PART XI : THE CHOICE

PART XI : THE CHOICE


“Dan itu sebabnya gue harus menghentikan lu.”

Suara Razka bergema berat dari balik lembaran pintu kayu yang tertutup rapat.

Kaede membeku kaku di tempatnya. Kedua tangannya masih mencengkeram kepalanya erat-erat, seolah berusaha menahan gempuran ingatan asing yang baru saja menerjang masuk. Setiap serpihan ingatan itu terasa seperti pecahan kaca tajam yang dipaksa merangsek ke dalam otak.


Ruang 3-B.

Tahun 1998.

Lima siswa.

Sebuah buku berwarna hitam.

Dan dirinya sendiri.


Namun ia menyadari sesuatu yang mengerikan, ia hadir di sana bukan sebagai korban baru. Bukan sebagai seseorang yang terseret masuk ke dalam pusaran loop abadi ini.

Melainkan sebagai sosok yang memegang pena. Sosok yang menggoreskan aturan-aturan pertama. Dan sosok yang menuliskan nama paling awal di halaman kusam itu.


KADE.


Jelvan melangkah satu titik mendekat, menatap Kaede dengan mata penuh keraguan. “Kaede…”

Kaede perlahan mengangkat wajahnya yang pucat pasi, matanya membelalak ketakutan. “Gue… gue nggak tahu…”

Miguel menggelengkan kepalanya keras-keras, suaranya menuntut. “Tapi barusan lu sendiri yang bilang kalau lu yang membuat loop ini!”

“Gue nggak tahu, bangsat!” Suara Kaede pecah, jeritan histerisnya membelah kesunyian malam. Air matanya meledak, mengalir deras membasahi pipinya. “Gue benar-benar nggak tahu apa-apa!”

Di belakang Kaede, sosok Kade berdiri diam beberapa langkah. Wajahnya yang semula tenang kini kehilangan senyum tipisnya. Untuk pertama kalinya, sosok yang mirip Kaede itu tampak begitu rapuh, tampak seperti manusia biasa yang diselimuti ketakutan teramat sangat.

“Jangan pernah dengarkan buku itu,” bisik Kade dengan nada dingin.

Miguel menoleh tajam. “Kenapa? Kenapa kita nggak boleh percaya?!”

“Karena buku itu sedang memperlihatkan ingatan yang salah,” jawab Kade datar.

Jelvan mengerutkan keningnya rapat-rapat, dadanya bergemuruh. “Ingatan yang salah? Maksud lu gimana?!”

Kade mengangguk pelan. “Loop ini nggak cuma bertugas menghapus ingatan kalian.” Ia menatap manik mata Kaede yang basah. “Loop ini juga punya kemampuan buat menciptakan ingatan palsu.”

Hawa dingin mendadak merambat makin pekat, menusuk hingga ke tulang.

Julian menatap buku hitam di atas meja dengan tatapan ngeri. “Jadi… Kaede sebenarnya bukan orang yang membuat loop ini?”

Kade tak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada buku hitam tersebut. “Dia cuma orang yang menuliskan aturan pertamanya.”

Miguel langsung menyela reaktif, “Bedanya apa, anjing?!”

“Beda besar.” Kade melangkah mendekati meja guru, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk menyentuh permukaan buku hitam itu. Namun sebelum jemarinya benar-benar mendarat, kepulan asap tipis mendadak membumbung disertai kepedihan yang membakar kulitnya. Kade menarik tangannya cepat. “Buku ini nggak akan pernah bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan.”

“Lalu apa yang sebenarnya dilakukan buku ini?!” cecar Miguel.

Kade menatap mereka satu per satu dengan pandangan mendalam. “Buku ini cuma mengambil pilihan manusia… lalu mengubah pilihan itu menjadi sebuah aturan.”

Keheningan melingkupi ruangan sejenak.

Jelvan menatap buku di atas meja dengan napas tertahan. “Pilihan apa?”

Kade memejamkan matanya lambat, menghela napas panjang. “Pilihan buat menyelamatkan seseorang.”


𝟏𝟕 𝐒𝐄𝐏𝐓𝐄𝐌𝐁𝐄𝐑 𝟏𝟗𝟗𝟖.

Pukul 17.52.

Kade masih bernapas sebagai manusia utuh. Ia berdiri kaku di dekat jendela ruang 3-B, menatap ke arah halaman sekolah yang mulai diselimuti gundukan bayangan sore. Di sudut ruangan lain, empat orang temannya masih asyik bersenda gurau.


Belum ada buku hitam di atas meja.

Belum ada teror ketukan di pintu.

Belum ada pusaran loop yang menjerat mereka.


Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Kade menyimpan ketakutan yang mencekam. Sebab selama tiga hari berturut-turut, mimpi buruk yang sama terus meneror tidurnya.

Dalam bunga tidurnya, ia menyaksikan satu per satu orang mati. Wajah-wajah asing yang tak pernah ia kenal sebelumnya tewas mengenaskan. Lalu giliran orang lain. Hingga akhirnya… ia melihat keempat temannya tewas secara bersamaan dalam genangan darah.

Dan setiap kali ia tersentak bangun di pagi hari, satu baris kalimat selalu terukir tebal di telapak tangannya:


SAVE THEM.


Malam itu, Kade akhirnya menyerah pada rasa takutnya. Ia memutuskan mencari sumber mimpi buruk tersebut hingga melangkah ke area gudang tua di sudut Gedung Mystic.

Di sanalah ia pertama kali menemukan buku bertutup hitam itu. Tanpa judul, tanpa nama pemilik, seolah-olah telah terkubur lama menunggu dirinya.

Kade memegang buku itu dengan jemarinya yang gemetar. Ia membuka lembar pertama, kosong. Lembar kedua, kosong. Lembar ketiga, tetap kosong kusam.

Hingga jemarinya berhenti di lembaran paling akhir. Di sana tertera satu baris kalimat.


SOMEONE MUST REMAIN.


Kade mengeja kalimat itu berulang kali dengan napas tertahan, sebelum sebuah suara bisikan gaib mendadak bergema tepat dari arah belakang tubuhnya.


“Kalau kau ingin mereka tetap hidup…”


Kade berbalik mendadak dalam kepanikan. Kosong. Tidak ada siapa pun di gudang tua yang berdebu itu.


“…berikan padaku satu nama.”


Kade membeku, tangannya mencengkeram buku hitam itu erat-erat. “Siapa lo?!”

Tak ada jawaban. Hanya buku hitam itu yang mendadak terasa makin berat di tangannya.

Kade menatap lembaran kusam yang kosong. Ia meraih sebatang pena tua dari atas meja gudang, tangannya bergetar hebat saat ia berbisik tegas, “Gue nggak akan pernah memberikan nama teman-teman gue!”

Seketika, lelehan tinta hitam muncul membual di atas kertas, membentuk tulisan secara mandiri:

THEN GIVE YOURS.

Air mata Kade meledak runtuh. Ia tahu betul konsekuensi dari kalimat itu. Tanpa ragu, meski jemarinya gemetar hebat, ia menggoreskan namanya sendiri di atas kertas.


KADE.


Tepat saat titik terakhir terukir—

BUM!

Seluruh Gedung Mystic bergetar hebat bagai dihantam gempa bumi. Buku hitam itu menghempas menutup secara otomatis. Dan untuk pertama kalinya… jarum jam dinding tua terhenti drastis.

17.59.

Rasa sakit yang luar biasa menghantam dada Kade seketika. Tubuhnya ambruk menghantam lantai, darah segar berwarna merah pekat membual keluar dari mulut dan hidungnya.

Di balik kesadarannya yang kian meredup, Kade melihat keempat temannya masih tertawa di kejauhan. Masih bernapas, masih utuh, dan tidak tahu apa-apa tentang pengorbanan ini.

Kade mengukir senyum tipisnya yang terakhir di tengah genangan darah. “Setidaknya… mereka selamat.”

Lalu, jarum jam bergeser satu detik:

18.00.


Tubuh Kade ambruk tak bernyawa. Dan secara ajaib, buku hitam itu terlempar terbuka. Tinta merah mengalir liar di lembar pertama:

THE FIRST FIFTH HAS BEEN CHOSEN.


Kembali ke masa kini.

Kaede menatap sosok Kade dengan raut wajah terpukul. “Jadi… lu sengaja mengorbankan diri lu malam itu?”

Kade menggeleng pelan. “Nggak.”

“Terus apa?!”

“Gue cuma membuat pilihan.”

Kaede terbungkam kaku.

Kade mengarahkan pandangannya pada buku hitam di atas meja. “Dan buku itu menyimpan serta mengikat pilihan yang gue buat.”

Jelvan menelan ludah, benang merah cerita itu mulai terbentuk di kepalanya. “Jadi seluruh neraka ini berawal dari satu pilihan tunggal…”

“Ya.”

Miguel melangkah maju. “Kalau begitu… kenapa loop ini terus-menerus berulang tanpa berhenti, Kade?!”

Kade menatap Miguel dingin. “Karena pilihan itu nggak pernah mencapai kata selesai.”

“Maksud lu gimana?!”

“Malam itu, Kade memilih buat mati agar empat orang temannya bisa tetap hidup,” terang Kade dengan suara hampa. “Tapi buku ini nggak pernah mengenal konsep pengorbanan. Buku ini cuma paham satu hal, keseimbangan.”

Julian mengerutkan keningnya rapat-rapat. “Keseimbangan…?”

“Empat orang hidup, dan satu orang harus mati,” lanjut Kade. “Lima orang masuk, empat orang keluar. Bagi buku ini, itu adalah aturan mutlak yang nggak boleh diganggu gugat.”

Kaede menatap buku hitam itu dengan dada berdegup kencang. “Lalu kenapa Razka bisa terseret ke dalam masalah ini?!”

Kade mendadak diam.

Sebelum ia sempat menjawab, suara Razka kembali bergema dari balik pintu kelas yang terkunci.

“Karena gue mencoba mengubah aturan itu.”

Jelvan refleks menoleh ke pintu. “Razka?!”

“Buka pintunya, Jelvan!” seru Razka dari luar.

Jelvan melangkah maju, tangannya bergerak hendak mencengkeram gagang pintu.

Kade serta-merta berteriak histeris, “JANGAN BUKA!”

Gerakan tangan Jelvan terhenti seketika di udara.

Suara Razka kembali terdengar di balik kayu tipis, suaranya memohon, “Jelvan, dengarkan gue baik-baik!”

Kade berlari mendekati pintu, menghadang dengan tubuhnya. “Gue bilang jangan pernah buka pintunya!”

Razka melanjutkan dari luar, suaranya makin mendesak, “Kalau pintu itu dibuka sekarang… buku itu bakal memaksa buat memilih korban baru lagi!”

Miguel mendadak menoleh ke arah meja guru. Lembar halaman terakhir pada buku hitam itu bergetar hebat, tulisannya meleleh dan berubah bentuk secara agresif:

CHOOSE.


Satu detik kemudian, dua nama muncul secara berdampingan di bawah tulisan tersebut:

KAEDE.

RAZKA.


Julian melangkah mundur dalam ketakutan. “Gila… ini benar-benar gila!”

Kaede menatap kedua nama yang terukir penuh darah itu dengan napas tersengal. “Apa maksud dari dua nama ini?!”

Kade menjawab dengan suara gemetar pelan, “Buku ini menuntut satu nama dari kalian berdua.”

“Kenapa harus kami?!”

“Karena siklus loop ini udah kehilangan keseimbangannya!” tegas Kade.

Miguel menatap lembaran itu menuntut. “Empat orang korban…”

Kade mengangguk cepat. “…dan ada dua orang di antara kalian yang membawa dan menyimpan ingatan dari masa lalu!”

Kaede memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya sesak. “Razka… dan gue.”

“Ya!”

Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar dari balik pintu, disusul suara Razka yang memanggil, “Kaede.”

Kaede menatap pintu kayu itu nanar. “Razka…?”

“Gue udah tahu apa yang harus gue lakukan sekarang,” ujar Razka dari luar, suaranya terdengar pasrah namun mantap.

Wajah Kade seketika memucat pasi. “Nggak… Razka, jangan!”

Razka melanjutkan kalimatnya dari luar, “Gue udah mencoba segalanya, Kaede. Delapan belas kali percobaan… dan semuanya berakhir dengan kegagalan total. Karena selama delapan belas putaran itu, gue selalu sibuk mencoba menyelamatkan kalian semua.”

Jelvan mendekati pintu kayu, menempelkan telinganya. “Terus apa yang mau lu lakukan sekarang, Razka?!”

Keheningan menggantung sejenak.

Lalu suara Razka kembali melintas parau, “Sekarang… gue baru menyadari kesalahan terbesar gue.”

Miguel menelan ludahnya yang terasa kering. “Kesalahan apa?!”

“Bukan kalian yang harus gue selamatkan dari awal.”

Kade memejamkan matanya erat-erat, berteriak lemah, “Razka… tolong jangan lakukan…”

Suara Razka dari balik pintu terdengar makin dekat, seolah-olah ia menempelkan dahinya ke daun pintu, “Yang harus gue selamatkan dari awal… adalah orang yang pertama kali membuat pilihan tragis ini.”

Kaede membeku di tempatnya, matanya membelalak. “Gue…?”

“Ya.”

Kaede menatap Kade yang berdiri kaku. Kade menggelengkan kepalanya keras-keras. “Jangan pernah percaya sama dia, Kaede!”

Razka menjawab langsung dari balik pintu, “Karena kalau lu yang mati di dalam sana, Kaede… loop ini nggak akan pernah berhenti buat selamanya.”

Kaede melangkah mendekati buku hitam. Tulisan di halaman terakhirnya bergejolak kembali.


THE FIRST CHOICE CANNOT BE UNDONE.


Lalu disusul baris kalimat baru di bawahnya.


THE CHOICE CAN ONLY BE RETURNED.


Miguel mengeja kalimat itu lambat-lambat. “Dikembalikan…?”

Sosok Kade mendadak mengukir senyum pahit yang menyayat hati. “Sekarang… gue baru paham jalan pikirannya.”

Jelvan menoleh menatap Kade. “Apa maksudnya?!”

“Razka nggak pernah berniat buat membunuh Kaede,” bisik Kade dengan nada bergetar.

“Lalu dia mau apa?!”

Kade menatap pintu kayu itu dingin. “Dia cuma mau mengembalikan pilihan yang pernah dibuat Kaede.”


CRIET…

Daun pintu kayu itu terbuka secara perlahan dengan sendirinya.

Razka berdiri kaku di balik ambang pintu. Seragam sekolahnya tampak kusam dan bernoda darah kering di beberapa bagian. Wajahnya pucat pasi tanpa rona kehidupan, namun matanya memancarkan kesadaran yang utuh. Ia masih bernapas.

Julian yang berada paling dekat refleks melangkah maju. “Razka!”

Razka seketika mundur satu langkah, mengangkat tangannya. “Jangan sentuh gue!”

Langkah Julian terhenti mendadak.

Razka mengedarkan pandangannya, menatap mereka satu per satu. Jelvan. Julian. Miguel. Dan akhirnya… pandangannya terkunci penuh pada sosok Kaede.

“Akhirnya… kita sampai di titik ini,” bisik Razka parau.

Air mata Kaede menetes membasahi pipinya. “Razka…”

“Jangan menangis,” potong Razka lembut namun tegas.

“Gue… gue udah ingat semuanya,” isak Kaede.

Razka mengukir senyum tipis di wajah pucatnya. “Bagus kalau lu udah ingat.”

“Gue yang menyebabkan seluruh penderitaan ini, Razka! Gue yang bikin loop ini!” jerit Kaede histeris.

“Bukan.” Razka menggelengkan kepalanya pelan.

“Gue yang menulis nama gue sendiri di buku itu!”

“Lu cuma memilih buat mati malam itu,” sela Razka datar. “Sedangkan aturan neraka ini… buku itu yang membuatnya.”

Kaede terus menggeleng keras. “Nggak! Gue yang bikin aturannya!”

Razka melangkah masuk ke dalam kelas, mendekati meja guru. “Buku itu yang memanfaatkan pilihan lu buat membentuk aturan.” Ia menatap sosok Kade yang berdiri membeku di belakang Kaede. “Dan lu, Kade… lu juga melakukan hal yang sama persis, kan?”

Kade terdiam kaku, tak mampu membalas.

“Lu juga membuat pilihan yang sama di tahun 1998,” lanjut Razka.

“Benar,” pungkasi Kade lirih.

“Dan delapan belas kali gue mencoba mengacaukan pilihan lu…” Razka menghela napas berat, “…buku ini selalu memaksa gue buat mengulangnya dari awal.”

Kaede menatap Razka nanar. “Kenapa buku ini tega melakukan semua ini, Razka?!”

Razka menatap Kaede dalam-dalam. “Karena selama ini kita semua salah memahami tempat ini.”

“Maksud lu gimana?!”

“Loop ini… dari awal bukan sebuah hukuman,” terang Razka. Ia mengarahkan pandangannya ke jam dinding tua.

18.00.

“Loop ini adalah cara dari buku hitam ini buat memastikan pilihan kita tetap berada di jalur yang sama.”

Jarum jam bergerak perlahan.

18.01.

“Setiap kali ada seseorang yang nekat mencoba mengubah masa lalu…”

18.02.

“…buku ini bakal meriset semuanya kembali ke titik nol.”

18.03.

“Dan setiap kali ada seseorang yang berusaha menyelamatkan korban…”

18.04.

“…buku ini bakal memilih korban baru sebagai gantinya.”

Jarum jam mendadak terkunci rapat di angka 18.05.

Razka menatap mereka semua dengan tatapan hampa. “…dan setiap kali ada di antara kita yang mulai mengingat kebenarannya, buku ini bakal mencabut ingatan itu secara paksa.”

Keheningan total melingkupi ruangan.

Jelvan melangkah maju, dadanya bergemuruh kencang. “Terus gimana caranya buat menghentikan neraka ini, Razka? Jawab gue!”

Razka tak menjawab pertanyaan Jelvan. Sebaliknya, ia berjalan tenang mendekati meja guru, lalu meraih buku hitam itu ke dalam genggamannya. Untuk pertama kalinya… buku keramat itu tidak membakar atau melawan sentuhan tangannya.

Razka membukanya lambat-lambat hingga tiba di lembar terakhir yang polos tanpa tulisan. Ia memungut pena tua di sebelahnya.

Kaede yang melihat aksi itu seketika histeris, “Razka! Jangan!”

Razka menoleh tipis. “Gue harus melakukan ini, Kaede.”

“Lu bakal mati kalau menulis di buku itu!”

“Gue tahu.”

Kade ikut melangkah maju panik. “Jangan gila, Razka!”

Razka menatap Kade dingin. “Gue udah menyaksikan semua keputusasaan ini sebanyak delapan belas kali. Dan setiap kali gue mencoba menuliskan nama orang lain buat menggantikan kalian…” Razka menempelkan mata pena ke atas permukaan kertas kusam. “…kali ini, gue bakal menuliskan nama gue sendiri.”

Kaede seketika berjalan kencang menerjang. “RAZKA, JANGAN!”

Namun semuanya sudah terlambat.

SREK!

Ujung pena Razka telah menempel dan menekan permukaan kertas.

Namun sebelum Razka sempat menggoreskan satu huruf pun dari namanya, buku hitam itu bergetar hebat di luar kendali. Lembaran-lembarannya membalik secara liar dan agresif.

Satu halaman. Dua halaman. Puluhan. Ratusan lembar terkelupas sendiri, hingga akhirnya terhenti di sebuah halaman yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.

Di lembaran kusam itu, tertera satu nama tunggal dengan guratan tinta tebal. Nama yang bahkan tidak pernah dikenal oleh sosok Kade. Nama yang tak pernah Razka temui sepanjang delapan belas kali percobaannya.

JELVAN.

Jelvan membeku seketika, matanya melotot tajam. “Apa-apaan… kok nama gue?!”

Sebelum ketakutan itu terjawab, lelehan tinta merah membual liar dari kertas, mengukir nama demi nama secara berurutan.

JULIAN.

MIGUEL.

KAEDE.

RAZKA.

Lima nama. Lima orang utuh yang ada di dalam ruangan.

Kade menatap lembaran itu dengan raut horor yang teramat sangat. “Nggak… ini nggak mungkin terjadi…”

Miguel bertanya dengan suara gemetar hebat, “Kenapa, Kade?! Ada apa?!”

Kade melangkah mundur dalam kepanikan. “Buku ini… buku ini nggak pernah menuliskan lima nama sekaligus di dalam satu halaman!”

Razka menatap lima nama itu dengan mata membelalak. Untuk pertama kalinya sepanjang teror ini… wajah Razka benar-benar kehilangan seluruh rona jiwanya.

“Ini… ini bukan pengulangan loop…” bisik Razka parau.

Jelvan mendesak histeris, “Terus apa kalau bukan loop, bangsat?!”

Razka mendongakkan kepalanya perlahan, menatap mereka dengan tatapan hampa. “Ini adalah titik awal yang sebenarnya.”

PAAAM!

Seluruh lampu di ruangan padam total.

Satu detik kegelapan.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu, gema ketukan pintu terdengar membelah malam.


TOK.

Jelvan menahan napasnya, dadanya seakan mau meledak.

TOK.

Julian melangkah mundur hingga menabrak sudut ruangan.

TOK.

Miguel mencengkeram erat jemari Kaede di dalam kegelapan.

TOK.

Kade menatap lurus ke arah kegelapan pintu.

Dan akhirnya—

TOK.

Ketukan kelima berdentang tuntas.


Namun kali ini… tidak ada satu pun dari mereka yang berteriak ketakutan. Sebab secara ajaib, pintu kayu di depan mereka terhempas terbuka lebar dengan sendirinya.

Di balik pintu itu, tidak ada lagi lorong koridor sekolah yang gelap. Tidak ada struktur Gedung Mystic yang tua. Dan tidak ada nuansa tahun 1998.

Yang terhampar di hadapan mata mereka hanyalah sebuah ruangan serba putih yang membentang tanpa batas. Kosong dan sangat hening.

Tepat di tengah-tengah ruangan putih itu, berdiri sebuah meja kayu tunggal. Dan di atasnya… tergeletak buku hitam yang sama.

Buku itu terbuka lebar di halaman paling pertama, menampilkan satu baris kalimat sambutan dengan penekanan yang kuat.


WELCOME TO THE FIRST LOOP.


Razka menatap tulisan itu dengan dada bergemuruh. “Bukan…” Ia mencengkeram pena di tangannya makin erat. “Ini bukan loop pertama kita…”

Kade menoleh padanya. “Lalu apa?!”

Razka menjawab dengan suara yang nyaris tenggelam dalam kesunyian, “Ini adalah pertama kalinya… kita semua sadar kalau kita pernah hidup dan mati di siklus sebelumnya.”

Kaede melangkah lambat melewati ambang pintu menuju ruangan putih tersebut.

Dan tepat saat pijakan kakinya menyentuh lantai ruangan putih itu—

WUSH!

Seluruh ingatan masa lalunya meledak secara serentak di dalam kepalanya. Bukan cuma tentang sosok Kade. Bukan cuma tentang tragedi tahun 1998. Melainkan seluruh ingatan dari setiap siklus yang pernah terjadi.

Putaran pertama. Putaran kedua. Ketiga. Keempat. Hingga putaran kedelapan belas.

Ia menyaksikan dirinya sendiri mati mengenaskan berulang kali. Ia melihat Jelvan tewas. Julian membusuk. Miguel hancur. Dan Razka yang tewas bersimbah darah.

Ia menyaksikan bagaimana Razka menangis histeris di setiap akhir putaran, berteriak frustrasi, memohon pada kegelapan, mencoba membakar buku hitam itu, mencoba meruntuhkan Gedung Mystic, hingga mencoba melupakan segalanya secara paksa.

Dan di puncak ingatan paling akhir… Kaede menyaksikan dirinya sendiri sedang berdiri di hadapan buku hitam pada siklus paling awal.

Dirinya sedang menggoreskan sesuatu di lembar kertas. Bukan mengukir nama. Bukan menuliskan aturan teror. Melainkan menggoreskan sebuah permohonan abadi.


IF I EVER FORGET, MAKE ME REMEMBER.


Kaede tersentak hebat, menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Nggak… ini nggak nyata…”

Razka berjalan pelan dan berdiri di sampingnya. “Lu udah lihat semuanya?”

Kaede menatap kedua telapak tangannya yang gemetar, air matanya menetes liar. “Gue… gue bukan pembuat loop ini…”

Kade menatapnya menuntut. “Lalu siapa lu sebenarnya?!”

Kaede perlahan mendongakkan kepalanya, matanya menatap hampa. “Gue adalah orang yang memohon agar loop ini terus berputar tanpa akhir.”

Seluruh orang di ruangan itu terbungkam kaku.

Razka memejamkan matanya rapat-raptar, menghela napas berat. “Sekarang lu benar-benar udah ingat.”

Kaede menatap buku hitam di atas meja putih. Dan pada detik itulah… ia akhirnya memahami alasan terdalam di balik semua ketakutan ini.

Ia menciptakan permohonan loop ini bukan untuk menghukum siapa pun. Bukan pula murni untuk menyelamatkan Kade. Melainkan karena pada percobaan paling pertama di masa lalu… mereka sebenarnya berhasil melarikan diri keluar dari Gedung Mystic.

Namun tepat saat mereka berhasil menembus jalan keluar, ada satu orang kawan mereka yang tertinggal dan tewas di dalam.

Dan Kaede di masa lalu tidak pernah sanggup menerima kenyataan pahit itu. Maka dengan penuh keputusasaan, ia menggoreskan satu permohonan terakhir pada buku hitam:

“Ulangi tempat ini… sampai kita semua bisa keluar utuh bersama-sama.”

Buku hitam itu memang mengabulkan permohonannya. Namun buku itu tak pernah berjanji… bahwa orang-orang yang berhasil keluar kelak akan tetap menjadi sosok manusia yang sama.

Kaede menatap Razka dengan pandangan menyayat. “Jadi selama ini…”

Razka mengangguk pelan. “Kita nggak pernah benar-benar berusaha buat keluar dari loop ini.”

Kade menyambung kalimat itu dengan bisikan parau: “…kita cuma sedang berusaha keras mendapatkan akhir cerita yang berbeda.”

DUK!

Buku hitam di atas meja menghempas menutup secara mendadak.

Di dinding putih yang hampa, gema dentang jam dinding terdengar berbunyi nyaring.

18.00.

Namun kali ini… jarum jam tua itu tidak lagi berhenti atau berputar mundur. Jarumnya bergerak maju secara konstan.

18.01.

18.02.

18.03.

18.04.

18.05.

Hingga akhirnya terkunci di angka:

18.06.

Untuk pertama kalinya sepanjang teror ini… waktu benar-benar bergerak maju sebagaimana mestinya.

Namun secara mengerikan, permukaan sampul buku hitam itu mendadak terukir baris kalimat baru bertinta merah pekat.


ONE OF YOU IS STILL LYING.


Razka mengeja kalimat itu dengan raut wajah yang berubah drastis menjadi horor.

Jelvan menatap Razka panik. “Siapa?! Siapa lagi yang berbohong di antara kita, bangsat?!”

Razka tak mampu menjawab.

Kaede menatap Kade. Kade menatap Miguel. Miguel menatap Julian. Dan Julian menatap Jelvan. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.

Hingga tiba-tiba…

Dari sudut kegelapan ruangan putih yang hampa, terdengar gema suara tawa kecil.

Bukan tawa milik Kaede. Bukan tawa milik Kade. Bukan pula tawa milik Razka.

Melainkan suara tawa asing milik seseorang yang belum pernah mereka dengar sama sekali sepanjang teror ini.

Suara asing itu lantas berbisik dingin, membelah kesunyian.

“Kalian benar-benar masih percaya kalau cuma ada lima orang di tempat ini?”


BAAAM!

Kegelapan total kembali menyapu seluruh ruangan.

Dan di tengah kegelapan pekat yang membutakan itu… gema ketukan pintu terdengar beruntut sebanyak enam kali.


TOK.

TOK.

TOK.

TOK.

TOK.

TOK.

Razka berteriak histeris di dalam kegelapan, “JANGAN DIHITUNG!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Dari arah belakang tubuh mereka masing-masing, suara asing itu menyahut dingin.

“Enam.”

Report Page