Perasa Buatan.

Perasa Buatan.

JUNE

Kemarin udara dingin, angin berpusara bagai buaian dekap indung. Derak melompat-lompat, menyilet nadi dengan fakta legowo. Tukang pos bajang sampai mata keranjang, menyusut dan meringkih ibarat berangkas sama dengan perawan menstruasi. Roda kendaraan berpijar, menembus daratan yang kini ibarat tidak pernah digauli khalayak pasar. Semuanya sibuk berkamuflase, bercumbu keras dengan abstraksi nyaman pada entitas kian memekik.

Kemarin udara dingin, kaca kini berembun dan sibuk bersetubuh dengan debu. Injeksi buram menguar, menolak keras interupsi sebuah refleksi. Padahal aku berdiri, merasa kerontang dengan cekungan ajal yang mengejar. Kini aku dibunuh, tepatnya akan terbunuh oleh waktu yang makin paruh. Aku sekarat tapi tak ada fatamorgana yang memantul pada bilah cermin. Padahal aku ingin melihat rupa sinting jelmaan tumbal biadab.

Tumbal dari mereka yang makan kue sendiri. Kue cantik yang seharusnya dibagi dengan porsi rata pada piring-piring mungil yang bersemedi khidmat menunggu jatah. Mereka makan semuanya sendiri, mengelap mulut dengan embel demokrasi belum mati setelahnya. Makan memperhitungkan teoritas dan kualifikasi yang menyongsong egois pribadi buat maju. Peduli apa mereka pada marga sejahtera secara global? selama masih ada di atas hierarki, rantai makanan ibarat cerita sebelum tidur. Cerita yang menjadi satu-satunya gerbang harapanku kalau para egois mau mendaur ulang sedikit intermessonya. Makan untuk mengayomi sumpah serapah pemimpin muka manis yang atheis terhadap hidup rakyat.

Kemarin udara dingin dan sekarang masih sama. Tukang lap kaca belum bisa datang karena ia merana, dirasuki jeratan biaya yang tak pernah ramah buat si miskin. Penyakit bangkotannya kambuh namun, peduli apa rongsok-rongsok kebijakan itu. Semuanya pelik, bahkan untuk edukasi. Aku rasa sampai jadi arwah penasaranpun, tampangku tak akan pernah kelihatan sebab kaca-kaca itu belum bersih. Tak akan pernah bersih kalau masih berpijak atas lidah panjang si egois.


Report Page