap berusia 4 bulan, ia yang hanya seorang diri dalam rahim ibu kedatangan tamu mulia. Datang menjalankan titah Yang Mahamulia. Tidak ada perjamuan yang dihidangkan kepada sang utusan yang ternyata membawa misi kehidupan. Jabang bayi yang kemarin raganya tergolek lemah dan terbungkus selaput itu kini bergerak-gerak. Tidak lama berselang. Sang utusan memang baru saja meniupkan roh untuk anak Adam. Inilah permulaan roh dan jasad yang menandai dimulainya kehidupan baru seorang insan.

Dicatatnya untuk jabang bayi ini jatah rezekinya dan jatah umurnya. Bahkan nasib yang akan dialaminya ketika kembali ke haribaan Allah pun tak luput dari catatan.

Sekitar sembilan bulan sepuluh hari, ia tinggal dalam tiga kegelapan: kegelapan perut, kegelapan rahim, dan kegelapan selaput yang menutup janin, akhirnya ia keluar dengan seizin Allah untuk kemudian menjadi seorang mukallaf yang mengemban amanah-Nya. Ia, menghirup udara segar. Menyadap suara, mengamati lingkungan sekitar, menyerap ilmu sedikit demi sedikit. Dari yang sederhana hingga yang butuh nalar.

Saat dilahirkan dari rahim ibu, anak Adam tiada punya dosa. Sedikit pun. Ia telah mengenal siapa penciptanya. Dia tahu bahwa Allah sajalah yang berhak diibadahi. Itulah fitrah yang Allah tanamkan dalam sanubari setiap insan. Hanya saja keadaan ayah-ibu, dan lingkungan sangat mempengaruhi fithrah tersebut, tetap kokoh atau malah melemah dan tercabut dari sanubarinya? 

Karenanya, Allah tunjukkan kepadanya dua jalan; satunya jalan keselamatan dan yang lain kebinasaan. Manusia pun terbagi menjadi dua golongan. Ada golongan yang bersyukur yang menempuh jalan ridha Allah dan ada pula golongan yang kufur yang memperturutkan nafsu syahwatnya.

Setelah manusia mengambil seluruh jatah rezekinya di dunia yang telah Allah tetapkan, maka ajal pun akan menjemput, tanpa dimajukan ataupun ditangguhkan barang sekejap saja. Akan datang malaikat maut yang menghancurkan semua harapan ahli dunia, akan tetapi menjadi berita gembira bagi kaum yang merindukan Rabb-Nya.

Selama menjalani kehidupan di alam dunia ini, roh dan jasad anak Adam terus menyatu, hingga ketika berakhir jatah kehidupan, roh berpisah dari jasadnya. Ke mana?

Saat dilahirkan dari rahim ibu, anak Adam tiada punya dosa. Sedikit pun. Ia telah mengenal siapa penciptanya. Dia tahu bahwa Allah sajalah yang berhak diibadahi. Itulah fitrah yang Allah tanamkan dalam sanubari setiap insan.

Roh adalah sesuatu yang tak bisa dilihat mata. Ia ada namun tak bisa diraba. Roh adalah makhluk Allah. Bukan ada dengan sendirinya. Allah yang Memiliki, Allah pula yang Menguasai. Dialah yang menentukan kapan ditiupkan kapan pula diambil.

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” [Q.S. Az Zumar:42].

Allah, Dialah yang mengambil jiwa saat datang kematian dan saat manusia tidur. Jiwa orang yang tidur itu akan tetap Ia tahan jika vonis mati dijatuhkan. Dan akan dikembalikan lagi bila masih tersisa jatah hidup hingga waktu yang telah ditentukan.

Sekali lagi, jika waktu yang telah ditentukan itu tiba, roh akan keluar dari jasad. Selalu on time. Tidak pernah tertinggal sedetik jua dari jadwal, atau terburu keluar, berkelana sebelum ajal. Ke mana?

jika waktu yang telah ditentukan itu tiba, roh akan keluar dari jasad. Selalu on time. Tidak pernah tertinggal sedetik jua dari jadwal, atau terburu keluar, berkelana sebelum ajal. Ke mana?

Pembaca yang saya cintai, Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu 'anhu bercerita panjang akan petualangan roh-roh manusia. Cerita nyata dan haq. Sebab ceritanya bersumber dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Yang lisannya tidaklah mengucapkan sesuatu kecuali haq. Mari kita simak penuturannya.

Saat itu kami bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengiringi jenazah saudara kami dari Anshar. Saat tiba di tanah pekuburan, Nabi duduk. Kami pun ikut duduk tenang mengitarinya. Tiada sedikit pun badan kami berkutik, seolah kepala kami di atasnya bertengger seekor burung, yang tak kami inginkan terbangnya. (Suasana hening dan khusyuk meliputi kami). Tangan beliau yang mulia memegang ranting, sembari digerakkan menggores tanah pekuburan. Kepala beliau yang diberkahi menengadah ke langit lalu bersabda, “Mintalah kalian perlindungan kepada Allah dari azab kubur!”

“Sesungguhnya, setiap orang yang beriman di saat kematian datang menjelang, berpisah dari dunia menuju alam akhir, akan didatangi oleh serombongan malaikat yang turun dari langit. Wajah mereka putih bersih bak mentari. Membawa wewangian dan kafan surgawi. Duduk rapi mengelilingi orang ini sejauh batas pandang, sampai datang malaikat Pencabut Nyawa. Di samping kepala orang ini, Sang Malaikat menyeru, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah dan songsonglah ampunan dan keridaan dari Allah.” 

Roh orang yang beriman akan keluar dengan mudah bagai aliran air yang keluar dari mulut kendi. Begitu keluar maka malaikat-malaikat pun segera membungkus roh yang baik ini dengan kafan surgawi beserta wewangiannya. Sungguh, keharuman roh ini seperti hembusan aroma misik terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Setiap kali roh ini melewati sekumpulan malaikat, mereka bertanya-tanya, “Aroma wangi apakah gerangan?”

Malaikat yang lain menjawab, ini adalah roh si fulan putra fulan. (Orang itu akan disebut dengan nama yang paling baik saat di dunia) diarak sampai gerbang langit. Begitu gerbang dibuka, roh ini melanjutkan perjalanannya, diantar oleh malaikat-malaikat yang berada pada tiap langit, demikianlah sampai di langit ke-7.

Allah subhanahu wata'ala berfirman, “Catatlah hamba-Ku ini di ‘Illiyyiin di langit ke-7. Lalu kembalikanlah ke jasadnya di muka bumi. Sesungguhnya dari sanalah ia Aku cipta. Di sanalah ia dikubur, dan dari sanalah ia akan Kubangkitkan.” 

Setelah roh itu bergabung kembali dengan jasad, datanglah dua malaikat. Ia didudukkan dan ditanya, “Siapakah Rabb-Mu?” “Rabbku adalah Allah.” “Apa agamamu?” “Agamaku Islam.” “Tahukah kamu lelaki yang diutus di zamanmu?” “Dia adalah utusan Allah.” “Dari mana kau tahu?” “Dahulu aku baca Kitab Allah. Aku mengimani dan membenarkan semuanya.” 

Dalam hanyut keheningan, Nabi melanjutkan kisahnya. Seketika itu terdengar pekik dari arah langit, “Benar jawaban hamba-Ku. Hamparkan untuknya permadani dari surga, sematkan untuknya pakaian ahli surga, bukalah pintu surga.”

Maka bertiuplah ke arahnya hawa surga yang wangi semerbak, kuburnya pun jadi luas sejauh batas pandang. Lalu datanglah seorang pemuda dengan paras indah yang juga menebar keharuman. Dengan wajah berseri pemuda ini berkata, “Bergembiralah dengan segala yang membuatmu bahagia. Inilah hari yang telah dijanjikan untukmu.” 

“Siapakah engkau wahai pemuda? Wajahmu yang demikian berseri menyiratkan kebaikan, siapa?”

“Aku adalah amal kesalehanmu.” 

Demi merasakan kenikmatan kubur ini, maka anak Adam yang beriman ini meminta, “Wahai Rabbku, segerakanlah hari kiamat! Wahai Rabbku, segerakanlah hari kiamat, agar aku kembali berkumpul bersama istri dan anak-anakku.”

Kami tetap dalam keheningan dan khusyu’ yang merambah relung hati. Nabi melanjutkan kisah tersebut..

Demi merasakan kenikmatan kubur ini, maka anak Adam yang beriman ini meminta, “Wahai Rabbku, segerakanlah hari kiamat! Wahai Rabbku, segerakanlah hari kiamat, agar aku kembali berkumpul bersama istri dan anak-anakku.”

“Sedangkan anak Adam yang kafir, maka ketika berada di tepi jurang kematian, malaikat-malaikat yang bermuka legam menyerbunya. Bersama mereka ada secarik kain kasar. Mereka merubung calon mayat ini sejauh batas pandang. Malaikat pencabut nyawa datang. Lalu dengan kasar malaikat ini berseru, “Keluar! Sambutlah kemurkaan Rabbmu dan amarahnya-Nya. 

Roh itu pun berserakan di dalam jasad sehingga malaikat pun mencabut roh tersebut dengan paksa sehingga urat-uratnya terbawa bersama roh. Persis seperti sebilah kawat barkarat yang ingin dilepaskan dari kain wol basah yang melilitnya. Ketika roh itu berhasil dicabut, malaikat-malaikat bermuka legam itu segera membungkusnya dengan kain yang telah disiapkan. 

Roh itu mereka bawa ke langit. Baunya sangat busuk menyengat. Lebih busuk dari bangkai yang pernah ada di muka bumi. Setiap melewati kerumunan Malaikat, mereka bertanya, “Siapa gerangan roh yang jelek ini. “Fulan anak dari si Fulan.” Orang ini dipanggil dengan julukan terjelek yang disandangnya di dunia. Ketika sampai di langit dunia, dan ingin meneruskan perjalananan menuju Allah, malaikat pengiring minta agar gerbang dibuka. Namun malaikat penjaga langit tidak bergeming dan tidak berkenan membukakan pintu untuk roh jahat itu.

Kemudian Rasulullah n membaca ayat:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Tidak akan dibukakan pintu-pintu langit untuk mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, hingga unta masuk ke dalam lubang jarum.” [Q.S. Al A’raf: 40].

Lalu Allah berfirman, ‘Tulislah kitab (catatan amal)nya di sijjin, di bumi yang paling bawah.’ Lalu rohnya dilempar begitu saja. Kemudian beliau membaca ayat:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ 

“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [Q.S. Al Hajj: 31].

Lalu Allah berfirman, “Catatlah orang ini pada sijjil di dasar bumi yang ketujuh. Kembalikan roh ini ke jasadnya.” Malaikat pun melontar roh jahat ke dalam jasad. Setelah menyatu, datanglah malaikat untuk mengujinya dengan 3 pertanyaan; tentang Rabbnya, tentang lelaki yang diutus, dan agama yang dianutnya. Satu pun tidak ada yang bisa dijawab. Dia hanya bisa berucap, “Hah! Aku tidak tahu.” 

Seketika itu, terdengarlah seruan dari langit. “Dia dusta! Hamparkan untuknya tikar dari api neraka. Selubungkan untuknya pakaian neraka. Bukalah pintu-pintunya. Biar ia merasakan sengat api dan panas uapnya.”

Tidak sebatas itu penderitaan anak Adam yang kafir ini. Kuburnya pun mendadak menjadi sempit menghimpit, sehingga tulang rusuknya bersilangan. Dalam penderitaan yang bertumpuk, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang bermuka seram dan muram menebar bau busuk menusuk. Lelaki itu adalah jelmaan dari amal kejelekan di dunia. Orang jelek ini berkata, “Berbahagialah dengan segala yang akan membuatmu menderita. Inilah hari yang telah dijanjikan untukmu.” 

Demi merasakan siksa kubur yang demikian dahsyat ini, ia pun meminta, “Wahai Rabbku batalkanlah hari kiamat! Wahai Rabbku batalkanlah hari kiamat. Jangan Engkau tegakkan!” [H.R. Ahmad dan Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Misykah no. 1630 dan Shahihul Jami’ no. 1676]. Demikianlah. 

“Tidak akan dibukakan pintu-pintu langit untuk mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, hingga unta masuk ke dalam lubang jarum.” [terjemah Q.S. Al A’raf: 40].

 Allahu akbar! Sungguh hadits ini sangat cukup untuk menjadi pelajaran. Coba baca sekali lagi dan renungi! Banyak sekali faedah yang akan bisa kita petik darinya. Namun karena keterbatasan ruang, di sini hanya akan disebutkan satu kesimpulan penting yang terkait dengan salah satu prinsip akidah Ahlus sunnah wal jamaah yaitu penetapan akan adanya azab dan nikmat kubur. Ahlus sunnah wal jamaah meyakini bahwa azab dan nikmat di dalam kubur itu nyata, benar ada, dan dirasakan oleh jasad manusia.

Keyakinan ini ditentang oleh sebagian kelompok yang tidak meyakini adanya azab kubur. Contohnya, kaum Mu’tazilah, sang pemuja akal. Kata mereka, sering sekali kita melihat kuburan, namun kita tidak pernah terdengar adanya suara siksa dari dalam kubur. Sehingga, tidak mungkin ada siksa di dalam kubur.

Keyakinan kelompok Mu’tazilah ini sangat keliru. Sungguh, ada banyak ayat Al Quran yang melandasi keyakinan adanya azab kubur. Di antaranya adalah firman Allah:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Pada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (diperintahkan kepada malaikat), ‘Masukkan Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!’” [QS. Ghafir: 46].

Ayat-ayat lain yang menjadi dalilnya adalah surat As Sajdah: 21, Surat Thaha: 124, Surat Ibrahim: 27 dan Surat Al An’am: 93. Pada ayat-ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan adanya azab kubur sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah. (untuk lebih rincinya silakan merujuk ke kitab Tafsir as Sa’di dan kitab Tafsir Ibnu Katsir pada ayat-ayat tersebut).

Adapun dalil dari hadits, maka sangatlah banyak hingga mencapai derajat mutawatir, di antaranya adalah hadits Al Barra` bin ‘Azib yang agung ini. Sehingga wajib untuk meyakini dan mengimaninya, tanpa mendalam-dalami detailnya tanpa adanya dalil. Sebab, perkara ini adalah sesuatu yang gaib. Dan sesuatu yang gaib tidak mungkin dijangkau oleh akal secara rinci tanpa adanya dalil.

Syariat ini tidak pernah membawa sesuatu yang tidak masuk akal. Segala hal yang datang dari syariat pasti sejalan dengan akal yang sehat. Namun terkadang akal tidak bisa menjangkaunya. Contohnya, kembalinya roh ke jasad (di alam barzakh) itu pasti terjadi. Hanya saja, akal kita kadang menyamakan dengan dimasukkannya roh ke dalam jasad di kehidupan dunia. Karena ini alam barzakh, tidak seperti yang lazim ada di dunia.

Perlu dipahami bahwa yang dimaksudkan dengan azab kubur itu bukanlah azab yang berada di dalam tanah, namun azab di alam lain yaitu barzakh. Sehingga setiap orang yang meninggal berhak untuk mendapat azab atau nikmat yang menjadi bagiannya, sama saja apakah ia dikuburkan ataupun tidak, dimakan binatang buas atau terbakar hingga menjadi debu lalu ditebar ke udara, disalib, atau tenggelam di laut. Tetap akan sampai padanya azab atau nikmat sebagaimana sampai pada orang yang dikubur. 

Harus dipahami dengan benar maksud Rasulullah pada hadits-hadits, jangan melampaui batas dan jangan membantahnya. Sebab, salah dalam memahami apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya merupakan pangkal dari setiap kesesatan yang muncul dalam Islam. Hal itu juga merupakan pangkal setiap kesalahan. Terlebih lagi jika ditambah dengan buruknya niat. Wallahul musta’an, Allahlah tempat kita memohon pertolongan.

setiap orang yang meninggal berhak untuk mendapat azab atau nikmat yang menjadi bagiannya, sama saja apakah ia dikuburkan ataupun tidak, dimakan binatang buas atau terbakar hingga menjadi debu lalu ditebar ke udara, disalib, atau tenggelam di laut. Tetap akan sampai padanya azab atau nikmat sebagaimana sampai pada orang yang dikubur.

Bisa kita ambil satu kesimpulan, tahapan kehidupan itu itu ada tiga macam; dunia, barzakh, dan akhirat. Allah telah menjadikan hukum-hukum khusus bagi masing-masingnya. Allah juga menciptakan manusia terdiri dari roh dan jasad, lalu Allah jadikan hukum dunia bagi badan, sedangkan roh mengikutinya. Hukum barzakh bagi roh, sedangkan badan mengikutinya. Adapun di hari dikumpulkannya manusia dan bangkitnya mereka dari kuburnya, maka hukum, kenikmatan dan azab itu bagi roh dan jasad sekaligus. Sebab roh dan jasad bersatu secara sempurna dengan keterkaitan dan tidak lagi bisa dipisahkan.

Jika makna ini dicermati dengan saksama, maka akan jelas bahwa kubur itu sebagai salah satu taman surga atau jurang neraka. Hal ini sangatlah sesuai dan masuk akal. Yang demikian itu benar adanya tanpa keraguan. Dan dengan ini, terbedakan antara kaum mukminin yang beriman terhadap perkara gaib dengan selain mereka. Wa billahi taufiq. [Disadur dari Syarh Al ‘Aqidah ath Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi t]

Pembaca, roh termasuk perkara ghaib. Kita sebagai orang yang beriman dituntut untuk mengimani apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kisah Al Bara` tadi adalah salah satu sisi kehidupan dari makhluk Allah yang bernama roh yang disampaikan ilmunya kepada kita. Ilmu tentang roh termasuk perkara Allah. Dan tidaklah kita diberi ilmu tentangnya kecuali sedikit.

Al Imam Al Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, “Suatu ketika aku berjalan beriringan bersama Nabi di sebuah reruntuhan di salah satu sudut Madinah. Nabi berjalan dan bersandar pada sebilah tongkat dari pelepah kurma. Kami berpapasan dengan beberapa orang Yahudi. Lalu mereka saling bersahutan, “Tanyakan kepadanya tentang roh.” Yang lain berujar, “Jangan! Apakah kalian suka jika ia nanti memberi jawaban yang justru membuat kalian resah.” “Tidak peduli! Aku akan tetap bertanya kepadanya.” Dalam riwayat, mereka memang bertanya hanya sekadar menguji, apakah ia benar-benar Nabi atau seorang pendusta. 

Maka salah satu dari mereka bangkit dan berseru, “Wahai Abul Qasim, apa itu roh?” Tiba-tiba Nabi terdiam. Aku yakin, Nabi pasti sedang mendapat wahyu. Setelah beberapa saat, beliau berseri dan membacakan sebuah ayat:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah bahwa, ‘Roh itu termasuk perkara Rabbku.’ Dan kalian tidaklah diberi ilmu kecuali sedikit.” [Q.S. Al Isra’:85]

Terbuktilah kenabian beliau, sebab beliau serahkan ilmu tentang hal ghaib ini kepada Allah. Maka dengan amat menyesal, mereka berujar, “Bukankah sudah aku katakan agar kamu tidak bertanya apapun kepadanya?” 



Baca kisah perjalanan selanjutnya dalam buku Perjalanan Kehidupan Setelah Kematian.

Pesan di WhatsApp redaksi Tashfiyah atau pemasaran kami.

Report Page