PART X : THE NAME OF KADE

PART X : THE NAME OF KADE


Kaede mendadak membeku di tempatnya.

Sebab nama yang terukir di dada sosok itu… terasa seperti namanya sendiri.


KADE.


Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang berani bergerak atau sekadar bernapas lega.

Perempuan berwujud aneh di balik celah pintu masih berdiri diam, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Seragam sekolah yang dikenakannya terlihat sangat usang dan pudar. Rambutnya panjang terurai sedikit berantakan. Kulitnya pucat pasi bagaikan seseorang yang telah terlalu lama terperangkap di tempat yang tak tersentuh cahaya matahari.

Namun wajahnya, wajah perempuan itu sama persis dengan Kaede.

Bukan sekadar mirip. Bukan sekadar menyerupai. Melainkan sama persis.

Julian melangkah mundur satu jengkal, suaranya bergetar. “Kaede…”

Kaede tidak menjawab. Matanya terpaku lurus, terkunci pada raut sosok perempuan di depannya.

Perempuan berwajah identik itu perlahan mengukir senyum tipis yang dingin. “Lama sekali.”

Suara serak itu seketika membuat Kaede tersentak hebat. Ia meremas dadanya kuat-kuat.

Sakit. Rasa sakit yang teramat sangat menghantam dadanya.

Seketika, tempurung kepalanya dipenuhi serpihan kilasan ingatan yang berhamburan paksa.

Sebuah ruang kelas.

Lima meja kayu tua.

Sebuah buku hitam.

Hujan deras yang mengguyur di balik jendela.

Dan bayangan seorang anak laki-laki yang sedang tertawa lebar.

Kemudian—

Jeritan histeris.

Suara pintu yang terbanting keras.

Genangan darah di atas lantai.

Isak tangis seseorang.

Dan sebuah nama yang terngiang berulang kali.

Kade.

.

.

.

BRUK!

Kaede jatuh berlutut di lantai dingin, tangannya mencengkeram kepala. “Berhenti… tolong berhenti…”

Jelvan panik dan segera berjongkok menghampirinya. “Kaede!”

“Jangan sentuh gue!” jerit Kaede histeris.

Gerakan Jelvan terhenti di udara.

Kaede menatap kedua telapak tangannya yang gemetar hebat. Air matanya menetes di atas jarinya. “Gue… gue pernah ada di sini…”

Miguel menatap lekat perempuan di depan pintu. “Siapa lu sebenarnya?”

Perempuan itu tak acuh pada pertanyaan Miguel. Sebaliknya, pandangan dinginnya terus terkunci pada Kaede. “Lu benar-benar nggak ingat?”

Kaede perlahan mendongak, matanya yang basah menatap sosok itu. “Siapa lu?!”

Perempuan itu kembali tersenyum samar. “Pertanyaan yang salah.”

“Apa?!”

“Seharusnya lu bertanya…” Perempuan itu melangkah masuk menembus ambang pintu. Satu langkah. Anehnya, pijakan kakinya di atas lantai sama sekali tidak menghasilkan suara. “…siapa gue?”

Kaede menatapnya tanpa berkedip.

Perempuan itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Kaede yang berlutut.

“Nama gue Kade.”

Kaede menggeleng cepat, napasnya memburu. “Nggak…”

“Lu tahu siapa gue.”

“Nggak! Gue nggak tahu!”

“Lu pernah jadi gue.”

“Bukan! Gue bukan lu!” Kaede membela diri.

Kade terkekeh samar, sebuah kekehan dingin yang menusuk tulang. “Kalau begitu…” Tangannya terangkat, menunjuk lurus ke dada Kaede. “…kenapa nama lu masih menyimpan sisa nama gue?”

Kaede terbungkam seketika, lidahnya mendadak kelu.

Jelvan mengerutkan keningnya, kebingungan. “Apa maksud yang lu bicarakan ini?”

Kade mengalihkan pandangannya pada Jelvan. “Nama Kaede itu bukan nama aslinya.”

Miguel langsung menoleh tajam ke arah Kaede. “Lu… lu tahu tentang ini, Kaede?”

Kaede tak mampu bersuara, ia hanya menunduk dalam-dalam.

Kade melanjutkan dengan nada datar. “Dulu, dia cuma bernama Kade.”

“Lalu kenapa bisa berubah jadi Kaede?” terjang Julian.

Kade tersenyum, senyuman yang menyembunyikan duka. “Karena seseorang harus menyembunyikan nama itu.”

Julian menelan ludah, tenggorokannya mendadak gatal dan kering. “Seseorang… menyembunyikannya dari siapa?”

Kade berbalik pelan, menoleh ke arah buku hitam yang tergeletak kaku di atas meja. “Dari sesuatu yang tinggal dan bersembunyi di dalam buku itu.”

Tiba-tiba—

BRAK!

Pintu kelas membanting menutup rapat secara mendadak!

Seluruh lampu di ruangan padam total.

“Jangan!” jerit Kaede ketakutan.

Kegelapan pekat menyelimuti mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melihat sekeliling.

Dalam kegelapan yang membutakan itu, terdengar derit gesekan lembar kertas buku yang terbalik secara berturut-turut.


Satu halaman.

Dua halaman.

Tiga halaman.

Sampai akhirnya suara kibasan kertas itu terhenti secara drastis.


Sebuah pendar cahaya merah kehitaman mendadak membumbung dari atas meja guru. Buku hitam itu terbuka lebar.

Di halaman yang diterangi pendar merah tersebut, tertera sebuah nama.


KADE.


Dan di baris bawahnya terukir sebuah julukan:

THE FIRST FIFTH.


Miguel menatap tulisan bertinta merah itu dengan mata membelalak. “Jadi… Kade adalah The Fifth yang pertama?”

“Bukan.”

Suara Kade bergema dari sudut kegelapan yang tak terjangkau. “Gue adalah orang pertama yang menolak buat jadi The Fifth.”

CTEK!

Lampu ruangan kembali menyala mendadak.

Kade tak lagi berdiri di hadapan Kaede. Sosoknya kini telah berpindah, berdiri tenang di dekat jendela, tepat di samping kursi kosong yang misterius.

Jelvan menatapnya penuh selidik. “Terus apa yang sebenarnya terjadi saat itu?”

Kade mengalihkan pandangannya, memandang keluar jendela ke arah kegelapan malam. “Pada tahun 1998, ada lima siswa yang menemukan buku itu.”

“Dan lu salah satu dari mereka?”

“Ya.”

“Lalu?”

Kade diam cukup lama, membiarkan angin dingin berembus menyapu ruangan melalui celah jendela. “Empat orang dari kami cuma ingin mencari jalan keluar.”

“Dan lu sendiri?” potong Miguel.

“Gue udah tahu sejak awal… kalau sebenarnya nggak pernah ada jalan keluar dari tempat ini.”

Miguel kembali bertanya, “Dari mana lu bisa tahu hal itu?”

Kade menoleh lambat. “Karena gue bukan orang pertama yang menemukan buku itu.”

Keempatnya tertegun bungkam.

Kade mengacungkan jarinya ke dinding kelas yang retak. “Buku itu udah ada jauh sebelum kami lahir.” Jemarinya lalu menunjuk ke lantai. “Loop ini juga udah ada jauh sebelum kami terjebak.”

Kemudian, ia menunjuk dirinya sendiri. “Dan gue… mati sebelum malam penuh teror itu bahkan dimulai.”

Kaede mematung dengan mata membelalak. “Apa… maksud lu?”

Kade mengukir senyum sedih yang begitu hampa. “Tubuh gue udah mati pada pukul 17.59.”

Jelvan merasakan bulu kuduknya berdiri hebat, hawa dingin merambat di tengkuknya. “Kalau begitu…” ucapnya menggantung.

“Kalian nggak pernah bertemu dengan gue sebagai manusia biasa,” sela Kade. Ia menatap mereka satu per satu. “Yang kalian lihat dan temui… hanyalah sisa ingatan gue.”


𝟏𝟕 𝐒𝐄𝐏𝐓𝐄𝐌𝐁𝐄𝐑 𝟏𝟗𝟗𝟖 (Ingatan Kade)

Pukul 17.59.

Kade berdiri diam di ruang 3-B. Empat orang temannya sedang asyik bercanda di sudut lain.

Mereka belum tahu apa-apa. Belum tahu tentang keberadaan buku misterius itu. Belum tahu tentang teror ketukan pintu. Belum tahu tentang cengkeraman loop abadi.

Kade berdiri membeku di dekat jendela. Matanya menatap jarum jam dinding.

17.59.

Tiba-tiba, dadanya dihantam rasa sakit yang luar biasa.

Ia terbatuk hebat. Darah segar berawarna merah pekat keluar membasahi mulut dan tangannya.

“Kade?!” Salah satu temannya mendadak berdiri panik. “Lu nggak apa-apa?!”

Kade menggeleng lemah. “Gue… gue cuma…”

Kalimat itu tak pernah terselesaikan. Tubuhnya ambruk menghantam lantai kayu.

17.59.

Detik-detik terakhir sebelum waktu berputar ke pukul 18.00.

Tepat saat keempat temannya berlari histeris menghampirinya, seluruh pendar lampu padam.

Dan ketika pendar lampu menyala kembali sesaat kemudian… Kade sudah tak lagi bernapas.

Namun jarum jam dinding menunjuk ke angka:

18.00.

Dan tepat pada detik yang sama… sebuah buku hitam mendadak muncul di atas meja.

Halaman pertamanya terbuka secara ajaib. Lima nama terukir di sana: empat nama teman Kade, dan nama Kade sendiri.

Kemudian, tinta merah bergerak meliuk. Nama Kade dicoret tebal-tebal.


THE FIRST FIFTH HAS BEEN CHOSEN.


Namun sesuatu yang janggal terjadi.

Kade perlahan bangkit berdiri. Bukan lagi sebagai manusia berdarah dan berdaging. Bukan pula sebagai hantu penasaran. Melainkan sebagai entitas ingatan yang terjebak di batas antara keduanya.

Ia melihat keempat temannya menangis histeris. Namun mereka tak lagi mampu melihat keberadaannya.

Ia berteriak sekuat tenaga, tetapi tidak ada suara yang sampai ke telinga mereka.

Ia mencoba menyentuh bahu mereka, tetapi tangannya menembus hampa.

Dan pada saat itulah ia menyadari kenyataan pahit: ia masih mengingat segalanya dengan sangat utuh.

Dan itulah awal mulanya siklus loop ini berubah.


𝐊𝐄𝐌𝐁𝐀𝐋𝐈 𝐊𝐄 𝐌𝐀𝐒𝐀 𝐊𝐈𝐍𝐈

Kaede menatap sosok Kade dengan air mata yang mengalir deras tanpa henti. “Jadi… gue…”

Kade mengangguk pelan. “Lu bukan reinkarnasi gue.”

Kaede terdiam, tenggorokannya tersekat.

“Lu adalah sisa ingatan gue yang terlempar,” lanjut Kade.

Jelvan mengerutkan keningnya rapat-rapat. “Maksud lu gimana?”

Kade merespons dengan nada teramat tenang. “Setiap kali siklus loop mengulang dan meriset tempat ini, sebagian ingatan gue dipindahkan secara paksa ke wujud orang berikutnya.”

“Dan orang itu… adalah Kaede?” tanya Jelvan.

“Ya.”

“Kenapa harus begitu?!”

“Karena sistem loop ini membutuhkan seseorang buat tetap mengingat segalanya agar siklusnya tidak terputus.”

Miguel melirik lurus ke arah buku hitam di atas meja. “Makanya… makanya ada tulisan THE FIFTH MUST REMEMBER di dalam buku itu.”

Kade mengangguk. “Benar.”

Julian menatap Kaede dengan raut wajah tak percaya, lalu beralih pada Kade. “Jadi Razka juga…”

Kade mengukir senyum tipis. “Razka adalah orang terakhir yang menerima dan menampung ingatan itu.”

Kaede serta-merta menatapnya tajam. “Di mana Razka sekarang?!”

Kade tidak langsung merespons.

Jelvan melangkah satu titik mendekat. “Jawab, Kade!”

Kade memandang mereka satu per satu dengan tatapan dalam. “Razka udah tahu segalanya.”

Miguel membeku di tempatnya. “Sejak kapan?”

“Sejak sebelum kalian semua terseret masuk ke dalam loop ke-19 ini.”

“Gimana bisa?!”

Kade berjalan lambat mendekati papan tulis kayu di depan kelas. Ia mengambil sebatang kapur putih tua, lalu mulai menggoreskan angka-angka.


17 SEPTEMBER 1998.

Di bawahnya ia mengukir:

18 SEPTEMBER 1998.

Kemudian deretan tahun terus berlanjut:

* Goresan tahun demi tahun terus bertambah hingga jemarinya terhenti di satu angka akhir.


Jelvan menatap deretan angka tersebut dengan dada bergemuruh. “Ini… ini tahun kita sekarang.”

Kade mengangguk pelan. “Razka udah melihat seluruh mimpi buruk dan akhir dari kalian semua.”

“Lewat buku hitam itu?” cecar Jelvan.

“Bukan.” Kade menatap lurus manik mata Jelvan. “Lewat mimpinya sendiri.”


𝐁𝐄𝐁𝐄𝐑𝐀𝐏𝐀 𝐁𝐔𝐋𝐀𝐍 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐋𝐎𝐎𝐏 𝐊𝐄-𝟏𝟗

Razka tersentak terbangun tepat pada pukul 03.17 dini hari.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya. Mimpi buruk yang sama kembali mengejar tidurnya.

Gedung Mystic.

Ruang 3-B.

Seorang perempuan berdiri kaku di dekat jendela.

Namanya Kade.

Razka sama sekali tidak pernah mengenali siapa sosok itu di dunia nyata. Namun setiap kali ia memejamkan mata di malam hari, nama itu selalu terngiang membakar pikirannya.


Kade.

Kade.

Kade.


Hingga pada suatu malam, Razka menyaksikan sesuatu yang berbeda di dalam mimpi buruknya.

Dalam bunga tidurnya kali ini, Kade tampak berdiri menghadang di depan sebuah pintu kayu yang tertutup rapat. Di belakangnya, empat orang siswa berdiri dalam kegelapan.

Kade menoleh padanya, lalu berbisik tegas:

“Jangan biarkan mereka membuka pintu itu.”

Razka bertanya di dalam mimpinya, “Siapa mereka?”

Kade mengarahkan telunjuknya ke arah empat sosok di belakangnya. “Teman-teman lu.”

Razka tertegun. “Teman-teman gue?”

Kade mengangguk pelan.

“Jelvan.”

“Julian.”

“Miguel.”

“Kaede.”

Kemudian Kade menunjuk pada dirinya sendiri. “Dan gue.”

Razka tersentak bangun. Lagi. Pukul 03.17 dini hari.


Sejak malam penuh teka-teki itu, Razka mulai terobsesi mencari tahu kebenarannya. Ia membongkar arsip-arsip lama Gedung Mystic, mencari jejak nama siswa terdahulu, menggali berita-berita lama, hingga memeriksa lembaran daftar kelas tahun 1998.

Namun, tidak ada satu pun nama Kade yang tercatat di sana. Tidak ada sama sekali. Seolah-olah sosok bernama Kade itu tak pernah terlahir ke dunia.

Hingga akhirnya, Razka menemukan sebuah dokumen tua yang nyaris hancur. Sebuah lembaran daftar nama siswa. Di bagian paling bawah kertas itu, terdapat bekas guratan tulisan seperti telah dihapus paksa, namun masih bisa terbaca samar.


KADE.


Razka menyentuh bekas guratan tulisan itu dengan jarinya.

Dan pada detik itulah, sebuah suara berbisik jernih tepat di telinganya. Suara milik Kade.

“Jangan percaya sama buku itu.”

Razka membeku seketika. “Siapa lo?!”

“Buku itu bukan penyebab yang membuat loop ini ada.”

“Kalau bukan buku itu… terus siapa?!”

Keheningan melingkupi sejenak, sebelum suara Kade kembali berbisik pelan:

“Kalian sendiri.”

Pada detik itu, Razka mulai memahami kebenaran yang mengerikan.

Loop ini tidak pernah tercipta secara ajaib dari buku hitam tersebut. Buku itu hanya bertindak sebagai pencatat aturan abadi.

Loop ini tercipta karena setiap kelompok yang terseret ke dalamnya selalu melakukan satu kesalahan tragis yang sama: mereka selalu berusaha keras menyelamatkan kawan mereka yang sebenarnya sudah mati.

Dan setiap kali mereka berusaha melawan takdir, harus ada satu orang baru yang menjadi penggantinya.

Itulah alasan utama mengapa Razka terus-menerus dikejar mimpi buruk itu.

Itulah alasan mengapa ia mengetahui nama Kade sejak awal.

Itulah alasan mengapa ia paham betul tentang tragedi tahun 1998.

Sebab sejak awal… Razka telah ditunjuk dan dipilih sebagai sosok pengganti Kade.


𝐊𝐄𝐌𝐁𝐀𝐋𝐈 𝐊𝐄 𝐑𝐔𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐋𝐀𝐒

Kaede menatap Kade dengan pandangan menuntut. “Kalau begitu… kenapa Razka nggak pernah cerita atau jujur sama kami tentang semua ini?!”

Kade menatapnya balik dengan raut muram. “Karena setiap kali dia berusaha buat memberi tahu kalian kebenarannya…” Ia terhenti sejenak. “…sistem loop langsung menghapus ingatan kalian semua.”

Jelvan mengerutkan keningnya rapat-raprat, dadanya sesak. “Berapa kali… berapa kali dia udah mencoba?”

Kade menjawab dengan suara teramat pelan. “Delapan belas kali.”

Miguel membeku seketika, jantungnya seakan berhenti berdetak. “Jadi selama ini…”

“Razka udah mengalami dan melewati semua neraka ini sebanyak delapan belas kali putaran.”

Julian menatap bangku kosong di dekat jendela dengan pandangan ngeri. “Lalu… gimana dengan kami?”

“Kalian semua mati,” jawab Kade datar.

Kaede serta-merta membekap mulutnya, air matanya kian deras. “Kami… mati?”

Kade mengangguk. “Delapan belas kali kalian mati di depan matanya.”

Ruangan itu mendadak hening mencekam.

Jelvan menatap kedua telapak tangannya sendiri yang gemetar. “Gue… gue sama sekali nggak ingat pernah mati.”

“Memang nggak akan pernah ingat.”

“Kenapa cuma Razka yang bisa ingat?!” seru Jelvan frustrasi.

Kade menjawab, “Karena dia memilih buat tetap mengingat.”

Jelvan menggeleng keras. “Memilih?”

“Di percobaan pertama, dia berjuang keras menyelamatkan kalian semua,” terang Kade. “Di percobaan kedua, dia mencoba bunuh diri buat menghentikan siklus. Di percobaan ketiga, dia mencoba menghancurkan buku hitam itu. Di percobaan keempat, dia nekat mencoba membakar Gedung Mystic ini. Dan di percobaan kelima, dia mencoba buat nggak pernah datang ke sekolah ini.”

Kade jeda sejenak. “Tapi nggak ada satu pun pilihannya yang berhasil.”

Miguel bertanya dengan napas memburu, “Lalu… gimana dengan percobaan ke-19 ini?”

Kade menatap mereka semua dengan tatapan yang sulit diartikan. “Percobaan ke-19 ini berbeda dari sebelumnya.”

“Kenapa bisa berbeda?!”

Kade mengukir senyum tipis. “Karena kali ini… Razka nggak lagi mencoba buat menyelamatkan kalian.”

Jelvan membeku seketika. “Lalu… apa yang sebenarnya dia lakukan sekarang?!”

Kade mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah pintu kelas yang tertutup rapat. “Dia sedang berusaha menyelamatkan sosok The Fifth.”

Tiba-tiba—

TOK.

Semua orang serta-merta menoleh ke arah pintu kayu. Ketukan pertama.

TOK.

Ketukan kedua.

TOK.

Ketukan ketiga.

Kade menatap Kaede secara intens. “Sudah waktunya.”

TOK.

Ketukan keempat.

Kaede mendadak berdiri dari posisi berlututnya, tubuhnya gemetar. “Razka…?”

Kade menggeleng pelan. “Bukan.”

TOK.

Ketukan kelima merambat.

Anehnya, pintu kayu itu tidak terhempas terbuka. Tidak ada keanehan fisik yang terjadi.

Lalu, sebuah suara melintasi celah bawah pintu dari arah luar. Suara seorang laki-laki yang sangat familiar di telinga mereka.

“Jelvan.”

Jelvan membeku kaku di tempatnya. “Razka…?! Lu di luar?!”

“Jangan pernah buka pintu itu,” bisik suara dari balik pintu.

Miguel menatap Kade dengan cemas. Kade hanya tersenyum samar. “Dia udah sampai di titik akhir.”

Jelvan melangkah mendekati pintu. “Razka! Sebenarnya apa yang lagi terjadi?! Jelaskan ke gue!”

Hening sejenak.

Lalu suara Razka kembali terdengar dari balik pintu, suaranya terdengar sangat lelah dan parau, seperti seseorang yang telah berlari tanpa henti mengarungi ribuan mil.

“Dengar baik-baik…” Razka menghela napas berat. “Kalau kalian masih bisa melihat wujud Kade di dalam sana…” Razka jeda sejenak. “…berarti loop ini belum benar-benar dimulai.”

Kaede mendadak menatap Kade.

Anehnya, raut wajah Kade yang semula tenang tiba-tiba berubah drastis. Untuk pertama kalinya… sosok itu terlihat sangat ketakutan.

Razka melanjutkan kalimatnya dari luar:

“Karena Kade… sebenarnya bukan sosok The Fifth.”

Jelvan membeku seketika. “Lalu… siapa sosok The Fifth yang sebenarnya?!”

Kesunyian menggantung tebal selama beberapa detik.

Kemudian, Razka mengucapkan satu nama dengan lirih namun menusuk jantung:

“Kaede.”

Kaede tidak bergerak sedikit pun, napasnya tercekat di tenggorokan.

Kade menatap Kaede dengan mata membelalak. Dan perlahan-lahan… senyuman di wajah Kade menghilang sepenuhnya.

SREK!

Buku hitam di atas meja guru terbuka lebar dengan sendirinya. Halaman terakhirnya yang semula bersih polos kini terisi guratan tulisan secara mendadak.

Bukan menggunakan tinta hitam kusam. Bukan pula tinta merah biasa. Melainkan menggunakan lelehan cairan tebal yang menyerupai darah segar.


THE FIRST WAS KADE.


Satu detik kemudian, tulisan itu terhapus dan berubah wujud menjadi kalimat lain:

THE LAST IS KAEDE.


Kaede melangkah mundur dalam kepanikan. “Nggak… ini nggak mungkin…”

Kade melangkah mendekatinya perlahan. “Sekarang… lu udah ingat semuanya, kan?”

Kaede memegang kepalanya yang mendadak berdenyut hebat bagai dihantam palu.

Sebuah ingatan paling akhir dan paling kelam menyeruak masuk ke dalam kesadarannya.

Ia melihat gambaran dirinya sendiri.

Bukan sebagai Kaede yang sekarang. Bukan pula sebagai sosok Kade yang mati.

Melainkan sebagai seseorang yang berdiri tegap di tengah-tengah ruang 3-B pada tahun 1998 silam. Seseorang yang memegang erat buku hitam itu. Seseorang yang menuliskan aturan pertama dari teror ini.

Dan seseorang yang secara sadar memilih… siapa yang harus mati dan menggantikannya di putaran berikutnya.

Kaede membuka matanya lebar-lebar, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.

“Gue… gue yang udah membuat loop ini…”

Kade tersenyum dingin. “Sekarang lu benar-benar udah ingat.”

Di luar pintu kelas, suara Razka terdengar berbisik parau membelah malam:

“Dan itu sebabnya… gue harus menghentikan lu.”

Report Page