Pada Detik Kau Melepas Genggamanku.
Mertzlan's Its Pointer: Zhao James."If dreams can come true, what does that say about nightmares...?"
Dulu Gawin percaya mimpi adalah ikrar kecil dari semesta. Jika ia cukup yakin, cukup berharap, maka mimpi itu akan menemukan jalannya menjadi nyata. Dan itu pernah terjadi... Gawin pernah bermimpi tentang Raga sebelum benar-benar memilikinya. Tentang tawa mereka, tentang cara nama Gawin yang yang terdengar lembut di bibir sang Raga. Lalu semuanya hadir, seolah dunia sedang mengabulkan harapan sang insan penuh harap.
Tapi, mungkin itu sebabnya Gawin mulai takut ketika malam-malamnya berubah.
Gawin mulai bermimpi kehilangan Raga. Melihat punggungnya menjauh. Mendengar suaranya terdengar asing. Gawin selalu terbangun dengan dada bak dicabik harimau jantan kelaparan, tapi ia selalu meyakinkan diri: itu cuma mimpi buruk.
Sampai suatu pagi, Raga berdiri di ambang pintu dengan mata yang tak lagi pulang pada Gawin. "Aku harus pergi," tuturnya pelan, seperti tak ingin melukai.
Dan di detik itu, Gawin merasa seperti sedang hidup dalam mimpinya sendiri. Tentu bukan yang indah, yang satunya.
Mendengar itu Gawin hanya tersenyum tipis, berusaha terlihat tegar, tapi di dalam kepalanya hanya ada satu kalimat yang berputar tanpa henti: If dreams can come true, what does that say about nightmares?
Mungkin semesta tak pernah memilih mana yang ingin ia kabulkan. Mungkin ia hanya mendengar apa yang paling kita pikirkan, harapan dan ketakutan dengan cara yang sama.
Kalau mimpi bisa jadi nyata, maka mimpi buruk pun juga hanya tinggal menunggu giliran, kan?