Perbedaan Suriah, Syria, dan Syam
zawaya.id
Seberapa sering kita mendengar kata "Suriah"? Saya yakin cukup sering–jika dinisbatkan pada manusia yang melek teknologi dan berita. Tak perlu basa-basi, kata ini memang sempat menjadi headline di berbagai media kabar, baik di koran, televisi, maupun viral di media sosial. Terutama di kisaran tahun 2011 sampai penghujung tahun 2016.
Bahwa berita dengan kata kunci "Suriah", tak lepas dari tiga tema: konflik, perang, dan krisis. Itu bukanlah hal asing. Jadi terasa logis, bahwa masyarakat secara umum punya stigma "Suriah=Konflik". Toh, memang bertahun-tahun kita dicekoki bahwa setiap kata "Suriah" berarti berita tentang negara konflik. Apalagi dilengkapi dengan foto tank-tank besar, tentara, atau anak kecil yang berdarah-darah. Lengkaplah sudah stigma itu.
Tenang saja, saya di sini bukan untuk membantah fakta itu. Memang benar, ada konflik di Suriah. Meskipun ada beberapa poin penting yang perlu ditekankan dan jarang disorot–mungkin di lain kesempatan, saya akan membahas topik tersebut dari sudut pandang seorang pelajar asing yang sudah tinggal lebih dari setahun di negara yang dicap "conflict's state" ini.
Namun, saya harus menyinggung tentang konflik di pembukaan artikel ini karena memang tak bisa dimungkiri, dunia menjadi kenal dan sering mendengar kata "Suriah", semenjak negara ini dilanda konflik pada tahun 2011. Atau bisa dibilang masyhur dengan kata "Syria", kalau diberitakan dalam bahasa Inggris.
Di saat yang sama, umat muslim barangkali tak asing dengan nomenklatur "Syam". Baik mendengarnya di suatu ceramah agama, membacanya di sebuah buku, atau justru masih ingat betul sirah nabawiyyah, bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah berdagang ke negeri Syam, jauh sebelum beliau diutus menjadi Rasul, ditemani pamannya, Abu Thalib [1].
Istilah "Syam" kembali tergaungkan, dengan wasilah para penceramah dan tokoh agama. Seruan mereka tak lepas dari fakta bahwa tanah Palestina terus diokupasi dan dicaplok seusai perang dunia kedua. Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa Palestina adalah Syam. Namun, ketika konflik mulai melanda negara Suriah, istilah "Syam" juga sering digunakan untuk mengumpulkan dana bantuan dan menarik simpati umat Islam. Jadi, sebenarnya apa standar dan batasan untuk nomenklatur "Syam"?
Ada beberapa sisi perbedaan dan persamaan di antara nomenklatur "Suriah", "Syria", dan "Syam". Akan saya bahas perbedaan ketiganya terlebih dahulu, kemudian persamaannya.
Perbedaan Suriah, Syria, dan Syam
Suriah
Suriah adalah istilah bahasa Indonesia yang digunakan untuk sebuah negara di Timur Tengah yang berbatasan dengan negara Turki di sebelah utara, Irak di timur, Laut Tengah di barat, dan negara Yordania di selatan, serta beribu kota Damaskus [2].

Barangkali tak perlu penjelasan terlalu detail mengenai spesifikasi negara ini, karena memang yang saya tekankan adalah bahwa kata "Suriah" merupakan pelafalan yang baku dalam bahasa Indonesia. Bukan "Syria".
Sehingga ketika terdapat orang yang sedang mengobrol dalam bahasa Indonesia, dan membicarakan negara ini, maka yang lebih baku dan dibenarkan secara bahasa adalah dengan kata "Suriah". Hal tersebut juga bisa kita amati dalam berita-berita baku di koran, televisi, dan media sosial [3].
Jika ditelisik, kata "Suriah" ternyata memang lebih dekat dengan nama resmi negara ini ketika dilafalkan dalam bahasa Arab, yaitu al-Jumhūriyyah al-'Arabiyyah al-Sūriyyah (الجمهورية العربية السورية). Nampak jelas, bahwa pelafalan kata "al-Sūriyyah" lebih dekat dengan kata "Suriah", daripada "Syria".
Syria.
Adalah istilah bahasa Inggris yang digunakan untuk menunjukkan makna yang sama dengan kata "Suriah" dalam bahasa Indonesia. Atau bisa dibilang, "Syria" adalah terjemah bahasa Inggris dari "Suriah".
Sederhananya, jika ada orang yang mengobrol dalam bahasa Inggris, dan membicarakan negara ini, maka yang lebih baku dan dibenarkan secara bahasa adalah "Syria". Sebagaimana dapat kita amati dalam berita-berita berbahasa Inggris di berbagai media [4].
Jika merujuk pada penerjemahan nama negara dari bahasa resminya ke bahasa asing, maka penerjemahan nama negara ini cukup berdekatan ketika dilafalkan. Setidaknya dalam bahasa Inggris dan Indonesia. "Al-Sūriyyah" jika dilafalkan dalam bahasa Arab (bahasa resmi negara), "Suriah" dalam bahasa Indonesia, dan "Syria" dalam bahasa Inggris. Berdekatan bukan?
Tidak seperti penerjemahan nama negara Mesir ke bahasa Inggris yang jauh berbeda dari nama resmi negara, yaitu "Egypt". Mungkin faktor ini yang menyebabkan pelafalan "Suriah" dan "Syria" seringkali tertukar-tukar dalam penggunaan masyarakat awam, sebagaimana saya alami sendiri, ketika ditanyai mengenai negara ini, baik oleh teman maupun kerabat.
Syam.
Syekh Qasim Muhammad al-Nuri dalam mukaddimah karyanya, Ithaf al-Anam fi Fadhli Iqamati bi al-Syam [5], menuturkan bahwa lafal "al-Syam" (الشام) adalah istilah untuk negeri yang terletak di arah sebelah kiri (pintu) kakbah (مشأمة القبلة), sebagaimana dikutip dari kamus al-Muhith.
Dengan kata lain, "Syam" adalah negeri yang berada di sebelah utara kota Mekkah. Alias jika ditilik pada kebanyakan peta saat ini, maka terletak di atas wilayah Arab Saudi. Meliputi negara Palestina, Yordania, Suriah, dan Lebanon secara geografis [6].
Kata "Syam" di kalangan akademisi muslim dan orang yang berkecimpung dalam keilmuan Islam, harusnya sama sekali bukan hal asing. Dari materi tafsir sampai sejarah, nomenklatur "Syam" kerap kali disebutkan. Atau bahkan, umat muslim secara umum, agaknya pernah mendengar kata "Syam" dalam buku-buku sirah nabawiyyah maupun biografi Nabi Muhamamad ﷺ. Di antara penyebutan "Syam" dalam kitab ulama, yang kurang lebih sering dilantunkan banyak dari masyarakat Indonesia adalah dalam Kitab Maulid al-Diba'i [7]:
"مولده بمكة، و هجرته بالمدينة، و سلطانه بالشام"
"Kelahirannya adalah di kota Mekkah, hijrahnya di kota Madinah, dan perdagangannya adalah di Syam."
Atau jika ingin kata "Syam" yang diucapkan langsung dari lisan Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari, dari Ibnu 'Umar–radhiyallahu 'anhuma–[8]:
"اللّهم بارك لنا في شامنا، اللّهم بارك لنا في يمننا"
"Ya Allah, berkahilah Syam kami! Ya Allah berkahilah Yaman kami!". Disebutkan dalam riwayat tersebut, bahwa Baginda Rasulullah ﷺ bahkan sampai mengulang doa itu dua atau tiga kali.
Maka sudah seharusnya seorang muslim mengetahui tentang makna "Syam", sebagai negeri yang menjadi bagian dari sejarah hidup Nabi Muhammad ﷺ, dan merupakan tanah yang diberkahi, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur'an, riwayat hadis, dan keterangan para ulama.
Persamaan Kata Suriah, Syria, dan Syam
Setelah mengetahui ketiga makna nomenklatur tersebut, kita dapat menarik benang merah bahwa ketiganya memiliki satu kesamaan. Baik "Suriah", "Syria", maupun "Syam", ketiganya dapat digunakan untuk merujuk pada wilayah sebuah negara di Timur Tengah, sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Hanya saja, kata "Syam" lebih umum daripada kata "Suriah" dan "Syria", karena juga meliputi Palestina, Yordania, dan Lebanon. Sedangkan Suriah/Syria hanya merujuk pada nama sebuah negara–yang sejak beberapa tahun lalu sering diberitakan terkait konflik.
Suriah/Syria adalah bagian dari Syam, dan Syam belum tentu Suriah.
"Suriah" adalah kata baku dalam bahasa Indonesia. "Syria" adalah kata baku dalam bahasa Inggris. "Syam" adalah kata baku dalam bahasa Arab, yang kemudian kerap disinggung di berbagai bidang dalam keilmuan Islam.
Harapan saya dalam menulis artikel ini adalah berusaha mengajak pembaca sekalian untuk membangun kesadaran berbahasa semampu kita. Karena bahasa adalah bagian penting dari peradaban sebuah bangsa. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang menjaga dan merawat budayanya sendiri, termasuk merawat bahasanya.
Tentu saja, tak ada masalah ketika sedang ngopi-ngopi dan mengobrol santai, kemudian dalam pengucapan tidak sesuai 100% dengan kaidah bahasa baku. Toh, faktanya, sehari-hari kita juga sering mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing ataupun bahasa daerah. Setidaknya kita tahu, mana yang lebih benar dan sesuai kaidah, sebagai tanggungjawab keilmuan. Sekaligus, agar tidak kebablasan salah di forum-forum formal.
Demikian pembahasan saya tentang Suriah.
There it is, my opinion about Syria.
أكتفي بكلامي هذا عن الشام.
Wallahu A'lam..
Tabik!
***
[1] Qashashun min Hayati al-Rasul ﷺ wa Ashhabihi radhiyallahu 'anhum hal. 34-36, karya Syekh Muhammad 'Ali Daulah (Dar al-Qalam: Damaskus. 2014).
[2] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Suriah
[3] Di antaranya https://www.sindonews.com/topic/1065/suriah , https://www.cnbcindonesia.com/tag/suriah , dan https://youtu.be/SGfL4s83O4U .
[4] https://www.aljazeera.com/where/syria/ , https://www.theguardian.com/world/syria , dan https://youtu.be/amhn_XH5BdI .
[5] Ithaf al-Anam fi Fadhli Iqamati bi al-Syam hal. 6, karya Syekh Qasim Muhammad al-Nuri (Dar al-Taqwa: Damaskus. 2016).
[6] Ibid.
[7] Maulid al-Diba'i, karya al-Imam al-Syaikh 'Abdurrahman al-Diba'i.
[8] Ithaf al-Anam fi Fadhli Iqamati bi al-Syam hal. 50, karya Syekh Qasim Muhammad al-Nuri (Dar al-Taqwa: Damaskus. 2016).
Source zawaya.id