PROSES PENYARINGAN MANUSIA

PROSES PENYARINGAN MANUSIA

AN MU'ASASAH

MANUSIA AWALNYA MUSLIM

Allah Azza wa Jall berfirman

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Ar-Rum 30)

Dan Allah berfirman pula

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰۛ شَهِدۡنَآۛ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Al-A'raf 172)

Maka dari itu imam Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, Ibnu Syihab: "Setiap anak yang wafat wajib dishalatkan sekalipun anak hasil zina karena dia dilahirkan dalam keadaan fithrah Islam, jika kedua orangnya mengaku beragama Islam atau hanya bapaknya yang mengaku beragama Islam meskipun ibunya tidak beragama Islam selama anak itu ketika dilahirkan mengeluarkan suara (menangis) dan tidak dishalatkan bila ketika dilahirkan anak itu tidak sempat mengeluarkan suara (menangis) karena dianggap keguguran sebelum sempurna, berdasarkan perkataan Abu Hurairah رضي الله عنه yang menceritakan bahwa Rasullullah ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?". Kemudian Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, (mengutip firman Allah QS Ar-Ruum: 30 yang artinya: ('Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu").

MENJADI KAFIR (kecuali sebagian kecil saja)

أَوۡ تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّنۢ بَعۡدِهِمۡۖ أَفَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ

Atau agar kamu mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?” (Al-A'raf 173)

Dalam ayat tersebut dijelaskan yang membawa dirinya kafir itu adalah berkat dari keturunan atau kedua orang tuanya sesuai dengan keterangan dari hadist di point pertama tadi.

MENJADI MUSYRIK (Sebagian besar)

Kebanyakan orang dari orang yang mengaku sebagai Muslim yang dulunya sebagai Mukafir justru masuk kedalam kurang kesyirikan. Mereka masih ridha kepada hukum selain Allah, masih menaati pemimpin-pemimpin yang memerangi kaum mukminin, karena pemahaman Tauhid yang belum seluruhnya mereka fahami.

Sebagaimana kaum musyrikin Mekkah, sedikit yang tahu bahwa mereka kaum musyrikin Mekkah pun menyembah Allah, bersumpah atas nama Allah, berpuasa, berhaji.

Kaum musyrikin Quraisy juga melakukan ibadah (shalat) dan shadaqah

Hakim bin Hiram رضي الله عنه berkata; Aku berkata,: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu, saat masih di zaman Jahiliyah aku sering ber'ibadah, mendekatkan diri dengan cara bershadaqah, membebaskan budak dan juga menyambung silaturrahim, apakah dari itu semuanya aku akan mendapatkan pahala?". Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Kamu akan menerima dari kebaikan yang dahulu kamu lakukan". (HR. Bukhari)

  • Kaum musyrikin Quraisy melakukan tawaf

Hisyam bin 'Urwah, 'Urwah رضي الله عنه berkata: "Pada masa Jahiliyah orang-orang melakukan thawaf dengan telanjang kecuali Al Humus dan istilah Al Humus adalah orang-orang Quraisy dan keturunan mereka. Dahulu Al Humus membeda-bedakan manusia, diantara kaum lelakinya ada yang memberi pakaian kepada kaum lelaki sehingga dia thawaf mengenakan pakaian, begitu juga diantara wanitanya memberi pakaian kepada para wanita sehingga dia thawaf dengan pakaian itu. Sedangkan bagi orang yang tidak diberi pakaian oleh Al Humus (quraisy) maka dia thawaf dengan telanjang. Rambongan orang-orang biasanya bertolak dari 'Arafah sedangkan Al Humus (quraisy) dari Jama', atau Muzdalifah. Dia berkata; bapakku telah mengabarkan kepada saya dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa ayat ini (QS Al Baqarah ayat 199) turun tentang Al Humus (yang artinya): ("Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang banyak"). 'Urwah berkata: "Awalnya mereka selalu bertolak dari Jama', kemudian diperintahkan bertolak dari 'Arafah". (HR. Bukhari)

  • Kaum musyrikin Quraisy melakukan haji

Dari 'Aisyah رضي الله عنها berkata Bahwa "orang-orang Quraisy pada zaman Jahiliyah biasa melaksanakan puasa hari 'Asyura'. Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk melaksanakannya pula hingga datang kewajiban shaum Ramadhan. Dan kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang mau melaksanakannya silakan dan siapa yang tidak mau juga tidak apa". (HR. Bukhari)

  • Kaum musyrikin Quraisy melakukan 'itiqaf

Dari Ayyub dari Nafi' bahwa Umar bin Khattab رضي الله عنه berujar; "Wahai Rasulullah! (lewat jalur periwayatan lain) telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Muqatil Telah mengabarkan kepada kami Abdullah Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Ayyub dari Nafi' dari Ibnu Umar رضي الله عنه, katanya; Sekembali kami dari Hunain, Umar bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang nadzarnya yang ia lakukan semasa jahiliyah, yaitu untuk beri'tikaf. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menunaikannya. (HR. Bukhari)

  • Kaum musyrikin Quraisy melakukan puasa Asyura

Dari Aisyah رضي الله عنها dia berkata "Dahulu hari 'Asyura adalah hari yang orang-orang Quraisy pergunakan pada masa Jahiliyah untuk berpuasa. Rasulullah ﷺ pernah melakukan puasa itu. Tatkala sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan pernah memerintahkan untuk berpuasa (pada hari itu), namun ketika perintah puasa ramadlan turun dan diwajibkan, maka puasa 'Asyura ditinggalkan. Akhirnya barang siapa yang ingin berpuasa 'Asyura hendaklah berpuasa, dan barangsiapa yang tidak ingin, maka tinggalkanlah.' (HR. Bukhari)

Maka dari itu Allah Azza wa Jall berfirman dalam surat Az Zumar ayat 3

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِى مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى مَنۡ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.

MENJADI MUSLIM/MUWAHID

Diantara ilmu yang kurang diperhatikan dalam pembelajaran Tauhid itu mereka melebih-lebihkan Muwahid dibandingkan dengan Mukmin, padahal bila kita cermati, Muwahid dan Muslim itu masih satu ilmu. Muslim adalah orang yang berserah diri kepada Allah, untuk apa? Untuk meng-Illah-kan Allah. Jikalau mukmin itu disaat seorang hamba diuji oleh Allah dia selalu menggunakan ilmu Allah untuk segala cobaan tersebut.

Allah berfirman :

مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِىۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

"Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang rugi" (Al-A'raf 178).

Dalil ini sebagai penjegal orang-orang yang Taqlid Buta. Yang selalu membawa-bawa ustad nya pada postingan-postingannya. Seakan-akan jaman ini bukan jaman fitnah yang Rasullullah ﷺ khawatirkan. Seakan-akan para da'i da'i nya bukanlah da'i penyeru api neraka, seakan-akan da'i nya terbebas dari dosa besar. Hingga akhirnya mereka menghinakan orang-orang yang lemah atau yang baru berhijrah, karena telinga mereka hanya bisa masuk setidaknya bergelar L.c.

Perlu diketahui, Sekolah seperti sekolah dasar, menengah dan atas hingga sekelasnya berbeda dengan pemahaman ilmu dalam agama atau Al Haq. Seorang guru disekolah itu tidak akan mungkin bisa tersusul ilmunya oleh murid-muridnya. Guru (sekolah) yang kependekan dari kata di gugu dan ditiru pembelajarannya pasti bermanfaat bagi murid-muridnya, dan yang yang terpenting dia si guru itu tidak akan mungkin terperosok ke dalam kesesatan. Tetapi berbeda dengan ilmu agama yang sejatinya ilmu langit dan bumi. Seorang Ustadz bisa saja terperosok ke dalam kesyirikan atau pembatal keislaman, golongan yang baru selalu akan lebih baik daripada golongan yang sebelumnya.

Maksudnya, ketika dulu seseorang itu salah dalam mengemban tugas agama, setelah mengetahui lebih dalam apa itu agama, apa itu iman, apa itu manhaj dan apa itu Tauhid, dan siap menanggung konsekwensinya, barulah dia termasuk seorang muslim.

Allah Azza wa Jall berfirman

لَآ إِكۡرَاهَ فِى ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَىِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (Al-Baqarah 256)

MENJADI MUNAFIK

Hidayah itulah Tauhid. Awal mulanya iblis dan bala tentaranya tidak melakukan tindakan saadap Allah.

هُنَالِكَ ٱبۡتُلِىَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالًا شَدِيدًا

Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat". (Al-Ahzab 10-11)

Semoga kita diberikan kemudahan dalam agama ini.

MENJADI MUKMIN

Inilah derajat surga, Allah berfirman

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? (Al-'Ankabut 2)

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (Al-Baqarah 155)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتٌ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung. (Al-Buruj 11)

Sangat miris sekali melihat para da'i da'i yang dari dakwahnya menyebut jamaah nya dengan sebutan orang-orang yang beriman, ini hal yang menyebabkan bercampurnya antara pengetahuan muslim dan Mukmin di kalangan umat. Sehingga ada seorang muslim yang dibunuh mereka sebut sebagai Mukmin. Mukmin dan Muslim itu bersifat zhahiriy, ada nampaknya, ada wujudnya, tidak seperti Munafik yang termasuk penyakit hati.

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡئًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Hujurat 14)

Mukmin itu yang mengimani semua rukun iman, dia tahu bagaimana merealisasikan keimanan kepada yang enam tersebut, dan hal itu bisa dilihatnya saat ditimpakan cobaan. Sebagai contoh : dahulunya seorang mukmin itu penuh dengan kekayaan, tetapi setelah mengimani rukun-rukun Iman si Mukmin itu malah jatuh sengsara, dia berkata "Sungguh Nabi Ayub jauh lebih parah menimpa saya ini, beliau عليه السلام diberi kekayaan 18 tahun dan kesengsaraan selama 17 tahun sesudahnya, anak-anaknya wafat, istri-istrinya ada yang wafat ada juga yang menceraikannya, juga di timpa penyakit yang membuatnya dijauhi masyarakat. Keberkahan dan keselamatan kepada Nabiyullaah Ayub, maka aku harus bersabar karena ayat ini".

Semoga kita diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menjalankan agama ini. Dan di golongkannya kepada golongan yang di beri Nikmat Nya.

Report Page