Pelajaran Singkat

Pelajaran Singkat

Bintang Pengelana

ㅤㅤ“Bagaimana sekarang? Apakah kau telah terkubur oleh realitas yang terbuka di atas mayapada ini?” Aku menangkap suara itu, aku sangat mengenali siapa pemiliknya, bahkan tanpa menoleh. Siapa lagi jika bukan sang rembulan? “Cinta itu bengis, ya? Lantunan masyuk darinya mampu membuat siapapun terjebak dalam mantra nirwana hingga mereka dibutakan olehnya. Ah, aku telah berulang kali menyaksikan sandiwara yang sangat manis ini.”

ㅤㅤAku terkekeh. “Jangan menyalahkan perasaan itu, sebab manusia diciptakan dengan akal, tetapi tidak semua menggunakan dengan bijak, sehingga mereka dibutakan olehnya.”

ㅤㅤ“Mengapa kau masih mampu berpijak dengan derana disini? Lihatlah, kau bahkan masih lihai menyumbangkan tawa paling meriah kepada mereka, padahal jiwamu telah sekar dalam sunyi yang tak kau bagi kepada siapapun.”

ㅤㅤAku memandang insan-insan yang berlalu-lalang di bawah guyuran binar kami malam ini. “Aku sering menyaksikan bagaimana satu jiwa yang terjerembab dalam lara mampu menciptakan katalis sendu bagi jiwa lain. Namun, aku disini enggan mengotori binarku dengan lara yang mereka lukiskan, biarlah rantai nestapa ini membelenggu diriku saja.”

ㅤㅤ“Lantas kau pun enggan membenci mereka?”

ㅤㅤAku mengangguk. “Namun, yang seharusnya bersimbah iba adalah mereka, sebab mereka telah tenggelam dalam ombak nestapa hingga kehilangan hati nuraninya, mereka tidak lebih dari seonggok daging yang seharusnya dilarungkan.”

ㅤㅤ“Termasuk diriku, bukan? Aku tidak lebih dari bayangan fana yang tidak seharusnya hidup berdampingan bersamamu.”

ㅤㅤAku menoleh padanya dengan senyuman lembut. “Bila aku telah merayap turun dari nabastala ini tanpa gentar yang mengiringi, maka aku pun akan melarungkanmu bersama kepingan lara yang tertinggal.”

Report Page