PART XII : THE LIAR

PART XII : THE LIAR


“Enam.”

Suara itu bergema rendah, mengalun dingin di setiap sudut ruangan.

Tidak nyaring, tidak pula berupa teriakkan. Namun keputusasaan di dalamnya cukup untuk membuat dada mereka terasa diremas sesak.

Jelvan refleks menoleh ke belakang, matanya membelalak panik.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.

Hanya ada bentangan dinding semen putih yang mendingin. Tak ada daun pintu kayu tempat mereka masuk tadi, tak ada bukaan jendela, bahkan tak ada satu pun celah kecil yang menyisa. Jalan keluar mereka telah sepenuhnya terhapus.

Di depan meja guru, Razka masih berdiri membeku menatap buku hitam yang terbuka lebar. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.

“Jangan ada yang bergerak,” bisik Razka parau.

Julian menelan ludah berkali-kali, tenggorokannya mendadak gatal dan kering. “Kenapa…?”

“Karena sekarang kita benar-benar sudah melangkah masuk ke bagian yang sebenarnya.”

Miguel mengerutkan keningnya, langkah kakinya tertahan. “Bagian yang sebenarnya?”

Razka mengangguk lambat. “Selama ini kita mengira loop adalah pengulangan waktu.” Ia mengalihkan pandangannya, menatap jam dinding tua yang berdetik janggal. Jarum panjang dan pendeknya menunjuk tepat di angka 18.06. “Padahal sama sekali bukan.”

Kaede menatap raut wajah Razka yang kaku. “Terus… apa kalau bukan waktu?”

Razka mengarahkan telunjuknya lurus ke arah buku hitam. “Loop bukan mengulang waktu.” Jemarinya lalu berpindah, menunjuk ke arah pelipis kepala mereka satu per satu. “Loop mengulang keputusan.”

Keheningan yang mencekam mendadak mengambil alih ruangan.

Jelvan menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mencerna. “Gue… gue tetap nggak ngerti.”

“Setiap kali waktu kita mencapai pukul 18.00, buku ini bakal mencari keputusan pertama yang membuat seluruh tragedi ini dimulai,” terang Razka dengan nada datar.

Miguel mulai merangkai benang merah di kepalanya. “Dan buku itu bakal memaksa kita buat mengulang keputusan itu?”

“Ya.” Razka perlahan membuka lembaran buku hitam tersebut. “Makanya kita selalu kembali terseret ke ruangan yang sama.” Ia membalik satu halaman. “Bukan karena waktunya yang berputar balik.” Halaman berikutnya terbalik. “Bukan karena gedung ini yang kembali utuh.” Halaman berikutnya terkelupas. “Bukan juga karena tubuh kita yang diisi ulang.”

Jemarinya berhenti di satu lembaran kusam. “Yang selalu kembali ke titik awal… adalah pilihan kita.”

Kaede menatap lembaran kosong itu dengan pandangan hampa. “Jadi kematian kita selama ini…”

“Juga bagian dari pilihan yang kita buat sendiri.”


𝐀𝐓𝐔𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐎𝐏

Tanpa mengalihkan pandangan, Razka memungut sebatang kapur putih dari atas meja kayu yang entah sejak kapan sudah tergeletak di sana.

Ia berbalik, menekan ujung kapur ke permukaan papan tulis yang berdebu. Suara derit kapur membelah kesunyian saat ia mulai mengukir poin demi poin.


1. 18.00 ADALAH TITIK PILIHAN.

2. LIMA ORANG MASUK.

3. SATU ORANG HARUS MENJADI THE FIFTH.

4. THE FIFTH MENYIMPAN INGATAN.

5. EMPAT ORANG LAINNYA AKAN MELUPAKAN.

6. JIKA THE FIFTH MENCOBA MENGUBAH PILIHAN, LOOP DIMULAI ULANG.


Julian mengeja setiap baris tulisan itu dengan napas menahan. “Jadi selama ini…”

Razka mengangguk tanpa menoleh. “Kita selalu mencoba mengubah pilihan yang salah di masa lalu.”

Miguel menatap punggung Razka tajam. “Pilihan apa yang sebenarnya mau kita ubah?”

Razka mendadak bungkam. Jemarinya kembali bergerak, menggoreskan satu baris kalimat terakhir di bagian paling bawah papan tulis.


7. LOOP BERAKHIR JIKA THE FIFTH MEMILIH UNTUK TIDAK MENYELAMATKAN SIAPA PUN.


Kaede membeku di tempatnya, matanya terpaku pada kata ‘TIDAK MENYELAMATKAN’. “Nggak menyelamatkan…?”

Razka berbalik, menatap Kaede dalam-dalam. “Itulah yang selama ini salah kita pahami.”

Sosok Kade yang berdiri diam di sudut ruangan mengalihkan pandangan dinginnya ke arah Razka. “Jelaskan.”

“Setiap kali siklus percobaan dimulai, kita selalu berusaha keras buat menyelamatkan seseorang,” ujar Razka. Jemarinya menunjuk nama Kade yang terukir di lembar buku. “Pertama, kita mencoba menyelamatkan Kade.” Lalu menunjuk dadanya sendiri. “Kemudian gue.”

Lalu jemarinya menunjuk mereka berurutan. “Jelvan. Julian. Miguel. Dan lu, Kaede.” Razka menghela napas berat yang terasa menusuk dadanya. “Satu per satu dari kita coba diselamatkan.”

Tiba-tiba, tanpa ada yang menyentuh papan tulis, rembesan cairan merah pekat menyerupai tinta membasahi sela-sela tulisan kapur tersebut, membentuk baris kalimat baru secara ajaib:


ANOTHER MUST DIE.


Kaede seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak horor. “Jadi… korban baru yang berjatuhan itu muncul karena kita sibuk menyelamatkan korban lama?”

“Benar.”

Miguel menggelengkan kepalanya tak percaya. “Berarti kalau dari awal kita nggak menyelamatkan siapa pun…”

“…loop ini bakal berhenti total.”

Ruangan kembali diselimuti kesunyian yang menekan.

Kade melangkah satu titik mendekati meja guru, menatap buku hitam itu dingin. “Nggak sesederhana itu.”

Razka menoleh padanya. “Gue tahu.”

Kade menunjuk kalimat ketujuh di papan tulis. “Siapa yang sebenarnya menentukan siapa yang harus diselamatkan?”

Razka tak langsung menjawab, bibirnya terkatup rapat.

Kade mengukir senyum pahit yang terkesan menyindir. “Buku ini?”

“Bukan.”

“Sistem loop ini?”

“Bukan.”

“Lalu siapa?!”

Razka menatap mereka semua satu per satu dengan tatapan nanar. “Kita sendiri.”

Lutut Kaede mendadak lemas, ia perlahan terduduk di atas lantai dingin. “Gue… gue tetap nggak ngerti.”

Razka berjalan mendekatinya lambat-lambat. “Coba lu ingat lagi kejadian di percobaan pertama.”

Kaede memejamkan matanya rapat-raptar. Seketika, kilasan ingatan asing menghantam kesadarannya tanpa ampun.

Ruang 3-B tahun 1998.

Sosok Kade yang ambruk bersimbah darah.

Empat orang siswa yang berteriak histeris dalam kepanikan luar biasa.

Salah satu dari mereka menjerit keras: “Kita harus menyelamatkan dia! Gimana pun caranya!”

Lalu, sebuah buku hitam mendadak tercipta di atas meja.

Lima nama terukir di dalamnya, sebelum akhirnya satu nama dicoret tebal-tebal.

Kaede membuka matanya mendadak, napasnya memburu. “Jadi…” Ia menatap sosok Kade yang berdiri kaku. “…kami sendiri yang memohon dan meminta lu buat kembali?”

Kade mengangguk pelan. “Ya.”

“Dan saat lu kembali sebagai entitas ingatan…”

“…loop ini resmi dimulai.”

Kaede menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya menetes membasahi lantai. “Berarti… semua penderitaan ini murni kesalahan kami.”

Kade tak menjawab, pandangannya meredup.

Namun Razka justru menyela tegas, “Bukan.”

Kaede mendongak, matanya yang basah menatap Razka penuh tanya. “Lalu salah siapa?!”

Razka mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah buku hitam. “Salah orang yang pertama kali berbohong di tempat ini.”

Atmosfer ruangan mendadak menjadi sangat dingin dan sunyi.

Jelvan melangkah maju, menatap Razka menuntut. “Siapa orangnya? Siapa yang berbohong?!”

Razka tak menjawab pertanyaan Jelvan. Sebaliknya, ia berjalan mendekati buku hitam, lalu membalik lembarannya hingga kembali ke halaman paling pertama. Jemarinya menunjuk tulisan yang selama ini menjadi dogma teror mereka.

DO NOT ANSWER THE FIFTH KNOCK.

“Aturan ini… bohong.”

Julian mengerutkan keningnya rapat-rapat. “Apa?! Maksud lu gimana?”

“Ketukan kelima itu bukan tanda pintu masuk entitas jahat.” Razka memungut kapur dan mencoret baris kalimat tersebut kasar. “Ketukan kelima adalah tanda bahwa pilihan akhir sudah dibuat.”

Miguel membeku di tempatnya. “Jadi… selama ini kita ketakutan setengah mati buat membuka pintu cuma tanpa alasan yang jelas?!”

“Ya.”

“Terus apa yang sebenarnya terjadi kalau kita nekat membuka pintunya?!”

Razka menatap daun pintu yang kini hilang dari dinding. “Nggak terjadi apa-apa.”

Julian tertegun bingung. “Hah?! Maksud lu gimana sih?”

“Kalian sudah membuka pintu itu berkali-kali di siklus-siklus sebelumnya.” Razka menatap mereka satu per satu. “Dan setiap kali pintu itu terbuka, loop ini tetap berjalan sebagaimana mestinya.”

Kaede mulai memahami benang merahnya, napasnya tersengal. “Karena pintunya… dari awal bukan masalah utamanya.”

“Benar.”

“Yang jadi masalah… adalah keputusan yang kita ambil setelah pintunya terbuka?”

Razka mengangguk pelan. “Kalian bakal selalu melihat seseorang yang sekarat di balik pintu itu… lalu kalian bakal mencoba menyelamatkannya lagi… dan hal itu yang memaksa loop ini terus berulang tanpa akhir.”

Kade menatap Razka dengan pandangan menelisik. “Jadi aturan kelima itu sengaja dibuat cuma buat menakut-nakuti mereka?”

“Ya.”

“Siapa yang sengaja membuat aturan bohong itu?”

Razka mendadak mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membuang muka.

Kade menatapnya tajam. “Razka.”

Razka tetap membisu.

“Gue tanya, siapa yang membuat aturan itu?!” cecar Kade dengan nada meninggi.

Kade mengulanginya sekali lagi, “Siapa?!”

Razka akhirnya menghela napas panjang, suaranya terdengar pasrah dan parau. “Gue.”

Seluruh orang di ruangan itu membeku kaku.

Jelvan menatapnya tak percaya. “Lu…?! Lu yang bikin?!”

Razka mengangguk lambat. “Gue yang menulis aturan pertama yang kalian lihat di buku itu.”

Miguel langsung maju mendesak Razka. “Kenapa lu tega bikin aturan bohong kayak gitu, Razka?!”

“Karena pada percobaan keempat, gue baru menyadari satu hal yang mengerikan.”

“Apa?!”

“Kalau kalian tahu ketukan kelima itu nggak berbahaya…” Razka mengalihkan pandangannya, menatap Kaede dengan mata memerah. “…kalian bakal langsung membuka pintu itu tanpa berpikir panjang.”

“Lalu apa urusannya?!”

“Di balik pintu itu selalu ada pilihan.” Razka menelan ludahnya yang terasa pahit. “Dan kalian selalu mengambil pilihan yang salah.”

Kaede mengepalkan tangannya, perlahan berdiri tegak. “Tunggu dulu.” Ia menatap Razka dengan pandangan menuntut. “Kalau lu yang menulis aturan itu sejak awal…”

“Ya.”

“Berarti lu udah tahu segalanya dari awal?”

Razka bungkam.

“Lu udah tahu tentang sosok Kade?”

Masih diam.

“Lu udah tahu tentang tragedi tahun 1998?”

Tetap membisu.

“Lu udah tahu kalau gue adalah The Fifth?”

Razka tak bergeming sedikit pun.

“Lu udah tahu kalau loop ini sebenarnya bukan tentang waktu yang berputar?!”

Razka tak mampu menjawab sepatah kata pun.

Kaede melangkah mendekat, matanya menatap Razka penuh amarah dan kekecewaan. “Terus kenapa lu baru berbuat seolah-olah baru menyadari semua ini di percobaan ke-19, Razka?!”

Razka menatap balik Kaede. Dan untuk pertama kalinya… laki-laki itu tampak benar-benar kehilangan kata-kata. Ia tak memiliki jawaban.

Miguel melangkah maju, berdiri di samping Kaede. “Razka. Lu berbohong sama kita semua.”

Razka menghela napas berat, raut wajahnya tampak begitu lelah. “Gue nggak berbohong.”

“Terus apa namanya kalau bukan bohong?!”

“Gue cuma menyembunyikan sesuatu.”

Julian tertawa hampa yang terdengar sangat gugup. “Bedanya apa, bangsat?!”

Razka menjawab pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. “Berbohong itu saat lu mengatakan sesuatu yang salah secara sadar.” Ia menatap lembar buku hitam di depannya. “Sedangkan menyembunyikan… adalah saat lu menahan diri buat nggak menyampaikan hal yang benar.”

Kade menatap Razka dingin. “Dan apa hal benar yang selama ini lu sembunyikan?”

Razka terdiam seribu bahasa.

Tiba-tiba, buku hitam di atas meja bergetar hebat! Halaman terakhirnya membalik dengan sendirinya. Lembaran kusam itu mendadak terisi tulisan berdarah secara beringas.


THE LIAR IS NOT THE ONE WHO SPEAKS.


Satu detik kemudian, tulisan itu terhapus dan tergantikan oleh baris kalimat baru:

THE LIAR IS THE ONE WHO REMEMBERS.


Miguel mengeja kalimat itu dengan nada gemetar. “Yang… mengingat?” Ia menatap Razka secara intuitif, lalu beralih menatap Kaede, dan berakhir pada sosok Kade.

Jelvan mengerutkan keningnya rapat-rapat. “Berarti penipu yang dimaksud buku ini… salah satu dari kalian bertiga?”

Tak ada satu pun dari ketiganya yang merespons.

Lalu, cairan darah di atas kertas bergerak membentuk satu nama secara tiba-tiba:

MIGUEL.

Miguel membeku seketika, dadanya bergemuruh. “Apa-apaan nih?! Kok nama gue?!”

Julian refleks melangkah mundur menjauhi Miguel. “Lu… lu yang berbohong, El?!”

Miguel menatap lembaran buku itu histeris. “Bukan gue! Sumpah bukan gue!”

Belum sempat mereka mencerna, nama itu kembali meleleh dan berubah bentuk:

JELVAN.

Jelvan menggeleng keras, wajahnya panik. “Bukan gue! Nggak mungkin gue!”

Tulisan itu terus berganti secara liar:

JULIAN.

“Bukan gue, bangsat!!” jerit Julian frustrasi.

Hingga akhirnya, tulisan itu mengental dan membentuk satu nama yang pasti:

KAEDE.

Kaede menatap namanya sendiri yang terukir penuh darah dengan pandangan tak percaya.

Kade serta-merta melangkah maju menghadang. “Nggak! Nggak mungkin dia!”

Tulisan di buku itu kembali bergejolak, sebelum akhirnya terkunci rapat di satu nama akhir:

RAZKA.

Razka perlahan memejamkan matanya rapat-raptar, menghela napas panjang. “Gue udah tahu dari awal…”

Jelvan menatap Razka dengan pandangan menyudutkan. “Jadi benar-benar lu pelakunya selama ini?!”

“Bukan.”

“Tapi buku itu baru aja menunjuk nama lu!”

“Buku ini menunjuk nama gue karena buku ini tahu siapa orang yang paling banyak menyimpan ingatan di tempat ini,” potong Razka seraya membuka matanya. “Bukan siapa yang paling banyak mengarang kebohongan.”

Tiba-tiba, lembaran buku hitam itu bergetar kembali. Cairan darah mengalir mengukir baris kalimat baru yang sama sekali berbeda:


THE LIAR REMEMBERS THE FIRST LOOP.


Semua orang di ruangan itu mendadak terbungkam kaku.

Sosok Kade perlahan menolehkan kepalanya, menatap Kaede dengan raut wajah yang berubah drastis, penuh ketakutan yang mendalam. “Nggak mungkin…”

Kaede menatap Kade bingung. “Apa…?”

Kade melangkah mundur, menggelengkan kepalanya panik. “Nggak… ini nggak mungkin terjadi…”

Razka menatap lurus manik mata Kaede. “Lu ingat semuanya, kan, Kaede?”

Kaede menggeleng keras, dadanya sesak. “Gue… gue nggak ingat apa-apa!”

“Lu ingat segalanya! Jangan bohongi diri lu sendiri!”

“Nggak! Gue nggak ingat!” jerit Kaede histeris.

“Lu ingat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi sebelum Kade meninggal di tahun 1998!” cecar Razka tanpa ampun.

Kaede membekap kedua telinganya rapat-rapat, kepalanya mendadak berdenyut hebat. “Berhenti… tolong berhenti…”

Razka melangkah mendekat secara intimidatif. “Kaede.”

“Gue bilang berhenti!”

“Siapa orang yang pertama kali menemukan buku hitam ini?!”

Kaede terdiam seketika. Air matanya meledak, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.

Jelvan menatap kejadian itu dengan dada berdebar kencang. “Kaede…?”

Kaede perlahan memejamkan matanya erat-erat.

Seketika, sebuah kilasan ingatan yang paling kelam dan asing merebak paksa di dalam kepalanya.

Namun kali ini… ingatan itu bukan berlatar tahun 1998. Bukan tentang ruang kelas 3-B yang tua. Bukan pula tentang detik-detik kematian Kade.

Melainkan… berlatar tahun 2026.

Beberapa bulan sebelum seluruh teror ini terseret dimulai.

Kaede melihat gambaran dirinya sendiri sedang berdiri sendirian di dalam ruang kelas yang sunyi. Di atas meja di hadapannya, tergeletak sebuah buku bertutup hitam kusam.

Razka berdiri kaku di belakangnya, suaranya gemetar: “Jangan pernah buka buku itu, Kaede.”

Kaede menatap buku itu dengan tatapan dingin: “Gue harus tahu isinya.”

“Kalau lu nekat membuka buku itu… semuanya bakal mengulang dari awal lagi!”

Kaede mengukir senyum tipis yang terasa begitu menyayat: “Gue tahu.”

Razka membeku ketakutan: “Lu… lu udah pernah melihat isi buku itu sebelumnya?”

Kaede mengangguk pelan: “Delapan belas kali.”

Razka menatapnya dengan pandangan horor yang teramat sangat: “Jadi selama ini lu mengingat semuanya?!”

Kaede menoleh lambat, menatap Razka datar: “Jauh lebih banyak dari apa yang lu bayangkan, Razka.”

Kilasan ingatan asing itu terputus secara mendadak.

Kaede membuka matanya perlahan, matanya yang basah tampak kosong.

Jelvan menatapnya ragu. “Kaede…?”

Kaede tak merespons Jelvan. Ia hanya berdiri membeku di tempatnya.

Razka berdiri kaku di hadapannya, tak mengalihkan pandangan.

Di sudut ruangan, sosok Kade berbisik parau, “Bukan… ini nggak nyata…”

Kaede perlahan mendongakkan kepalanya, menatap mereka semua dengan raut hampa. “Gue… gue ingat semuanya.”

Miguel bertanya dengan suara bergetar, “Ingat… apa?”

Kaede mengalihkan pandangannya, menatap buku hitam di atas meja. “Gue ingat alasan kenapa gue menciptakan loop ini dari awal.”

“Kenapa?!”

Kaede terisak pelan, air matanya menetes tanpa henti. “Karena pada percobaan paling pertama… gue sebenarnya bukan bagian dari lima orang yang terjebak itu.”

Seluruh ruangan mendadak membeku kaku.

Jelvan mengerutkan keningnya rapat-rapat, kebingungan setengah mati. “Maksud lu gimana, Kaede?!”

Kaede menunjuk dadanya sendiri dengan jemarinya yang gemetar hebat. “Gue datang ke sekolah ini setelah seluruh tragedi itu selesai terjadi.”

Kade memucat pasi. “Nggak…”

“Gue yang menemukan jasad Kade di dalam ruangan ini,” lanjut Kaede dengan suara parau. “Gue yang menemukan buku hitam ini tergeletak di atas meja. Gue yang menemukan empat orang lainnya udah tewas membusuk. Dan gue… gue yang memohon sama buku ini buat mengembalikan mereka semua.”

Razka menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghela napas pasrah. “Benar.”

Kaede menatap Razka tajam. “Lu udah tahu tentang hal ini sejak awal, kan?”

Razka mengangguk lambat. “Ya. Sejak awal.”

“Terus kenapa lu nggak pernah jujur sama gue?!”

“Karena kalau lu ingat kebenaran ini terlalu cepat…” Razka menatap buku hitam itu nanar. “…lu bakal kembali mengambil pilihan tragis yang sama.”

Kaede tertegun, lidahnya kelu. “Gue… gue menciptakan loop ini bukan buat menyelamatkan mereka?”

“Bukan.”

“Lalu buat apa?!”

Razka menjawab dengan suara dingin namun sarat akan kesedihan: “Buat menghidupkan kembali diri lu sendiri.”

Kaede membeku di tempatnya. “Apa…?”

Razka menatap lurus manik mata Kaede. “Kaede yang ada di depan kita sekarang… bukan sosok Kaede yang pertama kali hadir.”

Kade membakap mulutnya dengan kedua tangan. “Jangan… jangan katakan…”

“Kaede yang asli… sebenarnya udah mati jauh sebelum loop pertama bahkan dimulai.”

Jelvan menatap Kaede dengan pandangan mengerikan. “Terus… lu siapa yang ada di depan gue sekarang?!”

Kaede tak mampu menjawab. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu panik.

Kade melangkah mendekatinya perlahan. “Kaede…”

Kaede menatap sosok di depannya dengan tatapan nanar. “Nama gue… bukan Kaede.”

Kade mengangguk pelan, air matanya ikut menetes. “Lalu… siapa nama lu yang sebenarnya?”

Kaede mengukir senyum tipis yang begitu menyayat hati, meski air matanya masih terus mengalir deras. “Nama gue…”


SREK!


Buku hitam di atas meja terlempar terbuka secara otomatis. Tinta merah pekat mengalir deras di atas kertas, mengukir satu nama dengan sangat jelas:

KADE.


Jelvan mendadak melangkah mundur beberapa jengkal, napasnya tersengal. “Nggak mungkin…”

Kade menatap sosok perempuan di depannya dengan tatapan tak percaya. Perlahan-lahan… raut wajah Kaede tampak terdistorsi dan berubah. Bukan bertransformasi menjadi monster atau hantu menakutkan, melainkan berganti menjadi wujud yang sama persis dengan sosok perempuan tahun 1998 tersebut.

Wajah Kade yang sempurna.

Kade menatap cermin dirinya sendiri dengan dada bergemuruh. “Jadi selama ini…”

Kaede menjawab lirih, “Gue adalah sisa ingatan lu yang tertinggal.”

Kade berbisik histeris, “Bukan! Lu bukan gue!”

Kaede tersenyum hampa. “Gue adalah versi diri lu yang menolak buat mati malam itu.”

Razka perlahan memejamkan matanya, mengucap dengan nada berat, “Dan itulah kebohongan terbesar yang mengikat tempat ini.”

Miguel menatap Razka menuntut. “Lu tahu soal ini?!”

“Ya.”

“Sejak kapan?!”

Razka menjawab datar, “Sejak percobaan pertama.”

Jelvan menatap mereka bergantian dengan pandangan frustrasi. “Jadi siapa yang sebenarnya berbohong dan membodohi kita selama ini?!”

Razka mengarahkan jarinya ke buku hitam. “Bukan Kaede.” Lalu jarinya berpindah menunjuk Kade, Miguel, Jelvan, dan Julian. “Bukan Kade. Bukan Miguel. Bukan Jelvan. Bukan Julian.”

Akhirnya, Razka menunjuk dadanya sendiri. “Dan bukan gue.”

Ia menatap dalam-dalam pada buku hitam itu. “Yang selama ini berbohong dan menyusun ilusi… adalah ingatan kita sendiri.”


WUSH!

Buku hitam di atas meja mendadak bergetar hebat bagai dihantam gempa! Lembaran-lembarannya terlepas satu per satu secara liar, membumbung tinggi ke udara.

Puluhan. Ratusan. Bahkan ribuan kertas melayang mutar, memenuhi seluruh ruang kelas.

Di atas setiap lembaran yang melayang, tertera satu penanggalan yang sama:

17 SEPTEMBER 1998.

18 SEPTEMBER 1998.

1999.

2000.

2001.

Deretan angka tahun itu terus merambat naik secara masif hingga berakhir di satu titik.

Namun di bawah setiap angka tahun tersebut, terukir puluhan nama yang terus berganti. Bukan cuma lima nama. Bukan pula enam nama. Melainkan puluhan nama asing yang tak pernah mereka kenal sebelumnya.

Seluruh korban yang pernah terseret dan binasa di dalam siklus loop ini.

Kaede menatap ribuan lembar kertas yang melayang di sekelilingnya dengan pandangan horor. “Berapa kali… berapa kali siklus ini sebenarnya udah berulang, Razka?!”

Razka menjawab dengan nada dingin yang menusuk tulang, “Bukan sembilan belas kali.”

“Terus berapa?!”

“Seratus dua puluh tujuh kali.”

Jelvan membeku seketika, dadanya bagai dihantam beban berat. “Seratus… dua puluh tujuh…?”

“Seratus dua puluh tujuh putaran.”

Julian melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding. “Tapi… tapi kita cuma ingat delapan belas putaran sebelumnya?!”

Razka menggelengkan kepalanya pelan. “Karena delapan belas adalah jumlah putaran di mana kita berhasil bertahan hidup sampai detik-detik akhir.”

Miguel menatap lembaran yang melayang di udara. “Lalu… gimana dengan korban-korban di putaran lainnya?!”

Razka tak mampu menjawab.

Sosok Kade-lah yang menyahut pelan dari sudut ruangan, “Mereka semua gagal menjadi The Fifth dan musnah digantikan siklus baru.”

Kaede menatap satu lembaran terakhir yang melayang tepat di hadapan wajahnya. Di atas kertas itu, terukir sebuah kalimat tegas:


THE LOOP DOES NOT REPEAT PEOPLE.


Tulisan itu lantas meleleh, berubah menjadi:

IT REPEATS THEIR CHOICES.


Sebelum akhirnya mengental menjadi baris kalimat penutup:

UNTIL SOMEONE CHOOSES DIFFERENTLY.


Kaede mengusap air matanya yang tersisa secara kasar. “Jadi… apakah ini akhir dari semuanya?”

Razka menggeleng pelan. “Belum.”

“Kenapa belum?!”

Razka menunjuk angka 127 yang terukir tajam di lembaran utama. “Karena loop ke-127 ini belum benar-benar selesai.”

Kaede refleks menoleh menatap jam dinding tua.

18.06.

Untuk pertama kalinya sejak teror ini dimulai, jarum jam itu benar-benar bergerak. Namun bukannya berjalan maju, jarum panjang dan pendeknya justru berputar mundur secara perlahan.

18.05.

18.04.

18.03.

18.02.

18.01.


Hingga akhirnya jarum jam terkunci tepat di angka:

18.00.

BAAAM!

Seluruh pendar cahaya di dalam ruangan padam total, melemparkan mereka kembali ke dalam kegelapan pekat yang membutakan.

Kade berbisik histeris di kegelapan, “Nggak… tolong jangan lagi…”

Razka menatap samar ke arah kegelapan. “Siklusnya mulai lagi.”

Jelvan berteriak panik, “Siapa yang memulainya lagi, bangsat?!”

Tiba-tiba, dari sudut kegelapan yang dalam, terdengar suara gema seorang anak laki-laki. Suara yang asing, namun terasa tidak asing di saat yang bersamaan.

“Bukan dia.”

TOK.

Ketukan pertama merambat di dinding.

“Bukan buku ini.”

TOK.

Ketukan kedua bergetar.

“Bukan pula sistem loop ini.”

TOK.

Ketukan ketiga membelah malam.

“Dan jelas bukan kalian semua.”

TOK.

Ketukan keempat bergema berat.

Razka memejamkan matanya rapat-raptar di dalam kegelapan, dadanya sesak. Ia sangat mengenali karakter suara itu.

TOK.

Ketukan kelima terdengar tuntas.

Lalu, suara anak laki-laki itu berbisik sangat dekat, seolah berada tepat di samping telinga mereka:

“Gue-lah orang pertama yang memohon dan meminta mereka semua buat kembali.”

CTEK!

Lampu ruangan kembali menyala mendadak, menyilaukan pandangan.

Tepat di tengah-tengah ruang kelas, berdiri seorang anak laki-laki dengan seragam sekolah usang khas tahun 1998. Wajahnya pucat pasi tanpa darah, namun tatapannya menembus tajam.

Dan di bagian dada seragamnya, terukir satu nama dengan jelas:

RAZKA.

Razka yang asli membeku kaku di tempatnya, matanya membelalak tak percaya.

Kade menatap sosok anak laki-laki itu dengan raut horor. “Nggak mungkin…”

Anak laki-laki bertubuh pucat itu mengukir senyum dingin yang menakutkan. “Sekarang lu udah ingat semuanya, kan, Razka?”

Razka yang asli tak mampu menjawab sepatah kata pun, bibirnya bergetar hebat.

Anak laki-laki itu melangkah maju satu titik, suaranya menggema tajam:

“Lu-lah orang yang sebenarnya memulai seluruh neraka ini.”

Dan untuk pertama kalinya sepanjang teror ini berlangsung… Razka tak sedikit pun membantahnya.

Report Page