Pengemis doa Tuhan
Abimanyu
Seorang lelaki bersender pada tembok mengeluarkan korek dan membakar rokoknya. Memasukan kembali koreknya ke dalam saku dan menghisap rokoknya, lelaki itu menunggu temannya untuk membukakan pintu kosannya dengan jinjingan beberapa kotak makanan yang ada di tangannya berniat untuk makan bersama temannya di kosan temannya itu.
"jen?" ucap seseorang yang membukakan pintu kosan tersebut.
Tajendra, Lelaki yang akrab dipanggil Jendra itu menoleh, lalu mematikan batang rokoknya walaupun dia baru sekali menghisapnya. Rasanya tidak enak saja bertamu ke rumah orang dengan rokok yang ia hisap itu. Tajendra langsung sigap berdiri tegak di depan temannya dan siap masuk "yuk masuk." timpal temannya.
Tajendra pun mengangguk dan membiarkan temannya masuk duluan lalu di ikuti Tajendra dibelakangnya.
"pacar lo mana ja?" tanya Tajendra. Eja menoleh pada Tajendra yang mulai duduk di ruang tamu padahal Eja belum mempersilahkan.
"pergi sama ibunya dia." ucap Eja, Tajendra mengangguk, Eja pun pergi ke dapur untuk mengambil piring.
Kembali membawa dua buah piring dan mengambil kotak makan untuk ia sajikan, pada saat mengambil kotak makan Eja bingung kenapa kotak makannya ada tiga padahal mereka hanya berdua.
"ini kenapa ada tiga?" tanya Eja.
"satu lagi tadinya buat Gavin, kirain ada di sini." ucap Tajendra, Eja mengangguk.
"ya udah gue simpen aja yak, ntar gue anter ke rumahnya." ucap Eja.
"iya." ucap Tajendra. Eja membuka kotak makan tersebut lalu melihat ke Tajendra, Tajendra yang di tatap heran memangnya ada yang salah dengan makanannya?
"ayam geprek lagi?" tanya Eja, Tajendra hanya bisa tertawa renyah.
"gue ga punya duit lagi aelah ja." ucap Tajendra sambil menggaruk belakang kepalanya "lagian tu ayam geprek udah murah enak pula." timpal Tajendra.
Eja menggelengkan kepalanya "besok besok gue aja yang beli makanannya." ucap Eja, Tajendra hanya mengangguk saja. Selesai menata makanan itu Eja memberikannya pada Tajendra.
"doa dulu." ucap eja.
"males." timpal Tajendra.
"yeuh, udah ga percaya Tuhan lo?" tanya Eja.
"ga tau deh." ucap Tajendra, Eja pun menggelengkan kepalanya lalu berdoa.
Selesai berdoa mereka pun makan.
"kapan lo terakhir kali ke gereja?" tanya Eja.
"semenjak mama gue meninggal kali, lupa gue." ucap Tajendra sambil melahap makanannya.
"gimana hidup lo mau makmur, ibadah aja ga pernah." ucap Eja.
"doa gue ga pernah di kabulin ja." ucap Tajendra. Tajendra adalah orang yang rajin beribadah dulu, selalu bersedekah apapun itu yang menghasilkan pahala ia lakukan. Tetapi semenjak ibunya meninggal secara tidak lazim, ia malah tidak mau beribadah lagi karena ia pikir percuma, walaupun ia beribadah dengan benar Tuhan tidak memberikan dia hidup yang lebih baik dan layak.
"lo ngeraguin Tuhan lo sendiri? Seberapa hebat lo sampai ngeraguin Tuhan?" tanya Eja.
"Gue? Lo bahkan liat sendiri gue merasa ga berguna, gimana mau ngerasa hebat." ucap Tajendra.
"jangan ngeraguin apa yang udah direncanain sama Tuhan lo boleh ngeluh ke dunia tapi ga akan ada hasil nya." ucap Eja.
"ya gimana ya ja hehehe, lo liat kan dulu gue rajin ibadah. Tapi liat gue sekarang, kehidupan gue, doa gue, usaha gue ga ada hasilnya." Ucap Tajendra sambil terkekeh miris.
"ga ada usaha yang ga ada hasil nya, itu cuma belum waktu nya aja." ucap Eja.
"iya dah." ucap Tajendra.
"gimana tadi sidang cerainya?" ucap Eja, mengalihkan topik.
"ibu gue menang, jelaslah. Orang bapak gue gitu siapa sih yang tahan sama dia. Tahan sama duitnya sih iya." Ucap Tajendra sambil melahap makanannya.
"ayah lo sebenernya mau ga cerai?" tanya Eja lagi.
"engga, ya tapi kasian kan ibu." ucap Tajendra.
"lo udah seneng sama keluarga lo yang sekarang?" tanya Eja.
"engga, gue pernah berdoa biar ibu ga kesakitan terus, kasian dia. Ibu tuh baik banget ja ke gue." ucap Tajendra.
"NAH ITUU, doa lo udah di kabulin sama Tuhan, jen." ucap Eja.
"oh iya kah?" ucap Tajendra sambil mengunyah makanannya.
"hooh, nah kan masih ada sidang kedua tuh, lo hari minggu ke gereja, berdoa sama Tuhan, sedekah juga jangan lupa biar doa lo dikabulin." ucap Eja sambil tersenyum ke Tajendra. Tajendra yang mendengar itu tersenyum senang ternyata ia lupa jika Tuhan sudah mengabulkan doanya yang selama ini ia cari.
"Tapi ja."
"hm?"
"ini gue ikut ayah atau ibu?"