PART XIII : THE ORIGINAL

PART XIII : THE ORIGINAL


Anak laki-laki itu berdiri tegap di tengah-tengah ruangan.

Seragam sekolahnya basah kuyup oleh lelehan cairan pekat berwarna hitam. Air menetes perlahan dari ujung lengan bajunya, menghantam lantai putih hampa tanpa menimbulkan getaran suara sedikit pun.


Wajahnya sama persis.

Gaya rambutnya sama.

Tinggi badannya sama.

Bahkan bekas luka kecil di bawah alis kirinya pun sama persis.

Wajah Razka.


Namun sosok yang berdiri di hadapan mereka jelas bukan Razka yang selama ini mereka kenal.

Ia terlihat jauh lebih muda. Jauh lebih polos. Persis seperti seorang remaja laki-laki yang baru menginjak usia enam belas tahun.

Razka yang asli membeku kaku, tak mampu menggerakkan satu pun otot tubuhnya. Untuk beberapa detik yang menyiksa, seluruh ruangan serba putih itu hanya dipenuhi oleh deru napas mereka yang tak beraturan.

Anak laki-laki itu perlahan mengukir senyum tipis yang dingin. “Udah lama banget, ya.”

Razka menatap sosok di depannya dengan mata membelalak, dadanya bergemuruh. “Lu… lu bukan gue!”

“Bukan?” Anak laki-laki itu mulai melangkah mendekat. Setiap pijakan kakinya meninggalkan jejak genangan air hitam di atas lantai. “Kalau gue bukan lu… kenapa lu bisa mengingat semua hal yang gue ingat di kepala lu?”

Razka mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Gue nggak pernah melihat atau kenal sama lu!”

“Jelas aja, karena gue adalah bagian dari diri lu yang dengan sengaja dihapus.”

Kalimat sederhana itu seketika membuat Miguel berpaling menatap buku hitam di atas meja.

Halaman-halaman yang sebelumnya melayang-layang liar di udara mendadak terhenti. Satu lembaran kusam jatuh melayang perlahan, mendarat tepat di hadapan mereka.

Di bagian atas lembaran itu, terukir sebuah penanggalan:

17 SEPTEMBER 1998.


Di bawah penanggalan itu, tertera lima deretan nama. Namun salah satu di antaranya tampak berbeda dari catatan sejarah yang mereka tahu.

Bukan nama Kade.

Bukan pula nama empat siswa pertama.

Nama kelima di lembaran itu terukir jelas.


RAZKA.


Jelvan menatap tulisan bertinta tebal itu dengan napas tersengal. “Mustahil… ini nggak masuk akal!”

Anak laki-laki berwajah Razka muda itu terkekeh pelan. “Nggak ada hal yang mustahil di dalam neraka ini.”

Razka yang asli mengumpulkan sisa keberaniannya, melangkah satu titik maju. “Siapa lu sebenarnya?!”

Anak laki-laki itu menatap lurus manik mata Razka. “Gue adalah sosok Razka sebelum lu dilahirkan kembali menjadi Razka yang sekarang.”


𝟏𝟕 𝐒𝐄𝐏𝐓𝐄𝐌𝐁𝐄𝐑 𝟏𝟗𝟗𝟖

Pukul 17.41.

Ruang 3-B.

Seorang anak laki-laki duduk sendirian di atas meja kayu dekat jendela, menatap kosong ke arah luar.

Namanya Razka.

Namun pada tahun itu, tidak ada satu orang pun di Gedung Mystic yang mengenali atau mencatat namanya.

Ia bukan siswa resmi di sekolah itu. Ia bahkan bukan lagi seorang manusia yang seharusnya masih menginjakkan kaki di dunia nyata.

Sebab ia adalah sosok yang sebenarnya telah tewas.

Tiga hari sebelumnya, sebuah insiden tragis terjadi di tangga berdebu Gedung Mystic. Jasadnya ditemukan sudah membusuk pada pukul 18.00.

Namun tak ada satu pun orang yang tahu bahwa beberapa waktu sebelum nafas terakhirnya berembus, Razka sempat menemukan sebuah artefak kuno di ruang bawah tanah sekolah yang tersembunyi.

Sebuah buku bertutup hitam polos.

Buku yang tak memiliki tanda lembaran pertama. Tak memiliki tanda lembaran akhir. Dan tak tertera nama siapa pemiliknya.

Dengan sisa tenaganya saat itu, Razka membawa buku itu ke ruang 3-B. Ia membukanya, hingga satu baris kalimat mendadak merembes muncul di atas kertas.


SOMEONE WILL DIE AT 18.00.


Razka muda saat itu menganggap tulisan ajaib itu hanya sekadar lelucon konyol.

Namun halaman berikutnya membalik sendiri.


FIVE WILL BE PRESENT.


Ia terus membaca lembar demi lembar dengan dada berdebar, hingga tiba di baris kalimat paling akhir.


ONE WILL ASK FOR ANOTHER CHANCE.


Gerakan Razka terhenti.

Tiba-tiba, derap langkah kaki bergema di sepanjang koridor luar. Empat orang siswa melangkah masuk ke dalam ruang 3-B. Kade adalah salah satu di antara mereka.

Mereka bersenda gurau hangat, tertawa lepas tanpa menyadari takdir mengerikan yang sedang mengintai dari balik bayangan.

Razka mengamati interaksi mereka dari sudut dekat jendela. Tidak ada satu pun dari keempat siswa itu yang mampu menyadari keberadaannya di sana.

Razka mencoba berteriak memanggil mereka, namun tak ada satu pun gelombang suara yang keluar dari tenggorokannya. Ia mencoba menepuk permukaan meja kayu di sebelahnya, namun tangannya tembus melintasi kayu hampa.

Ia tersadar sepenuhnya, ia sudah mati. Namun kesadarannya secara janggal tertahan di tempat itu.

Hingga jarum jam dinding tua bergeser menunjuk angka 17.59.

Tanpa peringatan, sosok Kade di sudut ruangan mendadak ambruk ke lantai. Darah pekat membanjiri mulut dan hidungnya.

Keempat siswa lainnya berteriak panik luar biasa, berusaha menahan tubuh Kade yang kejang. Namun detik demi detik terus berpacu merenggut nyawa.

17.59:58.

17.59:59.

18.00.

Kade menghembuskan napas terakhirnya.

BAAM!

Seluruh pendar cahaya mati total.

Buku hitam itu mendadak tercipta di atas meja guru.

Razka melangkah mendekati meja. Halaman pertama buku itu terbuka lebar secara otomatis.


FOUR SURVIVE.


Disusul baris kalimat berikutnya.


ONE REMAINS.


Razka mendongak dan tertegun. Ia melihat sosok Kade perlahan bangkit berdiri dari samping jasadnya sendiri.

Bukan kembali sebagai manusia berdarah dan berdaging, melainkan bangkit sebagai entitas kesadaran yang sama persis seperti dirinya, sebuah ingatan abadi yang menolak lenyap.

Kade menoleh, menatap lurus ke arah Razka. Untuk pertama kalinya, mereka berdua bisa saling melihat satu sama lain.

“Lu… lu juga terperangkap di tempat ini?” bisik Kade parau.

Razka mengangguk lambat.

Kade mengalihkan pandangannya pada buku hitam di atas meja. “Gue… gue mau mereka semua kembali hidup.”

Razka seketika menggeleng keras. “Jangan! Jangan pernah lakukan itu!”

Namun Kade tak mengindahkan peringatan Razka. Jemarinya yang gemetar meraih pena, menggoreskan satu kalimat permohonan di atas kertas.


BRING THEM BACK.


Buku hitam itu merespons, lembarannya terukir balasan bertinta merah.


WHAT WILL YOU GIVE?


Tanpa ragu, Kade mengukir ganjaran pengorbanannya.


ME.


Buku itu terhempas menutup dengan gema keras.

Dan sejak detik itulah… siklus loop pertama resmi tercipta dan bergulir di Gedung Mystic.


Kembali ke tahun 2026.

Razka yang asli menatap sosok anak laki-laki di hadapannya dengan tatapan tak percaya. “Jadi… lu yang menghasut Kade buat memohon dan meminta mereka kembali?!”

Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya pelan. “Nggak.”

“Terus siapa yang memulainya kalau bukan lu?!”

“Kade sendiri.”

“Bohong!” serak Razka.

Anak laki-laki itu mengukir senyum pahit yang terkesan menyayat. “Justru itu letak kesalahan terbesar yang selama ini lu percayai.” Ia menunjuk sosok Kade di sudut ruangan. “Lu selalu menganggap Kade adalah korban paling malang di tempat ini.”

Sosok Kade hanya berdiri membeku dalam diam.

Anak laki-laki itu melanjutkan, “Kade bukan sekadar korban pertama. Dia adalah orang pertama yang secara sadar mengambil pilihan tragis itu.”

WUSH!

Ruangan serba putih di sekeliling mereka mendadak terdistorsi dan memudar. Dalam hitungan detik, atmosfer ruang 3-B tahun 1998 kembali membungkus keberadaan mereka.

Namun kali ini, mereka bertindak sebagai saksi mata yang menyaksikan seluruh adegan tersebut secara utuh.

Sosok Kade tampak berdiri pasrah di hadapan buku hitam. Razka muda berdiri membisu tepat di belakangnya.

Di atas lantai, empat jasad siswa terbaring kaku tak bernyawa dalam genangan darah.


Kade menggoreskan gurat tulisan:

BRING THEM BACK.


Buku hitam merespons dingin:

ONE MUST REMAIN.


Kade membalas tanpa ragu:

THEN TAKE ME.


Namun kali ini, tulisan ajaib muncul menolak di atas kertas:

YOU ARE ALREADY DEAD.


Gerakan pena Kade terhenti seketika. Ia menatap lembaran itu dalam keputusasaan yang mendalam, sebelum akhirnya menggoreskan baris kalimat pengganti:

THEN TAKE SOMEONE WHO REMEMBERS ME.


SREK! Tinta merah membual liar, mengukir satu nama pasti di atas kertas:

RAZKA.


Razka yang asli membeku kaku di tempatnya, napasnya tertahan di tenggorokan. Seluruh benang merah yang selama ini mengutuk jiwanya akhirnya terurai sempurna.

“Jadi…” bisik Razka parau.

Anak laki-laki di sampingnya mengangguk pelan. “Ya.”

“…Kade yang memilih gue?”

“Bukan Kade secara langsung.” Anak laki-laki itu menunjuk ke arah buku hitam. “Buku ini yang memilih lu secara otomatis… karena cuma lu satu-satunya sosok yang mampu mengingat seluruh pilihan Kade.”

Razka menatap lembaran buku itu dengan pandangan hampa. Sesuatu di dalam jiwanya terasa runtuh hancur berkeping-keping.

Selama ini, ia mengira dirinya hanyalah korban malang yang terseret tanpa sengaja ke dalam loop ini. Padahal sebenarnya, ia adalah bagian dari mekanisme utama itu sendiri.

Ia adalah sosok The Fifth yang pertama.

Orang pertama yang bertugas mengangkut dan menjaga memori dari satu siklus loop ke siklus berikutnya. Bukan karena ia dipilih untuk tewas berulang kali, melainkan karena ia terpilih untuk tetap mengingat seluruh penderitaan tersebut.


BAAM!

Buku hitam di atas meja mendadak membanting menutup secara otomatis lagi, sebelum akhirnya terlempar terbuka kembali di lembaran baru.

Baris tulisan bertinta merah pekat terukir satu per satu di sana.


THE LOOP HAS THREE PARTS.


Disusul oleh tiga poin utama yang terbentuk secara berurutan:

THE CHOICE.

THE SACRIFICE.

THE MEMORY.


Kade menatap tiga poin itu dengan pandangan hampa.

Razka mengeja tulisan tersebut dengan suara lantang dan parau, “Pilihan. Pengorbanan. Ingatan.”

Anak laki-laki itu mengangguk setuju. “Setiap siklus loop yang tercipta selalu membutuhkan tiga fondasi utama itu.” Jemarinya menunjuk ke arah sosok Kade. “Pertama, harus ada seseorang yang mengawali pilihan.”

Lalu jemarinya beralih menunjuk dada Razka yang asli. “Kedua, harus ada seseorang yang dijadikan sebagai ganjaran pengorbanan.”

Dan akhirnya, jemarinya menunjuk lurus ke arah Kaede. “Dan ketiga, harus ada seseorang yang mengemban dan membawa seluruh ingatan itu.”

Kaede tersentak, benang merah di kepalanya mendadak terkunci. “Makanya… makanya gue selalu muncul di setiap siklus?”

“Ya.”

“Karena gue adalah sosok yang meneruskan sisa ingatan dari Kade?”

“Bukan cuma sekadar meneruskan ingatan.” Anak laki-laki itu menatap Kaede secara intens. “Lu adalah sosok yang selalu bertekad keras mencoba mengacaukan dan mengubah pilihan pertama itu.”

Kaede terbungkam kaku.

“Setiap kali lu berhasil mengingat segalanya, lu selalu berusaha memperbaiki dan mencegah kematian Kade di masa lalu,” lanjut anak laki-laki itu. “Dan setiap kali lu mencoba melawan takdir itu…”

Buku hitam bergetar hebat, mengukir satu kata berulang kali.

RESET.

Seluruh ruang kelas bergetar dahsyat.

RESET.

Dinding semen kelas terdistorsi liar.

RESET.

Mereka terlempar kembali ke ruang 3-B.

RESET.

Dan waktu terkunci pasrah kembali di angka 18.00.


Jelvan memegang kepalanya yang mendadak berdenyut sakit luar biasa. “Jadi… jadi selama ini kita nggak pernah benar-benar mengulang malam yang sama?!”

Anak laki-laki itu mengangguk pelan. “Kalian cuma mengulang keputusan yang sama… dengan wujud dan wajah korban yang terus berganti.”

Miguel menatap lembaran buku itu dengan mata membelalak. “Makanya… makanya orang-orang di dalam loop ini selalu berubah?”

“Benar.”

“Makanya korban yang tewas selalu berganti?!”

“Benar.”

“Dan makanya Razka selalu terseret kembali ke tempat ini?!”

“Benar.”

Miguel menatap anak laki-laki itu tajam, matanya menuntut. “Lalu gimana caranya buat menghentikan seluruh neraka ini secara permanen?!”

Anak laki-laki itu mengukir senyum tipis yang sarat akan kedukaan. “Berhentilah mencoba mengulang atau mengubah pilihan pertama.”

“Pilihan pertama yang mana?!”

Anak laki-laki itu mengarahkan telunjuknya lurus ke arah Kade. “Kalian harus merelakan dan membiarkan Kade tetap mati di tahun 1998.”

Seluruh ruangan mendadak hening mencekam.

Kade sendiri sama sekali tidak menunjukkan reaksi terkejut. Wajah pucatnya tetap tenang, sebab jauh di dalam hatinya, ia telah mengetahui jawaban itu sejak awal.

Kaede melangkah lambat mendekati sosok Kade, air matanya menetes membahasi pipi. “Kalau… kalau gue membiarkan lu tetap mati di masa lalu…”

Kade mengangguk pelan, tersenyum tipis. “…loop ini bakal berhenti total buat selamanya.”

“Dan semua korban yang pernah mati bakal kembali hidup?” tanya Kaede penuh harap.

“Nggak.”

“Lalu?!”

Kade menunjuk lurus ke arah buku hitam. “Nggak ada satu pun dari mereka yang bakal kembali.”

Kaede membeku di tempatnya, lidahnya kelu.

“Jadi… mereka semua yang tewas selama siklus loop ini berlangsung…” Jelvan menatap Kade dengan dada bergemuruh. “…bakal benar-benar mati secara nyata?”

Kade mengangguk pasrah. “Termasuk kalian semua yang ada di sini.”

Keheningan yang amat pekat kembali menyelimuti mereka.

Itulah kenyataan pahit dan harga sebenarnya dari teror ini.

Loop ini tidak pernah menawarkan kesempatan hidup kedua yang indah. Loop ini hanyalah wadah mekanis yang memfasilitasi penolakan manusia terhadap takdir kematian. Dan setiap kali ada penolakan yang dilontarkan, kematian baru bakal selalu menuntut tumbal pengganti.

Selama masih ada seseorang yang bersikeras menyelamatkan orang yang telah mati di masa lalu, siklus loop ini tak akan pernah bisa dihancurkan.

Tidak ada iblis atau monster yang perlu dibantai.

Tidak ada buku keramat yang perlu dibakar.

Tidak ada pula pintu gaib yang perlu dikunci rapat.

Yang perlu mereka lakukan hanyalah satu hal yang amat berat, menerima kenyataan dari kematian yang paling pertama.

Razka yang asli menghela napas panjang, melangkah tegap mendekati meja guru. “Gue paham sekarang.”

Anak laki-laki di sampingnya menatapnya tajam. “Paham tentang apa?”

“Alasan kenapa gue selalu gagal di delapan belas percobaan sebelumnya.” Razka meraih buku hitam itu, membalik lembarannya hingga tiba di halaman paling akhir. “Karena di setiap awal siklus, gue selalu sibuk dan egois mencoba menyelamatkan kalian semua.”

Ia mengalihkan pandangannya, menatap Jelvan, Julian, Miguel, dan akhirnya Kaede.

“Tapi untuk kali ini… gue nggak akan melakukannya lagi.”

Kaede menatap Razka dengan mata bergetar. “Razka…”

Tanpa ragu, Razka menekan mata pena tua ke atas kertas kusam, menggoreskan satu baris kalimat keputusasaan.



BZZT!

Buku hitam itu seketika bergejolak hebat. Seluruh permukaan kertas kusamnya memerah pekat bagai terbakar lelehan darah.

Jarum jam dinding tua di atas papan tulis berputar secara agresif.


17.59.

17.59.

17.59.

Hingga akhirnya terkunci rapat di angka 18.00.


Seketika, sebuah pemandangan ajaib terhampar di hadapan mata mereka.

Sosok Kade di sudut ruangan perlahan ambruk ke lantai. Namun bukannya membusuk atau bersimbah darah, tubuhnya perlahan bertransformasi menjadi pendar cahaya transparan.

Kaede yang panik secara refleks melangkah maju, berusaha menahan tubuh Kade. Namun jemarinya menembus pendar cahaya itu tanpa wujud.

“Nggak! Kade, jangan!” jerit Kaede histeris, berusaha menerjang maju.

Namun Kade hanya mengukir senyuman paling tenang yang pernah mereka lihat sepanjang malam itu. “Jangan menangis, Kaede.”

“Nggak! Gue mohon jangan pergi!”

“Kaede…” Kade menatap lurus manik mata Kaede dengan tatapan penuh kehangatan. “…untuk kali ini, tolong jangan pernah mengulangi kesalahan gue lagi.”

Langkah Kaede terhenti seketika, dadanya sesak luar biasa.

Perlahan-lahan, wujud pendar cahaya Kade melebur dan pudar sepenuhnya dari dalam ruangan. Tidak ada genangan darah, tidak ada jeritan histeris, dan tidak ada kematian mengerikan yang menyertai. Hanyalah sebuah keikhlasan dari jiwa yang akhirnya terbebas.


BAAM!

Buku hitam di atas meja menghempas menutup rapat dengan sendirinya, sebelum terukir tulisan emas di sampulnya.



CTEK!

Seluruh pendar lampu kelas menyala terang benderang.

Jarum jam dinding tua berdetik kembali secara normal dan konstan.

18.01.

18.02.

18.03.

Tidak ada tanda-tanda pengulangan reset yang terjadi.

Jelvan menatap jarum jam itu dengan mata berbinar penuh rasa tidak percaya. “Berhasil…? Kita… kita benar-benar berhasil menghentikannya?!”

Razka tak mampu menjawab. Ia perlahan membuka lembaran terakhir buku hitam di tangannya.

Kosong.

Tak ada lagi deretan nama korban. Tak ada aturan teror. Tak ada pula gema ketukan pintu yang mengintai.

Untuk pertama kalinya sejak tahun 1998 silam… buku keramat itu membisu tanpa tulisan.

Namun sebelum kelegaan sempat merayap di dada mereka.

Sebuah gema suara kembali terdengar membelah kesunyian.

Bukan bersumber dari lembaran buku hitam. Bukan dari luar pintu kelas. Dan jelas bukan dari sosok Kade yang telah lenyap.

Melainkan bersumber dari anak laki-laki yang masih berdiri tegap di belakang tubuh mereka.

“Belum selesai.”

Razka yang asli seketika berbalik mendadak, matanya membelalak panik.

Anak laki-laki itu mengukir senyum tipis yang amat mengerikan. Tepat di hadapan mata mereka, wujud tubuh anak itu mendadak terdistorsi liar.

Seragam sekolah usang tahun 1998 yang dikenakannya meluruh hilang. Wajah polosnya bertransformasi drastis. Postur tubuhnya meninggi secara bertahap.

Hingga akhirnya… sosok itu bertransformasi sepenuhnya menjadi wujud fisik yang sama persis dengan Razka yang sekarang.

Razka yang kedua.

Sosok Razka yang baru terbentuk itu menatap mereka dengan tatapan dingin, lalu berucap pelan.

“Kalian baru aja berhasil menghentikan siklus loop yang paling pertama.”

Jelvan menatap sosok itu dengan raut horor luar biasa. “Masih… masih ada siklus lainnya, bangsat?!”

Sosok Razka itu mengukir senyum sinis. “Masih ada 126 siklus loop lainnya yang mengantri di belakang.”

Miguel menggelengkan kepalanya keras-keras, keputusasaan melumpuhkan jiwanya. “Nggak… ini nggak mungkin terjadi!”

Sosok Razka itu mengarahkan telunjuknya ke arah jam dinding yang terus berjalan.

18.04.

“Sistem loop ini nggak akan pernah berhenti cuma karena pilihan pertama kalian diterima,” terang sosok itu dingin. Ia lalu menunjuk ke arah buku hitam. “Sistem loop ini baru akan hancur total saat seluruh pilihan yang lahir dari pilihan pertama selesai dituntaskan.”

Kaede menatap sosok itu dengan pandangan hampa. “Jadi… Kade dari awal bukan akar terakhir dari neraka ini?”

“Bukan.”

“Terus siapa yang jadi akar utamanya?!”

Sosok Razka itu memutar pandangannya, menatap lurus ke arah Razka yang asli. “Orang yang terus-menerus mencoba memperbaiki segalanya tanpa henti.”

Razka yang asli terbungkam kaku, lidahnya mendadak kelu. Pikirannya menghantam satu kenyataan pahit yang paling akhir.

“Gue…” bisik Razka yang asli parau.

Sosok Razka itu mengangguk pelan. “Ya. Lu sendiri.”


SREK!

Buku hitam di atas meja mendadak terlempar terbuka lebar secara otomatis. Lelehan tinta merah mengukir dua baris kalimat berturut-turut di atas kertas.


THE FIRST LOOP WAS CREATED BY KADE.


Disusul oleh baris kalimat penutup yang membakar jiwa.


THE LAST LOOP WAS CREATED BY RAZKA.


Razka yang asli menatap deretan tulisan berdarah itu dengan dada bergemuruh kencang. Ia mengusap air matanya secara kasar, lalu mencengkeram erat buku hitam itu ke dalam pelukannya.

“Kalau begitu…” Razka mengangkat wajahnya yang penuh ketetapan hati. “…maka gue sendiri yang bakal mengakhiri seluruh neraka ini!”

Namun sebelum jemarinya sempat menggoreskan satu kata pun di atas kertas, buku hitam itu mengukir kalimat balasan yang paling dingin secara mandiri.


YOU CANNOT END A LOOP YOU ARE STILL PART OF.


Gerakan tangan Razka terhenti seketika di udara.


TAK.

TAK.

TAK.

TAK.


Tiba-tiba, dari arah koridor luar yang gelap, gema derap langkah kaki merambat naik secara masif dan beruntun.

Satu langkah. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Puluhan hingga ratusan derap langkah kaki bergetar menghantam lantai koridor luar.

Jelvan yang panik secara refleks berlari mendobrak dan membuka lebar pintu kelas.

Dan pemandangan di balik pintu itu seketika membekukan darah mereka semua.

Di sepanjang bentangan koridor luar Gedung Mystic, berbaris puluhan hingga ratusan siswa. Semua mengenakan seragam sekolah dari angkatan yang berbeda-beda. Dari era tahun yang berbeda-beda. Dengan rupa wajah yang tak pernah mereka kenal.

Namun seluruh ratusan pasang mata itu… kini tengah menatap lurus ke arah mereka dengan pandangan hampa dan dingin.

Seluruh korban yang pernah terseret dan menjadi bagian dari 127 siklus loop di masa lalu.

Dan tepat di barisan paling belakang di antara kerumunan ratusan jiwa itu… berdiri seorang perempuan yang seharusnya telah lenyap sempurna dari dunia.

Kade.

Ia berdiri tegap di sana. Kulitnya tak lagi pucat pasi. Tubuhnya tak lagi berupa pendar cahaya transparan. Ia berdiri utuh menyerupai sosok manusia hidup pada umumnya.

Kade menatap lurus manik mata Razka yang asli, lalu mengukir senyuman samar yang teramat dingin.

“Sekarang… giliran lu yang harus membuat pilihan, Razka,” bisik suara Kade yang bergema dari koridor.

Razka menatapnya dengan dada sesak mendalam. “Memilih… memilih apa?!”

Kade merentangkan kedua tangannya, menunjuk ke arah ratusan siswa yang memenuhi koridor luar.

“Pilihlah… siapa di antara mereka semua yang bakal lu selamatkan kali ini.”


BAAAM!


Seluruh pendar cahaya di Gedung Mystic padam total secara serentak, membenamkan mereka kembali dalam kegelapan pekat yang abadi.

Dan tepat di lembaran terakhir buku hitam, lelehan tinta merah darah mengukir satu kalimat penutup yang mengerikan.


THE REAL LOOP BEGINS WHEN YOU THINK YOU ARE FREE.

Report Page