Parotidectomy dan Risikonya pada Tingkat Kegantengan

Parotidectomy dan Risikonya pada Tingkat Kegantengan

Sutan Ma'rouf

Sejak 4 tahun yang lalu, pada bagian kiri leher saya, tumbuh benjolan yang terasa cukup mengganggu. Rasanya ngilu dan kadang panas seperti terkena cabai. Rasa sakitnya menyebar hingga ke kepala membuat saya sulit berkonsentrasi. Sudah beberapa kali saya datangi dokter untuk mengkonsultasikannya. Jawabannya berbeda-beda.

Dokter pertama yang saya datangi adalah spesialis penyakit dalam. Menurutnya, tidak ada benjolan di sana. Memang ukurannya yang kecil membuat kehadirannya tidak disadari oleh orang lain.

Selanjutnya saya ke dokter saraf yang menduga ada ketegangan di saraf leher. Ia memberikan obat pereda nyeri, dan pereda ketegangan saraf. Hasilnya tidak memuaskan.

Selanjutnya, saya dirujuk lagi ke dokter rehabilitasi medik. Ia menduga itu hanya ketegangan otot. Penyebabnya adalah kebiasaan menunduk menatap HP dan Laptop. Sayapun diterapi Tens yang dijadwalkan total 18 sesi, tapi saya hanya jalani mungkin 14 sesi. Capek ngantrinya.

Karena tidak ada hasilnya, saya kembali ke spesialis penyakit dalam. Ini dokter yang berbeda dengan spesialis penyakit dalam yang pertama. Ia mencurigai penyebabnya adalah masalah gigi. Memang, benjolan ini pertama kali muncul pada saat gigi kanan saya patah. Tapi ini bengkaknya di kiri. Saya pun berkonsultasi ke dokter gigi dan akhirnya 3 geraham bungsu dioperasi. 

Sayangnya, pasca operasi gigi, benjolannya tetap ada dan mengganggu. Dokter di faskes 1 merujuk saya ke dokter THT. Hasil USG memperlihatkan ada benjolan di parotis atau kelenjar ludah kiri. Saya dirujuk ke RSUI untuk CT-scan 3 fase dengan kontras untuk memastikan. Sesudah CT-scan, Dokter di RSUI merujuk saya ke RSCM.

Di RSCM, hasil CT-scan di UI dibaca ulang (reexpertise). Dokter kemudian memutuskan untuk biopsi guna mengetahui apa jenis benjolan itu. Kalau boleh jujur, biopsi yang ini sakit sekali. Saya sampai mengeluarkan air mata, tak lagi jaga wibawa di hadapan dokter dan suster.

Pola penanganan di RSCM berbeda dengan RS sebelumnya. Di sini kita dihadapi oleh tim dokter, bukan oleh satu dokter. Pada Kamis 30 November lalu mereka meeting membahas treatment apa yang harus dilakukan. Selanjutnya pada Hari Minggu 3 Desember saya ditelpon bahwa benjolan itu harus diangkat dan dijadwalkan operasi pada 8 Desember 2023.

Operasi pengangkatan kelenjar ludah ini disebut Parotidectomy. Proses operasinya berlangsung selama lima jam. Namun karena saya ada masalah jantung, saya harus menjalani proses tambahan di ruang PACU. Jika ditotal dengan persiapan, operasi, ruang pacu, ruang RR, total menghabiskan waktu 12 jam. Dan sebelumnya saya juga disuruh puasa. Total puasa 24 jam. Saya jadi menyesal kenapa tidak berniat untuk sekalian ibadah puasa saja.

Ada dua risiko Parotidectomy yang mencemaskan saya. Pertama, operasi ini menyentuh percabangan 5 saraf wajah yang mengontrol gerakan kelopak mata, pipi, bibir, hidung, alis. Dokter menyampaikan bahwa meskipun mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk berhati-hati, kemungkinan risiko tetap ada. Risikonya bibir mungkin miring, kelopak mata tak menutup sempurna, alis mungkin tak bergerak wajar dan sejenisnya.

Kecemasan saya yang kedua adalah soal kegantengan. Pada operasi ini kulit disayat sejak dari bagian depan telinga hingga ke arah leher. Otomatis nantinya akan meninggalkan bekas luka operasi yang tidak dapat ditutupi. Berbeda dengan operasi di perut yang bisa ditutup oleh pakaian, bagian ini tidak bisa ditutupi kecuali jika saya berhijab. Sayangnya hingga detik ini saya belum mendapatkan hidayah untuk berhijab.

Itu makanya beberapa hari lalu saya sempat mencandai tim dokter, "Saya masih akan tetap ganteng ga, Dok?"

Pagi ini, saya coba perhatikan gerakan wajah saya. Saya beri perintah kepada telinga kanan untuk bergerak. Bisa. Saya beri perintah ke telinga kiri, tidak ada respon. Saya gerakkan bibir kanan, bisa. Saya gerakkan yang kiri, lemah. Saya coba gerakkan kulit kepala dan leher kanan, bisa. Tapi yang kiri tidak bisa. 

Saat dikunjungi dokter jaga, saya tanyakan masalah ini. Jawabannya itulah risiko operasi dan mungkin akan permanen. Oleh karena itu saya harus belajar ikhlas bahwa ada codet di kulit saya, dan bahwa gerakan wajah tidak lagi sempurna.

Saya belajar untuk berbahagia menerima realitas yang baru. Untuk itu saya mencoba tersenyum. Dan ternyata sekarang senyum saya jadi miring, mirip senyum Pak Habibie.

Halah

🤣


Report Page